Profil Dimas di Majalah Intisari

58 intisari-online.comYANG Sukses
YANG Kreatif
intisari-online.comYANG Sukses
YANG Kreatif
dimas.indd 58 10/15/14 5:05 PM


NOVEMBER 2014Nyala
Sinar di
Kegelapan
Penulis & Fotografer:
Mayong S. Laksono
Dia memberdayakan
kaum disabel, khususnya
penyandang tuna netra,
hingga bisa hidup nyaris
tanpa kendala. Internet
adalah sarana utamanya
untuk berkomunikasi
dan berkreasi.
Wirausahawan sosial,
blogger, penulis,
penerjemah, aktivis,
peraih sejumlah
penghargaan dan
sederet predikat lain.
Dia mengkritik UU
No 4/1997 tentang
Penyandang Cacat yang
tidak berjalan justru
karena pemerintah tidak
memberi contoh yang
benar.
Dimas Prasetyo
Muharam
Wirausahawan Sosial
adannya tegap,
tinggi sekitar 180
cm dengan berat
proporsional dan
sepatu ukuran 43.
Wajah tampan,
ramah, dan kalau tertawa
memperlihatkan gigi yang
tersusun rapi. Dalam pembicaraan
sesekali menyelipkan kata–kata
bahasa Inggris. Ia presentasi
ketika mengikuti pelatihan
organisasi pembinaan pemuda
yang menginduk ke Inggris,
International Awards for Young
People (IAYP), berdiskusi di
Forum Indonesia Muda atau
Indonesian Young Change Maker,
hadir dalam seminar bisnis melalui
internet, temu darat para blogger,
dan banyak lagi aktivitasnya.
Semua dijalaninya seperti
anak muda berprestasi lainnya.
Bedanya, ketika berjalan
ia membawa tongkat, atau
kalau tidak, ada orang yang
menuntunnya. Ketika membaca
atau menulis teks di ponsel, ia
menggunakan program screen
reader, aplikasi pengubah teks
menjadi bahasa lisan. Aplikasi
yang sama juga digunakan pada
laptopnya – dia “membaca”
laptop, termasuk mengenali
gambar dan ilustrasinya lewat
earpiece yang terhubung ke
telinganya. Ya, dia membaca
dengan mendengarkan.
dimas.indd 59 10/15/14 5:05 PM


YANG Sukses YANG Kreatif


Dimas Prasetyo Muharam,
kelahiran Jakarta, 14 Agustus
1988, memang bukan pemuda
biasa. Ia salah satu tokoh pemberdayaan
kaum disabel, khususnya
tuna netra, dengan cara mendayagunakan
komputer dan khususnya
internet. Merintis kartunet.
com pada 2006 bersama Irawan
Mulyanto, Aris Yohanes, dan M.
Ikhwan Tariqo, semula hanya
sebagai wadah unjuk diri untuk
menghilangkan stigma para penyandang
tuna netra. Misalnya
anggapan bahwa mereka hanya bisa
memijat, ngamen, dan pelbagai
pekerjaan lain yang tidak berarti.

Tentu ada keinginan mulia di
sana, yaitu membangun kemandirian
kaum tuna netra lewat
karya dengan memanfaatkan
internet. Ya, keempat sahabat
yang sama-sama menyandang
tuna netra itu punya minat yang
sama pada komputer dan internet,
dan menemukan jalan emas untuk
membangun kapasitas (capacity
building) sesama tuna netra.

Kartunet, singkatan dari “karya
tuna netra”, pada 2011 berkembang
menjadi komunitas. Karena situasi
terus membaik, ada niat untuk
menghimpun karya dan kreativitas
anggotanya, sembari berharap ada
peluang ekonomis di sana. Tahun
2012 pun Kartunet berkembang
menjadi, kata Dimas, social
enterprise. Maka karya-karya tulis

anggota pun dikumpulkan, dan
pada 2014 dibukukan dengan
judul Yang (Tak) Terlupakan dan
Merpati Berjari Enam.

Tahun ini, Kartunet adalah
lembaga dengan banyak wadah,
sosial maupun komersial. “Kami
mengembangkan start-up (bisnis
rintisan, Red.), sebagai social
media administrator, penyedia
content, sebagai buzzer, macammacam,”
sambung Dimas. “Kami
juga menerima jasa web designing,
memberi pelatihan untuk mengembangkan
IT berbasis online, pelatihan
menulis, dan jangan lupa,
kelompok kami juga bisa nyanyi
serta main musik.”

Irawan dan Aris kini tidak
aktif lagi, tapi ada Irfan dan
Sapto sebagai pengganti. “Kami
lebih sering ketemu secara online
daripada secara fisik meskipun ada
sekretariat yaitu rumahnya Riqo
di Jakarta Selatan. Sedangkan
desainer dan developer web
kami tinggal di Bali. Jadi semua
dikerjakan secara online.”

Secara individual, para anggota
juga mengembangkan kapasitas
diri. Dimas, misalnya, aktif di
Facebook dan Twitter, rutin
mengisi blog di dimas.web.id., dan
selalu bersemangat memajukan
kaum disabel. Predikatnya antara
lain socialpreneur, web developer,
juga penerjemah. Yang terakhir
ini sesuai dengan ijazahnya; ia

dimas.indd 60 10/15/14 5:05 PM


NOVEMBER 2014NYALA SINAr DI KeGeLAPAN
lulusan Sastra Inggris Fakultas
Ilmu Budaya Universitas
Indonesia. Di sisi lain, Kartunet
juga berkembang menjadi wadah
segala macam. Yang bergabung
pun tidak hanya penyandang tuna
netra, melainkan juga penyandang
disabilitas lain dan “orang awas”
(ini istilah Dimas dkk. untuk
menyebut orang yang bisa melihat)
yang memiliki keberpihakan.
Internet yang vital
Bagi Dimas dan rekan-rekannya,
internet adalah sarana yang amat
berarti dalam kehidupannya. Bahkan
sangat vital. Dari internet
mereka belajar sarana penunjang
aktivitas, mengunduh perangkat lunak
dan program-program aplikasi,
serta segala aktivitas lain. “Program
sudah ada, kita tinggal utilizing,
memanfaatkannya,” kata Dimas.
“Saya tidak membayangkan
sepuluh atau sekian belas tahun
lalu, dunia kami terbatas pada
“Tak sedikit penyandang
disabilitas yang putus
asa dan frustrasi karena
tak mendapat dukungan
dari lingkungan”
Foto: dok. Dimas P. Muharam
Ketika menerima
beasiswa kursus
disabilitas
& jender di
Adelaide, 2013
dimas.indd 61 10/15/14 5:05 PM


YANG Sukses YANG Kreatif


apa yang bisa dialih-hurufkan ke
Braille saja,” kata Dimas. Memang,
belum semua website menerapkan
standar accessability bagi tuna
netra. Tapi dari waktu ke waktu,
internet memberi makin banyak
pilihan dan membentangkan jalan
yang makin lebar.

Perangkat lunak pembaca
tulisan dan gambar juga terdapat
pada telepon seluler, di hampir
setiap basis operasi. Maka bagi
Dimas dkk. menelepon, menulis,
maupun membaca SMS atau
pesan-pesan lain sama mudahnya
dengan membaca komputer.
“Dengan orang awas kita tidak
berbeda sebenarnya, hanya we do
something in a different way.”

Aplikasi pembaca teks pun
bisa dipilih, sistem eja huruf per
huruf atau per kata. Dalam bahasa
Inggris maupun Indonesia. “Tapi
teknologi informasi, gadget, dll.
itu kan petunjuk aslinya pakai
bahasa Inggris,” kata Dimas. “Lagi
pula, sejak awal kami mempelajari
itu dengan petunjuk-petunjuk
berbahasa Inggris. Jadi ya lebih
pas yang berbahasa Inggris.”

Memang, bagi orang lain, suara
kata atau huruf dieja secara Inggris,
apalagi secara cepat, terdengar
aneh dan membingungkan. “Makanya
kami sering menggunakan
earphone supaya tidak mengganggu
orang lain. Apalagi di tempat
umum,” tambah Dimas.

Langsung tepuk pundak saja

Catur wulan ke-2 saat kelas 6
SD, Dimas pulang dari sekolah
dengan kepala pening. Pandangannya
berubah buram, dan segala
hal terlihat berwarna kehijauan.
Padahal mata hanya minus ¼.
Ia ingat, saat itu Jumat dan hari
terakhir di bulan Ramadan.
Orangtuanya, ayah seorang sopir
pribadi dan ibu pernah menjadi
juru masak sebuah keluarga,
membawanya ke rumah sakit
umum. Karena menjelang
Lebaran, tidak ada ahli yang
langsung bisa menangani. Obatobat
yang ditelannya sekadar
untuk mengilangkan pening.

Dia kemudian dipindahkan ke
rumah sakit khusus mata. Tidak
juga terobati dengan saksama,
lantas dipindahkan ke RSUP Cipto
Mangunkusumo. Hasil diagnosis
juga tidak memuaskan, sementara
pandangan Dimas makin kabur.
Akhirnya orangtuanya membawa
dia ke sumah sakit swasta khusus
mata. Diketahui, sebabnya adalah
virus toksoplasma yang masuk
ketika Dimas masih di dalam kandungan
ibunya. Sudah terlambat.

“Memang, kata dokter, virus
toksoplasma bisa singgah di tubuh
manusia dalam jangka panjang,”
kata Dimas, sulung dari dua
bersaudara. “Dulu Bimo, adik
saya, juga sempat sakit lama,
indikasinya juga karena virus itu.

dimas.indd 62 10/15/14 5:05 PM


63 NOVEMBER 2014NYALA SINAr DI KeGeLAPAN
Untung dia bisa disembuhkan.”
Sekarang, Bimo yang kelas 2 SMA
sering membantunya mengunduh
aplikasi atau membawa gadget
Dimas ke tukang servis apabila
rusak. Dimas sudah berniat
berhenti sekolah ketika suatu
saat ayahnya membaca di sebuah
majalah, artikel tentang yayasan
yang mengurusi anak-anak
penderita low vision. Dimas pun
dibawa ke sana. Dia diadvokasi
dan diarahkan untuk meneruskan
sekolah, sambil belajar huruf
Braille. Ia masuk ke SMP 226,
Jakarta Selatan, dan ternyata
ada dua teman yang sama-sama
penyandang tuna netra.
Mereka harus berjuang keras
dan mencari metode belajar
sendiri. Selain menyalin sebagian
materi sekolah ke dalam tulisan
Braille, Dimas juga menggunakan
tape recorder untuk merekam pelajaran.
“Ibaratnya, kalau temanteman
belajar satu langkah, saya
perlu dua-tiga langkah untuk
menguasai pelajaran.”
Adaptasi tidak hanya untuk dirinya
sebagai pemula menyandang
tuna netra, tetapi juga pergaulan
dengan teman-temannya. Dia setiap
kali harus memberi tahu temannya,
kalau berdialog jangan pakai isyarat
“Kalau orang awas
kadang capek di depan
komputer, kami bisa kuat
seharian karena tidak
mengandalkan mata.
NOVEMBER 2014NYALA SINAr DI KeGeLAPAN
Untung dia bisa disembuhkan.”
Sekarang, Bimo yang kelas 2 SMA
sering membantunya mengunduh
aplikasi atau membawa gadget
Dimas ke tukang servis apabila
rusak. Dimas sudah berniat
berhenti sekolah ketika suatu
saat ayahnya membaca di sebuah
majalah, artikel tentang yayasan
yang mengurusi anak-anak
penderita low vision. Dimas pun
dibawa ke sana. Dia diadvokasi
dan diarahkan untuk meneruskan
sekolah, sambil belajar huruf
Braille. Ia masuk ke SMP 226,
Jakarta Selatan, dan ternyata
ada dua teman yang sama-sama
penyandang tuna netra.
Mereka harus berjuang keras
dan mencari metode belajar
sendiri. Selain menyalin sebagian
materi sekolah ke dalam tulisan
Braille, Dimas juga menggunakan
tape recorder untuk merekam pelajaran.
“Ibaratnya, kalau temanteman
belajar satu langkah, saya
perlu dua-tiga langkah untuk
menguasai pelajaran.”
Adaptasi tidak hanya untuk dirinya
sebagai pemula menyandang
tuna netra, tetapi juga pergaulan
dengan teman-temannya. Dia setiap
kali harus memberi tahu temannya,
kalau berdialog jangan pakai isyarat
“Kalau orang awas
kadang capek di depan
komputer, kami bisa kuat
seharian karena tidak
mengandalkan mata.
dimas.indd 63 10/15/14 5:05 PM


YANG Sukses YANG Kreatif


mata, “Tapi tepok aja gue,” katanya.

Masuk SMA, Dimas makin bisa
beradaptasi. Lewat seorang teman
dia berkenalan dengan “komputer
bicara” yang diprakarsai Yayasan
Mitra Netra di Jakarta Selatan. Sepulang
sekolah dia belajar di sana,
mengikuti teknologi yang terus
berkembang, hingga akhirnya
mengenal internet untuk tuna
netra. Sampai kemudian lulus
dan masuk ke Sastra Inggris UI,
dia menerapkan strategi gigih
belajar namun tahan mental
dalam bergaul. “Kalau dikatain,
balik katain juga, gokil-gokil aja.
Pokoknya, kuat mentallah.”

Selama sekolah, sampai kuliah,
hingga lulus dan kini aktif di
masyarakat, Dimas hampir selalu
diantar-jemput ayahnya. “Kalau
tidak ya diantar sampai perhentian
angkot di dekat rumah,” katanya.
Kadang ia juga naik taksi, dan
menggunakan mata batinnya untuk
mengenali tempat dan jalanan.

Begitu pula yang dia lakukan
setiap kali menginjak ke tempat
baru. “Saya selalu melakukan mind
mapping untuk mengenal dan
menghapalkan tempat. Biasanya satu
kali sudah cukup. O, di sini letak
meja, ini kursi, di sini ada colokan
listrik, ini jalan menuju toilet, dsb.”

Di rumahnya, Dimas bahkan
tak beda dengan penghuni lain,
“Lari dari ruangan ke ruangan pun
bisa,” katanya sambil tertawa. “Tapi

bapak dan ibu selalu salah tuh,
kalau listrik turun sehingga lampu
mati, misalnya, mereka menyuruh
saya diam. Padahal itu enggak ada
artinya, malah sering kali saya yang
lebih dulu menyalakan sakelar,”
kelakar Dimas tentang orangtuanya
yang asli Wonogiri, Jawa Tengah.

Orang sering menduga,
lemahnya salah satu indera akan
mengasah indera-indera lain.
Tapi Dimas membantah dugaan
itu. “Mungkin karena kebiasaan
mendayagunakan indera yang
lain, lebih fokus, jadi terkesan
lebih kuat.” Dimas sendiri masih
bisa melihat kelebatan sinar atau
bayangan dengan mata kirinya,
meski sangat kabur. Sementara
mata kanannya total tidak bisa
melihat. Tentu dia punya cara
sendiri untuk “melihat”. Makanya
dia bisa menikmati pertandingan
sepakbola di televisi. Dimas penggemar
klub Manchester United.

Selain mengandalkan tongkat
dan indera yang lain, Dimas juga
mengandalkan bantuan orang
lain. Untuk dituntun, misalnya.
Bahkan ia menekankan, harus
percaya kepada siapa pun yang
membantu. Kalaupun misalnya
orang lain berniat mencelakakan,
dengan ringan Dimas bilang,
“Berapa banyak tuna netra yang
meninggal karena tertabrak
atau kecelakaan? Saya rasa tidak
sebanyak orang awas.”

dimas.indd 64 10/15/14 5:05 PM


NYALA SINAr DI KeGeLAPAN

Pemerintah, janganlah sungkan

Berbicara dengan agak serius,
Dimas menekankan tiga unsur
penting bagi kemandirian penyandang
disabilitas: diri sendiri, keluarga,
dan pemerintah. Secara
pribadi Dimas telah berbuat banyak
agar mandiri, bahkan menularkan
semangat dan menginspirasi banyak
orang. Keluarganya juga
mendukung dan memberi fasilitas.

Sementara pemerintah, menurut
juara lomba menulis tingkat SMA
se-Indonesia, peraih penghargaan
Ashoka Change Maker, anggota
Forum Indonesia Muda, peserta
Indonesia Young Change Maker
di Bandung (2012), penerima
beasiswa kursus singkat gender
dan disabilitas di Flinders University,
Adelaide, Australia (2013),
dsb. ini belum sepenuhnya
berpihak. Kota-kota belum
dibangun dengan memperhatikan
kaum disabel, dan undang-undang
belum sepenuhnya dilaksanakan.

“Undang-undang No. 4/97
tentang Penyandang Cacat,
yang mensyaratkan 1 di antara


Mutiara Kata

100 pegawai bidang tertentu
pemerintahan harus penyandang
disabilitas, tidak dijalankan.
Ini kan pemerintah tidak
mencontohi?” kata Dimas.
“Selama ini, kesempatan kerja
bagi penyandang disabilitas
di pemerintahan hanyalah
bidang seperti definisi mereka
tentang penyandang disabilitas.
Masih menggunakan assesment
mereka, sehingga pekerjaan yang
ditawarkan ya di Dinas Sosial atau
Dikbud yang mengurusi kaum
disabel, misalnya.”

Padahal mestinya, kata Dimas,
fair saja. “Pemerintah jangan
sungkan. Buka saja kesempatan
sebesar-besarnya bidang yang
memang mungkin dilakukan oleh
kaum disabel. Kami juga tahu
diri kok, kalau tidak mampu di
suatu pekerjaan, pasti tidak akan
masuk. Kalaupun nanti dites dan
ternyata tidak lolos ya kami tidak
apa-apa kok,” laki-laki gagah yang
ingin mencoba menjalani seleksi
jadi pegawai negeri sipil ini mengakhiri
perbincangan.


Ikhtiar adalah tanda bahwa seorang manusia masih hidup

Dimas Prasetyo Muharam, pendiri Kartunet, komunitas maya
penyandang disabilitas

dimas.indd 65 10/15/14 5:05 PM


Anda sedang membaca artikel tentang Profil Dimas di Majalah Intisari yang dapat anda temukan di url https://www.dimasmuharam.info/2016/11/profil-dimas-di-majalah-intisari.html, anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Profil Dimas di Majalah Intisari ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda, namun jangan lupa untuk meletakkan link Profil Dimas di Majalah Intisari sumbernya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar