*Tulisan ini pernah diikutsertakan dalam lomba esei kelingkungan yang diselenggarakan Fakultas Psikologi UI tahun 2008*

“Selamatkan Bumi Kita”. Mungkin kalimat tersebut adalah jargon yang sering kita dengan akhir-akhir ini. Apalagi dengan adanya istilah baru yang kita kenal dengan pemanasan global atau global warming. Tapi menurut saya pribadi, ada yang terdengar janggal dalam istilah tersebut. Kalimat “Selamatkan bumi kita”, terkesan seperti kita sebagai manusia, menyelamatkan bumi yang sedang dalam ancaman pihak di luar bumi. Kita seperti menghadapi ancaman yang di konteks ini, manusia adalah sebagai pihak yang terancam. Perubahan alam ini dipersalahkan atas ketidakstabilan bumi yang sangat berpengaruh bagi kehidupan manusia. Pada faktanya, manusialah yang telah menyebabkan perubahan alam ini. Hilangnya hutan sebesar 2,8 juta hektar dalam setahun (Kapanlagi.com, 21 Mei 2005), adalah salah satu contoh perbuatan manusia yang merusak alam. Alam menjadi tidak stabil dan pada akhirnya, mempengaruhi kehidupan manusia juga.

Hingga kita sadari, masalah sejatinya adalah pada diri manusia itu sendiri. Kesadaran manusia atas lingkungan telah mengalami dekadensi. Rasa kepedulian sesama manusia telah menurun drastis. Manusia tidak peduli lagi bahwa pengrusakan alam yang Ia lakukan, akan berdampak luas bagi dirinya dan orang lain. Oleh karena itu, kejiwaan manusia diarahkan kembali pada hakikat manusia sebagai salah satu makhluk ciptaan Tuhan yang hidup berdampingan dengan makhluk-makhluk lainnya. Ilmu psikologi atau ilmu tentang jiwa berperan penting dalam penyelamatan lingkungan yang dimulai dari diri tiap manusia. Hingga bisa kita katakan, jika alam kita rusak, maka hal tersebut disebabkan jiwa manusia pengelola alam tersebut yang juga rusak.

Ilmu psikologi adalah ilmu yang mempelajari kejiwaan manusia. Dalam bahsa sansekerta, psikologi berasal dari kata Atman yang berarti jiwa, Yunani yaitu Psyche, dan Latin yaitu Anima. Jiwa itu sendiri pengertiannya adalah nafas atau inti dari diri manusia itu sendiri. Jiwa adalah suatu elemen yang mengendalikan perilaku dan aktivitas manusia. Bahkan bisa kita katakan, otak manusia yang merupakan pusat semua kegiatan, turut ditentukan kinerjanya oleh jiwa manusia. Bahkan ada pepatah yang mengatakan bahwa”Dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang sehat”. Hal ini membuktikan, seorang individu yang memiliki tubuh atau fisik yang sehat, pastilah di dalamnya terdapat jiwa yang sehat. Sebaliknya, jikajiwa seseorang itu sakit, maka akan rusak pula tubuh dari individu itu.

Manusia sebagai makhluk individu, tidak akan pernah bisa dilepaskan dari lingkungan di sekitar manusia itu sendiri. Menurut teori fisis determinis, manusia dikatakan sebagai makhluk pasif, yang segala tingkah lakunya dipengaruhi oleh lingkungan. Pada teori ini, tidak dipercaya bahwa manusia dapat mempengaruhi atau bahkan merubah alam. Teori ini menggambarkan manusia layaknya manusia purba yang masih dalam zaman berburu dan meramu. Manusia purba tidak menentukan nasib mereka sendiri. Kehidupan mereka ditentukan oleh alam. Mereka mengikuti ke mana alam berubah. Di mana tempat ada makanan, di sanalah mereka berada. Kehidupan sangat statis, sehingga tak ada dinamika kehidupan sama sekali. Beda halnya dengan teori posibilis. Teori ini melihat manusia sebagai makhluk aktif. Manusia berperan aktif dalam mempengaruhi lingkungannya, selain lingkungan itu sendiri yang mempengaruhi manusia itu sendiri. Manusia pada teori ini dianggap ikut bertanggung jawab dalam keadaan lingkungan alam sekitar. Mereka tak tergantung lagi pada alam yang menyediakan kehidupan bagi mereka. Takperlu lagi hidup berpindah-pindah untuk mencari makanan, kini mereka bisa bercocok tanam untuk memproduksi makanan sendiri. Zaman ini disebut masa food producing yang merupakan awal dominasi manusia terhadap alam.

Dengan kelebihan akal yang dimilikinya, manusia ditugaskan oleh Tuhan sebagai wakil-Nya di muka bumi. Tugas utamanya adalah mengelola bumi ini dengan sebaik-baiknya. Sekali lagi, untuk mengelola bumi ini sebaik-baiknya, bukan untuk merusaknya. Dominasi manusia denga akal pemikirannya, terkadang malah bertindak semena-mena, tanpa memperhatikan makhluk hidup yang lain. Penebangan hutan yang tak terkendali adalah salah satu contoh perbuatan dominasi manusia yang tak memperhatikan makhluk hidup lain. Demi kepentingan manusia sendiri akan bahan baku kayu yang terus meningkat, manusia membabat hutan tanpa kode etik yang berlaku lagi. Prinsip tebang pilih dan tanam pohon kecil di samping pohon yang ditebang tidak diindahkan lagi. Jika ditilik lebih jauh, penebangan tanpa kendali ini akan berpengaruh sangat luas terhadap makhluk lain. Selain tanah yang menjadi tidak subur dan tandus karena tak ditanami lagi dengan pohon baru, hewan-hewan hutan yang berhabitat asli di hutan pun akan ikut terganggu. Hewan-hewan yang kehilangan habitatnya ini, sebagian ada yang masuk ke daerah pemukiman manusia, yang pada akhirnya mengganggu kemnyamanan manusia. Tapi yang lebih parah, banyak dari spesies hewan tersebut yang punah karena tidak dapat bertahan dengan perubahan habitat itu. Ini adalah kerugian besar bagi plasma nutfah di bumi.

Rekomendasi Artikel:

Sudah Baca yang Ini?

Pages: 1 2