Langkah Pertama Kuliah di Kampus Perjuangan

Langkah Pertama Kuliah di Kampus Perjuangan

9 Agustus 2007. Tanggal itu adalah hari dimana Dimas mulai menapakan kaki di Universitas Indonesia Depok. Ia diterima menjadi calon mahasiswa baru Universitas Indonesia tahun 2007 melalui jalur test SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru).

Dimas datang di UI didampingi oleh orang tua tercinta. Oleh Bapak yang hanya mengedrop sampai di UI dan selanjutnya ditemani oleh Ibu. Sebagai siswa tunanetra, Dimas harus mendapat pendampingan khusus pula. Pihak dari Yayasan Mitra Netra (yayasan tunanetra di mana Dimas mendapatkan tutorial belajar) membantu dalam hal ini. Pendampingan ini sangat diperlukan karena pihak UI harus mengetahui bahwa Dimas adalah siswa tunanetra dan penjelasannya akan dilakukan oleh pihak Yayasan.

Hal-hal yang dilakukan Dimas beserta pendamping pertama-tama yaitu registrasi ulang di gedung Pusat Pelayanan mahasiswa terpadu, dekat rektorat. Dalam hal ini tentu saja pengisian formulir dibantu oleh pendamping. Lalu, Dimas melakukan pengecekan nomor peserta SPMB. Setelah ada kesesuaian data, Dimas masuk ke gedung dan mulai pengepasan Jaket Kuning yang bersejarah itu. Pada awalnya dicoba dengan ukuran XL, tatapi karena terlalu pas, diputuskan menggunakan Jakun (singkatan dari Jaket Kuning) ukuran XXL. Proses dilanjutkan dengan pengambilan foto dan sidik jari. Di sini foto tidak secara manual. Tetapi sudah menggunakan kamera digital dan langsung muncul hasilnya di layer computer. Sistem pengambilan sidik jari juga sudah dengan computer.

Langkah berikutnya yaitu valudasi pembayaran uang administrasi yang total hamper Rp 7.000.000,00. Tapi karena ingin mengajukan keringanan pembayaran, langkah ini diskip untuk kemudian meneruskan ke bagian administrasi. Proses terakhir di gedung Pusat Pelayanan terpadu itu adalah pengecekan registrasi data calon mahasiswa. Di sini diberi beberapa berkas yang isinya data rahasia account dan password siakng (Sistem informasi akademis UI). Ini adalah system online yang mengatur kegiatan akademis mahasiswa. Kemudian di sini juga diberi beberapa buku panduan dan PDPT (Pendidikan dasar Perguruan Tinggi). Ini akan dijelaskan kemudian.

Setelah semua proses administrasi selesai, Dimas harus mengikuti test kesehatan di Pusat Kesehatan Mahasiswa (PKM UI). Untuk menuju ke sana, Dimas dan pendamping menggunakan Bikun (Bis Kuning UI). Di dalamnya ada beberapa mahasiswa senior yang mengucapkan selamat datang di Kampus Perjuangan dan menerangkan bahwa ada program beasiswa keringanan uang pangkal.

Setelah beberapa menit, Dimas sampai dan masuk ke gedung PKM UI. Ada berbagai test dasar, seperti pengecekan tensi darah, gigi, tinggi badan, berat badan, dan mata. Di test ini, Dimas mendapat status low vision atau penglihatan terbatas. Kemudian yang terakhir adalah ronsen. Ronsen ini dilakukan di bis yang sudah didesign khusus untuk hal ini. Setelah diketahui lebih lanjut, ternyata semua test kesehatan itu hanya untuk data pada saat OKK (Orientasi Kehidupan Kampus) sejenis Ospek di perguruan tinggi.

Semua proses selesai. Tapi masih ada satu hal tambahan. Ia harus mengurus masalah beasiswa keringanan uang pangkal ke fakultas masing-masing. Jadi dalam hal ini, Dimas harus ke FIB (Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya). Saat itu Bis kuning sangat terbatas yang lewat. Jadi Ia harus berjalan dari rektorat ke FIB. Di sana, Dimas dan pendamping menuju ke gedung sembilan. Banyak sekali berkas-berkas yang harus diisi dan sebagian dibawa pulang untuk diisi di rumah. Selain harus diisi, ada banyak juga persyaratan yang harus dilengkapi.

Setelah dari gedung sembilan FIB, mereka pulang. Harusnya ada Briefing dari senior di stand-stand jurusan. Tapi Dimas tidak ikut sebab harus mengurusi keringanan.

Hari ini sangat panas dan melelahkan. Bertepatan dengan hari Kamis, Dimas seperti biasa melaksanakan ibadah Puasa Sunah Senin-kamis. Beratnya hari yang dijalani memaksa Dimas membatalkan puasanya di Jalan. Pulang ke rumah, Dimas naik kereta KRL dari stasiun UI ke stasiun Lenteng Agung. Sampai jalan di dekat rumah Hujan mulai turun dan mereka sedikit kebasahan. Tapi dalam hati Dimas tetap yakin ini adalah ujian pertama Ia masuk di UI. “Semoga awal yang melelahkan ini menjadi awal keberhasilanku di UI” do’a alumnus SMA Negeri 66 Jakarta Selatan ini

Di kampus perjuangan, kita semua memang harus berjuang di dalamnya. Jalan masih panjang menuju keberhasilan. Tak ada keberhasilan tanpa perjuangan.

Rekomendasi Artikel:

Kata Kunci

Sudah Baca yang Ini?

1 Comment

  1. ksiah nyata bro?
    keren…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow My Blog

Silakan daftarkan alamat email kamu untuk mendapatkan notifikasi tiap kali ada tulisan baru, gratis!

Join 7,144 other subscribers

Top Blog