Label Pelajar Kulit Hitam Amerika dan Intelektual - Part 2

Label Pelajar Kulit Hitam Amerika dan Intelektual

Suatu percobaan dilakukan terhadap sekelompok lelaki kulit putih yang sangat baik dalam pelajaran matematika. Mereka ini diberikan stereo tipe bahwa nilai mereka tidak akan lebih baik daripada pelajar asia. Dengan sendirinya, mereka seperti mendapat tekanan dan pada akhirnya, nilai mereka pun tidak lebih baik dari pelajar asia. Akan tetapi, ketika mereka tidak mengetahui stereo tipe tersebut, atau tak ada tekanan yang dikenakan pada diri mereka, hasil ujian matematika mereka sangat baik dan memuaskan. Sama halnya dengan apa yang dialami oleh pelajar kulit hitam. Karena merea sudah menginternalisasikan nilai bahwa mereka ini adalah ”sampah”, maka tak ada harapan atau usaha untuk mencapai sesuatu yang lebih dari sebelumnya.

Pada intinya, stereo tipe ini mempengaruhi kepercayaan diri dari seseorang. Hal ini terbukti pada sekelompok siswa yang diberi stereo tipe dan ancaman, mereka mendapatkan hasil ujian yang kurang baik. Tetapi pada saat stereo tipe atau ancaman itu tidak ada, maka mereka merasa percaya diri dan mendapatkan hasil ujian yang maksimal. Dengan kata lain, stereo tipe ini dapat disamakan dengan ancaman. Pelajar kulit hitam yang mendapat stereo tipe, mereka ini dalam dunia bawah sadarnya, merasa terancam, sehingga tak dapat membuat prestasi yang maksimal.

Sama halnya ketika kita merasa terancam atau terintimidasi oleh sesuatu yang kita anggap lebih. Seperti contoh ketika kita harus berbicara di depan umum, atau ada dalam kompetisi yang di dalamnya sudah kita tahu bahwa kita lah orang yang paling lemah di dalamnya. Kepercayaan diri itu akan goyah dan acap kali kita lakukan kesalahan-kesalahan yang seharusnya tidak terjadi. Hal ini pula terjadi di pelajar kulit hitam. Ketiak mereka mengerjakan soal ujian dan menemui kesulitan, tak ada usaha untuk berusaha lebih keras. Mereka berhenti sampai di situ dan menyerah, pasrah dengan keadaan. Mereka anggap bahwa mereka ini bodoh, dan tak akan dapat melampui prestasi dari pelajar kulit putih yang dianggap lebih pandai.

Mungkin ada faktor kurangnya persiapan bagi mereka ini, tapi sekali lagi, rasa percaya diri itu sangat penting. Sebagai contoh telah dilakukan sebuah test pada sekelompok orang yang diberi ancaman. Dalam mengerjakan soal, mereka membaca, dan memeriksa jawaban yang mereka buat secara berulang-ulang. Hal tersebut sangat tidak efektif, sehingga pada akhirnya, hasil yang mereka dapat pun tidak maksimal. Tindakan membaca dan memeriksa jawaban berulang-ulang itu adalah tanda kurangnya rasa percaya diri karena adanya ancaman pada diri seseorang.

Inilah hal yang perludilakukan. Pembangkitan motivasi dan semangat kembali bagi pelajar kulit hitam sangat dibutuhkan. Mereka yang miskin motivasi dan ekspektasi ini, sangat butuh bimbingan dan dorongan dari pihak lain. Perlu adanya tim yang menyadarkan para pelajar kulit hitam ini, bahwa mereka bisa dan sama dengan yang lain. Sugesti yang terus-menerus ini dengan perlahan akan dapat membangkitkan lagi rasa percaya diri.

Harus diakui, berat rasanya untuk mengubah stereo tipe yang sudah ada di dalam masyarakat luas. Oleh karena itu, perubahan ini harus dialkukan di area yang lebih sempit dulu yaitu lingkungan sekolah dan kampus. Institusi pendidikan adalah tempat dimana idealisme tumbuh. Para siswa harus belajar untuk menerima atau berintegrasi dalam lingkungan kelas yang beragam budaya ada di dalamnya. Perlakuan yang sama dari guru atau dosen kepada pelajar juga sangat berpengaruh.

Menurut hasil penelitian, motivasi dan prestasi akademis pelajar kulit hitam mencapai hasil yang sejajar atau bahkan lebih dari pelajar kulit putih yaitu pada saat tahun pertama sekolah atau kampus. Mereka pada saat ini, memiliki rasa percaya diri yang besar karena dapat masuk dengan nilai test yang dapat bersaing terhadap pelajar kulit putih. Tentu halnya sebelum stereo tipe dalam kelas dari teman-teman dan guru berlaku terhadap diri mereka. Setelah itu, seperti yang sudah dijelaskan di atas, motivasi untuk meraih prestasi akan menurun seiring makin dalam stereo tipe yang diterima.

Untuk merubah hal ini, telah dilakukan bimbingan oleh sebuah tim yang dilakukan sejak tahun pertama. Harus dijaga motivasi tersebut agar tidak hilang. Karena jika sudah hilang, akan sulit untuk di kembalikan. Seperti contoh, tak boleh ada segregasi dalam asrama yang ditempati oleh siswa kulit hitam, putih, atau bahkan keturunan asia. Mereka ini semua harus berbaur menjadi satu dan juga aktif melakukan diskusi antar ras. Dengan adanya hal tersebut, maka dialog akan terbuka dan para pelajar kulit hitam ini, akan merasa diri mereka sama dengan yang lain.

Terbukti bahwa integrasi masyarakat yang multikulturalis, dapat mengurangi diskriminasi dan menambah rasa saling mengerti antara mereka. Pola pemikiran menjadi terbuka untuk menerima perbedaan.

Menurut saya, hal perubahan yang dilakukan seperti di atas itulah yang membuat wajah Amerika seperti sekarang ini. Civil War, yang dilakukan orang kulit itam afrika Amerika untuk menuntut hak-hak sipil mereka, telah menemui titik terang. Lambat laun, diskriminasi terhadap orang kulit hitam berkurang, walau tak dapat kita sangkal, diskriminasi sedikit banyak tetap terjadi.

Pada tahun 2008 ini, menjadi awal, tonggak perjuangan persamaan hak dan anti rasisme di Amerika Serikat. Konvensi tak tertulis di antara masyarakat Amerika Serikat yang mengharuskan bahwa presiden adalah seorang Anglo Saxon, kini telah dipecahkan oleh seorang Barak Husein Obama. Seorang keturunan kulit hitam Afrika, berhasil memenangkan pemilihan Presiden Amerika Serikat di tahun 2008. Ia dengan sendirinya, telah membuktikan bahwa seorang kulit hitam, tidak berarti harus menjadi masyarakat lapisan kedua. Ia dapat berprestasi, bahkan menjadi orang nomor satu di Amerika Serikat.

Stereo tipe dalam masyarakat mayoritas memang sangat sulit untuk diubah, tapi dengan suatu momen besar, hal itu bukan tak mungkin untuk berubah. Presiden Amerika Serikat kulit hitam pertama ini, semoga saja bisa mewujudkan Amerika Serikat sebagai negara yang demokratis seutuhnya. Tidak hanya di bidang politik saja, tapi juga persamaan hak di dalam sosial masyarakat.

Pandangan bahwa ketidak mampuan untuk berkompetisi pelajar kulit hitam berasal dari faktor genetis sangatlah salah. Semua manusia berasal dari satu nenek moyang, jadi tak masuk akal rasanya jika terjadi perbedaan secara genetis dari satu ras ke ras yang lain. Yang membedakan kualitas mereka itu pada hakikatnya adalah konstruksi sosial dan budaya yang mereka lalui. Ketika mengapa pelajar kulit hitam dianggap lebih bodoh daripada yang berkulit putih, harus ditelusuri dari latar belakang sosial, budaya, dan ekonomi mereka.

Rekomendasi Artikel:

Kata Kunci

Sudah Baca yang Ini?

Pages: 1 2 3

2 Comments

  1. Nggak enak di baca lamanya

  2. Maaf kurfa maksd ny apa ya? Kurfa atau kurva?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow My Blog

Silakan daftarkan alamat email kamu untuk mendapatkan notifikasi tiap kali ada tulisan baru, gratis!

Join 7,142 other subscribers

Top Blog