Melampaui Keterbatasan Menggapai Cita-cita

Melampaui Keterbatasan Menggapai Cita-cita

*Esei ini pernah diikutsertakan dalam lomba penulisan esei inspiratif Pertuni 2008*

Masyarakat pada umumnya masih meyakini bahwa seorang tunanetra hanya bisa belajar di Sekolah Luar Biasa atau SLB, tapi anggapan mereka itu salah. Sudah banyak Tunanetra yang belajar di sekolah umum bersama orang normal. Bahkan ada pula yang sampai di perguruan tinggi negeri dan lulus dengan gelar sarjana dari institusi tersebut. Aku Dimas. Seorang tunanetra. Akan mencoba menceritakan pengalamanku belajar di sekolah umum. Sekarang berstatus mahasiswa di Universitas Indonesia, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Jurusan Sastra Inggris 2007.

Aku lahir di Jakarta 19 tahun yang lalu dalam keadaan normal dari sebuah keluarga yang sederhana. Pada saat Taman kanak-kanak dan Sekolah Dasar, Aku belajar di sekolah umum seperti layaknya orang normal. Hingga pada saat penghujung kelas 6, mulailah menderita kebutaan. Oleh dokter, Aku didiagnosa terkena virus toksoplasma dan Glukoma. Dokter tidak bisa membantu dan dikatakan jika dioperasi pun, kemungkinannya hanya 10 sampai 30%. Kami sangat terpukul, tapi keluargaku tetap optimis dengan berikhtiar mencarikan penyembuhan alternatif.

Karena sudah tidak jelas lagi melihat tulisan awas, sekolah pun aku tinggalkan. Salah satu guru di SD Negeri 06 Jagakarsa Pagi memberitahukan, bahwa Aku bisa bersekolah lagi jika keadaan sudah memungkinkan. Sekolah Luar Biasa tidak ada dalam pemikiranku dan keluarga. Prioritas kami adalah mencarikan obat dan jika sudah sembuh maka bisa sekolah lagi.

Keadaan penglihatanku bukan buta total, tapi masih tada sedikit penglihatan walaupun tidak bisa membaca tulisan awas. Keadaan seperti ini disebut Low Vision. Setahun berlalu tanpa ada perubahan berarti. kami mulai bisa menerima keadaan ini. Hingga pada suatu hari, orang tuaku menonton talk show di televisi tentang sebuah yayasan anak-anak low vision. Yayasan itu bernama IB Foundation. Aku dibawa untuk berkonsultasi di sana dan mereka memberi pencerahan bahwa Aku masih bisa belajar di sekolah umum. Yayasan itu menghubungi SD dimana Aku pernah belajar, dan menunjukan caranya agar bisa mengikuti Ebtanas.

Pertengahan bulan Mei, ujian Ebtanas tiba. Aku ditempatkan pada ruangan khusus. Di sana ada dua guru pendamping merangkap sebagai pengawas. Satu guru membacakan soal, dan yang lain mengisi lembar jawaban. Aku mendengarkan soal dan pilihan jawabannya, lalu jawabanku dituliskan pada kertas jawaban.

Setelah melewati lima mata pelajaran Ebtanas dengan nilai yang cukup baik, Aku direkomendasikan oleh IB Foundation untuk berkonsultasi di Yayasan Mitra Netra. Sebuah yayasan yang menangani pendidikan dan rehabilitasi tunanetra. Di sana Aku mendapatkan pendampingan dan teknik belajar. Aku pada awalya diajarkan huruf braille. Lalu ditunjukan perpustakaan buku bicara. Buku bicara adalah rekaman suara seseorang membacakan buku dan disimpan dalam pita kaset. Pada saat itu, hatiku perih. Aku harus terima kenyataan bahwa aku adalah seorang tunanetra. Tapi ada satu hal yang cukup menghibur. Di yayasan tersebut, banyak teman-teman yang senasib atau malah lebih parah keadaannya daripadaku. Mereka semua bisa menerima keadaan tersebut, dan tetap semangat menghadapi hidup. Banyak yang bisa mereka kerjakan. Seperti belajar di sekolah reguler, bermain alat musik, bahkan bermain tenis meja. Hal yang membuatku bersyukur adalah karena aku ditunjukan huruf braille dan kaset buku bicara. Dua hal tersebut pada nantinya, akan menjadi media belajar saat aku di sekolah reguler.

Masa ajaran baru tiba, Yayasan Mitra Netra membantu dalam proses pendaftaraan ke SMP. Aku mendaftar di SMP Negeri 226 Jakarta. Sebuah sekolah umum yang pernah menerima siswa berkebutuhan khusus. Siswa berkebutuhan khusus adalah siswa yang memiliki keterbatasan fisik seperti tunanetra, tuna rungu, atau tuna daksa, tapi punya kemampuan intelektual yang cukup, sehingga mereka bisa mengikuti pelajaran dengan siswa normal lainnya. Pada saat itu, sekolah yang biasa menerima siswa berkebutuhan khusus disebut sekolah terpadu. Disebut demikian, Karena siswa berkebutuhan khusus dipadu dalam kelas yang sama dengan siswa normal. Tapi istilah ini sekarang berubah menjadi sekolah inklusi. Hal ini untuk mempertegas bahwa sekolah terbuka bagi siapa saja termasuk penyandang cacat.

Diantara teman-teman, Aku tidak pernah merasa terdiskriminasi. Mereka menerima baik kehadiranku. Mereka tidak merasa risih atau aneh. Malah dengan senang hati membantuku dalam belajar dan mobilisasi di sekolah.

Guru-guru di sekolah terpadu biasanya sudah memiliki pengalaman atau paling tidak pelatihan dari instansi yang terkait dalam mengajar siswa berkebutuhan khusus. Mereka sangat akomodatif dan mengerti jika siswa tersebut mengalami hambatan. Seperti saat mengajar di kelas. Para guru tersebut lebih banyak menjelaskan secara audio daripada visual. Cara ini tidak menganggu siswa normal dalam proses pembelajaran, tapi siswa tunanetra juga bisa mengikuti dengan efektif. Teknik yang biasa kugunakan saat mendengarkan penjelasan yaitu dengan merekamnya menggunakan tape recorder. Walaupun sesekali juga harus bertanya dengan teman atau guru jika ada yang tidak dimengerti.

Sebagai siswa, Aku benar-benar mendapatkan hak yang sama dalam pendidikan. Tapi untuk mendapatkan hak yang sama itu, guru terkadang harus bekerja ekstra kepada muridnya yang berkebutuhan khusus. Seperti memberikan penjelasan tambahan di sela-sela waktu mengajar. Di SMP ini, Aku pun pernah mengikuti berbagai lomba yang ditunjuk oleh sekolah. Aku diberikan kesempatan yang sama dengan teman-teman yang normal. Aku pernah ikut cerdas cermat kelompok mata pelajaran IPS Sejarah dan bahasa Indonesia. Dalam lomba yang kedua, Aku dan dua temanku yang awas mendapat juara pertama. Selain itu, lomba pidato bahasa Inggris dan cerdas cermat MIPA di lingkungan interen sekolah tak urun ku ikuti. Yang membanggakan adalah, lomba-lomba tersebut merupakan kompetisi siswa normal. Sehingga menambah kepercayaan diriku bahwa keterbatasan fisik bukanlah suatu rintangan. Di kelas pun prestasiku tidak kalah dengan siswa lainnya. Aku pernah merasakan mendapat peringkat pertama dan selalu dalam tiga besar sampai kelas tiga berakhir.

Saat Ujian Nasional, sekolah memberikan perhatian yang baik terhadaptku dan dua teman tunanetra lainnya. Kami disediakan satu ruangan khusus. Dalam ruangan tersebut, ada tiga orang pembaca yang menuliskan jawaban kami. Selain itu, disediakan pula soal dalam bentuk huruf braille jika kami menemui kesulitan memahami soal. Waktu pengerjaan disamakan dengan siswa normal yang lain. Hal ini sesuai dengan asas persamaan hak untuk tunanetra. Kami memang tidak ingin diistimewakan, tapi cukup disesuaikan dengan apa yang kami butuhkan.

Rekomendasi Artikel:

Sudah Baca yang Ini?

Pages: 1 2

1 Comment

  1. aku suka sama pidatonya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow My Blog

Silakan daftarkan alamat email kamu untuk mendapatkan notifikasi tiap kali ada tulisan baru, gratis!

Join 7,142 other subscribers

Top Blog