Suasana ketika Dimas memberikan Disability Equality Training ke Flight Attendants AirAsia India

Tangerang – Sebelumnya saya sudah posting mengenai Profil BEAT Indonesia yang saya juga tergabung di dalamnya saat ini. Kali ini mau sedikit cerita bagaimana proses awal saya bergabung dengan Beat, dan pengalaman 3 hari di AirAsia Academy di Malaysia untuk ikut IQP test.

Beat atau Barrier-free Environment Accessible Transport sudah terbentuk sejak beberapa tahun yang lalu di Malaysia. Konon, lembaga ini dibentuk sebagai respon dari AirAsia pada protes sejumlah organisasi penyandang disabilitas di Malaysia yang menginginkan layanan AirAsia dapat diakses oleh mereka. Sebagai maskapai kategori Low Cost Carrier (LCC) dan punya moto “everyone can fly with AirAsia”, sudah selayaknya para difabel pun dapat menikmati layanan AirAsia yang relatif terjangkau. Akan tetapi, banyak layanan di AirAsia yang dikurangi termasuk aksesibilitas untuk penumpang dengan disabilitas menggunakan alasan efisiensi sebagai maskapai LCC.

Sebagai tanggapannya, AirAsia bukan hanya berjanji akan meningkatkan layanan, tapi juga berkomitmen untuk memberikan Disability Equality Training ke segenap staf karyawan yang melayani langsung penumpang, baik di bandara atau di atas pesawat. Maka dari itu, terbentuklah Beat Malaysia yang para trainer-nya adalah perwakilan dari tiap jenis disabilitas itu sendiri. Para trainer Beat juga penyandang disabilitas seperti pengguna kursi roda atau kruk (tunadaksa), tunanetra, penyandang kesulitan belajar, dan tunarungu (tuli). Hal ini dimaksudkan agar peserta pelatihan mendapatkan pengalaman langsung interaksi dengan penyandang disabilitas yang nanti kemungkinan akan jadi penumpang yang mereka perlu layani.

Jadi AirAsia secara rutin mengadakan pelatihan untuk para staf baru atau yang sifatnya berulang atau recurrent. Satu hari dalam satu paket pelatihan yang biasanya 5 hari, khusus digunakan untuk mengadakan disability equality training (DET) dengan trainer dari Beat. Khusus di headquarter AirAsia di Malaysia, pelatihan untuk staf AirAsia dari seluruh dunia dilakukan di AirAsia Academy. Sedang di negara tempat AirAsia beroperasi juga ada pusat pelatihan seperti Red House AirAsia Cengkareng untuk AirAsia Indonesia.

Kurang lebih dua atau tiga tahun lalu, pernah ada perwakilan penyandang disabilitas dari Indonesia untuk mengikuti training Beat di Malaysia. Mereka dilatih langsung oleh trainer Beat Malaysia yaitu Mr. Anthony, mengenai metode dan format pelatihan yang sudah dibakukan oleh Beat. Selesai pelatihan mereka dapat sertifikat dari AirAsia dan siap untuk melakukan Disability Equality Training untuk AirAsia Indonesia.

Namun baru akhir tahun lalu pihak AirAsia follow up rencana mengadakan Disability Equality Training di Indoensia. Pak Maman sebagai country coordinator dihubungi oleh pak Zein dari Malaysia untuk membicarakan kelanjutan rencana tersebut. Wal-hasil pihak AirAsia ingin melakukan refresh dengan mengundang kembali perwakilan dari Beat Indonesia untuk IQP test di AirAsia Academy yang letaknya di daerah Sepang, dekat KLIA. Karena harus ada perwakilan dari tiap jenis disabilitas, sedangkan untuk disabilitas netra bu Mimi dan pak Suharto yang memiliki sertifikat Beat sebelumnya sudah sangat sibuk, maka melalui bu Rachmita Harahap dari Yayasan Sehjira untuk tunarungu mengajak saya untuk bergabung di tim Beat Indonesia.

Pada awalnya sempat ragu karena saya memang biasa untuk bicara di forum-forum atau seminar sebelumnya, tapi belum pernah menjadi training untuk semacam disability awareness. Namun setelah observasi ketika salah satu rainer dari Beat Malaysia melakukan training, cik Fairuz dari Malaysia Assosiasion for Blind (MAB), metode yang dipakai Beat cukup mudah untuk diikuti. Kunci utamanya adalah adakan interaksi sehingga peserta punya pengalaman langsung, menginspirasi, dan membangun empati sehingga mereka dapat melayani dengan hati ketika mendampingi penumpang dengan disabilitas.

Satu hal yang patut dicontoh yaitu AirAsia merupakan maskapai pertama di dunia yang mengadakan Disability Equality Training dengan trainer langsung dari penyandang disabilitas. AirAsia menganggap bahwa penyandang disabilitas juga pasar potensial, maka dari itu perlu melatih para staf-nya agar mampu dengan ramah dan cekatan ketika mendampingi penumpang difabel. Diharap maskapai penerbangan lain, serta operator jasa transportasi baik udara, laut, dan darat, juga mengadakan pelatihan serupa agar bukan hanya fasilitas moda transportasi yang dibuat akses, tapi juga SDM yang ada di dalamnya juga mampu melayani dengan baik para difabel. Sebab makin baik jasa layanan transportasi, maka dapat mendorong mereka untuk bermobilitas dan akhirnya membaurkan dirinya dengan masyarakat umum.

Sekian dulu cerita mengenai awal jadi bagian di tim Beat Indonesia. Apresiasi sekali lagi ke AirAsia yang sudah memulai langkah baik ini. Semoga lainnya akan menyusul. Semoga pula ini jadi salah satu ikhtiar kami untuk mewujudkan masyarakat yang lebih inklusif. Jika ada yang perlu Disability Equality Training di lembaganya, silakan kontak saya atau bertanya di kolom komentar ya. (DPM)

Rekomendasi Artikel:

Kata Kunci

Sudah Baca yang Ini?