Madre, Karena Tak Ada yang Tega Menjual Ibunya

Madre, Karena Tak Ada yang Tega Menjual Ibunya

Jakarta – Satu lagi buku karya Dee alias Dewi Lestari yang aku baca berjudul Madre. Buku yang terbit tahun 2011 ini berisi beberapa koleksi cerpen dan puisi yang sebagian pernah diterbitkan Dee di berbagai media, tapi ada juga yang betul-betul fresh. Seperti biasa, aku selalu suka karya-karya Dee. Segar, kritis, dan memberikan nuansa pemikiran baru. Dia meracik berbagai isu sensitif seperti etnis, keyakinan, budaya, menjadi amat menarik ditambah dengan bumbu cinta di atasnya.

Judul buku Madre diambil dari judul cerpen pertama dalam 13 kompilasi tulisan Dewi Lestari. Karya-karya lainnya seperti Rimba Amniotik, Perempuan dan Rahasia, Ingatan tentang Kalian, Have You Ever?, Semangkok Acar untuk Cinta dan Tuhan, Wajah Telaga, Tanyaku Pada Bambu, 33, Guruji, Percakapan di Sebuah Jembatan, Menungu Layang-Layang, dan Barangkali Cinta. Namun dari buku setebal 150 halaman lebih ini, aku sangat menyukai dua diantaranya yaitu Madre dan Menunggu Layang-Layang.

Madre singkatnya bercerita tentang takdir seseorang bernama Tansen yang diwarisi sebuah adonan biang roti bernama “Madre” oleh seseorang tak dikenal yang kemudian diketahui sebagai kakeknya. Adonan biang tersebut dinamai Madre atau yang dalam bahasa Italia berarti ibu, memang menjadi ragi bagi semua roti yang diciptakan oleh sebuah toko roti bernama Tan de Baker. Konflik mulai terjadi ketika Tansen yang biasa hidup bebas tak merasa berbakat untuk membuat roti, dan bermaksud menjualnya pada Mei, seorang visitor blog miliknya yang ternyata pengusaha roti. Tansen kemudian mengurungkan niatnya ketika pak Hadi dan beberapa mantan pegawai Tan de Baker yang semuanya sudah jompo mengadakan pesta kecil untuk melepas Madre yang diperlakukan seperti makhluk hidup dan jadi bagian dari keluarga. Ketika ditanya mengapa dia tak jadi menjual Madre, Tansen menjawab “Sebab, tak ada yang sanggup menjual ibunya sendiri”.

Jujur, cerita dalam cerpen ini sebetulnya tak terlalu istimewa. Agak mirip dengan kisah cinta FTV. Tapi cara Dee menyajikan unsur etnisitas dengan pengatahuan baru di dunia roti cukup menarik. Para tokoh di cerita itu punya latar belakang etnis seperti Tionghoa, Jawa, Sunda, dll. Tapi Dee menyajikan semua itu seakan-akan biasa dan tak ada yang perlu dipermasalahkan dengan ras seseorang. Lantas, wawasan baru mengenai dunia roti dan artisan juga jadi salah satu daya tarik cerpen ini. Mirip dengan cerpen Filosofi Kopi karya Dee di beberapa buku sebelumnya yang menceritakan seorang Barista atau ahli membuat kopi. Mendapat pengetahuan baru yang dikemas dalam karya fiksi, sangatlah menarik buatku.

Selain itu, bagaimana keputusan seseorang dapat menentukan takdir juga menjadi salah satu catatanku. Ketika Tansen memutuskan tidak menjual Madre, melainkan menjalin kerja sama dengan Mei untuk jadi supplier roti-roti klasik ke tokonya, nasib Tansen sontak berubah. Dari seorang tanpa pekerjaan tetap di Bali, beralih jadi pembuat roti sekaligus pemimpin baru di Tan de Baker. Dari keputusan itu pula, ia seakan menghidupkan kembali gairah mantan-mantap pegawai toko roti Tan de Baker yang sudah jompo, dan memulai hubungan kasih bersama Mei. Beberapa hal yang nampaknya tidak akan terjadi apabila dia menjual Madre, ambil uangnya, dan pulang ke Bali. Nyatanya, keputusan yang dimaksudkan untuk membahagiakan pak Hadi dan kawan-kawan yang sudah menganggap Madre layaknya keluarga, berbuah dengan kebahagian dirinya sendiri bersama Mei. Seakan Dee ingin mengatakan bahwa pengorbanan akan selalu berbuah manis setelahnya.

Di samping Madre, aku menyukai cerpen lainnya berjudul Menunggu Layang-Layang. Cerpen berkisah tentang Che dan Starla, dua sahabat yang sama-sama arsitek, tapi berbeda dalam banyak hal. Di satu sisi, Che seorang laki-laki yang seakan hidupnya statis. Dia selalu membuat jadwal untuk rutinitas dalam hidupnya. Dia tak suka pada perubahan dan mengganggu rutinitasnya. Sedangkan Starla, seorang perempuan cantik yang amat dinamis dan suka berganti-ganti pasangan. Starla menjadikan Che sebagai “tong sampah” karena jadi tempat curhat setiap ia baru dapat pacar baru atau putus.

Di akhir cerita, ada percakapan antara Che dan Starla yang membuka fakta bahwa mereka dua orang kesepian yang menutupinya dengan cara berbeda. Che berusaha memacu dirinya dengan rutinitas statis yang menjadikan dirinya bagai robot. Sedangkan Starla mengisi kesepian dalam dirinya dengan berganti-ganti pasangan. Dari sana mereka sadar dan mulai jatuh cinta. Tapi Che tak mau rutinitas hidupnya rusak, meski merasa senang juga ketika Starta tinggal di apartemennya dan memaksa Che mengubah jadwal statisnya. Bahkan dia sempat berfikir bahwa mungkin Starla tak benar-benar mencintainya. Dia hanya mau tetap jadi “tong sampah” bagi Starla dengan segala curhat mengenai pasangan-pasangannya. Pada akhirnya, Che mau mengakui bahwa dirinya membutuhkan Starla, dan dapat jadi kekasih sekaligus tong sampah buatnya.

Khusus untuk cerpen ini, aku punya alasan yang agak pribadi mengapa menyukainya. Ketika membaca tokoh Starla, aku teringat pada seorang perempuan di masa lalu. Dia mirip dengan Starla, suka ganti pasangan yang biasanya didorong oleh rasa penasaran pada keunikan seorang pria. Tapi aku tak mau terlampau jauh mengingat-ingat lagi dirinya. Aku cukup bahagia ketika tahu kabar dari temannya bahwa ia akan menikah tahun ini. Bersyukur sebab dia akhirnya menemukan tambatan hati, mugnkin seperti Che, dan menghentikan rasa ingin tahunya pada berbagai macam jenis laki-laki.

Bagi kamu yang belum membaca Madre, buku ini cukup recommended. Apalagi bagi penggemar karya-karya Dewi Lestari, Madre dapat jadi salah satu selingan di antara novel-novel karyanya yang sedikit “berat”. Kisah-kisah di Madre ringan, penuh dengan cinta, dan tak sulit untuk dipahami.(DPM)

Rekomendasi Artikel:

Kata Kunci

Sudah Baca yang Ini?

9 Comments

  1. Biasanya saya kurang tertarik baca antalogi cerpen sih biasanya lebih suka membaca novel utuh. Tapi abis baca ini jadi tertarik baca hehe

    Dayu | PR.JA

  2. Referensial adalah kekuatan Dewi Lestari. Makanya harus banyak baca supaya kaya referensi dan bisa menyajikan hal baru ke pembaca.

    • Yes, dua hal yang membuat sebuah cerita atau karya menjadi menarik adalah kayanya referensi atau keunikan yang memang berasal dari pengalaman pribadi penulis yang tak dimiliki oleh orang lain. Dee berhasil membuataryanya jadi “berbobot” karena kaya referensi

  3. Dewi Lestari yg asalnya dari Bali bukan si?? yg lulusan filosofi klo ga salah ya?? itu pernah ke kampus saya deh klo memang beliau 😀
    punya softcopy buku itu? share dooong hehehhee

    • anyway, buat softcopy sepertinya tak layak dishare. soalnya saya scann sendiri dan hasilnya kurang bagus secara visual.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow My Blog

Silakan daftarkan alamat email kamu untuk mendapatkan notifikasi tiap kali ada tulisan baru, gratis!

Join 7,142 other subscribers

Top Blog