Menaklukkan Batasan Diri, Jadi Entrepreneur dan Pekerja Terampil

Menaklukkan Batasan Diri, Jadi Entrepreneur dan Pekerja Terampil

Tulisan ini merupakan materi training motivasi kepada peserta pelatihan Muda Terampil yang diadakan oleh Indonesia Business Links (IBL) didukung oleh PT Accenture di SMK PGRI Telagasari, Karawang 1 November 2014

“To be an entrepreneur, at least you solve your unemployment problem” (Muhammad Yunus, penggagas gerakan Grameen Bank yang mengentaskan banyak masyarakat miskin di Bangladesh dengan sistem Micro Finance).

Menjadi seorang wirausahawan atau istilah kerennya entrepreneur memang sedang “in” saat ini. Pemerintah juga mendorong inisiatif ini karena meyakini bahwa untuk menjadi negara maju, sebuah bangsa minimal harus memiliki entrepreneur sejumlah 2% dari total penduduknya. Faktanya, menurut statistik dari total 230 juta lebih penduduk Indonesia, baru sekitar 0,18% atau kurang dari 0,2% saja. Bandingkan dengan Amerika Serikat yang berpenduduk lebih dari 300juta orang tapi memiliki entrepreneur sekitar 12%.

Apabila ingin menarik sejarah, ada kemungkinan situasi yang terjadi di Indonesia saat ini dikarenakan faktor sebagai bangsa bekas jajahan. Dahulu bangsa ini yang merupakan pedagang-pedagang internasional, yang tak lain juga merupakan entrepreneur, dimatikan jiwa petualangnya oleh penjajah Eropa dan dikurung di daratan. Seperti pidato pelantikan Presiden Joko Widodo “Bangsa ini sudah terlalu lama memunggungi laut, memunggungi samudera, memunggungi teluk”. Padahal 70% luas wilayah Indonesia adalah laut, dan bukan omong kosong jika bangsa ini akan jaya justru di laut.

Akan tetapi, asumsi bahwa minimnya jumlah entrepreneur kita saat ini karena bangsa bekas jajahan sedikit banyak dapat dipatahkan oleh fakta majunya Singapura. Negara pulau yang juga bekas jajahan Inggris itu, nyatanya lebih maju dari Indonesia yang merdeka terlebih dulu. Lantas, ada dimana masalah utama bangsa ini? Mungkinkah tantangan itu malah berasal dari dalam diri bukan hambatan dari luar?

Dimas Prasetyo Muharam memberikan training motivasi pada calon pekerja dan wirausaha di Karawang

Hal pertama yang perlu dilakukan tiap orang untuk dapat menjadi sukses, berhasil, atau apapun yang ia inginkan adalah kesanggupan untuk menaklukan hambatan dalam diri sendiri. Ingin menjadi entrepreneur sukses atau pekerja yang terampil, satu hal yang harus ditembus adalah hambatan yang berasal dari dalam diri sendiri.

Ada beberapa kunci yang pada prinsipnya perlu dimiliki oleh seseorang yang ingin menjadi entrepreneur atau pekerja yang terampil. Semua prinsip tersebut terkait dengan kunci dasarnya yaitu menembus hambatan diri sendiri.

Kreatif

Prinsip dasar yang harus dimiliki adalah kreatif. Kreatif mengacu pada kemampuan untuk menciptakan ide-ide baru. Untuk seorang entrepreneur, kreativitas mutlak diperlukan. Tanpa kreativitas, ia tak akan memiliki diferensiasi dengan usaha-usaha lainnya. Begitu pula untuk pekerja. Kreativitas juga diperlukan agar pekerjaan yang dilakukan memiliki added value dan bermakna baik untuk dirinya dan juga lembaga yang didukungnya.

Untuk mencapai sikap kreatif, seseorang perlu untuk menaklukan hambatan ego dan tak mau mendengarkan. Ide atau kreativitas akan muncul ketika seseorang banyak mendengar dan mengamati orang serta lingkungan di sekitarnya. Tak heran jika orang-orang kreatif suka berdiskusi, membaca, berpetualang, atau mempelajari hal-hal baru.

Jangan pula mau dibatasi oleh keterbatasan baik fisik atau non-fisik yang kita miliki. Gunakan teknologi atau sarana apapun yang dapat menutupi keterbatasan tersebut. Seperti yang dilakukan oleh para tunanetra yang terbatas penglihatan, ada komputer yang dilengkapi dengan program pembaca layar untuk membantu. Juga hambatan yang sifatnya non-fisik seperti modal. Kreatiflah bahwa modal itu tak hanya uang, tapi skill dan tubuh yang diberikan oleh Tuhan ini adalah modal terbesar kita. Dengan itu kita tetap dapat berkreasi, mencari jejaring, dan berkolaborasi dengan partner yang membutuhkan skill atau kemampuan yang kita miliki.

Base on Solution

Sikap lainnya yang perlu dimiliki yaitu berfikir yang selalu berorientasi atau berdasar pada solusi. Hal pertama yang perlu ditaklukan adalah kecendrungan kita untuk mengeluh dan terfokus pada hambatan, bukan solusi. Keadaan ini seperti seseorang yang tak dapat “move on” dan tak mau melihat peluang lain di sekitar hambatan yang dihadapi itu.

Untuk mencapai ini, seseorang harus berfikiran terbuka dan optimis. Jangan terantai oleh kekurangan yang dimiliki, tapi fokuslah pada kelebihan lain yang dimiliki yang tentunya lebih banyak. Ibaratnya ketika melihat selembar kertas yang diberi titik noda hitam. Pilihannya ada pada apakah yang lebih kita lihat adalah titik hitam yang kecil itu, atau bagian kertas yang berwarna putih yang jauh lebih luas? Beranjak dari sini, tentu hambatan yang jauh lebih kecil itu akan lebihm udah untuk dicarikan solusi agar kemampuan atau kelebihan lain dapat optimal.

Dimas Prasetyo Muharam di training wirausaha bersama Indonesia Business Links di Karawang

Risk Taking

Seorang entrepreneur wajib emiliki sikap untuk berani mengambil risiko. Sebab dalam tiap risiko itu ada peluang yang kemungkinan pula dapat dijadikan sebuah usaha. Begitu pula untuk seorang pekerja, risiko terkadang harus diambil untuk semakin meningkatkan kemampuan dirinya. Contoh yaitu investasi untuk mengambil kursus atau mendalami ilmu profesi yang ditekuninya.

Akan tetapi, tak banyak yang berani mengambil risiko. Seseorang punya kecendrungan untuk “play safe” dan menjalani rutinitas dalam hidupnya. Padahal jika seseorang tak berani mengambil risiko, tak akan ada tantangan yang berpeluang membuatnya naik kelas.

Lebih jauh, satu hal lainnya yang perlu ditaklukan dari diri seseorang yaitu sikap tidak percaya. Sikap tersebut yang membuat seseorang tak mau mengambil risiko. Padahal jika ia mau mempercayai dirinya, maka tantangan seperti apapun akan dapat diatasi. Bayangkan diri kita sebagai seorang tunanetra yang tak melihat cahaya dan arah, tapi berani untuk berjalan atau mobilitas mandiri dan mempercayakan dirinya pada sebilah tongkat putih. Kepercayaan tersebut yang diperlukan agar seseorang mampu keluar dari dalam dirinya.

Penutup

Tentu masih banyak prinsip lain yang diperlukan baik oleh entrepreneur atau pekerja agar mampu jadi terampil dengan menaklukkan hambatan dari dalam dirinya. Salah satunya adalah jiwa kepemimpinan atau leadership yang sangat penting untuk mengantarkan sebuah ide menjadi karya atau produk. Akan tetapi, tanpa adanya kreativitas, sikap base on solution, dan juga risk taking, mustahil seseorang dapat memulai pengerjaan sebuah karya. Jadi, mulailah dengan menaklukkan hambatan dalam diri untuk dapat menjadi entrepreneur dan juga pekerja yang terampil, sukses, dan memberikan manfaat untuk orang banyak.(DPM)

Rekomendasi Artikel:

Kata Kunci

Sudah Baca yang Ini?

2 Comments

  1. Koreksi dikit yaa, menurut gue pribadi.. bukan sekedar Risk Taking, tapi Risk Management, setelah taking resiko lalu apa? gue lebih prefer pakai kata risk management, karena setelah memperkirakan dan mengambil resiko gue pun harus bertanggung jawab dengan resiko yang sudah gue ambil. Either sesuai atau tidak sudah di manage dari awal, jadinya gak terlalu kaget dengan rencana Tuhan yang diluar kendali dan nalar manusia.

    Sotoy aja sih, hehee

    Salam,
    Dyanarazaly

    • sip. thanks masukannya ibu Diana. ya memang setelah berani untuk mengambil risiko, maka risiko itu harus dikelola. Jika bisa, direduksi segala kemungkinan buruknya. Akan tetapi, meski belum bisa mengelola, minimal sudah harus berani dulu untuk mengambil risiko. Dari trial and error nanti juga akan belajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow My Blog

Silakan daftarkan alamat email kamu untuk mendapatkan notifikasi tiap kali ada tulisan baru, gratis!

Join 7,144 other subscribers

Top Blog