Perkembangan teknologi informasi menggiring dunia pada era yang oleh Thomas Friedman dinamakan globalisasi 3.0. Di era ini, persaingan tidak didasari lagi oleh kekuatan negara kolonial atau back up perusahaan multinasional, melainkan oleh kemampuan individu untuk mengembangkan dirinya. Kemampuan sebuah bangsa akan amat tergantung oleh kualitas sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki. Namun, hal tersebut tidaklah cukup tanpa diikuti oleh pengembangan paradigma ekonomi mandiri.

Banyaknya sarjana di Indonesia yang masih menganggur, adalah bukti nyata pengembangan SDM yang tidak diikuti oleh perbaikan paradigma yang ada. Masalah kurangnya lapangan pekerjaan acap kali dituding sebagai sebab utama dari persoalan ini. Hal ini terkadang masih ditambah lagi oleh kalah saingnya kualitas SDM sarjana Indonesia dengan pendatang asing. Padahal, lapangan pekerjaan itu tak akan pernah habis, jika ada kreativitas dan inovasi.

Untuk menjadi bangsa yang mampu berkompetisi dalam bidang ekonomi, diperlukan jiwa wirausahawan dalam proses pengembangan SDM. Wirausahawan adalah seseorang yang selalu memiliki inovasi, pandai membaca peluang, mandiri, dan tidak mudah menyerah. Hal seperti inilah yang dibutuhkan oleh SDM Indonesia ketika menghadapi persaingan global.

Cara paling sederhana menumbuhkan sikap mandiri adalah dengan mewujudkan swasembada kebutuhan sehari-hari. Mulailah untuk membudidayakan tanaman kebutuhan rumah tangga seperti cabai, tomat, buah-buahan, atau sayur-mayur di lingkungan rumah. Kegiatan ini dapat dilakukan baik di pekarangan rumah, atau di dalam pot. Hal kecil ini mungkin terlihat sepele, tapi akan amat bermakna bagi pengwujudan ekonomi mandiri. Coba ditilik pada situasi belakangan ini dimana harga-harga barang kebutuhan seperti cabai yang melonjak naik. Masyarakat kita tidak akan risau dengan masalah harga itu, jika memilikinya di pekarangan rumah sendiri. Sehingga demikian, dapat menjadi pelajaran yang baik dalam melatih kemandirian.

Lebih jauh lagi, SDM Indonesia pun harus memiliki kemampuan untuk membaca peluang. Peluang terbesar bangsa ini, yang terkadang diabaikan, adalah fakta bahwa Indonesia dikaruniai tanah subur dan plasma nutfah yang melimpah. Sektor kehutanan, pertanian, peternakan, dan perikanan adalah potensi ekonomi terbaharukan yang dimiliki bangsa ini. Dengan sedikit inovasi dan improvisasi, kekayaan ini dapat menjadi keuntungan kompetitif produk Indonesia.

Di samping itu, pemerintah pun harus proaktif dalam menjaga iklim ekonomi yang mampu mendorong inovasi dan kreativitas para pelaku ekonomi di dalamnya. Sosialisasi penerapan teknologi informasi dan pengembangan teknologi baru yang efisien, secara langsung akan meningkatkan produktifitas warganya. Prioritaskan pembangunan sektor-sektor yang dapat menyokong kebutuhan domestik seperti pertanian dan kelautan. Buat negeri ini tidak lagi harus mengimpor barang kebutuhan dasar seperti beras. Bahkan dengan penerapan teknologi yang efisien, potensi alam yang luar biasa ini amat memungkinkan bagi Indonesia untuk menjadi negara produsen pangan nomer satu.

Oleh karena itu, dibutuhkan perbaikan yang sinergis antara paradigma yang diyakini oleh SDM Indonesia, dan pemerintahan yang membinanya. Bangsa ini harus memiliki pola pikir sebagai seorang yang merdeka, mandiri dari ketergantungan atas bangsa lain, atau bahkan dikendalikan oleh asing. Selain itu, pemerintah tetap harus menciptakan situasi yang kondusif, sebagai dukungan atas pengembangan ekonomi mandiri bangsa. Dengan sikap mandiri jiwa seorang wirausahawan ini, perekonomian kita pasti akan lebih kompetitif di tata ekonomi global.

Dimas Prasetyo Muharam
Mahasiswa program studi Inggris fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI

*Hasil suntingan dari artikel ini pernah dimuat di kolom opini Suara Mahasiswa harian Seputar Indonesia edisi Jum’at, 27 Agustus 2010.

Rekomendasi Artikel:

Sudah Baca yang Ini?