Feminisme dalam Cerpen Perempuan Sinting di Dapur

Feminisme dalam Cerpen Perempuan Sinting di Dapur

Ketika mendengar kata perempuan, maka di benak kita akan terlintas kata-kata seperti lembut, cantik, lemah, manja, penurut, dan seterusnya. Bagi masyarakat pada umumnya, konsep ini dimaklumi sebagai sesuatu yang kodrati bagi seorang perempuan. Kaum esensialis pun seperti para pemuka agama dan masyarakat turut mendukung bahwa atribut-atribut yang melekat dalam konsep seorang perempuan adalah sesuatu yang kodrati atau alamiah dikarenakan factor biologis sebagai perempuan itu sendiri.

Jika dianalisa lebih dalam lagi, apakah benar konsep yang berlaku pada seorang perempuan saat ini diakibatkan oleh keadaan fisiknya yang memiliki rahim? Pernahkah kita membayangkan ketika seorang balita laki-laki dididik layaknya kita mendidik seorang balita perempuan dengan memakaikannya rok atau mainan domestic, apakah ia akan tetap memenuhi konsep seorang laki-laki ketika ia dewasa? Hal inilah yang disebut dengan konsep gender sebagai konstruksi sosial. Baik kita sadari atau tidak, tumbuh kembang manusia menjadi seseorang yang memenuhi konsep perempuan atau laki-laki adalah hasil bentukan konstruksi yang berlaku dalam masyarakat. Konsep bahwa seorang laki-laki harus rasional, kuat, tegar, dan seterusnya, dibangun oleh masyarakat dengan memberikan didikan bahwa anak laki-laki tidak boleh menangis dan mainan seperti mobil-mobilan atau lego. Sebaliknya, ketika masyarakat kita mendidik seorang perempuan, ia akan dididik sebagai seorang manja yang dituruti semua permintaannya serta diizinkan menangis hanya karena ia perempuan.

Lebih jauh lagi, folklore atau cerita rakyat yang memnggunakan kacamata falosentris turut membuktikan bahwa konsep perempuan telah dibentuk oleh masyarakat sejak dulu. Di nusantara, kita mengenal cerita rakyat bawang merah dan bawang putih yang menceritakan tentang dua perempuan beda karakter. Bawang merah dikisahkan sebagai seorang perempuan yang malas dan tidak pernah menurut pada perintah orang tua. Sedangkan bawang putih adalah seorang perempuan yang rajin membersihkan rumah, pintar memasak, mencuci, dan penurut akan semua perintah orang tua. Di akhir cerita, keberuntungan berpihak pada si bawang putih meski di awal ia mendapatkan perilaku yang tidak baik dari saudaranya si bawang merah. Dapat disimpulkan bahwa internalisasi konsep seorang perempuan ideal kepada anak melalui jalur cerita rakyat sangat berpengaruh dalam membentuk tuntutan terhadap seorang perempuan ideal yang harus penurut, lembut, bisa merawat rumah, pintar memasak, dan lain-lain.

Namun konstruksi ini coba didekonstruksi oleh Ugoran Prasad dalam cerpennya yang berjudul Peerempuan Sinting di dapur. Dalam cerpennya, Prasad menceritakan tentang seorang perempuan tua bernama Saodah yang bekerja sebagai penjual makanan di kampungnya. Makanan yang dimasaknya amatlah enak hingga semua orang rajin datang ke warungnya meski cara memasaknya sangat misterius dan secara pribadi Saodah bukan orang yang menyenangkan. Hingga pada suatu hari seorang pemuka kampung bernama Wak Haji Mail yang hendak menjelang ajal ingin bertemu dengan Saodah sebelum hembusan nafas terakhirnya. Istri pertamanya, Wak Misnah, menyuruh tokoh “aku” untuk menemui Saodah dan menyampaikan pesannya, tapi Saodah menolak. Dari anak Saodah yang bernama Aminah, tokoh “aku” mendapatkan keterangan bahwa wak Haji Mail pernah memfitnah suami Saodah yang menyebabkan ia terusir dari kampung dan mati dalam keadaan hina. Namun sebelum meninggal, Wak Haji mail berpesan lagi untuk meminta Saodah memasak makanan yang akan dibagikan ketika tahlilan. Saodah menyanggupi dan pada saat Saodah memasak itulah tokoh “aku” menemukan fakta bahwa selama masak, Saodah meludahi bahan makanan dan mengencingi panci masakan.

Dari pendekatan feminisme, dapat kita analisis beberapa hal yang mengkritik konsep ideal seorang perempuan dalam kaitannya dengan hubungan antar gender. Dimulai dari bagian eksposisi cerpen ini tentang wak Haji Mail yang sudah kawin tiga kali dan memiliki anak 14. Tindakan poligami yang baik secara langsung atau tidak langsung telah mengukuhkan konsep bahwa perempuan itu lemah dan laki-laki boleh berbuat apa saja, pada kenyataanya tidak serta merta dimaklumi oleh Wak Misnah. Ketika Wak Haji Mail menjelang ajal, seorang yang berada paling dekat dengannya dan memiliki kekuasaan untuk mengatur siapa saja yang boleh menemuinya adalah Wak Misnah yang notabenya telah dizolimi Wak Haji Mail dengan menikah lagi. Di sini telah terlihat bagaimana konsep seorang perempuan sebagai konco wingking atau teman hidup lelaki yang adanya di belakang. Apapun kesalahan yang dilakukan oleh suami, istri adalah istri dan harus mengikuti apa kata suami.

Lalu di dalam tokoh “aku” sebagai seorang laki-laki, terpatri juga konsep seorang perempuan yang dianggap sebagai komoditas. Ketika ia bertemu lagi dengan Aminah yang cantik, terkenang lagi saat tokoh “aku” ditolak lamarannya dan terpaksa menikahi perempuan lain yang telah dijodohkan lama oleh keluarganya. Meski tokoh “aku” telah terikat dalam institusi sebuah perkawinan, ia masih mengagumi Aminah dengan kecantikannya itu. “Aku menunduk di belakang Aminah. Kami sangat dekat, aku bisa melihat tengkuk di bawah gelung rambutnya, mencium wangi
tubuhnya, rambutnya. Lehernya, siap menenggelamkanku. Aku agak mabuk, tak percaya. Sesaat bahkan kegirangan meluap-luap dan jantungku berdebar. Jari-jari Aminah yang cantik menyibak tirai dapur”. Lebih jauh lagi, di dalam keterhanyutan tokoh “aku” dalam romansa kecantikan Aminah, ia dengan berani menanyakan lagi alasan Aminah menolaknya saat itu seakan lupa bahwa ia sudah beristri.

Di dalam tokoh Saodah sendiri, kita dapat melihat bagaimana konsep ironis seorang perempuan. Di dalam cerpen karya Urgon Prasad ini terlihat jelas bahwa perempuan akan diterima dan dianggap sebagai perempuan ketika mampu memenuhi kodratnya sebagai seorang perempuan. Dalam kasus ini adalah memasak. Saodah mampu memasak bagi orang kampung, oleh karena itu dia tidak dikucilkan karena memiliki seorang suami yang murtad atau fasik. Pernyataan bahwa masakan Saodah telah mengangkat derajatnya sebagai seorang perempuan ini nampak pada perkataan Aminah “”Bukan, bukan berdagangnya. Memasak untuk orang kampung. Ya, itu yang menyelamatkannya,” kalimat Aminah terputus sebentar. Sorot matanya sempat nyalang ketika dia bergumam, ”itu menyelamatkanku.””.

Rekomendasi Artikel:

Kata Kunci

Sudah Baca yang Ini?

Pages: 1 2

6 Comments

  1. Saya belum paham nih mas, apakah yang membuat makanan Saodah enak karena diludahi dan dikencingi pancinya? Seperti magic? hehehe
    Perempuan harus begini atau pria harus begini, tergantung dari latar belakang pendidikan, budaya, dan lokasi di mana ia tinggal mungkin ya…..

    • menurut saya itu perumpamaan saja sih. Ini kuliah udah agak lama, jadi lupa apa yang terfikirkan waktu itu. maaf ya 🙂

  2. wah. mengejutkan banget ya ternyata dia ngencingi panci untuk masak.
    gua mencoba memahami ulasan ini. dan bagus menurut gua. bisa membedah dengan bahasa yang komunikatif. gua juga gak bisa mengkritik lo ttg diskriminasi wanita, karena yg buat cerpen buat lo. hehe

    • hehe. thanks gan udah berkunjung. ini kritisi juga cuma dibuat sebagai tugas kuliah kok. tapi cerpen itumemang menarik sih. punya implikasi yang cukup banyak. Sebagai laki2 juga perlu melihat dari perspektif perempuan #halah

  3. Ulasan yang bagus sekali. Tapi sebenarnya saya tidak begitu sependapat dengan ‘terjemahan’ cerpen ini. Lagipula ini hanya cerpen, buah pikiran orang juga. Apakah sebenarnya ini terjadi atau tidak, tidak ada yang tahu kan. Saya tidak setuju bagian yang menyalahkan paradigma orang tentang perempuan. Saya perempuan dan seingat saya sejak kecil saya tidak pernah dimanjakan melebihi abang saya. Namun saya tetap tumbuh menjadi perempuan yang kodratnya tetap lebih lemah dari pria. Saya suka jika ada orang yang mengartikan perempuan sebagai makhluk indah, cantik, lemah lembut, karena menurut saya memang begitulah ia diciptakan.
    Saya tidak akan suka jika ada seorang laki-laki dengan seenaknya menyuruh saya mengangkat galon, atau memindahkan meja/ kursi seorang diri, memangnya saya kuli? Pun demikian, saya juga bukan golongan perempuan yang kerjaannya duduk diam di kamar, saya bersekolah jauh dari kampung halaman saya dan saya tidak manja. Dan menurut saya masih banyak orang di luar sana yang sependapat dengan saya.
    Oh iya, satu lagi saya tidak suka cara si pengarang cerpen menggambarkan kehidupan poligami. Banyak orang berpoligami dan hidup bahagia, hanya saja tidak/ jarang disoroti media. Media kan sukanya yang ‘heboh’. Itu juga yang membuat saya tidak suka dengan media sekarang ini. Overall saya tetap suka cerpennya, karena saya juga penikmat cerpen dan sastra.

    • Halo Rahmia, terima kasih karena sudah berkunjung dan berkomentar di post ini. kurang elbih saya setuju karena ini adalah cerpen fiksi, jadi belum tentu terjadi pada kenyataannya di lapangan. Pengarang berusaha menyampaikan pesan melalui sebuah cerita yang dikonstruksikan. lalu mengenai pendapat Anda tentang kodrati seorang perempuan. Tentu hak setiap orang untuk berpendapat. pendapat juga bersifat subjektif. Namun yang ingin saya jelaskan di sini terkadang kita sendiri punya standar ganda dalam hidup. Dalam satu sisi menuntut satu hal, dan di sisi lain menuntut hal yang bertolak belakang. tapiitu semua sangat manusiawi. Karena interaksi dalam gender pun dipengaruhi oleh konstruksi sosial yang ada dan konstriksi ini tentu berbeda di lokasi yang berbeda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow My Blog

Silakan daftarkan alamat email kamu untuk mendapatkan notifikasi tiap kali ada tulisan baru, gratis!

Join 7,144 other subscribers

Top Blog