Jakarta – “Jangan jadikan keterbatasan sebagai hambatan, tapi anggap sebagai tantangan yang harus dicari solusinya”. Kurang lebih itu pesan yang aku sampaikan saat berbagi dengan jemaah Masjid sunda Kelapa di acara bertajuk MyNight dengan tema “memaknai Keterbatasan dalam Berkarya”, pada Sabtu malam, 1 November 2014. Sebuah pengalaman pertama sebetulnya jadi pembicara di acara yang diadakan di tempat ibadah, tapi bahagia juga karena dapat ikut memakmurkan kegiatan positif di masjid.

MyNight adalah kegiatan itikaf rutin bulanan yang diadakan oleh Remaja Islam Masjid Sunda Kelapa atau RISKA Menteng. Salah satu sesinya ada talkshow yang mengundang narasumber dengan tema yang berbeda-beda. Sebelum edisi kali ini, pernah dibuat talkshow dengan tema kesehatan dan juga diskusi film Haji Backpacker. Sedang tema besar kali ini yaitu mengenai Perjuangan / Sumpah Pemuda 28 Oktober. Uniknya, meski diadakan di masjid, target audience acara ini bukan hanya anak-anak masjid. Dari TOR yang dikirim mbak Ridha Bayyinah, salah seorang panitia yang menghubungi aku, acara ini diharapkan dapat menarik dari mulai pelajar, mahasiswa, profesional muda, dan anak-anak gaul modern. Jadi materi dan gaya penyampaian saat talkshow juga diharapkan casual tapi tetap sopan dalam batasan-batasan wajar mengingat lokasi di ruang ibadah.

Dimas Prasetyo Muharam dan Chiki Fawzi di MyNight RISKA Menteng 1 Nov 2014

Menurutku ini konsep yang menarik. Bagaimana membuat masjid bukan jadi tempat yang eksklusif dan hanya untuk solat atau tempat kumpul anak-anak masjid, tapi membuat masjid lebih dekat untuk semua kalangan, termasuk para anak gaul. Sebab selama ini masjid kan identik dengan tempat hanya untuk solat Jum’at atau ibadah wajib lainnya. Padahal masjid di era Rasulullah merupakan pusat kegiatan masyarakat dari mulai ekonomi, pendidikan, sosial, politik, dan ibadah. Bukan mustahil jika ingin memakmurkan masjid, dapat dibuat perpustakaan, atau acara-acara bermanfaat lainnya yang dibuka untuk umum selama masih dalam koridor-koridor nilai Islami. Keren sih, dan semoga konsep itu dapat direplikasi oleh remaja-remaja masjid lainnya.

Pada sharing saat itu, selain aku ada juga mbak Chiki Fawzi sebagai pembicara. Pada awalnya dia dikenalkan sebagai seorang animator lulusan universitas di Malaysia dan pernah tergabung dalam tim yang menggarap kartun Upin Ipin. Tadinya hanya informasi itu saja yang aku terima, dan orangnya juga humble dan biasa saja. Tapi ketika dikenalkan oleh Wildan, moderator yang memandu talkshow, baru sadar kalo mbak Chiki Fawzi ini anaknya mantan penyanyi rock Ikang Fawzi. Berarti dulu pas kecil, aku pernah lihat dia saat bersama ayah dan bundanya iklan salah satu obat demam anak-anak. Punya nama lengkap Marsha Chikita Fawzi, dia punya passion dan visi ke depan untuk prospek animasi di Indonesia. Itu sangat terasa selama talkshow dan cerita dia mengwujudkan cita-citanya sampai belajar ke negeri seberang.

Malam itu sebetulnya cukup melelahkan, karena di siang hari hingga sore aku baru kembali dari mengisi pelatihan kewirausahaan di Karawang bersama Indonesia Business Links. Tapi bukan jadi penurun semangat karena sharing sedikit pengetahuan dan pengalaman yang aku punya itu seperti recharge energi untukku. Malah dalam tiap kegiatan serupa, aku dapat belajar banyak dari pembicara lainnya atau peserta. Apalagi kali ini format acara cukup dibuat santai. Sebelumnya sudah breafing dulu dengan Wildan, selaku moderator, yang ternyata mahasiswa di Public Speaking School Kahfi Bintaro, dan kenal beberapa teman tunanetra yang juga belajar di sana seperti Tryan, Wijaya, dan Senna.

Dimas Prasetyo Muharam dan Chiki Fawzi di RISKA Menteng Masjid Sunda Kelapa

Ada dua hal yang aku highlight selama talkshow. Pertama, bagaimana kita memandang sebuah keterbatasan. Untukku, keterbatasan yang ada di luar dari diri seorang manusia bukanlah tantangan yang berat. Musuh pertama yang harus ditaklukan oleh tiap orang adalah untuk mengalahkan dirinya sendiri. hal ini sering disebut juga removing mental blocking. Bagaimana seseorang dapat keluar dari batasan berupa fikiran dan keluar dari comfort zone yang sebetulnya tidak sepenuhnya nyaman, untuk melampaui batasan dan mencari lingkungan yang lebih baik. Jika hal itu sudahm ampu diatasi, maka perjalanan akan lebih mudah. Sebab keterbatasan diri adalah tantangan yang harus dicarikan solusi. Misal aku yang punya keterbatasan penglihatan, Alhamdulillah ada teknologi komputer bicara yang dipasang program pembaca layar atau screen reader dan internet yang jadi solusi banyak keterbatasan seorang tunanetra. Dari sana kita dapat menulis, belajar dari internet, berkarya, hingga membuka lapangan kerja dari rumah.

Kedua, adalah kaitannya dengan sumpah pemuda dan berkarya. Bahwa aku memaknainya sebagai momentum untuk kita, khususnya para pemuda muslim, untuk bersatu dan berkolaborasi dengan karya dan kapasitas yang dimiliki. Tak perlu untuk menjadi besar sendirian, tapi dengan sedikit kemampuan yang dimiliki, lantas disatukan dengan berbagai potensi dari para pemuda lainnya, aku yakin dapat menimbulkan efek yang dhasyat. Seperti yang dilakukan oleh pemuda-pemuda masa lampau di era 1928. Meski berbeda latar belakang, tapi mereka mau bersatu dan berjuang di daerah masing-masing dengan kemampuan yang dimiliki. Begitu pula kita di era yang sudah serba modern. Adanya social media dan internet, seyogyanya dapat membuat gerakan dan kolaborasi dilakukan lebih mudah dan masif.

Akhirnya sekitar jam 10 malam diskusi berakhir dan menyisakan banyak pelajaran. Dapat teman-teman baru dari RISKA Menteng, dan juga kenal dengan mbak Chiki Fawzi yang inspiratif. Semoga dari kreasi beliau, dapat lahir animasi-animasi yang populer sekaligus memberi banyak manfaat untuk umat. Terima kasih untuk teman-teman RISKA Menteng yang sudah memberi kesempatan untuk berbagi, semoga bermanfaat dan dapat menginspirasi para pemuda-pemudi Islam untuk jadi lebih baik.(DPM)

Rekomendasi Artikel:

Kata Kunci

Sudah Baca yang Ini?