Terang boleh Pergi, tapi Harapan tak akan Hilang

As Featured In:

What I Do

Proin gravida nibh vel velit auctor aliquet aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor nisi elit consequat ipsum.

I Coach.

Lorem ipsum dolor sit, consectetur incididunt ut labore et dolore magna aliqua ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco.

I Speak.

Lorem ipsum dolor sit, consectetur incididunt ut labore et dolore magna aliqua ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco.

I Write.

Lorem ipsum dolor sit, consectetur incididunt ut labore et dolore magna aliqua ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco.

Need Advice?

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur incididunt ut labore et dolore magna aliqua ut enim ad minim.

My E-Books & Courses

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco.

Testimonials

“ Proin gravida nibh vel velit auctor aliquet aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor nisi elit consequat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit duis sed odio sit amet nibh vulputate. ”

Christine Walters

Meraih Asa dalam Gulita

Bagi banyak orang, gelap dianggap sebagai akhir dari terang. Namun untuk Dimas P Muharam, gelap menjadi awal dari terbukanya dunia untuknya. Sebab, menurut pria kelahiran Jakarta, 14 Agustus 30 tahun yang lalu ini, segala sesuatu memiliki banyak pilihan perspektif, dan akan berbeda jadinya ketika dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Dimas memilih untuk menjadikan gelap di matanya sebagai peluang untuk berkarya dan berkontribusi lebih banyak, bukan terpuruk dan berhenti karenanya.

Terlahir dengan kondisi fisik sempurna seperti anak pada umumnya, tak ada yang menyangka bahwa Dimas akan mulai kehilangan daya penglihatannya di usia 12 tahun. Untuk anak seusia itu, mungkin belum disadari betapa berat kondisi yang dialami. Namun yang dirasa saat itu adalah kenyataan bahwa dia harus putus sekolah sampai kelas VI caturwulan II. Masih minimnya informasi mengenai pendidikan inklusif atau terintegrasi, memaksa Dimas meninggalkan salah satu kesenangan bersekolah, karena para guru dan tenaga pendidik yang belum paham cara menangani siswa dengan berkebutuhan khusus penglihatan.

Ada ungkapan bahwa badai pasti akan berlalu. Kesedihan karena pemikiran bahwa teman-teman sebayanya dapat pergi ke sekolah sedangkan dirinya hanya berdiam diri di rumah, perlahan mulai terangkat ketika satu tahun berselang Dimas kembali ke sekolah untuk mengikuti Ebtanas, dan masih dapat lulus dengan nilai rata-rata 9. Kemudian Dimas melanjutkan ke SMP umum yaitu 226 Jakarta, lalu SMA di 66 Jakarta, hingga masuk PTN lewat jalur SPMB di tahun 2007 dan berhasil masuk jurusan S1 Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia. Mendapat gelar sarjana di awal 2012, Dimas lalu mendapatkan kesempatan short course selama tiga bulan di Flinders University, Adelaide, Australia pada musim semi 2013.

Story Image