Kajian Akhlaq dalam Agama Islam - Part 2

Kajian Akhlaq dalam Agama Islam

c) Akhlak terhadap makhluk selain manusia :

• Malaikat :Akhlak Islam menuntut seseorang muslim supaya menghormati para malaikat dengan menutup kemaluan walaupun bersendirian dan tidak ada orang lain yang melihat.
• Jin : Adab terhadap golongan jin antaranya Rasulullah melarang membuang hadas kecil di dalam lubang-lubang di bumi kerana ia adalah kediaman jin. Sabda Rasulullah saw yang bermaksud : “Jangan kamu beristinjak dengan tahi kering dan jangan pula dengan tulang-tulang kerana sesungguhnya tulang-tulang itu adalah makanan saudara kamu dari kalangan jin.”
• Hewan ternakan : Hewan yang digunakan untuk bekerja, maka tidak boleh mereka dibebani di luar kesanggupan mereka atau dianiaya atau disakiti. Malah ketika hendak menyembelih untuk dimakan sekalipun, maka hendaklah penyembelihan dilakukan dengan cara yang paling baik iaitu dengan menggunakan pisau yang tajam, tidak mengasah pisau di hadapan haiwan tersebut atau menyembelih haiwan di samping haiwan-haiwan yang lain.
• Hewan bukan ternakan : tidak menganiayai hewan-hewan bukan ternakan seperti mencederakannya dengan menggunakan batu dan sebagainya.
• Alam : Manusia diperintahkan untuk memakmurkan sumber-sumber alam demi kebaikan bersama. Islam menetapkan bahawa alam ini tidak boleh dicemari dengan kotoran yang bias merusakkan kehidupan manusia dan kehidupan lainnya.

Selain itu terdapat pula akhlaq madzumah atau akhlaq tercela adalah akhlak buruk yang dikendalikan oleh setan. Akhlaq ini benar-benar harus dijauhi oleh manusia. Karena jika berkepanjangan, hati manusia akan menjadi busuk dan tidak bisa tersentuh lagi oleh ayat-ayat Allah. Keadaan seperti ini, bisa dikatakan manusia tersebut sudah terkena penyakit hati. Macam-macam arti penyakit hati dan sifat buruk manusia :

1. Iri Hati
Iri hati adalah suatu sifat yang tidak senang akan rizki / rejeki dan nikmat yang didapat oleh orang lain dan cenderung berusaha untuk menyainginya. Iri hati yang diperbolehkan dalam ajaran islam adalah iri dalam hal berbuat kebajikan, seperti iri untuk menjadi pintar agar dapat menyebarkan ilmunya di kemudian hari. Atau iri untuk membelanjakan harta di jalan kebenaran.

2. Dengki
Dengki adalah sikap tidak senang melihat orang lain bahagia dan berusaha untuk menghilangkan nikmat tersebut.

3. Hasut / Hasud / Provokasi
Hasud adalah suatu sifat yang ingin selalu berusaha mempengaruhi orang lain agar amarah / marah orang tersebut meluap dengan tujuan agar dapat memecah belah persatuan dan tali persaudaraan agar timbul permusuhan dan kebencian antar sesama.

4. Fitnah
Fitnah lebih kejam dari pembunuhan adalah suatu kegiatan menjelek-jelekkan, menodai, merusak, menipu, membohongi seseorang agar menimbulkan permusuhan sehingga dapat berkembang menjadi tindak kriminal pada orang lain tanpa bukti yang kuat.

5. Buruk Sangka
Buruk sangka adalah sifat yang curiga atau menyangka orang lain berbuat buruk tanpa disertai bukti yang jelas.

6. Khianat / Hianat
Khianat adalah sikap tidak bertanggungjawab atau mangkir atas amanat atau kepercayaan yang telah dilimpahkan kepadanya. Khianat biasanya disertai bohong dengan mengobral janji. Khianat adalah ciri-ciri orang munafik.

Selain itu terdapat pula tasawuf yang merupakan salah satu contoh akhlak dalam Islamyang menjunjung tinggi pengabdian total kepada Allah SWT.
Menurut Al-Taftazani, dalam buku Sufi, dari Zaman ke Zaman, definisi yang paling tepat adalah kata “sufi” berasal dari kata shuff, yang berarti bulu domba. Pada masa awal perkembangan tasawuf, pakaian bulu domba adalah simbol dari para hamba Allah yang zuhud. Tasawuf merupakan salah satu sikap dan perilaku hidup yang lebih mementingkan akhirat daripada kepentingan dunia. Tujuan mereka adalah satu, yaitu mengabdikan diri sepenuhnya kepada Yang Mahakuasa dengan cara melaksanakan sistem yang telah mereka sepakati. Menurut al Taftazani, tasawuf adalah falsafah hidup yang dimaksudkan untuk meningkatkan dan mengangkat jiwa seorang manusia (secara moral) lewat pemenuhan fana’ ke dalam Realitas Tertinggi serta pengetahuan tentang-Nya secara intuitif (tidak secara rasional), yang buahnya adalah kebahagiaan ruhani, yang hakikat-realnya sulit diungkapakan dengan kata-kata dikarenakan karakternya yang bercorak intuitif dan subjektif (1985 : 6).
Dari ungkapan Taftazani tersebut, maka jelalah bahwa dasar utama tasawuf adalah penyucian jiwa dengan tujuan untuk memperoleh kebahagiaan abadi.
Tasawuf tumbuh dan berkembang berdasarkan ajaran Islam. Setiap ajaran Islam tentu tidak terlepas dari al Quran dan sunnah Rasul. Jadi, landasan tasawuf adalah al Quran dan sunnah.

Rekomendasi Artikel:

Kata Kunci

Sudah Baca yang Ini?

Pages: 1 2

2 Comments

  1. Susahnya menjaga iman kita ya mas heheh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow My Blog

Silakan daftarkan alamat email kamu untuk mendapatkan notifikasi tiap kali ada tulisan baru, gratis!

Join 7,144 other subscribers

Top Blog