mempersiapkan Peserta Jambore IT Nasional untuk Remaja Disabilitas 2016

Tangerang – Setelah hampir setahun terakhir kali mengunjungi Pusat TIK Nasional Pustiknas) Ciputat, Alhamdulillah kembali diminta Kementrian Kominfo RI untuk melatih TIK ke para tunanetra di akhir November 2016 lalu. Kali ini pelatihan itu untuk persiapan para peserta Jambore IT Nasional untuk Remaja Disabilitas, yang berasal dari seluruh provinsi di Indonesia. Sebuah kesempatan luar biasa karena ini acara terbesar di bidang TIK untuk penyandang disabilitas yang baru pertama diadakan oleh Kementrian Kominfo.

Jambore IT yang diadakan di Jakarta atau Pustiknas Ciputat pada 1 – 3 Desember 2016 adalah puncak dari rangkaian kegiatan yang sudah bergulir sejak November di 5 pusat wilayah di Indonesia. Sekitar 100 penyandang disabilitas yang terdiri dari tunanetra, tunarungu, dan tunadaksa mengikuti kompetisi TIK dengan pusat di Padang, Banjarmasin, Makassar, Ambon, dan terakhir di Jakarta. Para pemenang dari empat daerah lainnya lalu dihadirkan ke Jakarta untuk tahap final dan mendapatkan pembekalan materi dari para instruktur. Saya bertugas sebagai salah satu instruktur yang memberikan pendalaman materi Microsoft Word, Microsoft excel, dan Internet ke para peserta tunanetra sebelum mereka masuk tahap final.

Di tahun 2015, Kementrian Kominfo mengadakan acara serupa di Pustiknas Ciputat tapi dengan skalayang lebih kecil. Bekerja sama dengan YPAC, mereka mengundang sekitar 100 penyandang disabilitas langsung ke Jakarta dengan tajuk Kompetisi IT Nasional. Ada beberapa bidang lomba yang masih diikuti juga di Jambore IT seperti E-tool (keterampilan menggunakan Ms Word dan Ms Excel), E-design (design menggunakan Ms PowerPoint), E-Live-map (keterampilan browsing internet dan menggunakan peta Google), dan E-creative (keterampilan membuat game animasi dengan Scratch). Lomba-lomba tersebut dapat diikuti secara individu dan kelompok oleh lintas disabilitas.

Para pemenang dari Kompetisi IT Nasional 2015 ini kemudian diambil untuk ikut dalam kompetisi IT taraf internasional untuk remaja Disabilitas yang kebetulan tahun tersebut diadakan di Indonesia. Bertempat di Universitas Multimedia Nusantara, Tangerang, perwakilan penyandang disabilitas dari negara-negara Asia Pasifik berkomeptisi dalam event Globa IT Challenge 2015 (GITC). Hadiahnya adalah kunjungan selama 2 minggu ke Korea Selatan untuk melihat perkembangan teknologi untuk disabilitas di sana.

Di tahun 2016, persiapan lebih matang dengan peserta yang lebih banyak. Ada sekitar 50 peserta tunanetra dari berbagai daerah yang perlu mendapat pendalaman materi selama berada di Pustiknas Ciputat. Maka dari itu selain saya, ada beberapa rekan instruktur yang juga tunanetra lainnya yaitu Andira, Rafik, Niki Andro, dan Irma. Ketika mengajar melatih komputer untuk para tunanetra, memang sulit saat harus dilakukan secara masal. Satu orang instruktur idealnya mampu memegang sekitar 5 hingga 10 peserta pelatihan yang tunanetra. Ini karena tiap peserta menggunakan software screen reader di komputernya, sehingga harus menggunakan headset, dan bimbingan komputer dasar harus dilakukan one by one terutama saat belajar cara navigasi.

Memang jadi sebuah tantangan ketika mengajar adik-adik tunanetra. Namun semua rasa lelah itu terbayar ketika menemui banyak peserta yang sangat potensial di bidang TIK. Bersyukur pada sistem pendidikan yang makin inklusif dan menciptakan para penyandang disabilitas yang juga dapat belajar di sekolah umum bukan hanya sekolah khusus. Mereka telah memanfaatkan TIK untuk membantu selama proses belajar di sekolah. Selain itu, dengan adanya internet dan sosial media, mereka sudah banyak yang terhubung via Facebook dan dapat saling belajar satu sama lain secara online. Maka dari itu senang juga ketika dapat menjalin silaturahim, apalagi ketemu dengan teman-teman tunanetra yang selama ini hanya dikenal di Facebook, akhirnya dapat bertemu langsung di ajang Jambore IT untuk Remaja Disabilitas.

Semoga sedikit ilmu saya di bidang TIK yang dibagikan selama pembekalan materi dapat bermanfaat. Alhamdulillah dari beberapa tunanetra yang ikut kelas, ada Akhlakul Imam dari Padang yang mendapat juara dua untuk kategori E-tool, lalu seingat saya juga ada Tovi Widi dari Solo yang dapat juara di lomba kelompok. Berharap ke depannya, TIK benar-benar dapat membuka peluang penyandang disabilitas di dunia kerja, bukan hanya sebatas ajang lomba dan pertunjukan. (DPM)

Interaksi Petugas Kesehatan dengan Penyandang Disabilitas di Fasyankes

Tangerang – Alhamdulillah kembali diberi kepercayaan untuk memberikan pelatihan disability equality training ke para peserta workshop Penanggulangan Gangguan Fungsional dengan Pendekatan ICF yang diadakan oleh Kementrian Kesehatan RI di Hotel Horison Bekasi (17-02-2017). Ini jadi pengalaman yang cukup menantang karena dapat dikatakan ini praktik lapangan DET pertama setelah di akhir 2016 ikut serta dalam IQP untuk tim BEAT di AirAsia Academy Malaysia.

Awalnya saya dihubungi oleh mas Ridwan Soemantri via email untuk bersama mengisi pelatihan mengenai interaksi petugas kesehatan dengan penyandang disabilitas di fasyankes atau fasilitas layanan kesehatan. Mas Ridwan diundang oleh CBM Indonesia, sebuah lembaga nirlaba yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup penyandang disabilitas, yang saat ini menjadi salah satu mitra dari Kementrian Kesehatan. Mas Ridwan diminta untuk memberikan training selama kurang lebih 2 jam mengenai cara interaksi dengan penyandang disabilitas. karena menurut mas Ridwan yang baik kurang lengkap jika hanya pengguna kursi roda yang memberikan training, maka diajak pula saya yang tunanetra. Sehingga paling tidak dari 4 jenis disabilitas yang biasanya jadi trainer di tim Beat, paling tidak ada dua agar representatif.

Acara ini diselenggarakan oleh Subdit Gifu atau Subdit Gangguan Indera dan fungsional, direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit tidak Menular, Kementrian Kesehatan RI. Salah satu bidang yang ditangani adalah mengenai disabilitas. Karena dari perspektif kesehatan, disabilitas didefinisikan sebagai gangguan struktur dan fungsi dari indera seseorang. Jadi pesertanya pun selain dari perwakilan direktorat, juga ada dari 15 dinas kesehatan berbagai provinsi terpilih, dan lintas sektor seperti Himpunan Psikolog Indonesia.

Sesuai dengan judulnya, kami diharapkan dapat memberi pemahaman ke para petugas kesehatan di daerah-daerah bagaimana berinteraksi dan melayani penyandang disabilitas yang menggunakan fasilitas layanan kesehatan. Karena hak untuk memperoleh layanan kesehatan yang layak jadi milik seluruh warga negara, tak terkecuali penyandang disabilitas yang sudah dijamin dalam UU no 8 tahun 2016 mengenai Penyandang Disabilitas.

Untuk materi sendiri kami tidak terlalu mengalami kesulitan. Sebab cukup gunakan slide-slide dari hasil IQP di AirAsia Malaysia tempo hari, dengan sedikit penyesuaian saat penyampaian. Sebab untuk cara interaksi dengan penyandang disabilitas itu secara umum sama. Karena dimulai dengan mengubah mindset, lalu cara berkomunikasi, dan pendampingan yang sesuai.

Mindset adalah hal pertama yang harus diluruskan. Untuk para petugas kesehatan, harus memandang penyandang disabilitas yang datang ke fasyankes sama seperti manusia normal pada umumnya yang membutuhkan layanan kesehatan. Layanan ini tidak serta merta terkait dengan keterbatasan fisik yang dimiliki. Misal seorang tunanetra datang ke rumah sakit atau Puskesmas, jangan langsung diasumsikan bahwa dia ingin mengobati matanya. Ada kemungkinan bahwa dia ingin berobat sakit-sakit yang seperti masyarakat pada umumnya seperti flu, batuk, dll.

Lalu mengenai cara komunikasi. Tak ada yang berbeda ketika komunikasi dengan penyandang disabilitas. Cukup gunakan bahasa normal pada umumnya, dan berbicara langsung ke orangnya. Dapat gunakan sentuhan ke punggung tangan untuk memulai pembicaraan untuk menandakan bahwa petugas kesehatan sedang berbicara dengannya. Yang penting jangan pernah berbicara melalui orang lain seakan-akan penyandang disabilitas punya kemampuan komunikasi yang berbeda dengannya.

Terakhir adalah cara pendampingan. Ingat untuk membantu penyandang disabilitas cukup dengan pendampingan, khususnya saat mobilisasi. Misal untuk membantu seorang tunanetra berjalan, dia bukan butuh dipapah, tapi didampingi dan diarahkan untuk berjalan dari suatu lokasi ke lokasi lainnya. Mengenai beberapa tips memandu dari mulai cara kontak dan menyapa, berjalan, menuntun melewati pintu, dan mengarahkan ke tempat duduk secara sederhana dapat dicontohkan ke para peserta.

Bersyukurnya para peserta yang merupakan pejabat-pejabat di bidang kesehatan cukup antusias mengikuti pelatihan dan ada beberapa pertanyaan menarik di akhir sesi. Ada mereka yang heran ketika menemui mas Ridwan dan saya yang dinilai cukup intelektual. Malah menyangka jangan-jangan karena menjadi disabilitas malah dapat jadi seorang intelek. Tentu hal itu kami bantah dengan sopan. Karena kami merupakan contoh beberapa orang yang beruntung dapat pendidikan layak dan aktif di organisasi disabilitas. Sedang masih banyak disabilitas di luar sana, yang tentu sering ditemui para petugas kesehatan, yang tidak memperoleh pendidikan dan kesempatan baik.

Ada juga yang menanyakan apakah penyandang disabilitas juga menikah dan berkeluarga. Di isu disabilitas, hal ini sering menjadi pertanyaan di masyarakat. Karena penyandang disabilitas kerap dianggap manusia tidak normal yang berbeda dengan masyarakat pada umumnya. Tentu hal ini kami jawab bahwa penyandang disabilitas juga manusia normal yang pastinya dapat menikah dan berkeluarga. Bahkan hubungan tersebut tidak hanya dengan sesama penyandang disabilitas, ada pula yang menikah dengan non-disabilitas, tergantung di lingkungan mana mereka sering bersosialisasi. Sedang dari perspektif seorang jomblo seperti saya, saya coba jawab saja secara diplomatis bahwa soal menikah itu, semua akan indah pada waktunya :D.

Sebagai penutup, saya ingin mengucapkan terima kasih ke CBM Indonesia yang saat itu ada mas Adrian di lokasi yang mendampingi. Terima kasih juga ke Subdit Gifu Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit tidak Menular Kementrian Kesehatan RI. Terima kasih karena sudah menambahkan sesi disability equality training ini di workshop yang diadakan, karena penting sekali para penyandang disabilitas mendapatkan layanan kesehatan yang memadai oleh para petugas kesehatan di seluruh Indonesia. Semoga dapat bermanfaat dan menginspirasi para peserta. (DPM)

Mengukur Indeks Tata Kelola Elektronik di Indonesia

Tangerang – Menutup bulan Februari lalu, Alhamdulillah kembali terlibat dalam focus group discussion (FGD) yang dapat menentukan arah pengembangan tata kelola pemerintahan berbasis elektronik Indonesia ke depan. Diskusi ini bertema Validasi Desk Study Penerapan Open E-Governance Index di Indonesia. Saya datang mewakili Kartunet atas undangan yang diberikan oleh mas Indriarto Banyumurti yang baik dari ICT Watch. Bersyukur karena pengembangan Open E-Governance ini harus melibatkan semua pihak, termasuk suara dari penyandang disabilitas.

Acara yang diadakan di Hotel Ibis – Tamarin, Jalan Kh Wahid Hasyim Jakarta, mengundang sekitar 20 orang sebagai peserta FGD. Mereka berasal dari pelaku usaha di bidang digital, pemerintah, legislatif, partai politik, perwakilan organisasi masyarakat, dan stake holder lainnya. Sebab penerapan E-governance atau tata kelola berbasis elektronik, bukan hanya untuk pemerintah saja, tapi juga semua pihak yang berkepentingan dalam pembangunan. Para peserta diskusi ini bertugas untuk memvalidasi Open e-Governance Index (OeGI) yang sudah dibuat dari sebuah hasil penelitian, dengan kondisi real yang ada di indonesia dari berbagai aspek.

E-Governance adalah “series of activities composed of coordinating, arbitrating, networking and regulating with and of ICTs, not only the state, but also non-state actors, including business, civil society and communities”. Dengan demikian, konsep e-governance tak hanya soal e-government, karena melibatkan aktor-aktor non pemerintah, dan untuk segala kegiatan yang melibatkan semua stakeholders.

Keterbukaan (Openness) sebagai nilai “politik” yang melandasi hak asasi manusia (HAM) dalam penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang inovatif untuk dalam mendukung demokrasi. Namun demikian, pengukuran mengenai konsep keterbukaan dalam bentuk “Open eGovernance” masih banyak yang belum dilakukan. Banyak sistem indikator yang dikembangkan saat ini misalnya E-Government Index, E-Government Survey, E-Readiness Index, ICT Development Index, Networked Readiness Index yang hanya fokus pada penggunaan aktual TIK hanya pada sektor bisnis dan sektor pemerintahan.

Pengukuran tersebut belum akomodatif terhadap ekosistem sosial budaya dan ekonomi politik dan lingkungan legal dan politik dalam strategi penggunaan TIK. Kurangnya kerangka legal/kebijakan/regulasi yang memiliki konsep keterbukaan seperti “open spectrum”, “open data”, dan “open content”.

Untuk itu, project dengan judul Evolving a Global Open eGovernance Index (OeGI) for Network Societies dilaksanakan di lima negara, yaitu Filipina, Pakistan, India, Indonesia (Asia) Uganda (Afrika) Dan Kolombia (Amerika Selatan).

Didukung oleh Making All Voices Count (FMA), sebuah proyek global yang bekerja untuk kepemerintahan yang partisipatoris, efektif, dan terbuka di seluruh dunia, dengan beberapa proyek bersama partner HIVOS, SIDA, DFID, USAID, Omidyar Network, dan juga ICT Watch memulai project ini pada tahun 2016 dan akan berakhir di Maret 2017.

Kegiatan project ini mengembangkan konsep baru mengenai Open eGovernance yang mengintegrasikan TIK dengan “masyarakat berjejaring (network society). Dimana konsep ini melakukan : pemutakhiran assessment tool dan framework, memgembangkan indikator-indikator pengukuran/metriks untuk domain-domain pada Open eGovernance, mengetes tools yang bru, merevisinya, di beberapa negara di Asia, mengonsolidasikan hasil tes implementasi untuk memperkuat OeGI, serta melakukan advokasi perubahan kebijakan terkait eGovernance dan menyediakan rekomendasi kebiajakan untuk memastikan adopsi pemerintah terhadap eGovernance.

Diskusi dibuka dengan pemaparan dari pemeliti Filipina mengenai Open e-Governance Index. Dia menjelaskan mengenai asesment tool dan metodologi yang digunakan untuk mengukur indeks ini.
Dalam assessment tool, terdapat 5 (lima) dimensi yang diukur dari penerapan eGovernance. Yaitu :

  1. Meshed eGovernment: refers to government policies and programs that would enable the development of citizen-facing applications or front-office eGovernance mechanisms;
  2. eParticipation channels: refers to the provision of on-line services to the general public;
  3. Digital inclusion: refers to universal access regulations that allow for wider public ICT use
  4. ICT empowered civil society: refers to the use of ICTs by civil society organizations;
  5. Enabling Environment: refers to the presence of power structures that constrain/socio-economic freedoms that allow for greater use of ICTs and the wide range of policies that allow access of the general population to information and knowledge.

Metodologi OeGI menggunakan assessment tool yang dirancang untuk negara-negara yang dijadikan contoh test implementasi OeGi, dimana setiap item dalam assessment tools memiliki skor antara 0 sampai 1, tergantung pilihan responden. Skor “dimensi” dikalkulasi sebagai sum dari mean item skor dari responden. Untuk itu, setelah melakukan desk study mengenai pertanyaan-pertanyaan pada scoresheet assessment tools, maka diperlukan “Validasi oleh pakar/informan” terkait untuk memastikan riset mengenai penerapan OeGI tersebut sesuai/cocok dengan tanggapan para pakar/informan sebagai peserta FGD.

Kehadiran saya dalam FGD tersebut untuk memberikan gambaran mengenai akses teknologi dan internet secara di kalangan penyandang disabilitas. Secara khusus, isu aksesibilitas internet dihadapi oleh para tunanetra karena ada keterbatasan visual. Makin terbukanya informasi dan kehadiran software pembaca layar yang open source seperti NVDA dan gadget-gadget Android yang mudah, membuat akses tunanetra ke informasi makin tinggi. Bahkan banyak di kalangan tunanetra saat ini yang sudah mampu akses internet dan Facebook, karena menggunakan Adroid yang dilengkapi aplikasi pembaca layar Talkback, tapi belum dapat mengoperasikan komputer dengan program Office.

Akan tetapi saya memberikan catatan dalam diskusi tersebut bahwa kondisi itu tidak merasa di seluruh daerah. Masih banyak para penyandang disabilitas di pelosok yang belum akses ke teknologi dan internet. Pertama karena faktor kondisi ekonomi yang memungkinkan. Kedua karena tidak adanya paparan ke informasi oleh pihak keluarga bahwa seorang dengan disabilitas pun dapat mandiri dan produktif dengan teknologi. Bahkan mereka ini terkadang tidak masuk dalam sensus penduduk karena pihak keluarga yang merasa malu atau tidak mengakui jika memiliki anggota yang disabilitas.

Buat saya peran Kartunet dalam kegiatan ini sangat penting dan strategis. Sebab indeks ini ke depan akan menilai seberapa jauh tingkat openess e-Governance yang sudah diterapkan di Indonesia. Dari metodologi yang digunakan juga akan terlihat pada sektor mana yang sudah baik dan perlu ditingkatkan. Berharap pemerintah dan para stake holder akan melihat dan memberikan perhatian sehingga semua penyandang disabilitas dapat akses ke teknolog dan internet. Sebab melalui media tersebut mereka dapat membuka diri ke dunia dan mengaktualisasi dirinya. (DPM)

Cinta yang Masih tetap Cinta dan Rangga yang Makin Jago Modus

Tangerang – Akhirnya setelah hampir 1 tahun release, dapat nonton film Ada Apa Dengan Cinta 2 yang fenomenal itu via Youtube. Iya memang sengaja tidak nonton ke bioskop. Soalnya agak mengenaskan juga jika nonton AADC 2 ke bioskop dalam kondisi jomblo :D. Meski sudah diceritakan jalan cerita dari awal hingga ending oleh seorang teman, tapi jauh lebih dapat feel-nya ketika nonton sendiri. Satu hal buat saya yang menarik adalah hubungan Cinta dan Rangga yang legendaris itu masih tetap “asik” meski sudah berselang 15 tahun.

Dari hasil browsing, film garapan sutradara Riri Riza ini dicatat sebagai film paling ditunggu dan kedua terbanyak ditonton pada 2016 di Indonesia. Jelas saja film ini ditunggu-tunggu, akhir film AADC 1 yang menggantung dan spoiler-spoiler yang muncul sebelumnya melalui iklan aplikasi chat Line, pasti buat publik penasaran. Selain itu, film ini juga dinilai lebih sukses dari film pertamanya di 2002. AADC 2 dapat menarik perhatian mereka yang sudah nonton atau punya masa remaja di awal 2002, dan remaja milenial saat ini yang kena imbas hebohnya pembicaraan generasi sebelumnya itu.

Buat mereka yang kelahiran akhir 80-an dan awal 90-an, tentu akrab dengan ungkapan-ungkapan seperti “basi, madingnya udah mau terbit!”, atau “jadi salah gue, salah temen-temen gue?” atau “Kulari ke hutan lalu ke pantai?”. Mungkin saat itu belum dikenal istilah viral, tapi berbagai dialog dari Cinta tersebut kerap terbawa dalam percakapan generasi yang gandrung dengan AADC 1 saat itu. Mungkin untuk remaja saat ini cuma kebagian dialog Cinta yang bilang “kamu itu jahat” ke Rangga. :D.

Buat banyak anak muda generasi AADC, pasangan Rangga dan Cinta dianggap ideal. Rangga sebagai cowok yang cool, cerdas, pandai buat puisi, dan good looking, tentu digandrungi banyak perempuan. Sedangkan Cinta yang gaul, cantik, bisa nyanyi dan buat puisi juga, ditambah cerdas dan asik juga tentu menarik banyak perhatian laki-laki. Tak heran jika kelanjutan kisah Cinta dan Rangga yang masih menggantung ditunggu banyak orang.

Di AADC 2, hubungan Cinta dan Rangga pun masih terasa chemistry-nya. Usia nampaknya tak mengubah apapun. Acting keduanya menurut saya luar biasa. Meski di awal cerita Cinta sangat benci dengan kehadiran Rangga, tapi dengan sedikit modus dari Rangga untuk memperpanjang waktu, maka Cinta pun mau tak mau mengikuti kata hatinya. Rangga sepertinya sudah banyak belajar dari AADC 1 bahwa dia tak ingin membuang lagi kesempatan untuk dapat bersama Cinta. Mungkin juga ini didorong oleh faktor bahwa Cinta sudah bertunangan, sehingga rasa takut kehilangan mengalahkan ego Rangga yang tinggi itu.

Beberapa kali Cinta berhasil masuk jebakan batman dari Rangga yang membujuknya untuk memperpanjang waktu bersama. Rangga sadar bahwa dia hanya punya waktu kurang lebih 24 jam yang akan menentukan arah hati Cinta ke depan. Mulai dari pertemuan pertama ketika Rangga menjelaskan alasan mengapa tiba-tiba menghilang selama 9 tahun dan Cinta marah-marah, dia meminta agar dapat minimal mengantar Cinta untuk mencari taksi. Cinta setuju dan perangkap pertama sudah berhasil. Lalu Rangga menarik simpati Cinta dengan berharap dia mau mendengarkan alasan dia datang ke Jogja untuk menemui ibunya yang lama menghilang. Cinta setuju dan Rangga mengoptimalkannya dengan menyewa mobil dan mengajak Cinta ke tempat yang jauh untuk bercerita. Lalu setelah malam mereka bertengkar karena sifat sinisme Rangga yang menilai tunangan Cinta. Rangga minta maaf ke Cinta dan bilang ingin memberikan sesuatu sebagai permintaan maf. Sekali lagi modus ini berhasil dan Cinta mau diajak pergi bahkan hingga subuh baru pulang ke penginapan.

Namun modus Rangga ini tentu tidak akan berhasil jika pada dasarnya Cinta masih ada feeling dengan Rangga. Sangat kentara dari nada bicara Cinta ke Rangga yang menerangkan bahwa tetap ada sesuatu di antara mereka. Saya kenal sekali nada suara tersebut yang mengingatkan pada seseorang (jadi curcol). Cinta ini pada satu waktu bisa sangat emosional, tapi di saat lain juga bisa sangat manis tapi tetap nyambung dalam percakapan dengan Rangga yang tentu berisi. Mungkin dari hal-hal tersebut juga yang membuat Rangga berani untuk modusin Cinta. Ternyata 14 tahun hidup di New York dan kuliah di Amerika, cukup berhasil menciptakan Rangga yang lebih jago modus ya :D.

Dari perspektif saya, ideal sekali jika dapat memiliki pasangan seperti sosok Cinta. Di luar sisi dia sebagai anak gaul Jakarta, pembawaannya yang riang, cerdas, sekaligus manis sangat menarik. Nyaman sekali jika ada sosok perempuan seperti Cinta, yang dapat nyambung diajak bicara apa saja. Membicarakan sastra dan buku dia punya pengetahuan luas. Soal hal-hal fashion dan tren masa kini yang saya kuper di sana dia banyak tahu. Berbincang politik pun pasti nyambung. Intinya Cinta ini bukan tipe perempuan manis tapi kosong seperti kebanyakan perempuan cantik masa kini.

Hehe itu hanya harapan saya saja. Saya sadar sepenuhnya bahwa jodoh itu rahasia Tuhan, dan tentunya Dia akan memberikan kita jodoh yang sesuai dengan kebutuhan kita. Terima kasih buat Mira Lesmana yang sudah kembali memproduksi film bagus ini setelah agak kecewa denan versi serial sinetronnya beberapa tahun lalu. Semoga cinta lekas datang lagi ke sini. (DPM)

Percikan Air di Panasnya Medan Perang Pilkada Jakarta

Tangerang – Pertengahan Desember 2016 kembali mengikuti kegiatan Bioskop Bisik dan kali ini film yang diputar adalah Bulan Terbelah di Langit Amerika 2. Jujur saya belum nonton yang bagian pertamanya meski sudah baca buku 99 Cahaya di Langit Eropa. Namun pesan dari film ini bagai percikan air di panasnya medan perang Pilkada Jakarta.

Alhamdulillah Falcon Pictures kembali memberi kesempatan kami nonton film gratis di Bioskop Bisik untuk film terbarunya Bulan Terbelah di Langit Amerika 2. Ada puluhan penyandang disabilitas, terdiri dari tunarungu dan tunanetra,yang ikut menonton launching film ini yang diadakan di studio XXI One Bell Park Mall, Pondok Labu, Jakarta Selatan. Event ini menjadi istimewa karena juga ada perwakilan pemeran film dan kru yang ikut dalam acara tersebut. Jika tak salah ada Abimana yang berperan sebagai Rangga suami Hanum, dan Rizal Mantovani sebagai sutradara yang memberikan sambutan serta penutup. Saya berkesempatan untuk foto bareng sutradara berbakat ini ketika film berakhir.

Sekilas mengenai Bioskop Bisik. Ini adalah kegiatan yang dilakukan di bioskop biasa, hanya tiap tunanetra yang menonton didampingi oleh satu relawan yang disebut pembisik. Pembisik ini selama berjalannya film akan menjelaskan atau memberikan gambaran visual ke tunanetra khususnya ketika adegan-adegan film yang tanpa dialog. Pembisik juga harus enjoy dan menjelaskan jalannya film seperlunya, jadi keduanya dapat sama-sama menikmati film.

Waktu itu saya mengajak beberapa teman awas untuk jadi relawan pembisik. Ada Dewi Emilia dan Willona yang alumni IPB dan pernah juga saya ajak untuk jadi pembisik di Bioskop Bisik sebelumnya untuk film Sabtu bersama Bapak. Lalu satu teman lagi yaitu Rika Perdana, mahasiswa S3 di FIB UI, yang saya kenal ketika ikut Bioskop Bisik nonton film Filosofi Kopi di Blok M Square kurang lebih setahun lalu. Selama berjalannya film saya “dibisiki” oleh Rika, sedang Dewi dan Wilona jadi relawan untuk peserta tunanetra lain yang tidak membawa relawan.

Saya tidak akan menceritakan jalan kisah film Bulan Terbelah di Langit Amerika 2 ini secara rinci. Satu hal yang terfikirkan oleh saya waktu itu adalah momentum release-nya film ini tepat sekali dengan kondisi toleransi masyarakat kita yang agak tegang saat itu. Film yang dibintangi oleh Acha Septriasa sebagai Hanum dan Abimana sebagai Rangag ini seakan ingin menjawab bahwa sentimen negatif terhadap etnis Cina dan kafir oleh sekelompok oknum masyarakat tidak speenuhnya dapat dibenarkan.

Kurang lebih film ini menceritakan misi Hanum dan Rangga untuk menelusuri jejak harta karun yang ditinggalkan oleh Laksamana Cheng Ho. Ada teori bahwa jauh sebelum kedatangan Colombus dan orang Eropa di benua Amerika, rombongan pelaut Muslim Cheng Ho, sudah menjejakkan kaki di sana. Pada petualangan itulah Hanum dan Rangga menemui banyak fakta. Termasuk para pengejar harta karun berupa koin Cheng Ho yang dipegang Hanum, adalah keluarga Tionghoa Muslim yang hijrah dari daratan Cina ke Amerika karena diperlakukan tidak adil oleh tentara Komunis China. Mereka merasa bahwa koin Cheng Ho tersebut adalah salah satu warisan leluhur mereka yang merupakan Muslim di daratan Cina.

Di luar ada kisah-kisah pengiring lain yang sifatnya emosional, film ini seakan ingin menyindir sentimen yang sedang berkembang di masyarakat kita. Ada ujaran kebencian yang berkembang bahwa Cina itu identik dengan kafir. Maka sering disebut ketika pemerintah Indonesia dinilai dekat dengan Tiongkok, disebut negara kafir komunis. Menurut saya labeling sepert itu tidak adil karena dalam konteks masyarakt internasional, jangan kait-kaitkan soal kepercayaan dengan hubungan diplomatik dan perdagangan antarnegara. Apalagi Indonesia saat ini sedang membutuhkan investasi untuk pembangunan infrastruktur dan SDM.

Selain itu, perpaduan dua isu sensitif yaitu etnis Tionghoa dan muslim dalam film ini juga sangat menarik. Kita tahu bahwa salah satu kandidat gubernur DKi Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok adalah keturunan Tionghoa dan beragama minoritas Kristen. Ganjaran sebagai Cina kafir kerap ditujukan kepada dirinya. Isu SARA ini terus dipakai selama kontestasi Pilkada untuk menurunkan elektabilitas pak Ahok.

Sebagai penutup saya ingin mengapresiasi karya Rizal Mantovani ini karena berhasil memadukan nilai sejarah, toleransi, dan konflik emosional yang mampu mengaduk-aduk perasaan selama film. Para aktor dan aktris seperti Acha Septriasa, Abimana, Ira Wibowo, Rianti Cartwright, dll semuanya bermain sangat baik. Terima kasih juga buat Rika yang sudah menemani selama nonton film, dan sudah datang jauh-jauh dari Depok. Terima kasih juga sudah mau nugngu bareng rush hour sebelum ulang, sembari menikmati live music di lantai bawah One Bell Park Mall. Semoga ada kesempatan untuk nonton lagi di Bioskop Bisik. (DPM)

Satu Persamaan saja Cukup untuk Menyatukan Seribu Perbedaan

Tangerang – Selama kita duduk di bangku sekolah, guru mengajarkan bahwa Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk, untuk itu kita harus saling menghormati dan bersatu. Namun makna sesungguhnya mengenai keberagaman itu secara nyata kembali saya temukan saat mengikuti Divercity Dinner yang diadakan oleh Komunitas Sabang Merauke di Wisma Keuskupan Agung Jakarta, sebelah Gereja Katolik Katedral (03/08/2016).

Saya hadir dalam acara tersebut atas rekomendasi dari mas Dommy Aji, karyawan di Bank Permata, yang sebelumnya pernah bekerja sama dengan Kartunet dalam mengadakan pelatihan internet marketing untuk tunanetra. Saat itu mas Dommy yang baik menghubungi via chat Whatsapp dan mengajak jika saya berkenan untuk hadir di acara makan malam yang diadakan di kediaman Uskup Agung jakarta, bapak Ignatius Suharyo. Kebetulan saya sebelumnya sudah lama mengenal Komunitas Sabang Merauke karena salah satu pendirinya pun alumni FIM dan pernah diajak untuk jadi pembicara saat SM sedang road show di UI oleh teman baik saya Tanti Senjaya.

Saya yakin, pada sebagian orang mungkin akan berfikir lebih dari sekali untuk menghadiri sebuah acara yang diadakan di simbol agama atau keyakinan yang berbeda olehnya. Namun saat itu saya tidak fikir panjang untuk menerimanya mungkin karena tiga hal berikut. Pertama, saya sudah kenal komunitas SM dan tahu orang-orang di dalamnya banyak dari alumni FIM dan Indonesia Mengajar. Mereka selalu mengkampanyekan keberagaman dan toleransi. Jadi sudah paham untuk acara jamuan yang melibatkan orang dengan latar belakang beragam, sudah diperhatikan kebutuhan dan pantangan masing-masing. Seperti pemberitahuan di undangan bahwa makanan yang disediakan semuanya adalah halal food dan tidak mengandung daging sapi untuk yang Hindu. Ini bentuk toleransi yang dimaksud, yaitu mencari persamaan dari banyak perbedaan yang ada. Dengan begitu, semua yang hadir dapat ikut santap malam tanpa perlu mengurangi kualitas dari makanan itu sendiri. Bahkan meski acara di wisma keuskupan, panitia menyediakan ruangan untuk solat yang diadakan khusus untuk acara tersebut.

Selain itu saya juga percaya dengan mas Dommy Aji. Buka karena dia pun juga seorang Muslim, tapi bukan Muslim sekalipun, saya yakin masih banyak orang baik di dunia ini dan tidak akan sengaja menjerumuskan kita dengan diam-diam memberi daging babi misalnya. Saya yakin bahwa kita yang mengakui adanya Tuhan, maka Tuhan pun akan selalu menjaga dan melindungi kita. Alhamdulillah selama 17 tahun “karir” menjadi tunanetra, saya selalu dipertemukan dengan orang-orang baik yang dengan ikhlas membantu saya entah itu di sekolah, kampus, organisasi, bahkan di jalanan. Sehingga langsung saya balas undangan mas Dommy Aji waktu itu “masa diundang makan-makan saya nolak sih mas”. 😀

Kebetulan saat sebelum acara itu, siang harinya ada teman lama yang sedang ambil master di Turki datang ke rumah untuk wawancara kebutuhan tesisnya. Sabilul Maarifah yang cukup dipanggil Ifa, sebelumnya kuliah jurusan komunikasi di FISIP UI angkatan 2010 dan pernah jadi relawan kontributor di media Kartunet.com. Saya ajak Ifa untuk datang ke diversity dinner Sabang Merauke tersebut karena yakin pasti ada pengalaman hidup bertoleransi saat berada di negara asing.

Kami datang agak telat karena jalanan macet dan Grab Car yang saya order jadi tersendat. Langsung mas Dommy Aji membantu saya untuk mengambilkan makanan sesaat sebelum acara inti dimulai. Seingat saya saat itu menu yang disediakan ada sate ayam, gado-gado, dan soto. Karena waktu saya hanya sempat makan sate ayam dan lontong serta minum teh manis hangat. Makanannya lezat dan sekali lagi saya yakin bahwa kearifan yang dimiliki bangsa ini tidak akan tega untuk menjerumuskan saudara sebangsanya dengan makanan yang jadi pantangan kita. Selain itu, saya pun juga disediakan kursi meski judul diversity dinnernya itu harusnya standing party. Tapi karena saya agak sulit untuk orientasi makanan jika sambil berdiri dan hal itu juga tidak jadi sunnah Rasul, jadi tak masalah saya duduk di kursi.

Acara inti berupa perkenalan dan diskusi dimulai, dan baru saat itu saya dapat mengenali siapa saja yang hadir. Selain ada mbak Ayu Kartika Dewi yang merupakan salah satu pendiri SM, ada tuan rumah uskup Ignatius Suharyo. Selain itu saya juga mengenali beberapa orang orang seperti kak Leon dari Koperasi Kasih Indonesia yang juga alumni FE UI, ada Surya Sahitapi, putra Dewi Yul yang juga aktivis tunarungu, ada kang Asep Kambali dari Komunitas Historia Indonesia, dam tokoh-tokoh lain yang baru saya kenal seperti dari Forum Kerukunan Umat Beragama, perwakilan dari Islam, Katolik, Protestan, Hindu, dan Budha, serta komunitas-komunitas lain.

Sesuai dengan judul acaranya, Divercity Dinner atau Makan Malam Keberagaman, acara ini mengundang berbagai tokoh dari latar belakang yang berbeda. Bukan hanya latar belakang suku, agama, dan ras, tapi juga difabel pun ikut diberi kehormatan dalam acara ini. Buat saya selain dapat belajar lagi mengenai makna toleransi dari pengalaman tiap orang yang sangat unik, saya dan Surya khususnya dapat memberikan edukasi mengenai disabilitas ke para undangan.

Hal menarik ada dari kegiatan Komunitas Sabang Merauke yang suda diadakan beberapa angkatan. Tiap tahun mereka mengundang anak-anak dari berbagai daerah di Indonesia untuk datang ke Jakarta dan tinggal (home stay) selama beberapa di keluarga yang punya latar belakang berbeda dari si anak. Seperti ada satu anak perempuan dari Ambon yang Muslim, lalu tinggal dengan keluarga Kristen yang etnis keturunan Tionghoa pula. Tentu si anak merasa ketakutan awalnya karena apa yang ditanamkan di masyarakat dia bahwa untuk Muslim bahwa orang kristen itu jahat, dan di masyarakt Kristen juga berfikiran bahwa orang Muslim itu jahat. Namun setelah tinggal beberapa saat, si anak mulai kerasan apalagi pihak keluarga yang ditempati tak sungkan mengantar ia ke masjid untuk ibadah dan membuatkan makanan untuk sahur dan berbuka karena bertepatan dengan bulan Ramadan. Bukan hanya si anak yang belajar, tapi pihak keluarga yang ditempati pun merasa lebih banyak belajar karena kegiatan tersebut. Bahwa dengan saling mengerti dan komunikasi, perbedaan itu bukan jadi penghalang untuk saling mengasihi sesama manusia tanpa harus mengganggu akidahnya.

Masih banyak sebetulnya pengalaman-pengalaman menarik mengenai hidup bertoleransi dari para undangan yang hadir. Namun satu hal yang saya sadari di acara tersebut bahwa masyarakat Indonesia masihlah masyarakat yang toleran. Saling menghormati perbedaan adalah karakter asli bangsa ini yang punya sejarah panjang karena kondisi geografis dan demografis yang sangat beragam. Keberagaman untuk bangsa ini adalah sebuah keniscayaan, dan keberagaman itu jadi identitas tunggal dari Indonesia.

Sedang jika akhir-akhir ini bangsa ini dinilai itoleran saya rasa itu hanya oknum dari kelompok kecil di masyarakat. Faktor utamanya adalah kurangnya komunikasi dan rasa empati antar sesama. Mungkin ketika di media sosial atau internet, pihak-pihak yang bertikai itu dapat saling serang dan caci, tapi coba dipertemukan tatap muka pada satu ruangan, tentu hanya akan bisa senyam-senyum dan tak akan terjadi konflik. Jadi bangsa ini memang harus lebih mempererat silaturahim dengan saling bertemu, meski perkembangan internet dapat menghubungkan antara manusia dengan jarak yang jauh, kebersamaan itu tetap dibutuhkan.

Terima kasih untuk Komunitas Sabang Merauke yang sudah mengundang saya ke acara yang sangat berkesan itu. Terima kasih karena sudah ikut berkontribusi untuk menjaga keutuhan Indonesia. Terima kasih juga untuk Uskup Suharyo yang sangat ramah dan boleh saya cium tangannya. Sebab di Islam mencium tangan orang yang lebih tua itu selain tanda hormat, kita juga ingin mendapatkan berkah melaluinya. Meski keyakinan berbeda, saya yakin beliau orang yang dekat dengan Tuhannya yang posisinya seperti kiyai atau ulama di agama saya. Semoga Indonesia terus damai dan selalu diberkahi oleh Allah SWT. Saya juga tetap yakin meski kita punya seribu perbedaan, cukup satu persamaan saja untuk menyatukan kita semua. (DPM)

Organda yang Selalu Muncul Ketika Kenaikan Tarif


Tangerang – Belakangan ini kembali memanas konflik antara transportasi konvensional dengan transportasi berbasis online. Transportasi konvensional yang diwakili oleh supir angkot dan taksi mengeluhkan berkurangnya pendapatan mereka akibat kehadiran transportasi online. Lantas Organisasi Angkutan Darat (Organda) muncul di media-media dan mengatakan bahwa ada ketidak-adilan yang harusnya diatur oleh pemerintah. Adil menurut siapa? Untuk rakyat sebagai pengguna atau para pemilik modal? Lalu mengapa Organda terkesan selalu muncul ketika bicara soal tarif transportasi online yang dinilai terlalu murah?

Organda, khususnya sebelum kehadiran penerbangan murah LCC atau low cost carrier dan maraknya transportasi online, sangat populer terutama ketika menjelang hari raya. Ketika bus dan kereta menjadi moda transportasi utama untuk mudik, keputusan Organda dan pemerintah untuk menyepakati tuslah atau kenaikan harga tiket sangat dinanti. Kini pamor Organda dengan kesaktiannya untuk menentukan harga tiket bus mulai memudar karena minat pemudik untuk menggunakan bus sudah berkurang, beralih ke kereta api yang sudah jauh lebih baik mutu pelayanannya, penerbangan murah LCC, dan juga kendaraan pribadi yang menjamur karena mudahnya memperoleh kredit.

Bukan hanya saat lebaran, Organda juga sering terdengar namanya ketika ada kenaikan harga BBM. Di era presiden SBY, beberapa kali harga BBM naik dan turun. Termasuk saat di awal jabatan presiden Jokowi yang menaikkan harga BBM, maka Organda dan para pengusaha angkutan serentak menaikkan tarif taksi, bus, dan angkot. Sangat terasa ketika di akhir 2014 dan awal 2015 saat harga BBM naik, maka tarif taksi saya rasa tidak masuk akal lagi. Belum ditambah apabila sengaja diputar-putar oleh supir taksi agar argo lebih banyak dari semestinya. Namun ironisnya, ketika harga BBM diturunkan, Organda dan pengusaha angkutan seakan menutup telinga dari tuntutan masyarakat untuk menurunkan tarif.

Baru kali ini pula saya penasaran dan coba tanya ke mbah Google apa sebenarnya Organda. Organda dibentuk pertama kali awal tahun 60-an, didorong dengan banyaknya pengusaha angkutan bus dan mini bus (angkot) akibat diberhentikannya trem listrik sebagai alat transportasi di ibukota Jakarta oleh presiden Soekarno. Maka banyaknya pengusaha angkutan darat tersebut, diwadahi dalam Organda yang dikukuhkan oleh Kementrian Perhubungan sebagai organisasi tunggal. Tujuan utama dari Organda adalah untuk membina para anggotanya yang merupakan pengusaha jasa transportasi agar profesional dan optimal dalam melayani konsumen. Namun sepertinya tujuan utama Organda ini agak kurang terdengar karena sebelum populernya transportasi online, kita semua tahu bagaimana kualitas angkutan umum yang dikelola oleh swasta. Mulai dari angkot yang suka ngetem, pengemudi yang merokok, banyaknya kasus copet atau pemalakan di bus dan angkot, kasus kekerasan seksual ke penumpang perempuan, dan sederet fakta buruk transportasi kita yang semestinya jadi tanggung jawab Organda untuk memperbaikinya.

Jujur saja, kebijakan baru pemerintah yang mengatur tarif bawah dan atas transportasi online dan di dukung Organda, menurut saya sangat sarat kepentingan pengusaha. Dengan kata lain, tarif transportasi online seperti Grab Car, Uber, dan Gocar dinaikkan sehingga tak jauh lebih murah dibanding taksi konvensional. Jika penetapan tarif atas masih masuk akal, karena pada saat-saat tertentu yaitu ketika petir atau high deman, maka tarif transportasi online dapat sangat mahal. Namun biasanya kita mensiasati dengan menunggu sebentar karena tak lama harga juga akan turun sesuai dengan jumlah permintaan. Lalu mereka diminta untuk menetapkan batas bawah seperti taksi yang apabila kita booking via telepon, maka seberapa dekat jaraknya, tarif minimalnya adalah 20 hingga 30 ribu. Tentu sangat tidak adil.

Menurut saya logika yang digunakan juga agak salah ketika transportasi online yang sudah berhasil melakukan efisiensi sehingga menciptakan tarif yang murah, dipaksa menaikkan tarif agar tidak jauh lebih murah dari taksi konvensional. Ini sangat aneh karena seharusnya pihak taksi konvensionallah yang menyesuaikan diri dan melakukan efisiensi agar dapat bersaing dengan transportasi online.

Jadi siapa yang diuntungkan dan dirugikan dengan kebijakan ini? Menurut saya hal ini tidak adil untuk para konsumen. Sebagai konsumen kita ingin transportasi yang aman, nyaman dan murah. Ketiga hal itu ada pada transportasi online. sedang angkutan umum konvensional melalui Organda sebelum ini hanya fokus pada kenaikan tarif, tanpa ada perbaikan kualitas yang memadai. Kebijakan ini tak lain hanya mengakomodasi kepentingan para pengusaha angkutan umum yang sudah nyaman sebelum kedatangan transportasi online yang menjawab kebutuhan masyarakat.

Saya harap pemerintah sebagai regulator kali ini dapat lebih berpihak pada rakyat. Bukan pada para pemilik modal besar yang tak ingin keuntungannya berkurang dan memperbaiki diri. Fair saja, selain karena harga yang lebih masuk akal, masyarakat lebih memilih transportasi online saat ni adalah karena praktis, aman, dan nyaman. Coba angkutan umum konvensional dapat memenuhi hal tersebut dari dulu, maka pasar transportasi online tak akan seluas sekarang ini. (DPM)