Masih Perlukah Ujian Nasional?

Masih Perlukah Ujian Nasional?

Saya sekarang berada di kelas 12 atau kelas terakhir pada jenjang sekolah menengah atas. Ya benar kelas 12. Saya tidak salah tulis dalam hal itu. Sebenarnya adalah suatu perubahan yang tidak berguna sama sekali. Hanya perubahan dari nama kelas 3 menjadi kelas 12 saja. Malah akan membuat semakin aneh karena masuk di sekolah baru yaitu SMA, lah kok tahu-tahu langsung kelas 10 yang sebelumnya tidak pernah mendapatkan kelas 9.

Kira-kira terhitung dari sekarang, waktu belajar efektif untuk kami yang sekarang ada pada kelas 12 tinggal 7 bulan lagi belajar efektif. Jika diamati sekilas, waktu tujuh bulan merupakan waktu yang cukup lama. Tapi jika dijalani dengan kondisi yang sekarang ada pada kelas 12, waktu itu adalah waktu yang sangatlah cepat. Malah saya tidak percaya sendiri kalau sebentar lagi saya akan meninggalkan SMA ini dan insyaallah akan masuk ke universitas.

Desas-desus dari guru, pada sistem kurikulum baru ini ujian nasional akan diadakan hanya pada mata pelajaran utama lagi. Tidak seperti kemarin yang hanya tiga pelajaran yaitu bahasa inggris, bahasa indonesia, dan matematika (untuk IPA) atau Ekonomi (untuk IPS). Tapi untuk kurikulum sekarang ini yaitu bisa terdiri dari 6 pelajaran lagi. Misalnya untuk jurusan IPS akan terdiri dari Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Ekonomi, Sosiologi, Sejarah, dan Geografi. Ini semua masih sekedar issu sih katanya, tapi yang pasti ujian nasional itu akan tetap ada entah berapa pelajaran yang akan diujikan.

Sepengatahuan saya, jika benar-benar terjadi mata pelajaran yang diujikan sebanyak enam pelajaran itu, maka ini berarti kembali ke sistem kurikulum dulu yaitu sekitar tahun 1994. Ah benar-benar perubahan yang sia-sia.

Ok kita akhiri pembahasan mengenai mata pelajaran dan sistem kurikulum yang aneh itu karena sudah banyak kita bahas pada artikel saya sebelumnya. Saya sebenarnya sih maklum, karena negara kita yang tercinta ini adalah sebuah negara yang sedang berkembang dan masih banyak perlu belajar, jadi perubahan-perubahaan yang tidak masuk akal itu pasti masih akan sering terjadi.

Sekarang saya akan memberikan beberapa pendapat dari pengamatan yang saya lakukan di lapangan.

Sesungguhnya sistem uan itu baik untuk dilakukan, karena dengan adanya uan pemerintah dan masyarakat luas dapat mengetahui seberapa tinggi tingkat pendidikan nasional kita sekarang ini. Dengan standar mutu yang dinilai oleh angka terendah itu, maka akan dapat dibandingkan standar ketuntasan antar negara. Misalnya yang saya tahu dari beberapa informasi, Malaysia yang merupakan negara tetangga kita yang pada awalnya mengimport guru dari Indonesia, mereka sudah menggunakan standar kira-kira 7 untuk standard minimal. Sedangkan negara kita sampai sekarang masih menggunakan standar 4,26 yang sekarang katanya akan dinaikan hanya sekitar 5 saja. Sungguh perbandingan yang sangat jauh sekali jika dibandingkan dengan negara tetangga kita.

Rekomendasi Artikel:

Kata Kunci

Sudah Baca yang Ini?

Pages: 1 2

25 Comments

  1. menurut ane sih masih perlu-perlu aja, asal jangan dijadikan patok paten sebagai syarat kelulusan saja, kayak sekarang mungkin ya, jadi nilai pelajaran (ipa ips kalo sma) di rata-rata dari nilai kelas 1, biar nanti pas unas bebannya lebih ringan, dan mungkin bobotnya untuk unas lebih diperkecil daripada uas atau uts . . imo

    selain itu, masak ane dulu ada unas sekarang gak ada, kan pilih kasih hahaha

  2. kuncinya kembali ke pada mental baik guru, kepsek, pejabat pemerintah karena itu merupakan lingkaran setan. mental karena banyak kecurangan.Kecuranagn sistimatis dari atas kebawah. dari pekabat daerah yg menekan kepala dinas , kepala dinas menekan kepsek dan kepsek menekan guru , makanya janagn heran kalau banyak pembiaran anak nyontek atau beri kode sama teman atau punay kunci jawaban . Jadi aku mah pingin spt dulu aku sekolah , diserahkan ke masing2 sekolah . jelek atau bagusnya masarkat bsia menilai sendiri kok , gak perlu pakai angka2. jaamn aku dulu orang2 sdh tahu sekolah A yg bagus sekolah B yg buruk tanpa perlu lihat nilai uan

    • iya. manusia-manusia di dalamnya yang perlu diperbaiki. Banyak sekolah yang mengejar ratting dengan melakukan pembiaran siswanya untuk mencontek saat UN. menyedihkan bahkan itu dilakukan oleh para guru.

  3. Kalau di Finlandia gak perlu lagi ada ujina nasional dan kini mereka telah di akui oleh dunia betapa bagusnya pendidikan mereka.

    • mungkin mereka bisa seperti itu karena wilayah yang kecil, jadi mudah mengukur parameter nasional mereka. Sedang Indonesia jika dilihat secara nasional memang terlalu luas. tapi beda halnya jika dipandang daerah per daerah. Akan lebih tepat memang untuk mengukur standar pendidikan itu ditentukan per daerah sehingga lebih adil rasanya.

  4. Menurut saya sih mau ada UN ataupun tidak, kalo pendidikan di negara tercinta kita ini belum merata ya sama-sama aja hasilnya (bisa simpulkan sendiri ya, haha). Yang paling penting adalah tingkatkan mutu pendidikannya. Kalo mau ada UN pun harus disesuaikan dengan mutu pendidikan di Indonesia. Dan sekarang, kalau tidak salah dengar, akan ada ujian pengganti UN yang mana tiap-tiap daerah berbeda kebijkannya baik dari soal-soal yang diberikan ataupun aspek-aspek lainnya. Dan ini merupakan perkembangan yang bagus untuk pendidikan Indonesia, setidaknya menurut saya. Hahaha

    Segitu aja deh, mampir ke blog saya ya estolagi.blogspot.com kalo bisa sekalilan komentar di sana. Hahaha

    salam

    • ya setuju dengan rencana pemerintah saat ini mengembalikan penyelenggaraan UN ke provinsi dan kota kabupaten masing2. Dulu saat masih sekolah, agak egois dengan anggap UN itu harus, karena UN itu memang bisa jadi kebanggaan pribadi jika berhasil dapat nilai baik. tapi kita lupa bahwa standar pendidikan di tiap daerah masih berbeda, karena perbedaan pemerataan pembangunan yang belum tercapai. Jadi untuk saat ini, baik adanya jika UN dimoratorium oleh pemerintah

  5. Lebih baik dihapus saja unas. Karena kesuksesan seseorang pelajar bisa saja tertunda karena tidak lulus di UNAS. Ditambah sekarang sdh sering bocor kunci dan soal.

    Happy blogwalking ya, ditunggu kunjungan baliknya di http://www.dzikirsm.web.id/2016/08/takut.html #Happyblogging #blogwalking

    • sistem sekarang lebih ideal sih bro. tetap ada UN, tapi tak jadi syarat kelulusan utama. tapi cukup kembali ke fungsinya untuk mengukur kompetensi nasional.

  6. bagaimanapun soal UN nantinya, yang penting mulai sekarang harus lebih rajin belajar. 🙂
    semoga lulus UN ya dik. 😀

  7. UN perlu tetap dilakssanakan sebagai alat ukur keberhasilan sekolah, guru, dan juga siswa selama proses belajar, namun jangan dijadikan acuan satu-satunya kelulusan siswa.

    • yes, seperti sistem saat ini ya. Jadi tetap ada UN, cuma tidak jadi syarat kelulusan. Biar siswa diajak berfikir dewasa dan bertanggung jawab. Bahwa pendidikan itu untuk kebutuhan dirinya, bukan orang tua atau bahkan gengsi sekolah

  8. Makanya buat adek2 yg lulus dan udah ngerasain kalo UN tuk gan penting, mesti belajar lebih giat lagi. Biar bisa jd mentri pendidikan dan hapus itu namanya UN.

    Gimana caranya siswa2 yg kerja keras selama 3 tahun di tentukan kelulusannya melalui UN yg ga nympe 3 jam.??

    Dan gimana caranya siswa2 yang selma 3 tahun selalu tawuran bisa di tentukan kelulusannya melalui UN yg ga nympe 3 jam??

    • setuju. UN memang penting untukmengetahui peta kompetensi siswa di berbagai aerah di Indonesia. Namun tidak sehrusnya jadi prasyarat kelulusan. Apapun hasil UN, apabila sudahm enempuh masa belajar 12 tahun, seharusnya diluluskan. Toh nanti menjadi risiko sendiri siswa setelah lulus apaka dapat berkontribusi bagi masyarakat atau tidak. yang menentukankembali pada kompetensi. jadi filosofi sekolah benar-benar dipahami sebagai tempat mencari ilmu, bukan ijazah semata.

  9. ya betul2
    saya setuju itu..
    saya aja takut2 menghadapi Un sekarang
    apalagi pelajaran matematikanya…
    jika nanti saya tidak lulus, mungkin saya akan putus asa
    dan akan pergi dari dunia yg fana ini untuk selamanya
    tapi mohon ya bantuan do’a nya…
    do’a kan saya lulus Un tahun ini
    amiin

    • tidak lolos UN bukan akhir dari dunia. Lalui saja ini sebagai bagian dari petualangan hidup 🙂

  10. Jika dipertanyakan mana yang lebih penting antara proses belajar dengan prestis nilai, tentu saja saya akan jawab proses belajar. Ini adalah hal yang mendasari pemikiran saya mengenai cara pandang terhadap UN. Honestly, saya bukan akademisi di bidang seluk beluk dunia pendidikan, namun saya paling tidak, pernah duduk di kursi SD, SMP, dan SMA negeri yang menggunakan sistem UN untuk syarat kelulusan. Sejauh pengalaman saya, proses belajar itu sangat penting. Semua materi soal yang terdapat di UN, tidak akan berbeda dari apa yang telah dipelajari selama tahun-tahun proses belajar di sekolah. Oleh karena itu, tidak perlu dikhawatirkan oleh seorang siswa akan tidak lulus dari UN, jika dia sudah melakukan proses belajar yang benar. Ketakutan yang dialami oleh seorang siswa itu sendiri hakikatnya dikontruksikan oleh faktor-faktor ekternal di luar dirinya. Siswa dibentuk untuk tidak percaya akan kemampuan dirinya. Banyak bimbel, pendalaman materi, dan lain-lain, sudah membentuk psikis siswa untuk tidak percaya akan pengajaran para guru selama tahun-tahun sebelumnya. Bahkan saya yakin, tak perlu ada lembaga2 bimbel jika siswa percaya akan kemampuannya dan dapat belajar secara mandiri. Paradikma itu lah yang harus ditanamkan dalam diri siswa. Percaya akan kemampuan sendiri. Mustahil rasanya seorang pelajar akan tidak lulus jika selama sekolah ia menyerap pelajaran dengan proses yang benar. Singkat kata, bukan UN yang harus dipersalahkan, namun pola pikir siswa yang harus diperbaiki. Itu dari pendapat saya.

  11. Sekarang begini saja, menurut anda kurikulum yang berlaku sudah sesuaikah jika diberlakukan UN? memang tergantung cara pandang kita, manakah yang lebih penting antara proses pembelajaran atau prastice nilai.
    Pada awal diberlakukan KBK ada sebuah sekolah yang sanggup dijadikan obyek untuk diberlakukan pembelajaran yang sesuai dengan KBK secara mutlak dan dibiayai oleh australia, kenyataannya ketika menghadapi UN 100% siswanya tidak lulus, dan pada akhirnya pihak sekolah tidak ada lagi yang mau untuk dijadikan obyek pembelajaran KBK secara full,
    Memang betul kelulusan didasarkan pada 4 hal yang anda sebutkan tadi, tapi porsi UN mempengaruhi 99% kelulusan, ini keadaan dilapangan lho…
    mungkin anda merekomendasikan sekolah mana yang sanggup dijadikan obyek diberlakukan KBK secara full??

  12. Namun setahu saya, waktu masih SMA 3 tahun lalu, guru2 selalu menjelaskan bahwa penentuan kelulusan tidak mutlak ditentukan oleh nilai Ujian nasional. Ada 4 aspek penilaian. pertama Ujian nasional, kedua Ujian sekolah, ketika ujian prakter, keempat nilai avektif. Menurut saya sudah cukup adil pak. Siswa harus memenuhi kesemua aspek tersebut untuk dapat lulus. Misal nilai2 secara angka baik tapi kelakuan tidak baik, menurut peraturan yang ada sudah seyogyanya siswa tersebut tidak diluluskan. Memang tiap manusia tidak sama. Ada yang suka di bidang pelajaran tertentu, dan ada pula yang suka di bidang pelajaran lainnya. Namun kembali lagi ke cara pandang kita, misal siswa menganggap ilmu sebagai suatu makanan yang lezat, pasti makanan itu akan dihabiskan semua. Sebaliknya, Jika siswa menganggap ilmu sebagai sesuatu yang menakutkan dan terkesan dipersulit, maka siswa sudah barang tentu akan benci pada satu atau lebih mata pelajaran. Menurut saya, semakin banyak ilmu, maka manusia akan semakin bijak. Jika persepsi kita sebagai objek pendidikan sudah sesuai dengan apa yang diharapkan, tinggal yang perlu mendapat pembenahan adalah pihak subjek atau pelaku pendidikan. Sistem soal yang proposional, dan terjaminnya tak ada kebocoran, itu yang paling penting. Seperti Jepang pak, semakin tertantang seorang manusia, maka akan semakin cepat berkembang dia. Jika siswa mengandalkan adanya bocoran di waktu ujian nanti, secara psikologis dia akan turun motivasi belajarnya dan menganggap enteng ujian nasional. Tak ada salahnya ujian nasional menurut saya. Jadikan ini tantangan, bukan hambatan.

  13. kembalikan sistemnya seperti dahulu, kelulusan bukan ditentukan oleh 3 atau 4 hari saja, kelulusan serahkan pada sekolah masing-masing karena pihak sekolah yang paling tahu tentang siswanya, masalah NEM menjadi budaya kebanggaan orang tua saya rasa tidak juga, mungkin di kota-kota besar bisa saja demikian tetapi di kabupaten/kota-kota kecil banyak orang tua yang tidak bisa baca tulis, saya salah seorang guru sekolah di Jawa timur yang siswanya sekitar 800 siswa (lumayan favorit) dan setiap kali saya membagikan raport jangankan wali murid membaca untuk tandatangan saja mereka tidak bisa, tentu saja nilai NEM bukan menjadi perhatian wali murid yang mereka tahu anaknya naik kelas atau tidak, lulus atau tidak sangat sederhana.
    Biarkan kurikulum yang berjalan sekarang ini tidak memiliki kendala karena adanya UN, contoh negara-negara maju

  14. Lalu, menurut anda bagaimana cara yang tepat atau poin-poin yang dapat dijadikan parameter seorang siswa untuk dapat dinyatakan lulus? Menurut saya proses untuk berubah dari sistem nilai dalam bentuk angka/score kwantitatif akan sulit untuk dirubah ke penilaian secara kualitatif di negara kita ini jika dipandang dari konteks budaya. Budaya yang masih berlaku di masyarakat adalah budaya prestise/gengsi akan nilai tertentu. Nilai evaluasi murni (NEM) dari seorang siswa, dijadikan pula sebagai kebanggan orang tua. Kemungkinan masyarakat kita akan turun motivasinya ketika lulus dengan nilai yang tidak standard untuk dibandingkan dengan orang lain. Ini butuh proses dan pergeseran paradikma masyarakat indonesia.

  15. Sekarang kita amati sistem pendidikan yang berlaku di negara kita. Kurikulum yang berlaku sebenarnya sudah bagus dengan didukung perkembangan metode dan model pembelajaran yang interaktif yang lebih umum disebut model pembelajaran kooperatif, model pembelajaran ini tidak mengutamakan prastise nilai tetapi lebih mengutamakan proses sehingga peserta didik didorong untuk memahami materi dengan sistem penemuan konsep secara mandiri. Jika ujian nasional tetap berlangsung maka model pembelajaran kooperatif tidak bisa berjalan karena model pembelajaran yang cocok untuk menghadapi UN adalah model dril atau memberikan soal sebanyak-banyaknya dan membahas soal sebanyak-banyaknya dan akibatnya sistem pembahasan soal bukan menggunakan cara analisis yang terbukti dapat mengembangkan cara berfikir siswa tetapi dengan menggunakan sistem pembahasan soal cara cepat atau yang lebih trend disebut smart solution. Sekarang kita amati model soal UN tidak bisa mengukur tingkat kecerdasan anak, sederhana saja!!! bentuk soal pilihan ganda memudahkan siswa yang tidak pandai untuk mencontoh siswa yang pandai dan jika siswa menjawab tanpa melihat soalpun maka menurut hitungan 20% soal dapat terjawab dengan benar dan menurut saya UN yang seperti ini sama sekali tidak menantang. Seandainya model pembelajaran kooperatif dapat diterapkan tanpa ada hambatan UN, maka siswa di negara ini akan terdidik untuk menemukan hal-hal baru secara mandiri. Kita amati saja di negara-negara maju misalkan Jepang dan Amerika. Di sana murni menggunakan model kooperatif, bahkan untuk bidang sains siswa setingkat SMP sudah terdidik menemukan hal-hal baru dengan terbiasa membuat karya ilmiah dan di sana tidak ada belenggua seperti ujian nasional. jika Ujian Nasional terus dilaksanakan kita akan terus terbiasa dengan menerima hal-hal baru bukan menemukan hal-hal baru dan seperti yang sering saya dengar bahwa Indonesia merupakan negara pemakai bukan negara pencipta….

  16. Di luar semua itu, kembali lagi ke cara pandang atau perspektif kita terhadap ujian nasional. Siswa harus ditanamkan paradikma bahwa ujian nasional adalah sebuah tantangan, bukan siksaan. Ketika siswa mampu melewati tantangan itu dengan baik, maka kebanggan dan kepuasan yang di dapat. Namun jika gagal, harus dipahami bahwa ini adalah sebuah ujian. Berarti dia belum pantas untuk melewati ujian tersebut. Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, itu hanya kesuksesan yang tertunda. Jadi paradikma dari siswa yang ditanamkan oleh guru itulah yang penting. Baik guru atau orang tua, jangan memaksa siswa untuk harus lulus. Tapi tunjukan kemampuan siswa di ujian nasional tersebut. Ketika kita memandang ujian nasional sebagai sesuatu yang positif, parameter kemampuan murni kita, tanpa kecurangan, maka segala sesuatu akan lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow My Blog

Silakan daftarkan alamat email kamu untuk mendapatkan notifikasi tiap kali ada tulisan baru, gratis!

Join 7,144 other subscribers

Top Blog