Pagi ini sembari sarapan aku susah payah menahan air mata. Tengsih juga jika kelihatan keluarga sambil makan dan nonton TV kok malah nangis. kembali tayangan mengenai kisah ibu dari pak Jokowi yang selalu mendo’akan dan mendukung anaknya hingga menjadi presiden ketujuh Indonesia, tak dapat membuatku tidak menitikan air mata.

Satu hal lagi yang lebih mengharuskan dan baru aku tahu tadi adalah secarik kertas yang pernah diselipkan di jas pak Jokowi pada saat debat capres lalu ternyata titipan do’a dari sang ibu. Padahal di social medi, beliau sempat di-bully karena disangka bawa contekan materi ketika debat capres. Apa isi do’a tersebut? Do’a tersebut adalah do’a nabi Musa yang diucapkan saat bertemu dengan Firaun dan mengajaknya ke jalan Allah. Inti do’anya adalah agar Allah memudahkan segala urusan dan memudahkan agar apa yang dikatakan dapat dipahami.

“Musa berkata, ‘Robbis rohlii shodrii, wa yassirlii amrii, wahlul ‘uqdatam mil lisaani yafqohu qoulii’ [Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah
untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku” (QS. Thoha: 25-28)

Dimas Prasetyo Muharam bersama Joko Widodo alias Jokowi saat masih jadi Walikota Surakarta di Indonesia Young Changemakers Summit Februari 2012
Subhanallah. Betapa do’a seorang ibu yang juga merupakan ridho Allah, terbukti telah mengantarkan pak Jokowi ke kursi orang nomor satu di republik ini. Beliau benar-benar memahami, bahwa kunci sukses seorang anak di dunia dan akhirat yaitu dengan memuliakan orang tuanya. Menurut media, tak pernah lupa pak Jokowi untuk sekedar menelpon ibunya untuk tiap kegiatan yang akan beliau hadapi. Memohon do’a restu dan kepada sang ibu yang juga bersahaja dan ikhlas itu.

Dan yang membuat hati ini lebih tesayat adalah kebangaan yang mampu dibeirkan pak Jokowi kepada ibunya. Tentu tak terhingga syukur dan bangganya sang ibu memiliki anak yang menjadi presiden. Dan rasa bangga itu, berarti tak lain adalah ridho dan bangganya Allah juga. Tercurahlah segala berkah dan rahmat Allah kepada beliau, yaitu dengan jalan memuliakan orang tuanya.

Sedangkan aku, sampai umur ini belum dapat membanggakan orang tua sedikit pun. Aku masih harus berjuang untuk menyelesaikan diriku. Aku ingin seperti pak Jokowi. Mampu membuat orang tua bangga pada anaknya. Ingin rasanya aku suatu saat dapat berdiri di depan jutaan bangsa ini. Mengucapkan pidato dan dua nama yang aku sebut setelah Allah dan Rasulullah adalah nama kedua orang tuaku. Dua manusia luar biasa yang ikhlas membesarkan anaknya meski belum dapat membalas apapun.

Selamat pak Joko Widodo. Selamat mengemban amanah sebagai presiden Republik Indonesia yang ketujuh. Banyak hal yang kami pelajari dari Anda, dan satu hal itu adalah kunci sukses Anda dengan selalu memulaikan sang ibu. Semoga kami yang masih muda ini mampu mengamalkan hal tersebut untuk jadi anak yang membanggakan orang tuanya.(DPM)

Rekomendasi Artikel:

Kata Kunci

Sudah Baca yang Ini?