Judul : ”The Savage Inequality of Public Education in New York”

Pada awal berdirinya, Amerika diharapkan menjadi sebuah negara yang tak ada kelas dan diskriminasi dalam segala bentuk di dalamnya. Namun pada kenyataannya, kedua hal tersebut tak dapat dihindari, walaupun itu hanya implisif adanya. Diskriminasi dan ketidakadilan ini tak ayal terjadi di dunia pendidikan. Salah satu indikatornya adalah subsidi dana yang diberikan oleh pemerintah. Rata-rata, satu orang siswa di negara bagian New York, memerlukan 5500 dolar setiap tahunnya. Tapi ada beberapa sekolah publik yang dikenal elit, mengalokasikan hingga 11.000 dolar tiap murid mereka. Sudah tentu, ada sekolah lain yang anggaran tiap murid di bawah dari 5500 dolar. Inilah yang hendak ditelaah oleh penulis.

Penulis melakukan pengamatan terhadap sekolah-sekolah publik yang ada di Negara bagian New York. Di daerah itu, sekolah publik dibagi menjadi beberapa distrik. Di distrik 10, merupakan distrik yang meliputi sebagian besar dari daerah yang bernama Bronx. Pada kenyataannya, distrik ini dibagi menjadi dua daerah yang jauh berbeda keadaannya. Di sebelah utara barat, yang dinamai Riverdale, terdapat Public School 24 yang terletak pada lingkungan elit orang kulit putih, dan hanya sedikit sekali yang berpenghasilan rendah. Sedangkan di daerah selatan timur, terdapat public school 79, yang mayoritas pelajarnya adalah orang kulit hitam dan hispanic atau keturunan amerika latin.

Di sekolah yang terdapat di daerah selatan timur, keadaannya sangat memprihatinkan, bahkan sulit dikenali bahwa gedung yang dipakai adalah sekolah. Tidak ada lapangan untuk bermain bagi pelajar, lobi dan ruangan yang sempit, langit-langit di dana juga sangat rendah, tiap kelas, kebanyakan tidak memiliki jendela. Keadaan ini sangat buruk bagi pelajar. Langit-langit yang rendah, menyebabkan udara sulit untuk ada sirkulasi udara. Apalagi dengan sistem ventilasi yang tidak baik. Sudah barang tentu, kekurangan oksigen, mengganggu kinerja otak. Lalu tak adanya jendela, membuat keadaan kelas menjadi suram dan tidak menggairahkan untuk belajar.

Proporsi kelas dan pelajar tak memenuhi syarat. Sekolah P.S 79 dialokasikan untuk menerima maksimal sekitar 1000 siswa, namun pada kenyataannya, jumlah siswa yang ada di sana mencapai 1500 siswa. Selain infra struktur yang tidak memadai, kelebihan siswa ini lebih memperparah keadaan. Banyak ruangan yang sebetulnya tak layak dikatakan kelas, dipakai oleh mereka. Bahkan ada sebuah ruangan, yang hanya dipisahkan oleh papan tulis, dipakai secara bersamaan oleh dua kelas yang berbeda. Hal ini benar-benar sangat memprihatinkan.

Kepala sekolah di sana juga mengeluhkan kurangnya guru yang mereka miliki. Guru-guru yang mengajar mayoritas, bahkan semuanya, adalah guru yang sudah berumur. Dengan dedikasi yang mereka miliki, rela berkorban untuk mengajar di tempat dengan siswa yang tak proposional lagi. Dalam satu kelas, idealnya hanya terdiri dari maksimal 20 murid, tapi di sekolah tersebut, satu kelas dapat mencapai 40 sampai 50 orang. Kepala sekolah telah meminta pemerintah agar mendatangkan guru-guru yang luar biasa untuk menangani siswa di sana. Tapi apa yang didapat, tak seimbang sama sekali. Bahkan disebabkan oleh terlalu banyaknya murid, guru dalam kelas tidak dapat menghafal nama seluruh muridnya. Seorang murid yang tidak terlalu aktif, bisa dianggap tidak ada dalam kelas selama masa pembelajaran oleh seorang guru.

Dari segi infra struktur, juga dirasakan sangat kurang. Dalam sekolah itu, sebenarnya ada gimnasium untuk tempat latihan, tapi karena kelas yang ada tidak dapat menampung siswa, maka gimnasium pun dialihfungsikan menjadi kelas. Untuk komputer, sekolah hanya memiliki sekitar 26 komputer untuk 1500 siswanya. Tak ada komputer di tiap kelas, hanya ada satu kelas yang dikonsentrasikan untuk komputer. Tambahan lagi, sekolah juga tidak memiliki perpustakaan. Tak ada koleksi buku yang memadai untuk dijadikan referensi. Bahkan mereka tidak memiliki ensiklopedia yang sangat penting.

Semua keadaan di atas, sangatlah kontras jika dibandingkan ketika penulis mengunjungi P.S 24 di Riverdale. Sekolah itu terletak di daerah elit orang kulit putih. Rumah-rumah tersusun rapi dengan ukuran besar. Di depan sekolah, terdapat lapangan parkir yang luas. Di halamannya, ada pula mainan untuk siswa taman kanak-kanak. Sedangkan di belakang, ada lapangan yang lebih luas untuk tempat latihan siswa yang lebih senior.

Di dalam sekolah itu, terdapat sekitar 800 siswa. Mayoritas mereka adalah anak orang kulit putih dan asia. Tiap kelas, hanya terdiri dari jumlah ideal yaitu sekitar 20 siswa. Jumlah guru juga memadai dan proposional dengan siswa yang ada. Di dalam kelas, terdapat komputer dan ensiklopedia sebagai alat bantu belajar. Perpustakaan yang ada juga sangat baik. Terdapat lebih dari 8000 judul buku koleksi dalam perpustakaan. Tempat itu juga dikelola oleh pustakawan yang profesional. Yang lebih menakjubkan lagi, sekolah dilengkapi dengan planetarium. Sesuatu yang di sekolah bersiswa melebihi batas, terpaksa dijadikan pula sebagai ruang kelas biasa.

Walaupun sekolah bisa dikatakan elit, ternyata tetap ada diskriminasi di dalamnya. Secara keseluruhan, sekolah bisa dibagi menjadi dua golongan siswa. Yaitu sekitar 100 orang yang terdiri dari siswa kulit hitam dan hispanik, serta sekitar 700 siswa kulit putih dan Asia. Siswa kulit hitam dan hispanik itu, di masukan ke dalam beberapa kelas yang disebut kelas khusus. Kelas khusus tersebut, diperuntukan siswa yang memiliki hambatan dalam belajar. Maksudnya di sini adalah ketidakmampuan untuk mengikuti pelajaran secara wajar. Malah mereka ini dikatakan memiliki keterbelakangan mental. Sebaliknya siswa kulit putih dan Asia ini, dibagi lagi menjadi beberapa kelas yang ada di dalamnya kelas biasa dan khusus untuk siswa berbakat. Sehingga ada tiga tipe kelas di sana. Kelas untuk siswa biasa, Kelas Khusus yang terbelakang mental, dan kelas untuk siswa berbakat.

Hal yang perlu dipertanyakan di sini adalah pada kelas khusus bagi siswa terbelakang mental yang mayoritas adalah pelajar kulit hitam dan hispanik. Apakah sebanyak itu siswa yang meiliki gangguan pada otak mereka. Secara logika tidak mungkin. Jika ditarik benang merah dengan masalah stereo tipe dalam dunia pendidikan, segregasi kelas ini semata-mata hanyalah masalah sentimen rasial. Pelajar kulit hitam dan Hispanik, dianggap sebagai pelajar dari keluarga tidak mampu dan tidak pandai. Mereka ini diberi fasilitas yang sangat terbatas, bahkan sangat jauh berbeda dari teman-teman mereka di kelas siswa berbakat dalam sekolah yang sama. Seperti contoh kelas yang ditempati. Kelas untuk mereka belajar ini ukurannya hanya setengah dari luas yang biasa digunakan oleh siswa reguler. Jadi walaupun di sekolah elit, stereo tipe itu masih tetap berlaku.

Rekomendasi Artikel:

Sudah Baca yang Ini?

Pages: 1 2