Satu pertanyaan yang terkadang aku sulit menjawabnya yaitu “Pernah tidak merasa down atau terpuruk dengan kondisi kamu saat ini?”. Ketika mendapati pertanyaan itu, jujur aku harus berfikir terlebih dulu sebelum menjawabnya. Harus aku ingat-ingat lagi kapan aku pernah merasa terpuruk dan seperti apa itu. Tapi biasanya jawaban yang ada sifatnya standar seolah-olah hidupku ini baik-baik saja.

Bukan maksud untuk menjaga image apalagi berbohong, tapi aku memang cenderung tak gemar mengingat kejadian-kejadian pahit dalam hidup. Saat-saat down atau terpuruk itu pasti ada, tapi sulit jika harus mengingat-ingat lagi. Entah ini karena aku yang terlalu cuek, ajtau mungkin dapat dikatakan kurang peka?

Menimbang kebiasaan “burukku” itu, ada baiknya jika aku berfikir sejenak dan merenungkan saat-saat aku merasa benar-benar terpuruk. Hanya sebagai catatan, sekaligus pembangkit lagi motivasi dikala saat terpuruk itu datang.

Satu hal yang aku sadari bahwa saat terpuruk dalam hidupku itu adalah ketika merasa tak dapat melakukan satu atau beberapa hal, yang padahal hal itu sangat sederhana, dan pasti dapat aku lakukan apabila tidak dalam kondisi seperti sekarang. Misal saat aku ingin melakukan satu hal yang kecil, tapi karena keterbatasanku, jadinya terpaksa harus meminta tolong ke orang lain. Saat orang itu menolak atau melakukannya dengan tidak ikhlas, ada perasaan itu yang muncul. Seakan menyalahkan nasib mengapa tidak dapat melakukan hal yang semudah itu.

Akan tetapi, biasanya perasaan itu langsung ditekan dengan pemikiran lain bahwa alangkah tidak bersyukurnya jika karena itu saja maka aku harus down. Kemudian terganti dengan fikiran untuk cuek, atau coba mengerjakan sendiri dengan mencari solusinya. Mungkin itu yangm enyebabkan mengapa aku tak mudah mengingat kapan saja aku pernah merasa down. Karena terlalu sering, dan mungkin juga terlalu cepat berlalunya.

Tapi ada hal lain juga yang ternyata sanggup membuatku down dan berfikir cukup lama. Tak lain adalah persoalan pasangan dan kelak kehidupan rumah tangga. Sering kali terfikir bahwa dengan keterbatasanku saat ini, mungkin banyak hal yang tak dapat kulakukan, hal-hal yang selama ini dituntutkan pada seorang laki-laki dalam konstruksi sosial masyarakat. Misal saat pacaran dimana seorang laki-laki itu biasanya menjemput pacarnya, bisa mengantar pulang apabila habis pergi hingga agak malam, memberi surprise-surprise kecil yang mengesankan bagi si gadis, menjadi pelindung secara fisik, atau hal-hal lain yang biasanya untuk perempuan anggap itu romantis.

Lalu ada lagi. Karena dikeluargaku peran bapak sangatmultifungsi. Bukan hanya kerja mencari nafkah, tapi juga lumayan handal untuk memperbaiki apapun yang ada di rumah, buat ini itu, atau membunuh serangga atau binatang yang masuk ke rumah. Hal-hal sederhana itu yang kerap terfikirkan dan aku merasa dengan keterbatasanku ini tak dapat kulakukan.

Jujur, hal-hal itu kadang buatku frustasi. Tapi aku coba berfikir dari sisi lain dan membuatnya menjadi motivasi. Aku tahu bahwa segala kekurangan itu dapat diatasi apabila aku punya uang. Aku punya kemampuan untuk membayar orang melakukan semua hal itu untukku. Aku bisa punya mobil sendiri, bisa bayar supir, jadi tak masalah apabila jalan dengan pacar atau calon istri dan untuk mengantarnya pulang. Aku punya uang apabila ada hal-hal yang tak dapat aku lakukan di rumah, maka aku dapat menyuruh orang melakukannya. Maka, itulah yang terfikir olehku saat ini, dan itu pula yang membuatku secara tak langsung menolak doktrin bahwa menikah tak harus cukup secara harta dulu, jika sudah siap mental maka segerakanlah. Tapi itu tidak bisa untukku.

Sejak mengalami keterbatasan penglihatan ini sejak kelas 6 SD, mindset yang ada dalam diriku bahwa untuk melakukan satu langkah yang dilakukan oleh orang pada umumnya, aku perlu melakukannya dua atau tiga langkah lebih banyak. Aku tak bisa dan tak boleh melakukan hal yang biasa-biasa saja seperti orang-orang. Aku harus melakukan hal yang luar biasa. ekstra keras, baru dapat sama dengan lainnya. Mungkin agak terkesan takabur, tapi itulah faktanya. Jika biasa-biasa saja, maka aku akan terlindas.

Tapi di luar semua itu, hal yang aku butuhkan sejatinya adalah seseorang yang mau menerima aku seutuhnya, dengan segala kekurangan dan kelebihanku. Seseorang yang aku mencintainya, dan dia mencintaiku hanya karena Allah. Sebab jika semuanya tidak berakar pada tujuan mencari ridho Allah, maka uang, harta, dan materi-materi lainnya yang aku anggap tadi cukup menutupi kekuranganku, tak akan berarti apa-apa.

Dengan demikian, kita terpuruk itu bukan karena kondisi, tapi karena memang kita yang menginginkan agar terpurut. Bayangkan ketika kita terpuruk lalu tak ada fikiran lain yang timbul untuk menentangnya, maka selamanya kita akan berada di dasar keterpurukan itu. Beda apabila kita mau melihat keterpurukan itu dari sisi yang lebih positif, maka bisa menjadi motivasi yang luar biasa. Semoga Allah tetap melindungiku dan menjagaku melewati masa yang singkat di dunia ini.(DPM)

Rekomendasi Artikel:

Kata Kunci

Sudah Baca yang Ini?