(Analisis Tokoh Bakha dalam Novel The Untouchable Karya Mulk Raj Anand)

Salah satu kebutuhan dasar manusia sebagai makhluk sosial adalah hasrat untuk mendapatkan pengakuan dari manusia lain. Pengakuan ini mengacu pada pengidentifikasian seseorang berdasarkan status dan peranan sosial dalam masyarakat. Layaknya sebuah pelapisan atau stratifikasi sosial, ada parameter baik keturunan atau ekonomi yang menentukan status individu. Khusus untuk stratifikasi yang berdasarkan garis keturunan, penentuan status individu bersifat mutlak dan tertutup.

Ketika seseorang mendapatkan status sosial paling bawah, maka selamanya ia dan anak cucunya berada di sana. Ada pembatasan institusional terhadap kesempatan ekonomi atau edukasi yang akan terus mempertahankan absolutisme keadaan ini. Seperti apa yang akan kita lihat pada tokoh Bakha dalam proses internalisasi individualnya sebagai seorang paria (Untouchable) melalui beberapa kejadian dalam novel The Untouchable karya Mulk Raj Anand. Esei ini akan membahas Bagaimana ketika seorang Bakha ingin keluar dari status rendahnya sebagai pembersih kakus, namun terbentur dengan kenyataan bahwa ia berada di kasta India yang tertutup.

Kesadaran akan identitas sebagai manusia rendah di sebuah stratifikasi tertutup, mengharuskan seseorang merendahkan dirinya meski disadari pula, ada ketidak adilan di sana. Hal ini seperti seekor katak yang ingin melompat, namun ada tempurung kelapa yang menutupi ruang geraknya. Misal katak itu berusaha terus melompat, ia sadar tak akan membuat dirinya keluar dari sana. Pemahaman akan situasi ini membuat katak tersebut hanya diam dan pasrah. Sama halnya dengan seseorang yang dianggap sebagai “budak”. Dalam takaran diri sebagai manusia terperintah, ia harus menerima perlakuan apapun dari majikannya. Tak boleh melawan, karena itu bukan hak sebagai seorang budak. Melihat tokoh Bakha, posisinya sebagai lapisan terbawah dari kasta yang terbawah di stratifikasi masyarakat Hindu India, menjadikan hinaan dan caci maki orang yang berada di kasta lebih tinggi adalah sebuah suratan. Bahkan ketika ia sedang berjalan dan ada kontak fisik yang tak disengaja karena lupa memberitahukan kedatangan seorang tukang sapu, itu sudah menjadi sebuah penghinaan besar bagi orang kasta atas.

His first impulse was to run, just to shoot across the throng, away, away, far away from the torment. But then he realised that he was surrounded by a barrier, not a physical barrier, because one push from his hefty shoulders would have been enough to unbalance the skeleton-like bodies of the Hindu merchants, but a moral one. He knew that contact with him, if he pushed through, would defile a great many more of these men. And he could already hear in his ears the abuse that he would thus draw on himself.

(Anand, 1935: 48).

Ada halangan bagi Bakha untuk tetap berlaku sebagai seorang Paria. Meski ia sanggup untuk melawan, identitas ini tidak membolehkannya berbuat melewati apa yang telah dimaktupkan pada orang segolongannya.

Rekomendasi Artikel:

Kata Kunci

Sudah Baca yang Ini?

Pages: 1 2