Entah dimulai dari mana, isu yang sedang berkembang di public Jakarta saat ini adalah tentang kota yang dirasakan semakin tidak nyaman. Mulai dari masalah banjir, polusi, dan tentu saja kemacetan lalu lintas. Semua ini saling terkait memepati rutinitas padat penduduk kota Jakarta, sehingga mulai ada wacana untuk memindahkan ibu kota ke luar Pulau Jawa.

Wacana ini memang sebuah gagasan yang perlu diberikan perhatian. Sebagai kota pusat administrasi pemerintahan dan bisnis, lambat laun kota ini tak akan mampu menampung laju gerak public yang semakin cepat. Namun, gagasan ini tentunya tidak dapat dilakukan secara instant, perlu sebuah perencanaan matang tahunan untuk membangun sebuah ibu kota baru yang lebih teratur dan nyaman.

Di luar semua itu, tidak bisa dikatakan mudah untuk memeindahkan ibu kota dari Jakarta yang telah menjadi saksi bisu atas perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Di kota ini, untuk pertama kali wakil-wakil rakyat Indonesia berani memproklamasikan diri sebagai bangsa yang merdeka pada tanggal 17 Agustus 65 tahun silam. Di kota ini pula, berdiri Monumen Nasional yang menjadi simbol semangat bangsa Indonesia. Lantas, apa yang menyebabkan kota penuh kenangan ini tidak dirasakan lagi nyaman bagi penduduknya?

Melihat topic diskusi yang seakan tanpa akhir, permasalahan tidak lain disebabkan oleh “penyakit” bangsa Indonesia yakni inkonsistensi. Fakta ini dapat dilihat dengan kasus pembangunan proyek kereta monorel Jakarta yang terbengkalai. Dirintis sejak masa gubernur Sutiyoso di tahun 2004, proyek ini sempat dinyatakan berhenti oleh Gubernur Fauzi Bowo di bulan Februari 2010. Pemerintah provinsi DKI Jakarta saat itu menyatakan bahwa biaya yang tinggi mustahil bagi proyek kereta monorel untuk dilanjutkan. Namun, “penyakit” inkonsistensi ini terlihat ketika di bulan Juni 2010, proyek ini kembali ingin dilanjutkan oleh pemprov DKI.

Fenomena inkonsistensi inilah yang telah membuat pembangunan kota yang berkelanjutan tidak pernah terlaksana di Jakarta. Ketika proyek kereta monorel ini pertama kali dicetuskan oleh Gubernur Sutiyoso, Ia menghendaki pengerjaannya harus selesai sebelum masa jabatannya berakhir di tahun 2007. Akan tetapi, ketika proyek ini tersendat, tak ada upaya konkrit dan terencana untuk pemerintahan berikutnya sebagai penerus pembangunan yang telah dirintis. Ada rantai estafet yang terputus ketika satu periode pemerintahan berganti dengan yang lainnya. Setiap pemangku jabatan ingin meninggalkan sesuatu pada masanya, tanpa melihat kapasitas, dan bahwa segala sesuatu butuh proses.

Suasana kota Jakarta akan lebih baik jika segala sesuatu ditekankan pada proses yang konsisten. Seperti lomba lari estafet, setiap pelari memiliki peranannya masing-masing. Meski yang akan mencapai finish hanya pelari terakhir, namun ia tidak akan mampu selesai jika tongkat estafet tidak diberikan dari pelari sebelumnya. Selain itu, tiap pelari pun dalam kelompok estafet harus konsisten dan berusaha menciptakan waktu terbaik. Semua hal ini akan saling mendukung hingga terakumulasilah dari proses yang ada.

Begitu pula dengan pembangunan berkelanjutan. Apa yang telah terencana dalam cetak biru tata ruang kota, sebaiknya tidak dijadikan hanya sebagai harapan utopis tanpa realisasi. Para pembuat kebijakan perlu melaksanakan apa yang ada dalam rencana, semaksimal yang mampu dilakukan pada masa jabatan, hingga tongkat estafet siap diberikan kepada periode berikutnya. Di periode yang baru, proses yang ada dilanjutkan tanpa harus membuat kebijakan baru yang kontradiktif dari apa yang telah ada, apalagi sampai membuat proses yang ada terbengkalai.

Dengan pembangunan berkelanjutan yang konsisten, mungkin dapat mengurungkan niat kita ntuk memindahkan ibu kota negara ke luar Jakarta. Sebuah langkah instant yang mungkin hanya menyelesaikan masalah untuk sementara waktu. Ketika “penyakit” yang sama tetap dipelihara, maka tak akan jauh berbeda dengan situasi kota Jakarta saat ini.

Dimas Prasetyo Muharam
Mahasiswa Program Studi Inggris Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI

*Artikel ini pernah dimuat dalam kolom opini Suara Mahasiswa harian Seputar Indonesia edisi Kamis, 19 Agustus 2010

Rekomendasi Artikel:

Sudah Baca yang Ini?