Bangsa yang besar menghargai sejarahnya. Ungkapan ini seakan menohok kita sebagai sebuah bangsa di era globalisasi. Ketika batas antar bangsa menjadi kabur, satu hal yang kita butuhkan adalah identitas. Bagaimana untuk menjadi sebuah bangsa yang memiliki cirri khas tertentu. Tidak mengikuti arus budaya hedonisme dan materialisme globalisasi. Namun untuk menemukan identitas itu, kita terlebih dahulu harus mengenal sejarah bangsa. Tanpa mengenali sejarah, mustahil kita sadar siapa dan apa diri kita ini.

Sejarah suatu bangsa dimulai saat manusianya telah mampu meninggalkan catatan tertulis. Para ahli meyakini bahwa prasasti Yupa milik Kerajaan Kutai yang dibuat pada abad ke-4 Masehi adalah tonggak awal bangsa Indonesia meninggalkan masa prasejarah. Beralih untuk dapat mendokumentasikan kegiatan hidupnya melalui tulisan. Dokumentasi sejarah masa lalu tersebar di berbagai media seperti kulit hewan, tulang, atau batu prasasti. Dalam tiap prasasti, dapat kita temui informasi mengenai silsilah raja atau kejadian besar pada masanya. Dengan kata lain, sejak manusia menginjakan kakinya di zaman sejarah, proses kearsipan telah dimulai meski dalam bentuk yang masih sederhana.

Di masa pascakemerdekaan, bangsa Indonesia telah mengenal system kearsipan yang modern. Arsip Nasional Republik Indonesia adalah sebuah lembaga non departemen yang pada saat ini mengurusi masalah kearsipan nasional. Di dalamnya terdapat kepingan mozaik perjalanan bangsa Indonesia sejak masa kongsi dagang VOC, pemerintahan Inggris oleh Rafles, pemerintahan colonial Hindia Belanda, masa pendudukan Jepang, dan era kemerdekaan. Dokumentasi yang tersedia berupa lembaran manuskrip kuno, foto negative dan positif, film, atau bentuk dokumentasi lainnya. Semuanya tersusun dan terjalin membentuk sebuah kata besar identitas bangsa Indonesia.

Namun, akan terdapat beberapa masalah dari system kearsipan saat ini jika dikaitkan dengan perkembangan globalisasi yang semakin cepat. Pertama, apa yang akan terjadi apabila kepingan mozaik sejarah itu hilang atau rusak? Maka dapat dipastikan generasi mendatang yang tak sempat melihat dokumentasi itu akan kehilangan sebagian dari identitas keindonesiannya. Tak dapat kita pungkiri system penyimpanan arsip memiliki kekurangan. Artevak-artevak dan dokumentasi sejarah itu tidak dapat bertahan selamanya. Mereka suatu saat akan pula dimakan usia dan hancur. Seperti apa yang diberitakan di harian Kompas 12 Februari 2003, diketahui bahwa beberapa rekaman kunjungan Bung Karno ke beberapa negara dalam keadaan rusak dan tak dapat diputar kembali. Fakta ini sudah barang tentu akan mengancam eksistensi Indonesia sebagai sebuah bangsa jika kehilangan bukti-bukti perjalanan sejarahnya.

Selain itu, masyarakat umum dan pelajar selama ini menganggap kunjungan ke museum atau tempat serupa seperti Arsip Nasional adalah sesuatu yang membosankan. Tempat pusat sejarah dan informasi bangsa ini acap kali terlihat sepi pengunjung. Ia seakan menjadi saksi bisu akan ketidakpedulian bangsa Indonesia terhadap dirinya sendiri. Bagaimana suatu bangsa dapat menemukan identitasnya jika tak kenal akan sejarah? Namun, penulis beranggapan bahwa perlu ada transformasi dalam system kearsipan agar sesuai dengan perkembangan teknologi yang ada, sehingga arsip memiliki masa durabilitas yang lebih panjang dan mampu diakses oleh masyarakat umum secara luas. Oleh karena itu, diyakini penerapan teknologi digitalisasi kearsipan akan mampu membuat Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) lebih dekat dan inklusif.

Ada dua keuntungan utama dari digitalisasi kearsipan nasional. Pertama adalah keterjaminan eksistensi arsip sejarah bangsa. Kita semua sadar bahwa bentuk fisik dari arsip baik dalam bentuk lembaran, foto, atau rol film tidak abadi. Keberadaannya amat rentan dengan waktu. Akan menjadi sebuah kerugian besar jika bangsa ini sampai kehilangan arsip sejarahnya. Kasus hilangnya surat perintah sebelas Maret (super semar) yang diangap sebagai tonggak pertama berdirinya orde baru patut menjadi pelajaran bagi kita semua. Perlu adanya system back up yang professional demi menjamin eksistensi arsip nasional.

Kegiatan back up arsip ke dalam format digital adalah solusi terbaik di era teknologi seperti sekarang ini. Tidak memerlukan biaya yang besar, namun amat efektif dan efisien dalam menjawab tantangan zaman. Arsip yang berupa lembaran dapat kita jaga masa keberadannya dengan menduplikasikan dalam bentuk file berformat pdf atau text lainnya. Keadaan secara tampilan dan informasi tetap sama meski kita tidak menyentuh arsip secara langsung. Lalu arsip yang berupa foto juga dapat lebih dijaga dengan menduplikasikannya dalam bentuk foto digital. Sudah banyak software yang mampu membuat duplikasi semirip mungkin. Jadi tak perlu diragukan kualitasnya dengan arsip otentik. Berikutnya yang lebih penting lagi adalah pada dokumentasi yang berupa film. Rol film tidak bertahan sampai ratusan tahun. Lama kelamaan pita film akan rusak dan tak dapat diputar lagi. Proses digitalisasi ke dalam format video adalah sebuah langkah yang brilian. Selama system komputerisasi tetap terjaga dan tentu saja didukung oleh system database yang baik, maka arsip digital ini akan dapat terus dinikmati oleh beberapa generasi ke depan.

Selanjutnya, keuntungan kedua dari proses digitalisasi kearsipan ini mampu membuat ANRI lebih dekat dan bermanfaat bagi generasi pada masanya. Tak dapat dipungkiri, saat ini masyarakat kita terutama generasi mudanya amat dekat dengan dunia teknologi internet. Para pelajar dan mahasiswa lebih cenderung untuk mencari informasi melalui internet daripada berkunjung ke perpustakaan. Fenomena ini selayaknya turut menjadi pertimbangan oleh ANRI. Sistem digitalisasi kearsipan di sisi lain juga mendukung proses publikasi kearsipan kepada masyarakat luas. Tiap arsip yang telah diproses dalam bentuk digital dapat dipublikasikan melalui media internet. Tiap kita pengguna internet dapat mengaksesnya tanpa perlu datang ke gedung ANRI. Hanya perlu klik situs ANRI kemudian telusuri katalog kearsipan dan dengan mudah pengguna menemukan informasi yang ingin dicari.

Rekomendasi Artikel:

Kata Kunci

Sudah Baca yang Ini?

Pages: 1 2