Antisipasi Bencana dengan Back to Nature

Antisipasi Bencana dengan Back to Nature

Menjelang berakhirnya tahun 2010, Indonesia dirundung bencana. Mulai dari banjir bandang yang menerjang Wasior di Papua, gempa dan tsunami di kepulauan Mentawai, dan saat ini gunung Merapi masih membara di Yogyakarta. Fakta ini mengingatkan masyarakat bahwa gugusan kepulauan nusantara memang rawan akan bencana. Letak Indonesia yang strategis sekaligus berbahaya ini, sudah seharusnya melahirkan penduduk yang mampu meminimalisasi dan mengantisipasi dampak suatu bencana alam.

Ironisnya, di tengah perkembangan teknologi seperti saat ini pun, korban yang jatuh tak pernah dapat dihindari. Bukan hanya beberapa, terkadang korban mencapai puluhan, ratusan, atau bahkan ribuan jiwa. Tiap kali bencana datang, maka penduduk panik dan melakukan tindakan sporadis yang sesungguhnya tidak efisien. Seakan-akan masyarakat kita tidak pernah siap dengan fakta bahwa Indonesia merupakan daerah rawan bahaya. Lantas, kemanakah pengalaman mitigasi bencana para pendahulu kita pergi?

Selalu tidak siapnya masyarakat dalam menanggulangi dampak bencana tak lepas dari kecenderungan manusia saat ini yang jauh dari alam. Bencana alam, seperti apa yang akhir-akhir ini dialami, bukan merupakan hal baru. Sejak ratusan tahun lalu nenek moyang bangsa Indonesia telah mengalami, dan belajar untuk menanggulanginya. Ilmu ini kemudian diwariskan dalam bentuk kearifan lokal kepada generasi berikutnya.

Seperti contoh kearifan lokal Semong yang ada di pulau Simeulue. Tradisi ini mengajarkan kepada masyarakat setempat untuk segera lari ke bukit atau tempat yang lebih tinggi ketika air di pantai surut tiba-tiba. Selain itu, ada pula tradisi di masyarakat Jawa, khususnya daerah gunung berapi, yang mempercayai jika kera-kera telah turun gunung atau hewan-hewan bertingkah-laku di luar kebiasaan, maka akan terjadi erupsi atau letusan gunung berapi.

Saat ini, masyarakat modern telah semakin jauh meninggalkan kearifan lokal ini. Alam yang seharusnya menjadi petanda bagi manusia, telah banyak dirusak demi kepentingan pembangunan. Akibatnya, elemen-elemen yang dahulu mampu membuat sebuah mekanisme peringatan dini akan terjadinya bencana, kini  tak mampu bekerja dengan baik.

Melihat semua ini, perlu ada langkah sistematis yang memadukan antara tradisi kearifan lokal dengan teknologi modern. Sebab, alat teknologi modern saat ini hanya mampu untuk mendeteksi bencana setelah terjadi. Sedangkan kearifan lokal setempat mengajarkan masyarakatnya untuk membaca tanda-tanda alam.

Jalan yang paling efektif adalah dengan membina generasi muda melalui ranah pendidikan. Perlu ada pengenalan kembali (revitalisasi) generasi muda terhadap kearifan lokal yang dimiliki daerahnya. Pertanda-pertanda dan tindakan yang sesuai perlu diperkenalkan agar para pelajar ini bisa menjadi pemandu bagi masyarakat ketika bencana terjadi. Sehingga demikian, masyarakat dapat segera mengantisipasi dampak bencana tanpa perlu panik dan menunggu hingga semuanya terlambat.

Selain itu, pengenalan terhadap kearifan lokal ini pun akan turut mengajak generasi muda untuk mencintai alam. Akan timbul kesadaran dalam benak mereka bahwa kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari alam. Ketika alam itu dirusak, maka para penanda akan hilang, dan bencana itu tak akan terelakan lagi.

Oleh karena itu, berawal dari generasi muda, diharapkan dampak buruk dari bencana alam mampu diminimalisasi. Dengan kemampuan untuk mengenali pertanda alam, dan kesadaran untuk tidak mau merusak alam. Semoga semua bencana ini lekas berakhir, dan bangsa Indonesia dapat kembali berbenah diri.

*Diterbitkan dalam kolom Suara Mahasiswa Koran Sindo edisi Rabu, 10 November 2010.

Rekomendasi Artikel:

Kata Kunci

Sudah Baca yang Ini?

3 Comments

  1. dikopi untuk apa?

  2. sorri ngopi opininya tanpa izin…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow My Blog

Silakan daftarkan alamat email kamu untuk mendapatkan notifikasi tiap kali ada tulisan baru, gratis!

Join 7,144 other subscribers

Top Blog