Apresiasi Wayang Nusantara

Apresiasi Wayang Nusantara

Berikut adalah sebuah esei yang saya buat untuk pengganti tugas akhir Mata Kuliah MPK Seni apresiasi Wayang Kulit. Mata kuliah yang cukup menyenangkan, bisa bertemu dengan teman-teman dari luar Fakultas Ilmu Budaya. Dosen yang saat itu mengajar adalah Pak Dharmoko dan Asisten dosen Mas Pri. Terima kasih pak untuk bimbingannya selama satu semester, kelas yang sangat menarik 🙂

Pendahuluan

Wayang adalah sebuah seni pertunjukan khas Indonesia yang sudah sangat populer baik itu di dalam atau luar pulau Jawa. Karya seni ini sudah dikenal masyarakat nusantara sejak zaman prasejarah. Kemudian pada saat masuknya pengaruh Hindu Budha, cerita dalam wayang mulai mengadopsi kitab Mahabarata dari India. Lalu pada masa pengaruh Islam, wayang oleh para wali digunakan sebagai media dakwah yang tentunya dengan menyisipkan nilai-nilai Islam. Dalam tulisan ini, akan dipaparkan pengertian wayang, sejarahnya, jenis-jenisnya, fungsi wayang, dan aspek-aspek lain yang terkandung dalam wayang. Kita akan dapat mengetahui apakah wayang itu masih relevan dalam masa moderen ini. Masihkah wayang dibutuhkan baik dalam sarana informatif dan hiburan. Sehingga dapat menjelaskan maksud dalam judul tulisan ini yaitu “Wayang, so what gitu lho!” Yang jika diartikan menurut konteks sekarang yaitu apakah wayang itu masih penting?

Pengertian kata wayang
Pengertian wayang adalah walulang inukir (kulit yang diukir) dan dilihat bayangannya pada kelir. Dengan demikian, wayang yang dimaksud tentunya adalah Wayang Kulit seperti yang kita kenal sekarang. Tapi akhirnya makna kata ini meluas menjadi segala bentuk pertunjukan yang menggunakan dalang sebagai penuturnya disebut wayang. Oleh karena itu terdapat wayang golek, wayang beber, dan lain-lain. Pengecualian terhadap wayang orang yang tiap boneka wayang tersebut diperankan oleh aktor dan aktris sehingga menyerupai pertunjukan drama.r
Wayang adalah seni tradisional Indonesia yang terutama berkembang di Pulau Jawa dan Bali. Pertunjukan wayang telah diakui oleh UNESCO pada tanggal 7 November 2003, sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan sangat berharga (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity).

Sejarah Asal-usul wayang
Di awalnya, wayang adalah bagian dari kegiatan religi animisme menyembah ‘hyang’, itulah intinya. Dilakukan antara lain di saat-saat panenan atau taneman dalam bentuk upacara ruwatan, tingkeban, ataupun ‘merti desa agar panen berhasil atau pun agar desa terhindar dari segala mala petaka.
Di tahun (898 – 910) M, lakon wayang sudah menjadi wayang purwa. Namun tetap masih ditujukan untuk menyembah para sanghyang seperti yang tertulis dalam prasasti Balitung:
“sigaligi mawayang buat hyang, macarita bhima ya kumara”
“Menggelar wayang untuk para hyang. Menceritakan tentang bima sang kumara”
Di jaman mataram hindu ini, ramayana dari india berhasil dituliskan dalam bahasa jawa kuna (kawi). Pada masa raja darmawangsa, 996 – 1042 M, mahabharata yang berbahasa sansekerta delapan belas parwa dirakit menjadi sembilan parwa bahasa jawa kuna. Lalu arjuna wiwaha berhasil disusun oleh mpu kanwa di masa Raja Erlangga. Sampai di jaman kerajaan kediri dan raja jayabaya, mpu sedah mulai menyusun serat bharatayuda yang lalu diselesaikan oleh mpu panuluh. Tak puas dengan itu saja, mpu panuluh lalu menyusun serat hariwangsa dan kemudian serat gatutkacasraya.
Menurut serat centhini, sang jayabaya lah yang memerintahkan menuliskan ke rontal
(daun lontar, disusun seperti kerai, disatukan dengan tali)
Di jaman awal majapahit wayang digambar di kertas jawi dan sudah dilengkapi dengan berbagai hiasan pakaian. Masa-masa awal abad sepuluh bisa kita sebut sebagai globalisasi tahap satu ke tanah jawa. Kepercayaan animisme mulai digeser oleh pengaruh agama hindu yang membuat ‘naik’-nya pamor tokoh ‘dewa’ yang kini ‘ditempatkan’ berada di atas ‘hyang’. Abad duabelas sampai abad limabelas adalah masa ‘sekularisasi’ wayang tahap satu yaitu dengan mulai disusunnya berbagai mithos yang mengagungkan para raja sebagai keturunan langsung para dewa. Abad limabelas adalah dimulainya globalisasi jawa tahap dua. Kini pengaruh budaya islam yang mulai meresap. Kemudian pada awal abad keenambelas berdirilah kerajaan demak ( 1500 – 1550 M ) yang ternyata banyak kaidah wayang yang berbenturan dengan ajaran islam. Maka raden patah memerintahkan mengubah beberapa aturan wayang yang segera dilaksanakan oleh para wali secara gotongroyong. Wayang beber karya prabangkara (jaman majapahit) segera direka-ulang dibuat dari kulit kerbau yang ditipiskan. Sebagai catatan, di wilayah kerajaan Demak masa itu, sapi tidak boleh dipotong untuk menghormati penganut hindu yang masih banyak agar tidak terjadi kerusuhan berthema sara. Lalu gambar dibuat menyamping, tangan dipanjangkan, dan digapit dengan penguat tanduk kerbau. Sunan bonang menyusun struktur dramatika-nya. Sunan prawata menambahkan tokoh raksasa dan kera serta menambahkan beberapa skenario cerita. Raden patah menambahkan tokoh gajah dan wayang prampogan. Sunan kalijaga mengubah sarana pertunjukan yang awalnya dari kayu kini terdiri dari batang pisang, blencong, kotak wayang, dan gunungan. Sunan kudus kebagian tugas men-dalang. Pada masa sultan trenggana, bentuk wayang semakin dipermanis lagi. Mata, mulut, dan telinga mulai ditatahkan yang tadinya hanya digambarkan di kulit kerbau tipis. Susuhunan ratu tunggal, pengganti sultan trenggana, tidak mau kalah. Dia ciptakan model mata liyepan dan thelengan. Selain wayang purwa sang ratu juga memunculkan wayang gedhog yang hanya digelar di lingkungan dalam keraton saja. Sementara untuk konsumsi rakyat jelata, sunan bonang menyusun wayang damarwulan. Zaman kerajaan pajang memberikan ciri khas baru. Wayang gedhog dan wayang kulit mulai ditatah tiga dimensi. Bentuk wayang semakin ditata : raja dan ratu memakai mahkota/topong, rambut para satria mulai ditata, memakai praba, dan mulai ditambahkan celana dan kain. Di jaman ini pula lah sunan kudus memperkenalkan wayang golek dari kayu. Sedang sunan kalijaga menyusun wayang topeng dari kisah-kisah wayang gedog. Dengan demikian wayang gedog pun sudah mulai memasyarakat di luar keraton.

Rekomendasi Artikel:

Kata Kunci

Sudah Baca yang Ini?

Pages: 1 2

4 Comments

  1. makasih sharingnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow My Blog

Silakan daftarkan alamat email kamu untuk mendapatkan notifikasi tiap kali ada tulisan baru, gratis!

Join 7,144 other subscribers

Top Blog