Makna Jender dalam Masyarakat Amerika

Makna Jender dalam Masyarakat Amerika

Judul : ”Becoming members of Society : learning the social meanings of gender”
Penulis : Aaron H. Devor.

Dalam pandangan masyarakat umum, masalah gender atau perihal maskulin dan feminimitas adalah sesuatu yang natural. Adanya konsep mengenai pria dan wanita, sudah dibentuk oleh alam dan seperti itulah adanya. Namun dalam artikel yang dibuatnya, Aaron H. Devor, menunjukan bahwa maskulinitas dan Feminimitas itu adalah sebuah konstruksi sosial yang dibentuk dalam masyarakat. Tergantung ada di masyarakat mana konsep itu berasal, juga berpengaruh terhadap definisi gender di tempat itu.

Identifikasi seseorang mengenai konsep gender itu bukan hal yang natural, tapi merupakan sosialisasi sepanjang hidup manusia. Konsep ini harus dipelajari dari orang-orang di sekitar dalam masyarakat. Mustahil jika seseorang yang tak pernah mengetahui konsep mengenai pria atau wanita itu bisa menjadi apa yang disebut pria atau wanita. Ini adalah proses belajar dan imitasi.

Sejak masa kanak-kanak, kita sudah dapat mengidentifikasi mengenai perihal gender. Dalam tahap anak-anak ini, proses identifikasi itu baru sebatas masalah penampilan fisik seperti cara berpakaian, gaya rambut, dan lain-lain. Mereka mengartikan bahwa laki-laki itu adalah yang memakai celana dan berambut pendek. Sedangkan untuk perempuan itu yang memakai rok dan berambut panjang. Setelah agak dewasa, anak-anak mulai dapat mengidentifikasi pembagian gender itu dari peran pria dan wanita. Mereka juga sudah dapat menilai apakah seseorang itu maskulin atau feminim dari sikap yang ditunjukan oleh seseorang. Hingga pada saat dewasa, pembagian gender itu lebih kompleks lagi. Selain masalah penampilan fisik, pembagian peran, tapi juga dari segi kemampuan reproduksi yang dimiliki masing-masing.

Di dalam masyarakat, seseorang dituntut untuk memiliki suatu identitas gender. Ada tiga konsep mengenai diri. ”I”, adalah konsep mengenai identitas diri yang hanya berkaitan dengan diri pribadi. Apa yang kita inginkan, itu yang kita lakukan. Sedangkan ”me”, adalah apa yang dituntut oleh masyarakat. Konsep yang berlaku di dalam masyarakat mengenai maskulin dan feminim, adalah apa yang harus kita pilih untuk dapat bersosialisasi dalam masyarakat. Hingga ada konsep ”self”, yaitu perpaduan atau kompromi dari apa yang kita inginkan, dengan apa yang masyarakat tuntud pada diri kita.

Pada kenyataannya, konsep mengenai gender di tiap masyarakat ini berbeda. Jika di masyarakat secara umum hanya mengenal dua gender yaitu maskulin dan feminim, di Aborigin, konsep mengenai gender itu terdapat lebih dari dua yang sudah dikenal di atas. Di masyarakat Indian Amerika Utara dan selatan, mereka mempunyai istilahnya sendiri untuk orang yang ingin meninggalkan peranannya dalam gender yang sudah dikenal masyarakat. Mereka ini biasanya akan dikucilkan dan dicemooh oleh masyarakat. Istilah untuk orang seperti itu diadopsi dalam bahasa Inggris menjadi ”berdache”.

Umumnya, konsep gender maskulin dan feminim itu digunakan untuk mengidentifikasikan salah satu jenis kelamin. Masyarakat menuntut bahwa untuk seorang laki-laki, ia harus memiliki sifat maskulin, dan untuk seorang perempuan, ia harus jadi feminim. Pada hakikatnya, tidak mesti laki-laki maskulin dan perempuan feminim, maskulinitas dan feminimitas itu hanyalah sikap gambaran yang dikonstruksikan dalam masyarakat. Maskulinitas itu identik dengan sifat agresif, suka berkompetisi, egois, dan selalu memiliki hasrat untuk menang. Sedang feminimitas itu identik dengan kelemah-lembutan, penyerahan diri, pasrah, sikap pasif, dan tak suka tantangan. Dalam praktek, sering terjadi simpang gender yang dilakukan oleh kedua jenis kelamin. Tidak semua perempuan harus sepenuhnya feminim dan laki-laki itu sepenuhnya maskulin. Seperti contoh, perempuan juga butuh sikap maskulin dalam membesarkan anak. Jika dia hanya feminim, maka ia akan pasif dan tak punya inisiatif sendiri.

Persamaan peran dalam gender di masyarakat timpang adanya. Tidak semua halyang dapat dilakukan oleh pria, boleh atau dapat dilakukan oleh perempuan, dan sebaliknya. Seperti banyak pekerjaan yang sudah mempunyai image bahwa itu adalah tugas perempuan. Seperti sekertaris dan perawat. Sedangkan untuk pria bisa disebutkan supir truk dan pekerja bangunan. Jika ada diantara pria atau perempuan yang mengerjakan hal sebaliknya, maka hal itu akan dianggap aneh oleh masyarakat. Tapi sikap aneh ini tidak sampai penolakan terhadap simpang gender di dalamnya. Masyarakat tetap menerima walaupun hanya terasa janggal.

Rekomendasi Artikel:

Kata Kunci

Sudah Baca yang Ini?

Pages: 1 2

3 Comments

  1. kok saya ndak dapat makna gender menurut amerika ya di tulisan ini?

    kalau paragraf 6 dan 7 menggambarkan kondisi masyaraat amerika terhadap gender, berarti tidak jauh berbeda dengan Indonesia.

    Pernah tau di thailand ada berapa gender? belasan kalau ga salah. Eh saya lupa itu klasifikasi gender atau orientasi seksual

  2. “jangan biarkan berkembang, hentikan sebelum bertelur”, untuk mereka yang merasa bergender ke tiga!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow My Blog

Silakan daftarkan alamat email kamu untuk mendapatkan notifikasi tiap kali ada tulisan baru, gratis!

Join 7,144 other subscribers

Top Blog