Empati Bermula ketika Takut ‘Gelap’

Empati Bermula ketika Takut ‘Gelap’

Empati Bermula ketika Takut 'Gelap'
Tangerang – Maret lalu adalah kali kedua saya melatih para staf AirAsia Indonesia dalam pelatihan Disability Equality Training di Red House Cengkareng. Sejak gabung sebagai trainer di tim BEAT Indonesia, ada saja pengalaman baru dan unik dari peserta yang baru interaksi dengan penyandang disabilitas. Salah satunya adalah perasaan takut gelap ketika mata ditutup dan berjalan dengan tongkat seperti tunanetra.

Tiap sesi Disability Services Related Training (DSRT) untuk tunanetra, ada bagian dimana peserta harus mempraktikkan apa yang sudah diajarkan mengenai layanan untuk penumpang pesawat yang memeiliki keterbatasan penglihatan atau tunanetra. Peserta yang biasanya 20 orang harus praktik secara berpasangan, lalu dibagi peran yang satu menjadi tunanetra, dan lainnya sebagai staf yang menuntun. Lalu di tengah praktik peran akan ditukar sehingga semuanya merasakan peran yang sama.

Peran sebagai tunanetra, peserta pelatihan harus mengenakan blind folt, sehingga penglihatan mereka terhalang sepenuhnya. Lalu mereka dibekali dengan tongkat putih yang biasa digunakan oleh tunanetra untuk alat bantu navigasi ketika berjalan. Lalu pasangannya, bertugas untuk mempraktikkan bagaimana cara memulai kontak dan menyapa, cara menuntun berjalan, melewati pintu, jalan sempit, hingga naik-turun tangga. Peserta yang sedang kebagian menjadi tunanetra harus mengikuti kemana pasangannya memandu selama sesi praktik.

Selesai sesi praktik, saya memberi sedikit waktu untuk refleksi. Peserta boleh menyampaikan pertanyaan atau perasaan mereka selama berperan jadi tunanetra. Satu hal yang kerap muncul adalah perasaan deg-degan atau takut ketika mata mereka ditutup lalu berjalan selayaknya tunanetra. Meski saya tidak melihat wajah mereka saat praktik, tapi dari cara mereka menggunakan tongkat sangat kentara kekhawatiran tersebut. Tongkat mereka arahkan kemana-mana meskipun sudah ada orang yang menuntun selama praktik. Tentu ini pengalaman baru untuk mereka yang biasa mengandalkan penglihatan dalam aktivitas.

Satu sisi saya terkelitik dengan ungkapan seperti itu. Karena sebagai yang sudah berpengalaman menjadi tunanetra hampir 17 tahun, takut akan gelap it sebuah yang konyol. Tapi saya coba mengingat ketika dulu sebelum usia 12 tahun ketika masih dapat melihat, lalu membayangkan menutup mata dan berjalan dalam gelap, tentu rasa takut yang luar biasa. Takut karena tidak tahu jalan apa yang dihadapai di depan. Apakah ada undakan, lubang, atau mungkin jurang (hehe lebay). Tapi rasa was-was itu pasti ada meski sudah ada tangan yang menuntun kita selama perjalanan.

Namun, pada poin itu lah esensi dari pelatihan ini. Saya ingin peserta merasakan sendiri betapa takutnya apabila harus berjalan dalam gelap seperti para tunanetra. meskipun tunanetra yang sudah terbiasa tidak merasakan sepenuhnya takut lagi, tapi perasaan itu dapat menumbuhkan empati di diri tiap peserta. Berawal dari sana mereka dapat menemukan solusi bahwa untuk mengurangi rasa takut, maka mereka harus percaya sepenuhnya dengan orang yang menuntun. Ketika yang mendampingi atau menuntun merasa relax dan dapat meyakinkan yang dituntun, maka rasa aman itu perlahan akan muncul.

Dengan kata lain, ketika dalam pekerjaannya mereka menjumpai penumpang tunanetra, maka mereka tahu apa yang harus dilakukan. Yakni melayani dengan ramah, interaktif, dan membuat orang yang dituntun merasa nyaman ketika dibantu. Saat empati ini sudah terbangun, maka teknis cara memandu tunanetra yang diberikan dengan sendirinya akan dilakukan dengan baik. Sebab dia masih ingat bagaimana ketika berperan jadi tunanetra dan tak ingin orang yang dituntunnya mengalami rasa takut sepertinya.

Lalu saya ikut merenungi hal tersebut. Bahwa dalam hidup pun kita harus percaya pada sesuatu yang jadi pegangan kita. Ibaratnya hidup di dunia ini ada di belantara raya yang gelap gulita apabila tanpa pegangan. Namun ketika kita percaya bahwa pegangan kita itu akan membawa kita ke jalan yang baik, maka rasa aman akan muncul. Pegangan itu dapat berupa agama, mimpi, passion, atau cita-cita yang jadi tujuan hidup kita.

Hidup ini memang akan terasa lebih bermakna jika kita dapat memaknai hidup ini sendiri. Saya menanti pengalaman dan pelajaran baru apa lagi yang akan diberikan oleh hidup. Keep positive thinking. (DPM)

Rekomendasi Artikel:

Sudah Baca yang Ini?

2 Comments

  1. bahkan saat bisa melihat dengan sempurna namun hidupnya tanpa pegangan yang jelas, tentu bisa saja terperosok, terombang-ambing hingga tersesat. Sangat menginspiratif sekali mas : )

    • aamiin. terima kasih mas Hendi. semoga dapat bermanfaat. Karena berdasar pengalaman dulu di kampus, Alhamdulillah saya malah belum pernah kecebur got ataus elokan. tapi teman2 yang awas atausighted person, karena sambil baca buku atau HP, ada yang kecebur got. hehe. Jadi semua kadang tergantung nasib juga dan konsentrasi kita dalam hidup 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow My Blog

Silakan daftarkan alamat email kamu untuk mendapatkan notifikasi tiap kali ada tulisan baru, gratis!

Join 9 other subscribers

Top Blog