Disability Rising Awareness lewat Lomba Catur HUT KORPRI ke-48

Dimas ikut lomba HUT Korpri dengan Papan Catur TunanetraJakarta, (26-11-2019) - Kampanye publik untuk lebih mengenal dan memahami disabilitas tidak hanya dengan acara pensi atau bagi-bagi brosur. Upaya ini dapat dengan hal sekecil ikut lomba catur menggunakan papan catur tunanetra dan melawan peserta awas saat event memperingati HUT KORPRI ke-48 antar eselon satu di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI yang aku ikuti.

Keinginan untuk ikut lomba catur di hari Korpri ini sudah sejak setahun lalu. Waktu itu aku sudah "modal" dengan beli papan catur tunanetra dari seorang teman seharga Rp 250.000 yang saya minta segera dikirim via ojek online. Catur sudah sampai di kantor, dan tinggal menunggu hari pelaksanaan. Tapi sayangnya ternyata namaku tidak terdaftar di panitia dan akhirnya terpaksa tidak jadi ikut. Hampir setahun kemudian papan catur tunanetra itu "nganggur" di pojok ruang kantor karena memang hampir tak ada waktu luang untuk sparring dengan teman kantor di sela-sela pekerjaan. Tapi peluang itu tiba-tiba datang setelah ternyata tahun ini namaku didaftarkan oleh teman untuk dapat ikut lomba catur.

Sehari sebelum lomba di Balitbang Kemendikbud, gedung E, aku sempat diminta untuk menunggu keputusan karena akan ditanyakan dulu ke panitia apakah boleh jika aku membawa papan catur sendiri yang sudah dimodifikasi untuk tunanetra. Sempat sedikit was-was juga, tapi Alhamdulillah panitia mengizinkan. Setelah di hari H dan tahu bahwa wasit langsung dari Percasi Jakarta, aku berfikir bahwa mereka tentu tak asing lagi dengan catur tunanetra sebab olahraga ini pun sudah jadi cabang resmi di event olahraga nasional dan internasional.

Buat yang belum tahu seperti apa dan bagaimana seorang tunanetra dapat main catur. Bahwa papan catur yang digunakan pada dasarnya sama dengan catur pada umumnya. Papan terdiri dari 32 kotak putih dan 32 kotak hitam, ada masing-masing 16 bidak putih dan 16 bidak hitam. Hanya untuk membedakan warna, yang which is tidak dapat dilakukan oleh seorang tunanetra, pada bidak putih di bagian atasnya dipasangi paku payung, dan pada kotak putih diberi tambahan lapisan sehingga lebih tinggi dari kotak hitam. Selain itu, pada bagian bawah bidak catur juga diberi paku dan di tiap kotak diberi lubang untuk memasukkan paku tersebut. Sehingga ketika pemain yang tunanetra meraba-raba bidak catur, tidak mudah jatuh dan berubah posisi. Selebihnya, cara main dan aturannya sama dengan catur biasa.

Jujur ketika ikut lomba catur Korpri di Kemendikbud ini tidak ada ekspektasi untuk menang. Pertama aku memang tidak dapat dikatakan jago main catur, hanya sekedar tahu cara bermainnya. Selain itu sudah lama sekali tidak main catur, jadi pasti lupa dengan sebagian besar strategi. Namun satu misi aku adalah sebagai bentuk partisipasi dan sembari numpang eksis bahwa ada PNS disabilitas di Kemendikbud. Efeknya cukup "wow". Meski tidak menang, tapi aku berkenalan dengan banyak senior lintas satker, dan mereka cukup curious untuk tahu bagaimana seorang tunanetra bisa main catur. Selain itu pertanyaan-pertanyaan muncul juga bagaimana aku dapat pakai smartphone dan juga komputer bicara untuk melakukan pekerjaan di kantor. Hitung-hitung disability rising awareness gratis.

Terima kasih untuk sekretariat Balitbang Kemendikbud yang sudah menyelenggarakan acara keren ini (batik seragamnya yang dikasih ke peserta keren lho. hehe). Terima kasih juga sudah menjadikan event ini inklusif dengan memberi aku kesempatan menjadi peserta lomba. Bahwa dengan cara dan alat yang berbeda, asal mencapai tujuan kegiatan yang sama, maka hal itu tak jadi masalah. Itu secara sederhana makna dari inklusivitas. Tunggu di lomba catur HUT Korpri tahun depan, aku akan kembali dengan perispaan yang lebih baik sehingga dapat menang dengan sistem pakai waktu. Selamat hari ulang tahun Korps Pegawai Republik Indonesia ke-48, jaya jaya jaya. (DPM)

Tak Menyesal Berdiri hampir 2 jam di Upacara Bendera Peringatan HariGuru Nasional 2019

Ketika mengikuti upacara Hari Guru di lapangan kantor Kemendikbud SenayanJakarta (25-11-2019) - Pagi ini rasa haru membuncah di hati saya saat mengikuti upacara bendera memperingati Hari Guru Nasional 2019. Bukan hanya karena upacara yang dipimpin oleh mas menteri Nadiem dengan isi dan penyampaian pidato beliau yang sangat inspiratif dan milenial, tapi juga makna dari hari guru itu sendiri.

Lagu demi lagu yang dinyanyikan tim paduan suara dari Hymne Guru dan Terima Kasih Guru mengantarkan saya pada memori belasan tahun lalu, ketika sempat putus sekolah karena kehilangan penglihatan di usia 12 tahun, hingga kesadaran saat ini berdiri di lapangan, di depan hadapan menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dengan berseragam Korpri.

Tak lain dan tak bukan, saya dapat meraih hari ini adalah karena bantuan para guru saya semasa sekolah, tentu selain dukungan penuh orang tua. Tak dapat saya bayangkan, apabila saat itu para guru menolak atau apatis pada keberadaan saya yang memiliki keterbatasan penglihatan tapi belajar di sekolah reguler/umum. Betapa sabar mereka memmbimbing saya dan rela meluangkan tenaga dan fikiran untuk menyampaikan materi dengan cara yang berbeda. Alangkah berartinya ketulusan mereka yang tak membedakan saya dengan siswa lainnya di kelas yang tanpa disabilitas/kebutuhan khusus, sehingga saya pun diberi kesempatan untuk berprestasi melampaui keterbatasan saya.

Benar kiranya lirik di salah satu lagu "Namamu akan selalu hidup di sanubariku". Masih ingat saya dengan sebagian besar nama-nama guru yang membimbing saya. Saat SD ada bu Purwanti, bu Lili, bu Suryati guru IPA, pak Saronto guru IPS, pak Tabroni, pak Said Bakar, pak Amsar guru olahraga, pak Ngadiran wali kelas 6, dll. Di SMP ada pak Tarsum walikelas 1, bu Yuni dan bu Sri wali kelas 2, dan bu Sari walikelas 3. Tentu guru-guru lainnya pak Tasirun guru Fisika/elektronika, bu Asmita guru Matematika, bu Atik dan pak Aris guru Fisika, bu Sri Wahyuni guru Biologi, pak Agus guru Sejarah, dll. Lalu di SMA ada pak Suganda guru Seni Rupa dan walikelas 10, bu Nani guru Sejarah dan walikelas 11, pak Didi guru Ekonomi, bu Fertini guru Fisika, bu Tini guru Biologi, bu Retno guru Sejarah, bu Kadar guru Kimia, bu Nurul dan pak Akip guru Bahasa Inggris, dll. Paling tidak, menurut saya masih mengingat nama para guru saya jadi sebuah reminder bahwa kita besar saat ini tak bukan karena jasa beliau-beliau pula.

Selamat Hari Guru Nasional 2019. Semoga takdir yang membawa saya jadi salah satu pegawai di Kemendikbud ini, jadi jalan saya untuk sedikit berkontribusi untuk pendidikan, dan membanggakan bapak / ibu guru yang tak menyesal memberi saya kesempatan untuk dapat melanjutkan sekolah 19 tahun lalu. (DPM)

#HGN2019 #MerdekaBelajar #GuruPenggerak