Sejak ditemukan secara tidak sengaja oleh penjelajah berkebangsaan Italia Christoper Columbus pada abad ke-16, Amerika dianggap sebagai tanah tempat pengharapan baru. Banyak imigran Eropa yang berpindah ke Amerika dengan berbagai alas an. Diantaranya adalah untuk memperoleh kebebasan dan mengadu nasib.

Sistem politik dan adanya konflik antar gereja di daratan Eropa, mendorong para pelarian mencari tempat baru yang dapat melindungi hak-hak mereka. Ditambahlagi dengan ketimpangan social akibat revolusi industri Eropa, membuat benua tempat bermukim suku asli Indian itu tempat tujuan hidup baru mereka. Di tanah yang tak ada system kelas, feodalisme, dan diskriminasi dalam bentuk apapun, membumbungkan cita-cita para imigran pada waktu itu.

Namun pada kenyataannya, persamaan yang didamba tidak terwujud dengan sempurna. Di awal kedatangan pertama imigran Eropa, memang sangat memberikan pengharapan bagi mereka. Di tanah yang baru, mereka jadi mempunyai hak untuk memiliki tanah yang di Eropa hanya dikuasai oleh kaum Aristokrat. Banyak orang yang menjadi sukses setelah bekerja keras dengan semua pengorbanan dan ketekunannya di Amerika. Hingga pada akhirnya, paham kapitalisme ini menciptakan aristocrat-aristokrat baru dalam system ekonomi. Bukan karena keturunan, tapi karena kekayaan yang ekstrim jika dibandingkan dengan kalangan bawah Amerika.

Di era moderen ini, esensi dari American Dreams sebagai hope land semakin sulit diwujudkan. Banyak para pengadu nasib di Amerika yang tidak mendapat kesuksesan dan hanya menjadi sampah masyarakat di sana. Di dalam tulisan ini, akan dikaitkan isi cerita dalam Film Pursuit of Happyness dengan pandangan American Dreams.

Film Pursuit of Happyness yang rilis pada tanggal 15 Desember 2006 ini, disutradarai oleh Gabriele Muccino, seorang sutradara Italia yang sukses menggarap dua film sebelumnya yaitu Ricordati di me dan L’ultimo bacio. Dalam pembuatannya, film ini diproduksi oleh kolaborasi antara Will Smith, Steve Tisch, James Lassiter, Todd Black, dan Jason Blumenthal. Naskah dalam film Pursuit of Happyness ini, dibuat oleh Steven Conrad. Didistribusikan oleh perusahaan Columbia Pictures, film ini menampilkan para pemeran utama Will Smith, Jaden Smith, Thandie Newton, serta Dan Castellaneta.

Film yang menghabiskan dana sebesar 55 juta dolar ini, merupakan visualisasi dari biografi seorang kulit hitam Chris Gardner. Skenario yang dibuat adalah hasil adopsi dari riwayat hidup Chris Gardner yang termasuk best seller pada waktu itu.

Judul dalam film ini yaitu “pursuit of Happyness” atau yang diartikan dalam bahasa Indonesia menjadi “pencarian kebahagiaan”, terlihat salah ejaan dalam bahasa Inggris. Kata Happyness di sana, dalam ejaan yang benar adalah happiness. Namun terminology tersebut, adalah hasil kutipan dari teks Deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat atau dikenal juga United States Declaration of Independent, buatan dari Thomas Jefferson. Istilah ini juga ada di esei yang dibuat oleh Lemuel Haynes pada tahun 1776 yang mencita-citakan bahwa harus ada persamaan antara kulit putih dan kulit hitam.

Kisah bermula pada tahun 1981, berlatarbelakang kota San Fransisco, California. Film ini merupakan sebuah kisah nyata, yang menceritakan seorang Chris Gardner yang berjuang untuk dapat menghidupi anaknya Christoper serta istrinya Linda. Mereka ini adalah keluarga kulit hitam yang hidup pas-pasan. Tinggal di sebuah appartemen dengan banyak tagihan hutang mengantri. Pekerjaan awal Chris Gardner adalah seorang penjual door to door alat scanner tulang. Ia berkeliling rumah sakit untuk memasarkan barang dagangannya itu. Hidupnya benar-benar tergantung dari hasil penjualan alat scanner tersebut. Namun, pihak rumah sakit merasa alat tersebut terlalu mahal dan menyebabkan penjualan sangat sedikit. Sedangkan istrinya Linda, hanya bekerja di sebuah laundry Hotel yang tidak terlalu sukses.

Konflik bermula ketika mobil satu-satunya yang dimiliki oleh Chris Gardner harus disita karena tagihan uang parker yang tak pernah dilunasi. Keadaan ini diperparah dengan Linda yang turut kehilangan pekerjaan. Linda memutuskan untuk pergi ke New York untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Atas permintaan Chris, Linda pergi tanpa membawa anak mereka Christoper. Puncak penderitaan yang harus dialami oleh Chris Gardner adalah saat dia dan anaknya harus terusir dari appartemen karena tak mampu lagi membayar.

Ia kemudian melamar di salah satu perusahaan pialang saham. Dalam prosesnya, Chris Gardner harus menjalani latihan menjadi pialang selama enam bulan tanpa dibayar. Dean Witter Reynolds, sebagai pemilik perusahaan, menjanjikan satu orang saja yang akan diterima sebagai karyawan tetap setelah enam bulan proses latihan. Chris Gardner menekuni pekerjaan itu dan bertekad untuk dapat diterima setelah melihat penderitaan yang dia dan anaknya alami. Selama beberapa malam, mereka yang sudah tidak memiliki tempat tinggal lagi, terpaksa untuk tidur di bus dan sub way. Namun akhirnya mereka memutuskan untuk tinggal sementara di Glide Memorial Church, tempat yang menyediakan akomodasi bermalam bagi orang-orang tuna wisma.

Pada akhirnya, setelah enam bulan latihan, Chris gardner diterima sebagai karyawan di perusahan itu. Kehidupannya perlahan mulai membaik dengan adanya penghasilan tetap. Usaha yang keras dan ketekunan, menunjukan adegan terakhir dalam film itu mengenai kesuksesan yang telah dicapai Chris Gardner. Bahkan ia berhasil mendirikan perusahan pialang saham sendiri di tahun 1987 yang dinamainya Gardner Rich.

Rekomendasi Artikel:

Kata Kunci

Sudah Baca yang Ini?

Pages: 1 2 3