Tanggal 9 April yang sangat sacral bagi kehidupan berdemokrasi di Indonesia baru saja berlalu. Berbagai prediksi dan perkiraan yang dibuat mulai menemukan titik cerah. Hasil quick count atau hitung cepat, menghasilkan lima besar partai yang diprediksi akan memenangkan pemilu.

Partai Demokrat, yang merupakan kendaraan politik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, disebut sebagai partai pemenang pemilu dengan perolehan suara lebih dari 20%. Kemudian disusul oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan atau PDI Perjuangan dengan figure Megawati Soekarno Putri, menempati posisi kedua dengan perolehan suara antara 14% sampai 15%. Perolehan ini tak berbeda jauh dengan Partai Golongan Karya (Golkar) yang diketuai oleh Jusuf Kala, yang berada di posisi ketiga. Lalu di posisi keempat, ada Partai Keadilan Sejahtera atau PKS dengan perolehan 7% sampai 8% suara. Hingga di peringkat kelima, ada Partai Amanat Nasional atau PAN dengan suara 5% sampai 6% dari total keseluruhan.

Kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu legislative 2009 ini, tidak lepas dari pengaruh figure seorang Susilo Bambang Yudhoyono. Sosok ini dinilai bersih dan memiliki charisma sebagai seorang presiden. Program pemberantasan korupsi dengan KPK atau Komisi Pemberantasan Korupsi yang digagasnya, menjadi salah satu senjata ampuh penarik simpati pemilih. Secara tidak langsung pula, hal ini membuktikan tingkat kepercayaan rakyat atas kinerja pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu. Patut kita akui, iklim politik dan ekonomi yang relative stabil, merupakan keberhasilan lain dari Presiden yang biasa disingkat Presiden SBY ini.

Namun hal ini bisa pula diartikan bahwa rakyat tidak menemukan figur lain yang pantas sebagai seorang pemimpin. Tak adanya tokoh baru yang beredar di pemilu 2009 ini, menjadikan rakyat tak memiliki banyak alternatif. Mungkin dapat kita sebutkan Wiranto dan Prabowo, tapi mereka pada kenyataannya adalah tokoh lama, yang sudah beredar sejak pemilu 2004, dengan membentuk partai baru sebagai kendaraan politiknya. Fenomena seperti tahun 2004, dimana SBY muncul sebagai seorang yang “dizolimi” dalam kabinet Megawati Hamzah Haz, tidak terjadi di pemilu ini. Semua berjalan biasa-biasa saja, tak ada sensasi atau kejadian besar yang menarik perhatian rakyat.

Satu hal yang menarik perhatian saya dari kemenangan partai Demokrat ini adalah hubungannya dengan Amerika Serikat. Hubungan yang saya maksudkan di sini, bukan hubungan kerjasama atau konspirasi politik, tapi hanya berdasarkan nama. Di Amerika Serikat, terdapat dua partai besar yaitu Partai Republik dan Partai Demokrat. Di tahun 2008 silam, negara adi daya tersebut menyelenggarakan pemilihan presiden yang akhirnya dimenangi oleh Barak Husein Obama, dari partai demokrat.

Sesuatu yang menggelitik saya, adalah kesamaan nama partai yang memenangi pemilu antara dua negara ini. Barak Obama, dikenal sebagai seorang afro Amerika yang pada masa kecilnya, pernah tinggal dan bersekolah di Indonesia, daerah menteng tepatnya. Isu tersebut, menyebabkan rakyat Indonesia, yang notabenya tidak memiliki hak memilih di Amerika Serikat, mendukung Barak Obama sebagai calon Presiden dari partai Demokrat AS. Bahkan uniknya, ketika Barak Obama memenangi proses pemungutan suara, sebagian rakyat Indonesia beryovoria atas kemenangan tersebut. Lebih aneh lagi, sekelompok orang yang mengaku dulunya teman sekelas Barak Obama, merayakan hal tersebut dengan membuat tumpeng di sekolah SD Menteng itu.

Sebagian dari orang Indonesia yang bahagia dengan kemenangan Obama, berpendapat bahwa kemenangannya akan membawa perubahan bagi Amerika Serikat dan dunia. Konvensi tidak tertulis yang menyebutkan bahwa Presiden Amerika Serikat harus dari keturunan Anglo Saxon, telah dihancurkan oleh terpilihnya Barak Obama yang memiliki keturunan ayah dari Kenya. Ini dianggap sebagai pengwujudan American Dreams tentang cita-cita penghapusan diskriminasi di dunia. Tak ada yang tak mungkin, karena kita semua ini adalah manusia. Itu yang disaluti oleh rakyat Indonesia. Walau bagaimanapun juga, yuvoria ini tidak perlu, karena kita memiliki negara yang harus diurusi sendiri.

Fakta di atas membuat saya bertanya pada diri saya sendiri. Apakah kemenangan Partai Demokrat di Indonesia adalah wujud apresiasi rakyat atas keberhasilan Partai ini dan Presiden SBY, atau ada faktor yang lain? Faktor yang saya khawatirkan di sini adalah, yuvoria rakyat Indonesia atas kemanangan Partai Demokrat AS dengan Barak Obama yang masih hangat. Seakan-akan, harapan rakyat ikut membumbung dan berharap partai Demokrat di Indonesia dapat seperti di Amerika Serikat. Saya tidak tahu jawaban sesungguhnya. Yang pasti, ini era dunia mengadakan pembaharuan, waktunya Partai atau pihak minoritas menunjukan kontribusinya bagi masyarakat.

Rekomendasi Artikel:

Sudah Baca yang Ini?