Buku : “Darwin’s Dangerous Idea Evolution and The meaning of Life”
Bab : Chapter 15, The Evolution of Meaning.
Penulis : Daniel C. Dannett.

1. The Quest of Real Meaning
(Penyelidikan terhadap makna sesungguhnya)

Pembahasan dalam sub bab ini, dimulai dengan dialog antara tokoh cerita anak Humpty Dumpty dengan Alice. Humpty Dumpty mengatakan bahwa sebuah kata yang digunakan, hanya memiliki makna dari apa yang sudah ia pilih makna tersebut, tidak lebih dan tidak pula kurang. Lalu Alice membalas dengan menyatakan apakah kita bisa membuat sebuah kata memiliki makna yang beragam. Lalu Humpty dumpty menjawab bahwa makna tersebut akan muncul dari hal apa yang kita kuasai.

Dalam sejarah dunia filsafat, tidak ada hal yang paling popular selain mencari makna dari sebuah arti. Hal di dalamnya yang paling sering dibicarakan dan masih menjadi sebuah pertanyaan adalah makna dari hidup manusia. Tak peduli apakah pertanyaan tersebut memiliki makna atau tidak. Pada zaman sekarang ini, para filosof analisis kontemporer ayng lebih sering disebut filsafat linguistic, mengfokuskan dirinya pada nuansa dalam makna sebuah kata dan pengucapannya secara sistematis. Mereka mencari perbedaan makna antara beberapa kata yang mungkin sama tapi berbeda dalam makna. Contoh yang paling popular adalah perbedaan antara kata “deliberately””, “intentionally”, dan “on Purpose”. Ketiga kata dalam bahasa Inggris tersebut memiliki arti yang sama, yaitu dengan sengaja. Tapi para filosof Linguistik meneliti perbedaan makna dan nuansa yang diberikan oleh masing-masing kata tersebut. Penelitian ini memberikan hal baru dan sistematis dalam penelitian terhadap suatu makna.

Teknik investigasi ini juga diberi nama “makna yang tak alami”. Seperti akan sebuah kegiatan yang memiliki makna tertentu. Tidak melulu sebuah kegiatan, memiliki makna yang sudah menjadi pendapat konvensional. Seperti dimana ada asap di situ ada api, dan ketika orang menangis pasti dia lagi bersedih. Bisa jadi kana sap itu ditimbulkan oleh hal lain seperti reaksi kimia, dan ketika seseorang menangis, bukan karena sedih, tapi karena bahagia atau kelilipan sesuatu. Jadi apa yang difikirkan atau mau diungkapkan oleh pembicara terhadap suatu ujaran, dapat bermakna apa saja.

Para filosof berasumsi bahwa sebenarnya hanya ada satu jenis makna, dan makna tersebut terbagi dalam sub-sub makna yang tergantung pada bahasa yang digunakan. Mereka sepakat bahwa tidak ada makna sebelum adanya sebuah kata. Jadi mustahil rasanya mendapatkan kemajuan dalam proses mencari sebuah makna, sebelum makna dari kata itu ditemukan. Apalagi dalam proses mencari makna dari hidup itu sendiri.

Sebagaian dari filosof, menolak bahwa makhluk manusia itu adalah hasil dari sebuah evolusi. Mereka menganggap bahwa manusia itu hanyalah hasil dari adaptasi. Termasuk pula bahwa otak dan pemikiran manusia itu memiliki tujuan dan makna. Hal inilah yang diperdebatkan oleh kaum behavioris dengan koknitif pemikiran mereka, dengan kaum fungsionalis yang menganggap semua elemen dalam bahasa memiliki makna. Pada akhirnya, paham darwinisme dianggap dapat menjadi fondasi dari teori makna yang alami, seperti yang dikatakan oleh John Dewy.

Tidak ada sesuatu di alam semesta ini yang hanya merupakan distribusi materi saja. Semuanya memiliki maknanya sendiri. Tiap elemen memiliki pengaruh terhadap kejadian dunia seperti sekarang ini.

Dewey juga menolak adanya skyhook atau tangan Tuhan dalam dunia ini. Semua hal memiliki makna dan proses kejadiannya. Tak ada hal yang terjadi dengan sendirinya, atau tak dapat dijelaskan dalam sebuah makna.

Tapi pendapat kaum naturalis Darwin itu ditentang oleh kaum behavioris seperti Jerry Fodor. Ia memberikan sebuah perumpamaan yang dianggap aneh oleh Dennett. Yaitu bahwa Teddy Bear adalah artificial/buatan, dan beruang yang asli juga adalah buatan. Ia anggap bahwa kita ini adalah sebuah benda, dari yang lain, dan yang lain itu adalah benda dari yang lain pula.

Oleh karena itu, di sini akan ditelaah hakikat dari sebuah makna itu. Apakah makna itu adalah seperti yang telah diungkapkan sejak dulu yaitu berasal dari dalam atau makna intrinsic, atau dari luar. Makna dari luar yang berasal dari kehendak si pemberi makna itu.

Kini kita ambil contoh sebagai penjelas adalah mesin penjual minuman ringan atau softdrink vending machine. Cara kerja mesin ini adalah menukarkan uang yang dimasukan ke dalam mesin tersebut, dengan sejumlah minuman ringan yang sesuai harganya. Mesin ini akan mengidentifikasi uang yang dimasukan ke dalam mesin, untuk keudian diproses, dikenali sebagai uang dengan nominal berapa, dan jika sesuai dengan semua parameter yang sudah deprogram, maka keluarlah minuman ringan tersebut. Parameter yang digunakan oleh mesin penjual minuman ringan ini antara lain : jenis mata uang, ukuran, dan nominal. Secara otomatis, jika uang atau benda yang dimasukan tidak memenuhi criteria sesuai dengan identifikasi yang dilakukan di atas, maka proses akan ditolak.

Rekomendasi Artikel:

Kata Kunci

Sudah Baca yang Ini?

Pages: 1 2 3 4