Internet, Pendobrak Diskriminasi Disabilitas

Internet, Pendobrak Diskriminasi Disabilitas

Tulisan ini dibuat untuk materi diskusi panel pada Indonesia Internet Governance Forum pada Rabu, 20 Agustus 2014 di Hotel Borobudur, Jakarta. Waktu itu moderator ada mas Donny BU dari ICT Watch, dengan pembicara lainnya bu Andi dari Komnas Perempuan, pak Boni dari Kementrian Kominfo, dan pak Onno Purbo sebagai begawan Internet Indonesia.

Jakarta – Miris rasanya ketika mengamati pemberitaan mengenai tindakan-tindakan kriminal yang dilakukan via internet. Beberapa waktu lalu ada kasus mengenai pengungkapan judi online yang omsetnya hingga trilyunan. Lalu baru kemarin ini ada penangkapan seorang pemuda usia 24 tahun di Surabaya, yang ketahuan sebagai mucikari PSK ke para konsumen dengan media internet. Belum lagi kasus-kasus lainnya seperti pornografi anak, black campaign, dll. Padahal di balik semua itu, internet punya dampak yang sangat besar, minimal bagi kelompok-kelompok marginal seperti penyandang disabilitas.

Tulisan ini akan membahas bagaimana internet sebagai alat pendobrak diskriminasi pada penyandang disabilitas. Satu kelompok dalam masyarakat yang termarginalisasi, yang pada umumnya tanpa sadar, oleh masyarakat itu sendiri. Perbedaan fisik, mental, atau intelektual yang seyogyanya jadi penambah keberagaman umat manusia, malah dijadikan alat pembeda dan dikotomi, sehingga mereka tersisih dari masyarakat pada umumnya.

Paling tidak, ada dua hal yang menjadi manfaat bagi penyandang disabilitas dari internet dan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) pada umumnya. Pertama, internet dan TIK menjadi solusi keterbatasan fisik para penyandang disabilitas untuk mengakses informasi. Contoh paling nyata adalah yang dialami oleh para penyandang disabilitas visual atau tunanetra. Dengan adanya aplikasi pembaca layar (screen reader software) pada perangkat komputer dan mobile gadget, tak jadi batasan lagi untuk mereka mengetik dan membaca ebook di komputer, kirim sms atau chatting dan social media di mobile gadget, atau berselancar di internet hingga membuatnya sendiri. Semua itu dimungkinkan karena adanya program pembaca layar sebagai fitur addon accessibility pada komputer dan mobile gadget.

Kedua, internet dan TIK menjadi sarana untuk menyuarakan yang selama ini dianggap tak bersuara. Diskriminasi terselubung yang hampir di semua bidang dari mulai pendidikan, ekonomi, sosial, hingga teknologi, membuat penyandang disabilitas tak memiliki daya tawar yang cukup di masyarakat. Akibat kurangnya informasi dan pendidikan yang cukup, mereka hampir tidak tahu apa hak-hak yang selama ini tidak didapatnya. Hal ini ditambah oleh stigma dalam masyarakat yang memandang mereka dari kaca mata “belas kasihan” yang nyatanya malah semakin membuat terpuruk. Lebih jauh, media massa mainstream selama ini tidak menganggap isu disabilitas sebagai sesuatu yang dianggap “sexy”. Paling hanya sebentar muncul saat momentum hari raya untuk menarik simpati dari kegiatan-kegiatan charity. Akan tetapi, media mainstream belum menyentuh permasalahan sesungguhnya yang dialami langsung oleh penyandang disabilitas.

ID-IGF 2014: Mengawal Kebebasan Berpendapat di Ranah Online

Dengan adanya alat bantu seperti program pembaca layar di komputer dan mobile gadget untuk tunanetra dan berbagai media baru seperti blog dan social media, kini suara itu dapat disuarakan langsung oleh penyandang disabilitas itu sendiri. Salah satu upaya itu adalah dengan membuat www.kartunet.com. Media warga online yang dibuat serta dikelola langsung oleh penyandang disabilitas, jadi salah satu alternatif untuk menyuarakan aspirasi dan isu disabilitas. Pernah dua tahun lalu ada kasus perlakuan diskriminatif maskapai Garuda Indonesia pada seorang tunadaksa pengguna kursi roda. Kami mengenal subjeknya dan terus mengikuti informasi melalui millis organisasi disabilitas. Kami angkat tulisan dengan judul “Masih Ada Diskriminasi di Garuda Indonesia”. Tak lama artikel tersebut mendapat tanggapan dari VP Communications Garuda Indonesia.

Rekomendasi Artikel:

Sudah Baca yang Ini?

Pages: 1 2

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow My Blog

Silakan daftarkan alamat email kamu untuk mendapatkan notifikasi tiap kali ada tulisan baru, gratis!

Join 7,142 other subscribers

Top Blog