AirAsia, Maskapai Pertama Mengadakan Disability Equality Training

Tangerang – Sebelumnya saya sudah posting mengenai Profil BEAT Indonesia yang saya juga tergabung di dalamnya saat ini. Kali ini mau sedikit cerita bagaimana proses awal saya bergabung dengan Beat, dan pengalaman 3 hari di AirAsia Academy di Malaysia untuk ikut IQP test.

Beat atau Barrier-free Environment Accessible Transport sudah terbentuk sejak beberapa tahun yang lalu di Malaysia. Konon, lembaga ini dibentuk sebagai respon dari AirAsia pada protes sejumlah organisasi penyandang disabilitas di Malaysia yang menginginkan layanan AirAsia dapat diakses oleh mereka. Sebagai maskapai kategori Low Cost Carrier (LCC) dan punya moto “everyone can fly with AirAsia”, sudah selayaknya para difabel pun dapat menikmati layanan AirAsia yang relatif terjangkau. Akan tetapi, banyak layanan di AirAsia yang dikurangi termasuk aksesibilitas untuk penumpang dengan disabilitas menggunakan alasan efisiensi sebagai maskapai LCC.

Sebagai tanggapannya, AirAsia bukan hanya berjanji akan meningkatkan layanan, tapi juga berkomitmen untuk memberikan Disability Equality Training ke segenap staf karyawan yang melayani langsung penumpang, baik di bandara atau di atas pesawat. Maka dari itu, terbentuklah Beat Malaysia yang para trainer-nya adalah perwakilan dari tiap jenis disabilitas itu sendiri. Para trainer Beat juga penyandang disabilitas seperti pengguna kursi roda atau kruk (tunadaksa), tunanetra, penyandang kesulitan belajar, dan tunarungu (tuli). Hal ini dimaksudkan agar peserta pelatihan mendapatkan pengalaman langsung interaksi dengan penyandang disabilitas yang nanti kemungkinan akan jadi penumpang yang mereka perlu layani.

Jadi AirAsia secara rutin mengadakan pelatihan untuk para staf baru atau yang sifatnya berulang atau recurrent. Satu hari dalam satu paket pelatihan yang biasanya 5 hari, khusus digunakan untuk mengadakan disability equality training (DET) dengan trainer dari Beat. Khusus di headquarter AirAsia di Malaysia, pelatihan untuk staf AirAsia dari seluruh dunia dilakukan di AirAsia Academy. Sedang di negara tempat AirAsia beroperasi juga ada pusat pelatihan seperti Red House AirAsia Cengkareng untuk AirAsia Indonesia.

Kurang lebih dua atau tiga tahun lalu, pernah ada perwakilan penyandang disabilitas dari Indonesia untuk mengikuti training Beat di Malaysia. Mereka dilatih langsung oleh trainer Beat Malaysia yaitu Mr. Anthony, mengenai metode dan format pelatihan yang sudah dibakukan oleh Beat. Selesai pelatihan mereka dapat sertifikat dari AirAsia dan siap untuk melakukan Disability Equality Training untuk AirAsia Indonesia.

Namun baru akhir tahun lalu pihak AirAsia follow up rencana mengadakan Disability Equality Training di Indoensia. Pak Maman sebagai country coordinator dihubungi oleh pak Zein dari Malaysia untuk membicarakan kelanjutan rencana tersebut. Wal-hasil pihak AirAsia ingin melakukan refresh dengan mengundang kembali perwakilan dari Beat Indonesia untuk IQP test di AirAsia Academy yang letaknya di daerah Sepang, dekat KLIA. Karena harus ada perwakilan dari tiap jenis disabilitas, sedangkan untuk disabilitas netra bu Mimi dan pak Suharto yang memiliki sertifikat Beat sebelumnya sudah sangat sibuk, maka melalui bu Rachmita Harahap dari Yayasan Sehjira untuk tunarungu mengajak saya untuk bergabung di tim Beat Indonesia.

Pada awalnya sempat ragu karena saya memang biasa untuk bicara di forum-forum atau seminar sebelumnya, tapi belum pernah menjadi training untuk semacam disability awareness. Namun setelah observasi ketika salah satu rainer dari Beat Malaysia melakukan training, cik Fairuz dari Malaysia Assosiasion for Blind (MAB), metode yang dipakai Beat cukup mudah untuk diikuti. Kunci utamanya adalah adakan interaksi sehingga peserta punya pengalaman langsung, menginspirasi, dan membangun empati sehingga mereka dapat melayani dengan hati ketika mendampingi penumpang dengan disabilitas.

Satu hal yang patut dicontoh yaitu AirAsia merupakan maskapai pertama di dunia yang mengadakan Disability Equality Training dengan trainer langsung dari penyandang disabilitas. AirAsia menganggap bahwa penyandang disabilitas juga pasar potensial, maka dari itu perlu melatih para staf-nya agar mampu dengan ramah dan cekatan ketika mendampingi penumpang difabel. Diharap maskapai penerbangan lain, serta operator jasa transportasi baik udara, laut, dan darat, juga mengadakan pelatihan serupa agar bukan hanya fasilitas moda transportasi yang dibuat akses, tapi juga SDM yang ada di dalamnya juga mampu melayani dengan baik para difabel. Sebab makin baik jasa layanan transportasi, maka dapat mendorong mereka untuk bermobilitas dan akhirnya membaurkan dirinya dengan masyarakat umum.

Sekian dulu cerita mengenai awal jadi bagian di tim Beat Indonesia. Apresiasi sekali lagi ke AirAsia yang sudah memulai langkah baik ini. Semoga lainnya akan menyusul. Semoga pula ini jadi salah satu ikhtiar kami untuk mewujudkan masyarakat yang lebih inklusif. Jika ada yang perlu Disability Equality Training di lembaganya, silakan kontak saya atau bertanya di kolom komentar ya. (DPM)

Alasan Tidak Jadi Beli Toyota Calya

beli Toyota Calya di Auto2000

Tangerang – Pertengahan 2016 lalu, pasar otomotif kita dihebohkan dengan kehadiran dua mobil LCGC (low cost green car) atau yang katanya “mobil murah” yaitu Toyota Calya dan Daihatsu Astra Sigra. Saya satu di antara yang sangat tertarik dengan kabar tersebut, bahkan sudah ikut booking fee untuk dapat antrian inden Toyota Calya yang lamanya hingga 3 bulan. Tapi setelah menunggu lama akhirnya beralih ke Avanza dan ini alasan tidak jadi beli Toyota Calya.

Kemunculan Calya dan Sigra sudah sangat dinantikan bahkan jauh sebelum Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2016 di Agustus. Sejak Juni 2016, pre-order Calya sudah dibuka dan animo masyarakat betul-betul besar. Mereka yang sudah booking fee sebesar 5 juta dari bulan Juni, dijanjikan akan dapat unit setelah launching resmi di GIIAS 2016. Spoiler atau bocoran-bocoran penampakan Calya terus betebaran di internet dan bahkan ada yang memprediksi mobil ini akan jadi mobil dua juta umat mengalahkan status Avanza sebagai mobil sejuta umat.

Fitur Toyota Calya yang menarik, serta kapasitasnya yang juga untuk tujuh penumpang alias 7 seater jadi nilai jual utama. Bahkan ada yang menyebut juga mobil ini sebagai “pembunuh” datsun Go+ karena kualitas lebih baik tapi harga tak jauh beda. Selain itu, tampilan body yang menarik dan modern, mirip-mirip dengan Kijang Inova yang sedikit lebih kecil. Dari segi keamanan pun lebih baik karena dilengkapi dengan 2 air bag, rem ABS, dan sabuk pengaman untuk 7 penumpangnya. Lalu apa alasan tak jadi beli Toyota Calya?

Sebelumnya, saya baru jual mobil keluarga Kijang Super G tahun 95 yang kira-kira usianya sudah 21 tahun. Dari sisi penampilan Kijang Super bapak saya ini masih sangat ciamik. Karena dari pemilik sebelumnya, mobil sepertinya baru repainting dan sangat terlihat mulus. Meski begitu, namanya juga mobil tua, pasti ada saja perawatannya. Minimal 1x sebulan pasti ada masalah atau komponen yang perlu diganti. Apalagi sudah ada tanda-tanda cat akan terkelupas, yang biasanya akan merembet ke seluruh body. Meski dari sisi pajak cukup murah dan mesin Kijang Super ini terkenal bandel, akhirnya memilih untuk beli mobil baru yang tterjangkau dan pilihannya jatuh pada Toyota Calya.

Dari berbagai keunggulan itu, beranilah untuk booking free senilai 5 juta satu hari sebelum GIIAS 2016. Oleh sales Auto 2000 Ciledug, dijanjikan unit akan dapat akhir September atau Oktober. Luar biasa memang Toyota tiap kali keluar mobil pasti laris. Bahkan belum ada yang test drive sama sekali, tapi semua sudah yakin bahwa mobil ini akan jadi suksesor dari Toyota Avanza yang fenomenal. Pilihan jatuh ke Toyota Calya tipe G manual 1200CC warna silver. Harga OTR Jakarta jika tak salah 138.000.000 (138 juta), dan jika DP agak besar sekitar 60 juta lalu dicicil selama 3 tahun, maka tak akan terlalu besar bunganya.

Namun ketika akhir September sudah lewat dan unit tak dapat juga, di Oktober saya mulai berubah fikiran. Booking fee untuk Toyota Calya yang senilai 5 juta, saya minta ke sales untuk dialihkan ke tambahan DP untuk Toyota Grand New Avanza tipe E manual 1300 CC. Selain karena keki sudah menunggu lama tapi unit Calya tidak segera dapat sementara di jalan mulai berseliweran unit-unit Calya berbagai warna, ada beberapa alasan tak jadi beli Toyota Calya.

Pertama, saya terpengaruh dengan berita di Oktober bahwa pemerintah barumengeluarkan aturan yang mengatur transportasi online. Akibat banyak protes dari perusahaan taksi yang merasa penghasilannya berkurang, maka dibuatlah regulasi yang jelas untuk Grab, Uber, dan Gocar ini. Salah satu aturan pentingnya akan dibatasinya kendaraan yang dapat dipakai yaitu minimal 1300CC. Sedangkan Toyota Calya hanya 1200cc dan jika regulasi ini benar-benar diterapkan, maka pupus harapan untuk punya obil sekaligus sesekali dapat dipakai untuk taksionline ketika sedang tidak dipakai.

Kedua, mobil ini kesannya “nanggung” dan tidak murah padahal judulnya adalah mobil murah LCGC. Nanggung karena ketika release, Calya tidak ada promo diskon sama sekali. Sedangkan di akhir tahun Avanza lumayan banyak diskon. Jadi dengan beda sekitar 20 juta, sudah dapat Avanza dengan fitur yang lebih baik seperti real AC double blower dan body yang lebih baik kualitasnya. Lantas, mobil ini juga tidak dapat dikatakan murah karena Avanza dan Senia dulu ketika awal kemunculannya di 2004, harganya kurang dari 100 juta sedangkan Calya ini baru keluar sudah hampir 140 juta. Jadi menurut saya memang “nanggung” sekali. Ya mungkin ini juga marketing dari Toyota agar Calya ini juga tidak jadi “pembunuh” Avanza.

Ketiga, menurut saya fitur-fitur “mewah” yang ada di Calya yang sebetulnya tidak terlalu jadi prioritas membuat harga mobil ini jadi lebih mahal. Padahal target mobil ini adalah untuk keluarga menengah ke bawah yang baru pertama punya mobil baru. Untuk mereka, yang penting punya mobil dan bisa jalan, apalagi bisa dibawa pulang kampung, itu yang utama. Fasilitas seperti sensor parkir, seat belt sampai ke kursi baris kedua dan ketiga, dan rem ABS sebetulnya tak terlalu jadi prioritas utama. Mungkin jika fitur-fitur tersebut dihilangkan dan pabrik tidak mengambil margin terlalu besar, mobil ini benar-benar bisa jadi mobil dua juta umat mengalahkan Avanza.

Terakhir, setelah difikir-fikir alasan tak jadi beli Toyota Calya ini adalah maintenance yang tak murah. Selain karena minuman utama mobil ini yaitu bensin Pertamax ron 92, oli yang dipakai agar mesin tetap halus pun yang W nol atau oli setara untuk mobil balap. Memang kabarnya mobil ini dapat sangat irit denganperbandingan 1 liter untuk 20 Km. namun untuk penggunaan dalam kota, apalagi Jakarta yang penuh kemacetan, sulit perbandingan itu dicapai. Paling banter juga 1 liter untuk 11 Km. Jadi buat apa harga mobil murah di awal, tapi makanan dan perawatannya yang mahal.

Itu dia alasan tak jadi beli Toyota Calya. Mungkin alasan-alasan saya sifatnya subjektif, tak semua orang punya background yang sama. Tapi saya harap beberapa alasan di atas dapat jadi pertimbangan kamu juga ketika ingin beli Toyota Calya. Dan faktanya, meski sempat didengungkan sebagai mobil dua juta umat, tak begitu banyak di jalanan ditemui mobil Calya. Mungkin karena daya beli pasar kita yang sedang lesu ya. (DPM)

Solusi Web dan Aplikasi Tiket Kereta Api Tak Bisa Dibuka


Tangerang – Saat ini tiket kereta api untuk mudik lebaran atau Idul Fitri sudah dapat dipesan 90 hari sebelum keberangkatan. Efeknya calon penumpang akan serentak membuka web dan aplikasi pemesanan tiket Kereta Api online sejak mulai bisa dipesan, dan wal-hasil server down. Lantas, apa solusi web dan aplikasi tiket kereta api tak bisa dibuka?

Situasi ketika website pemesanan tiket kereta api di tiket.kereta-api.co.id dan aplikasi KAI Access tak dapat berjalan normal dnamakan server down. Hal ini dapat terjadi karena traffick atau lalu lintas pengunjung yang masuk pada saat bersamaan begitu besar, mengakibatkan server atau komputer tempat semua proses itu terjadi tak mampu menampung jumlahnya. Ibaratnya seseorang yang dipaksa untuk menangkap beberapa bola sekaligus yang dilempar ke dia, lambat laun akan kepayahan hingga akhirnya pingsan.

Server down ini mirip dengan keadaan pingsan pada ibarat di atas. Ketika server down, maka pengunjung yang ingin masuk akan tertolak. Dengan sendirinya, traffick akan berkurang karena memang tak dapat masuk. Lalu dengan sendirinya, server yang sudah sanggup bernafas lagi itu akan kembali aktif dan melakukan tugas-tugasnya seperti biasa. Namun tak menutup kemungkinan server akan kembali down apabila terjadi lonjakan traffick lagi seperti yang terjadi pada web dan aplikasi pemesanan tiket kereta api di 90 harimenjelang Idul Fitri.

Hal ini sudah seharusnya diantisipasi oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) untuk fasilitas pemesanan tiket secara online. Situasi ini juga mirip ketika tempoh doeloe fenomena di media yang tiap kali menjelang Idul Fitri atau lebaran, maka ribuan masyarakat antri di stasiun bahkan hingga menginap untuk mendapatkan tiket kereta mudik lebaran. Para calo pun bertebaran menawarkan tiket dengan harga yang sudah dinaikkan dari resminya. Bedanya saat ini, ketika jadwal penjualan tiket dimulai, masyarakat nongkrong di depan komputer atau smartphone, lalu antri via internet untuk mendapatkan tiket dengan prinsip siapa cepat dia dapat. Para calo pun digantikan dengan kehadiran Tiket.com, Tokopedia, Traveloka, dkk. haha.

Ada dua hal sebagai solusi web dan aplikasi tiket kereta api tak bisa dibuka. Yaitu kamu harus sedikit sabar atau kreatif. Mari disimak dua hal berikut.

Solusi web dan aplikasi tiket kereta api tak bisa dibuka dengan sabar refresh page

Seperti penjelasan di atas, situasi server down pada website seperti tiket.kereta-api.co.id, biasanya tidak berlangsung lama. Selain pihak pengelola tentu selalu melakukan maintenance berkala, server biasanya punya mekanisme otomatis untuk restart otomatis ketika traffick berlebih yang masuk sudah berkurang. Jadi ketika kamu sudah nongkrongin situs resmi PT KAI untuk pemesanan tiket lalu server down, jangan putus asa dan terus refresh page dengan tekan F5 apabila masih tak mau terbuka.

Agar ketika sedang di tengah jalan pemesanan tiket kemudian server down dan kamu tak kehilangan banyak waktu, siapkan semua data yang diperlukan secara digital juga. Misal nama lengkap dan NIK serta nomer HP, tuliskan di notepad jadi ketika memasukkan data tinggal copy dan paste secara cepat. Jangan sampai karena kamu harus mencari-cari KTP dulu di dompet dan buka-buka phone book, server kembali down karena traffick sudah naik lagi. Apalagi jika kamu harus memesan tiket untuk satu keluarga atau teman secara rombongan, bisa gagal tak satu pun dapat tiket.

Solusi web dan aplikasi tiket kereta api tak bisa dibuka dengan kerjasama mbak dan mas minimarket

Satu solusi cerdas dengan memanfaatkan sela di sistem ticketing online ini adalah bekerja sama dengan para calo digital. Yap, bukan calo yang berkeliaran di stasiun, tapi pihak-pihak yang sudah secara resmi bekerja sama dengan PT KAI untuk menjualkan tiket kereta api. Kita tahu tanpa harus menyebutkan merk, bahwa beberapa minimarket menjadi rekanan PT KAI untuk menjualkan tiket kereta api. Belum ada info jelasnya, tapi bisa jadi para rekanan ini punya jatah kuota khusus untuk sejumlah tiket yang dijual PT KAI. Asumsi saya rekanan PT KAI ini tentu diberi kuota sehingga tak semuanya mendapatkan tiket hanya dari web dan aplikasi PT KAI langsung, tapi juga agar para rekanan ini dapat sedikit untung.

Caranya adalah, coba PDKT ke mbak atau mas yang bekerja sebagai kasir di minimarket yang jadi rekanan PT KAI. Jika ada keluarga atau teman itu lebih bagus, sebab harga teman pasti beda kan. hehe. Lantas minta tolong untuk pesankan di awal waktu tiket kereta api dengan hari keberangkatan yang diinginkan. Jadi ketika waktu penjualan tiket telah tiba, yaitu H-90 dari waktu keberangkatan, mbak atau mas minimarket itu dapat langsung memesankannya untuk kamu. Mungkin ketika minimarket sudah tutup yang biasanya tak operasi 24 jam.

Hanya tak enaknya apabila memesan tiket melalui minimarket ini adalah kamu tak dapat pilih kursi dan gerbong. Ada kemungkinan pula meski kamu pesan satu rombongan, akan dapat kursi yang tersebar di dalam gerbong yang sama atau beda, sesuai dengan kursi yang tersedia. Tapi masih jauh lebih bagus daripada tak kebagian kursi kereta api mudik lebaran.

Itu dua tips sederhana dari sana sebagai solusi web dan aplikasi tiket kereta api tak bisa dibuka. Jika kamu ada tips lainnya, monggo dishare di kolom komentar ya. Selamat hunting tiket kereta mudik lebaran ya. (DPM)

Hidup Memang Susah, Tapi Jangan Dibuat susah Lagi

Tangerang – Saya belajar kehidupan dari pengalaman dan orang-orang sekitar. Selain dari keluarga, sering kali pembelajaran itu malah didapat dari orang-orang dekat yang “curhat” dan minta untuk didengarkan kisahnya. Satu hal yang selalu saya katakan ke mereka yang berkenan untuk berbagi bahwa hidup itu memang susah, tapi jangan dibuat susah lagi.

Jika mau objektif, sebetulnya hidup manusia di bumi ini memang susah. Bagaimana tidak, dulu kakek dan nenek moyang kita sudah enak-enak hidup di surga, lantas diturunkan ke bumi untuk jadi khalifah di atas muka bumi dan mengalami segala macam cobaan hidup. Namun sebagai manusia yang mengenal Tuhan, tentu itu sudah direncanakan Tuhan dan bukan hak kita untuk protes. Namun paling tidak, kita sadar bahwa susah hidup di dunia bukan sesuatu yang istimewa karena tiap orang pasti merasakan, meski dengan porsi dan sudut pandang yang berbeda-beda.

Hidup ini akan jadi lebih susah menurut saya karena dua hal. Pertama, ekspektasi atau harapan yang di luar kemampuan. Manusia memang harus punya mimpi dan cita-cita. Kita semua perlu menggantungkan cita-cita setinggi bintang di langit, kata Presiden Soekarno. Namun mimpi yang terlampau jauh dari realita, terkadang akan membebani hidup dan membuat hidup itu sendiri terasa lebih sulit dari seharusnya.

Namun kita pun harus tetap yakin bahwa ada kekuatan yang jauh lebih besar di luar kuasa manusia, yaitu kuasa Tuhan. Sebesar apapun masalah kita, ada Tuhan yang Mahabesar. Sesulit apapun kesulitan ekonomi kita, ada Tuhan yang Mahakaya. Kita perlu untuk selalu berharap dan minta ke Tuhan, karena Dia Mahapengasih. Meski begitu, manusia juga perlu ikhtiar dan berusaha, maka dari itu cita-cita kita pun setidaknya harus terukur dan tak jauh dari jangkauan kapasitas kita.

Kedua, hidup ini akan terasa sulit ketika kamu dan saya tak dapat bersyukur. Bersyukur beda dengan pasrah atau putus asa. Bersyukur adalah menerima segala keputasan dan hasil yang ditentukan oleh Tuhan atas sebelumnya ada usaha maksimal dari kita. Segala sesuatu yang disyukuri maka akan terasa lebih ringan. Kita sadar bahwa manusia hanya butiran debu di lautan pasir pantai.Jika bukan karena karunia dan kemurah hatiaan Tuhan, maka kita bukan apa-apa dan tak akan terlahir di dunia. Bahwa diberi kesempatan untuk hidup di dunia saja sudah sebuah anugerah yang luar biasa, jadi naif sekali jika kita tak bersyukur atas apa yang kemudian diterima dalam hidup.

Nah, menurut saya satu kunci agar hidup yang sudah susah ini tidak dibuat makin susah lagi. Jangan pernah melakukan hal-hal yang tidak perlu atau di luar tujuan dasar kita sebagai manusia. Tidak perlu ini biasanya yang menyangkut urusan orang lain yang tak perlu kita campuri, keinginan akan sesuatu yang melebihi kebutuhan kita, atau kekhawatiran berlebihan pada sesuatu yang tak akan terjadi. Semoga kita selalu jadi insan-insan yang bersyukur dan positif. (DPM)

Profil BEAT Indonesia


Tangerang – Akhir 2016 lalu, saya diajak untuk bergabung dalam tim BEAT Indonesia. BEAT adalah kependekan dari Barrier-free Environment Accessible Transportation. Pelatihannya di AirAsia Academy, dekat KLIA, Malaysia. Jadi sekarang saya masuk dalam tim BEAT Indonesia yang siap memberikan training mengenai layanan yang aksesibel untuk difabel ke penyelenggara transportasi publik.

PENDAHULUAN

Sebagai bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat, penyandang disabilitas mempunyai hak dan kesempatan yang sama dengan warga Negara pada umumnya untuk menikmati fasilitas dan layanan umum serta transportasi yang aksesibel guna mengoptimalkan peran-sertanya dalam kehudupan bermasyarakat dan bernegara. Sayangnya, hingga kini sebagian besar fasilitas layanan umum dan transportasi di Indonesia belum aksesibel bagi penyandang disabilitas. Bahkan, masih sering dijumpai kasus-kasus diskriminasi yang dilakukan oleh pengelola layanan umum dan awak transportasi. Hal ini menciderai martabat dan kemanusiaan penyandang disabilitas serta mereduksi dan bahkan menutup peluangnya untuk berpartisipasi dalam dan menikmati hasil-hasil pembangunan.

 

Sebagai Negara yang telah meratifikasi Konvensi Hak-hak Penyandang Disabilitas (Convention on the Rights of Persons with Disabilities; CRPD), Indonesia berkewajiban untuk mempromosikan, membangun, dan mengembangkan aksesibilitas layanan umum dan transportasi yang aksesibel sebagaimana diamanatkan oleh konvensi tersebut:

 

“Agar penyandang disabilitas mampu hidup secara mandiri dan berpartisipasi penuh dalam semua aspek kehidupan, Negara-negara pihak wajib mengambil langkah yang tepat untuk menjamin akses bagi penyandang disabilitas, atas dasar kesamaan dengan warga lainnya, terhadap lingkungan fisik, transportasi, informasi, dan komunikasi, termasuk sistem serta teknologi informasi dan komunikasi, serta akses terhadap fasilitas dan jasa pelayanan lain yang terbuka atau tersedia untuk publik, baik di perkotaan maupun pedesaan.” (CRPD Pasal 9 (1).

 

Salah satu langkah yang harus dilakukan oleh Negara sesuai dengan amanat Pasal 9 ayat (2b) CRPD adalah menjamin bahwa sektor swasta yang menawarkan fasilitas dan layanan umum mempertimbangkan seluruh aspek aksesibilitas bagi penyandang disabilitas. Di samping itu, sesuai dengan amanat Pasal 9 ayat (2e) CRPD, setiap penyedia layanan umum dan transportasi wajib menyediakan bentuk-bentuk bantuan dan perantara langsung, termasuk pemandu, pembaca, dan penerjemah bahasa isyarat profesional untuk memfasilitasi aksesibilitas terhadap bangunan dan fasilitas lain yang terbuka untuk publik.

 

Lebih lanjut lagi, Pemerintah Indonesia telah memberikan perhatian kepada isu disabilitas dengan diundangkannya UU no.8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. UU yang merupakan harmonisasi dari CRPD tersebut, secara eksplisit menjelaskan tentang hak aksesibilitas yang perlu diwujudkan dalam penegakan hak penyandang disabilitas di setiap bidang, termasuk di dalamnya bidang transportasi dan bangunan publik. Hal tersebut tertuang di dalam pasal 1 dan pasal 19 tentang aksesibilitas dan layanan publik.

 

Namun, berdasarkan pengalaman selama ini, upaya penyediaan aksesibilitas pada fasilitas umum dan transportasi tersebut belum banyak dipahami oleh para penyedia layanan. Akibat langsungnya dirasakan sangat memberatkan bagi penyandang disabilitas berupa ketidaknyamanan dalam menggunakan fasilitas tersebut. Bahkan, banyak di antara penyandang disabilitas yang tidak dapat mengaksesnya sama sekali.

 

SIAPA BEAT INDONESIA

 

BEAT Indonesia lahir pada tahun 2011 melalui program pelatihan DET (Disability Equality Training) dan Disability Related Service Training (DRST) di Air Asia Academy yang diselenggarakan oleh BEAT Malaysia di  Air Asia Academy pada tahun 2011.   Trainer-trainer dalam kegiatan ini adalah para penyandang disabilitas yang professional dan telah mengikuti dan mendapat sertifikat DET-DRST. Mereka adalah:

  1. Sunarman Sukamto (Direktur PPRBM Solo)
  2. Mimi Mariani Lusli (Direktur Mimi Institute)
  3. Rachmita Maun Harahap (Direktur Yayasan Sehjira Jakarta)
  4. Suharto (Direktur Program Pengarusutamaan Difabel, SIGAB Yogyakarta)
  5. Yustitia Arief (Direktur Lembaga Advokasi Inklusi Disabilitas, AUDISI)
  6. I Nengah Latra (Direktur YAKKUM Bali)
  7. Astrid Lousia (Mimi Institute Jakarta)
  8. Sri Puryantini (YPAC Jakarta)
  9. Revita Alfi (Sekretaris Yayasan Sehjira Jakarta)
  10. Diana Adezza Effendi (Mimi Institute Jakarta)

 

Selama hampir 5 tahun berdiri, BEAT Indonesia melalui lembaga anggotanya masing-masing menyelenggarakan paket pelatihan untuk pengenalan konsep disabilitas dan pelayanan akses bagi disabilitas guna mewujudkan masyarakat Indonesia  yang inklusif dan ramah disabilitas. Program paket pelatihan meliputi materi training sebagai berikut :

  • DET
  • DRST untuk Visual Impairment
  • DET untuk Hearing Impairment
  • DRST untuk Physical Disabilities
  • DRST untuk Learning Disabilities

 

Seiring dengan berkembangnya BEAT Indonesia maka tim BEAT Indonesia juga membuka peluang bagi kandidat-kandidat baru untuk dapat dilatih menjadi anggota tim. Kaderisasi dirasakan perlu mengingat jadwal yang semakin padat dari setiap anggota asli BEAT Indonesia dan semakin banyaknya stakeholders yang tertarik untuk mengikuti paket pelatihan dari tim BEAT Indonesia.

 

TUJUAN PELATIHAN

Terwujudnya lingkungan bebas hambatan dan transportasi yang aksesibel di seluruh Indonesia sesuai visi BEAT yakni LINTAS Indonesia, LINTAS Asia dan LINTAS Dunia.

 

BIDANG PRIORITAS

Kategori program ini di prioritaskan kepada  Dinas Pemerintahan, yaitu : Perhubungan, Pertamanan, Pekerjaan Umum. Serta sektor transportasi: Penerbangan , Darat ,  dan Laut.

 

HASIL YANG DIHARAPKAN

Indikator keberhasilan atau efektivitas dari program ini diukur dengan adanya peningkatan aksesbilitas layanan umum dan transportasi yang aksesibel.

 

PENUTUP

 

Di akhir tahun 2016, BEAT INDONESIA kembali mendapat kehormatan untuk menyelenggarakan paket training  DET dan DRST untuk Air Asia dengan pelatih-pelatih yang menjalani IQP training di Kuala Lumpur Malaysia. Dalam IQP tersebut trainer yang mengikuti dari tim BEAT Indonesia adalah :

  1. Rahmita Harahap (Direktur Sehjira)
  2. Dimas Prasetyo Muharam (CEO PT Kartunet Media Karya)
  3. Yustitia Arief (Direktur Lembaga AUDISI)
  4. Ridwan Sumantri (Direktur Able Design)
  5. Heny Haryani (Mimi Institute)

Memposisikan Disabilitas dalam Media dan Demokrasi


Tangerang – Ceritanya di awal tahun ini Kartunet mengalami penyegaran dan penajaman visi. Kartunet sebagai sebuah media ingin dihidupkan kembali update artikelnya dan diperkuat posisinya sehingga punya pengaruh sebagai kanal suara disabilitas yang muda, progresif, dan inklusif.

Berawal dari dibentuknya Tujuh Langit, yang didukung oleh keluarga bu Ami Atmando dan punya fokus di bidang pelatihan dan peningkatan kapasitas untuk difabel, sehingga membuat Kartunet difokuskan hanya pada pengembangan media dan pengelolaan komunitas. Sedang untuk Tujuh Langit, mungkin akan saya share ceritanya di post lainnya. Saat ini mau cerita dulu mengenai Kartunet di 2017 dan bagaimana perannya dalam media dan demokrasi kita.

Rencananya, Kartunet sebagai media ini ingin saya tegaskan peranannya dalam dunia disabilitas dan juga demokrasi kita. Kartunet meski tidak terlalu sering mengadakan kegiatan offline, Alhamdulillah selalu mendapat posisi dalam pergerakan dunia disabilitas, termasuk dilibatkan dalam proses pembuatan kebijakan di pemerintah yang menyangkut anak muda dan disabilitas. Saya yakin itu semua karena Kartunet dapat menawarkan sesuatu ide dan gagasan yang berbeda setiap kali dimintai pendapatnya. Standing Kartunet jelas yaitu untuk memperjuangkan hak-hak pemuda dengan disabilitas pada lapangan kerja dan akses pada teknologi informasi. Itu yang sepertinya menjadi pembeda dari Kartunet dengan DPO atau organisasi penyandang disabilitas lainnya.

Untuk itu sayang sekali jika Kartunet tidak dilanjutkan dan mengadakan regenerasi. Perlu ada tenaga-tenaga dan pemikiran-pemikiran muda baru yang buat Kartunet tetap fresh dan mendapatkan posisi di masyarakat. Hingga di awal desember lalu, saat momentum Jambore IT yang diadakan oleh Kementrian Kominfo RI dan kebetulan saya jadi salah satu instruktur di sana, ada kesempatan untuk dapat bertemu dan ngobrol langsung dengan Banyu, Alfian dan Syarif. Mereka menurut saya anak-anak muda tunanetra yang di atas rata-rata teman sebayanya. Punya visi dan pemikiran yang progresif. Saya menilai kontribusi mereka akan dapat membuat Kartunet lebih berakselerasi lagi.

Pertama si Banyu. Dia saat ini mahasiswa baru di kampus Muhamadiyah Sukabumi. Cita-cita mau masuk jurusan sejarah UI, tapi belum rejekinya pada seleksi tahun pertama. Katanya mau ikut seleksi lagi tahun ini dan semoga saja berhasil masuk ke jurusan Soe Hok Gie itu. Menurut saya Banyu ini punya sikap dan pemikiran yang lebih dewasa dibanding teman seusianya. Dia juga sudah berpengalaman ikut organisasi sebesar Forum Anak Nasional. Jadi saya yakin Banyu dapat lebih berkembang i di Kartunet.

Lalu Alfian. Dia pertama saya kenal saat Kompetisi IT Nasional oleh Kementrian Kominfo tahun 2015. Lalu setelahnya paling interaksi via RS games bersama anak-anak lainnya. Lalu baru saya membuktikan kemampuan leadership dia ketika saya minta tolong untuk mengumpulkan 40 tunanetra untuk ikut dalam pelatihan literasi TIK oleh Kementrian Kominfo di Surabaya, Februari tahun 2016. Hasilnya luar biasa. Tak sulit bagi Alfian dengan network yang dia punya untuk mengumpulkan orang sebanyak itu. Saya yakin jika tak punya kemampuan mengorganisasi yang baik dan sedikit kharisma, hal itu pastinya sulit. Dari sana saya yakin Alfian ini bisa jadi harapan untuk perjuangan disabilitas berikutnya.

Lalu saya juga bertemu dengan Nur Syarif di acara Jambore IT kemarin. Syarif ini baru lulus dari Universitas Negeri Makassar. Dia punya cita-cita untuk lanjut kuliah di luar negeri lewat jalur beasiswa. Masih ingat ketika dulu saat Syarif masih kelas 3 SMA dan menelepon saya untuk minta pertimbangan memilih jurusan dan universitas. Time goes so fast, dan waktu 4 tahun itu berlalu begitu cepat. Syarif juga lumayan aktif di organisasi ketunanetraan di Makassar, dan terlebih lagi dia punya kemampuan menulis yang baik. Saya yakin bahwa seseorang tidak akan dapat menjadi besar tanpa menulis. Soekarno, Hatta, Syahrir, semuanya orang-orang besar yang juga menulis. Semoga Syarif ini juga dapat jadi salah satu harapan untuk komunitas disabilitas ke depan.

Dengan suntikan engergi-engergi baru ini, saya ingin Kartunet dapat lebih menegaskan posisinya di ranah publik. Kartunet harus peka dengan perkembangan sosial politik dan mampu menyampaikan pernyataan atau pendapatnya pada suatu hal. Sekaligus, kita ingin Kartunet ini dapat menyampakan ide dan gagasannya juga ke komunitas. Sebab jangan sampai gagasan hanya terhenti pada tataran elit, sedang teman-teman di akar rumput tidak satu frekuensi. Maka dari itu kita buatlah editorial rutin, diskusi-diskusi online, pocast, dan juga talent pool melalui kelompok menulis.

Semoga saja Kartunet ke depan makin jaya dan punya pengaruh positif yang makin besar untuk negara ini pada umumnya, dan komunitas disabilitas pada khususnya. Ingin rasanya ketika masyarakat bertanya mengenai bagaimana pendapat atau suara disabilitas terkait satu hal, maka yang terfikirkan adalah Kartunet. Ingin ketika komunitas disabilitas di akar rumput yang rentan manipulasi politik atau kepentingan, Kartunet dapat menempatkan diri di pihak yang independen dan memberi manfaat ntuk semua. Semoga, dan dirgahayu Kartunet di usia yang ke-11 ini.(DPM)

Kedai Menulis, Membuka Peluang Tunanetra Lewat Kata


Tangerang – Salah satu kemampuan yang kembali optimal setelah kehadiran komputer bicara untuk tunanetra adalah membaca dan menulis. Jika dulu hal tersebut hanya dapat dilakukan dengan sarana huruf braille, kini dapat dilakukan secara elektronik lewat komputer. Hal tersebut bukan hanya dapat membuka peluang seorang tunanetra menjadi penulis atau jurnalis, tlebih dari itu yang sesuai dengan era digital saat ini.

Satu program baru yang mulai dijalankan Kartunet tahun ini adalah Kedai Menulis. Sebuah wadah menulis secara online dengan tujuan untuk membiasakan dan mendisiplinkan para tunanetra untuk menulis. Filosofinya bahwa menulis itu tidak ada teori atau ilmu pastinya, yang diperlukan untuk dapat menulis dengan baik adalah praktik menulis dan menulis lagi.

Untuk seorang tunanetra, kehadiran komputer bicara selain memudahkan untuk menulis, pada faktanya di beberapa kasus dapat jadi bumerang. Kecenderungan ara tunanetra yang sudah mengenal komputer bicara saat ini adalah untuk membaca menggunakan komputer ketimbang meraba-raba huruf braille. Kelemahannya, karena kata demi kata dan kalimat yang dicerna dalam bentuk suara, beberapa tunanetra mengalami kesulitan dalam ejaan. Kasus paling sering adalah kesulitan membedakan huruf B dan D pada kata, misal pada kata beradab atau beradap. Atau pada huruf F atau V misal kata aktif atau aktiv. Karena mereka hanya mendengar ujaran dari kata-kata tersebut dan bukan mengeja huruf demi huruf pada teks braille atau tertulis, hal itu jadi tantangan tersendiri. Namun saya yakin, dengan latihan menulis yang rutin, dan membiasakannya, soal EYD itu lambat laun dapat dipelajari dan diperbaiki.

Program ini juga diharapkan dapat menghasilkan penulis-penulis baru dari kalangan tunanetra yang mewarnai kasanan sastra di Indonesia. Bahwa pengalaman yang diraskan tiap orang itu berbeda, dan saya yakin pengalaman unik para tunanetra akan sangat menarik untukd ibagiakn ke dunia. Ditambah lagi cara memandang dunia yang berbeda oleh para tunanetra, cara mendeskripsikan situasi yang non-visual, tentu akan menarik dan unik. Maka dari itu, ingin di kelompok ini dapat menginspirasi para anggotanya agar menulis itu sesuai dengan karakternya, bukan hanya meniru penulisan populer yang ada. Akan lebih keren jika dapat menemukan caranya sendiri.

Lebih jauh, program kelompok menulis ini juga dapat menghasilkan para content writer yang sangat dibutuhkan dalam digital marketing. Dalam dunia marketing, content atau isi dan narasi itu sangat berpengaruh dalam proses pemasaran. Copywriting yang baik, dapat berpengaruh pada penjualan. Selain itu, mereka pun dapat memproduksi content apabila ingin menjadi publisher iklan, atau sederhananya menghasilkan uang dari content dalam website yang dibuat.
Banyak sekali harapan dan mimpi yang ingin dibangun ari kelompok menulis ini. Ini semacam langkah kecil untuk mewujudkan cita-cita Kartunet membangun Digital Agency yang dapat memberdayakan para tunanetra. Semoga untuk tahap awal ini, dari sekitar 42 orang yang tergabung, dapat berjalan rutin dan menghasilkan content tiap anggotanya 1 week 1 post. Jika kamu tertarik untuk bergabung, silakan kirim pesan ke Facebook Kartunet ya. (DPM)