Konsekuensi Hidup Materialisme di Amerika Serikat

Konsekuensi Hidup Materialisme di Amerika Serikat

Judul : ”From the High Price of Materialism”
Penulis : Tim Kasser.

Sejak zaman dahulu, para filosof percaya bahwa seseorang yang lebih memprioritaskan mengejar harta dan uang dalam hidupnya, akan tidak menemukan kebahagiaan dalam hidup. Tim Kesser, seorang Profesor dalam ilmu Psikologi, akan menguraikan secara ilmiah, hubungan negatif antara hidup materialisme dengan efek depresi, kegelisahan, dan tak bahagia, bahkan dengan penyakit-penyakit tentu yang disebabkan oleh stress misal pusing dan sakit tenggorokan.

Dalam hidup ini, tiap orang harus memiliki tujuannya masing-masing. Ada yang bertujuan untuk bisa berguna bagi orang lain, membuat dunia lebih baik, memperoleh kesenangan sex dan lahiriah, atau hanya untuk mencari sukses dan uang. Semua tujuan itu, masing-masing memiliki dampaknya bagi sikap manusia itu selama mencapai tujuan tersebut. Pada akhirnya, hal itu juga menjadi salah satu parameter dari sikap individualitas manusia. Semakin komersil dan materialis tujuan hidup seseorang, maka akan semakin individualis kehidupannya. Tidak peduli akan nasib orang, dan hanya memikirkan keuntungan diri sendiri.

Nilai-nilai yang dipegang manusia juga berpengaruh terhadap keadaan psikologis seseorang. Agama dan nilai-nilai dalam keluarga, membuat seseorang cenderung lebih peduli terhadap orang lain.

Setelah dilakukan survey terhadap beberapa orang mengenai tujuan hidup mereka, diketahui bahwa orang-orang yang menganggap uang dan sukses adalah tujuan hidup lebih cenderung ingin menjadi populer dan tak peduli dengan perihal perasaan atau emosi. Orang-orang ini pun mengakui sering merasakan rasa takut, depresi, khawatir yang tak beralasan, dan kegelisahan dalam kesehariannya. Semua hal belakangan itu adalah efek yang disebabkan oleh masalah psikologis. Kekuatan fikiran kita sendiri, dapat berpengaruh pada keadaan fisik. Seseorang yang merasa tertekan, akan sering merasakan gejala yang seperti disebutkan.

Hal ini juga terjadi pada kalangan muda pelajar. Pelajar yang terlalu hidup dalam dunia materialisme, cenderung memiliki motivasi yang kurang dalam sekolah, perilaku yang kurang baik, vandalisme terhadap sesama, dan lain-lain. Mereka dengan uang semua sudah cukup. Tak ada kebahagiaan yang ada di dalam diri pribadi. Hal ini akan berbeda jika tujuan hidup seseorang adalah untuk orang di sekitarnya. Ia akan bahagia ketika melihat orang bahagia, sehingga selalu termotivasi untuk menjadi lebih baik.

Dunia kapitalisme dan konsumerisme yang ada di Amerika Serikat, telah memunculkan nilai baru yaitu uang dan kepopuleran. Perihal finansial dan uang ini, pada akhirnya berpengaruh pula bagi ketenaran dan image yang dimiliki seseorang. Salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah iklan yang ada di media-media. Iklan biasanya memunculkan selebritis, dengan segala kepopulerannya. Hal ini membuat mereka ingin meniru dan berharap memiliki gengsi dan image yang sama dengan selebritis itu. Dari popularitas dan kekaguman publik, memunculkan sebuah kepuasan baru diluar dari uang itu sendiri. Sensasi puas saat dipuji dan dielu-elukan, menjadi salah satu nilai yang umum di sistem kapitalisme.

Penilitian lebih lanjut membuktikan bahwa seseorang yang populer dan memiliki banyak pujian karena kekuatan finansial mereka, mendapatkan serangan pusing, sakit tenggorokan, sakit perut, dan kegelisahan yang lebih sering daripada orang lain. Mungkin memang mereka mendapatkan kepuasan saat mendapatkan pujian, tapi pujian itu malah akan membuat seseorang semakin tertekan. Mereka dituntut untuk menjadi sesuatu yang telah dia dapatkan, bahkan lebih. Kegelisahan jika sesuatu saat akan gagal, sangat menyiksa dan membuat semakin tertekan. Sampai di sini semakin kuat anggapan bahwa materialisme itu sangat erat kaitannya dengan dampak negatif pada keadaan fisik.

Dari penelitian yang dilakukan kepada para mahasiswa di salah satu universitas Amerika, ternyata masalah materialisme tidak hanya pada orang dewasa. Para mahasiswa yang berorientasi pada perihal materialisme, cenderung untuk tidak peka terhadap kehidupan sehari-hari dan perasaan mereka. Kesser memberikan pada mahasiswa ini buku harian untuk diisi selama dua minggu. Tiap harinya, mereka diberi pertanyaan tentang apa yang mereka rasakan hari itu baik mengenai rasa senang, menyenangkan, kesedihan, stress, dan lain-lain. Bagi yang berorientasi pada materialisme, mereka tidak peduli dengan hal emosional itu.

Rekomendasi Artikel:

Kata Kunci

Sudah Baca yang Ini?

Pages: 1 2

4 Comments

  1. Sepakat jika tujuan hidup hanya untuk material segala cara akan dihalalkan makanya timbul kurang kepekaan 🙂

    • iya. hidup memang harus ikhlas. jangan pernah tergoda dengan prinsip rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau 🙂

  2. wah begitu kaitannya ternyata ya. ternyata semakin populer kita, semakin tinggi hal yang dituntut untuk kita. pantes aja banyak artis korea yang bunuh diri, ya. gak tahan dengan tuntutan

    • yap setuju. Makanya hidup sederhana aja tapi banyak cinta daripada hidup bermewah-mewah tapi sengsara seperti para koruptor 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow My Blog

Silakan daftarkan alamat email kamu untuk mendapatkan notifikasi tiap kali ada tulisan baru, gratis!

Join 7,144 other subscribers

Top Blog