Jakarta – Perlu partisipasi dari berbagai stakeholders untuk mewujudkan fasilitas infrastruktur dan transportasi publik yang ramah atau accessible untuk penyandang disabilitas. Peran tersebut perlu disadari dari mulai pemerintah pusat, pemerintah daerah, pihak swasta, hingga masyarakat sipil. Sebab kota yang nyaman dan inklusif adalah hak tiap warganya, tak terkecuali para penyandang disabilitas. Itu kurang lebih topik yang dibahas dalam diskusi publik Sabtu, 11 Oktober 2014 bertempat di gedung Sapta Pesona, Kementrian Pariwisata dan Ekonomi KReatif Jakarta, yang aku dan Kartunet ikut jadi salah satu pembicara dan berbagi pengalaman serta solusi di dalamnya.

Acara ini diselenggarakan atas inisiatif Perkumpulan Alumni Eisenhower Fellowship Indonesia yang salah satu pengurusnya adalah mbak Uni Lubis, pemimpin redaksi News Room ANTV. Di sekitar bulan September, aku dan Riqo dari Kartunet datang menemui mbak Uni di kantor redaksi ANTV di Rasuna Office Park. Kami diskusi mengenai fasilitas umum dan transportasi yang ramah untuk penyandang disabilitas. Di sana juga datang mas Budhi Hermanto dari Jogja, seorang aktivis dan konsultan untuk NGO Roda Untuk Kemanusiaan yang bergerak di advokasi para penyandang disabilitas fisik, khususnya paraplegia. Dari percakapan bersama mbak Uni Lubis, dikabarkan bahwa pada Oktober akan diadakan diskusi publik yang mengundang berbagai stakeholders di bidang fasilitas infrastruktur dan transportasi publik. Sekaligus, acara itu untuk menyambut mbak Sri Lestari, pengguna kursi roda yang melakukan perjalanan dengan sepeda motor modifikasi dari Aceh sampai Jakarta selama satu bulan.

Dimas Prasetyo Muharam bersama Uni Lubis di depan studio ANTV

Eisenhower Fellowships adalah sebuah organisasi swasta, nirlaba, non-partisan yang menyelenggarakan program beasiswa jangka pendek yang dimulai sejak tahun 1953. Program ini memberikan kesempatan bagi sosok berusia 32-45 tahun, yang berpotensi menjadi “pemimpin” di berbagai bidang profesi dan kegiatan kemasyarakatan untuk meningkatkan kemampuan kepemimpinannya melalui pengalaman belajar dan berinteraksi langsung dengan pihak-pihak yang terkait dengan minatnya. Melalui partisipasi dalam Eisenhower Fellowships peserta dapat membangun jejaring, meningkatkan perspektif global, dan menyatukan alumninya dalam masyarakat dunia yang majemuk, mendorong dialog dan kesepahaman serta kolaborasi bagi dunia yang lebih sejahtera dan damai.

Aku mewakili Kartunet juga ikut bicara dalam diskusi publik tersebut. Bahwa penyandang disabilitas juga punya peran dan harus dilibatkan dalam pembangunan fasilitas infrastruktur dan transportasi publik yang ramah penyandang disabilitas. Juga, perkembangan teknologi saat ini harus terus diterapkan untuk membuat dunia makin inklusif. Seperti contoh penggunaan sistem online untuk memesan tiket kereta api. Hal tersebut sebuah kemajuan yang mungkin tanpa disadari oleh PT Kereta Api Indonesia bahwa mempermudah penyandang disabilitas, seperti tunanetra, untuk memesan dan membeli tiket secara mandiri. Dengan komputer bicara yang dilengkapi program pembaca layar atau screen reader dan fasilitas internet banking, memesan tiket kereta atau pesawat bukan jadi masalah, malah dapat jadipeluang bisnis agen tiket.

Contoh lainnya adalah penggunaan E-money atau E-ticket di Trans Jakarta dan Kereta Api Commuter Line. Hal tersebut sebetulnya juga membantu para penyandang disabilitas. Karena pengisian ulang saldo dapat dilakukan secara mandiri, dan untuk yang tunanetra, lebih aman dibanding harus menggunakan uang fisik receh. Jadi tak khawatir kembalian salah atau salah kasih uang. Tapi sistem E-ticket ini juga harus diperbaiki dan dibuat terintegrasi. Jadi satu tiket dapat untuk semua moda sehingga tidak merepotkan.

Tentu berbagai kemajuan teknologi itu harus diimbangi dengan perbaikan fasilitas infrastruktur dan transportasi publik secara fisik. Bagaimana moda transportasi dapat mengakomodasi penyandang disabilitas seperti voice announcement di bus Trans jakarta, pesan teks via monitor untuk tunarungu, atau lebar pintu masuk dan lintasan yang dibuat datar serta landai untuk kursi roda. Selain itu, dari segi kebijakan dan layanan juga perlu dibuat ramah penyandang disabilitas. Misal bagaimana perlakuan petugas yang semestinya ketika ada penyandang disabilitas ingin naik bus Trans Jakarta atau kereta api. Juga kebijakan yang dibuat tidak diskriminatif. Seperti isu mengenai penghapusan voice announcement di bandara-bandara yang dikelola Angkasapura I selain di ruang tunggu bandara. Perlu dikaji dalam tiap kebijakan agar mengakomodasi kebutuhan tiap penggunanya, tanpa terkecuali penyandang disabilitas.

Satu hal terakhir yang aku share dalam diskusi tersebut adalah sistem kontrol aksesibilitas fasilitas infrastruktur dan transportasi publik dengan mekanisme online. www.IndonesiaNyaman.com adalah platform untuk jadi jalur pengaduan fasilitas yang belum akses, apresiasi dan sampling yang sudah akses, dan juga sumber informasi membangun ruang publik yang akses. Melalui www.indonesianyaman.com juga diharapkan dapat menjadi referensi para stakeholder mengenai sarana publik yang aksesibel. Kami berharap www.indonesianyaman.com dapat dikembangkan secara crowd sourcing dan didukung oleh semua stakeholders.

Diskusi ini juga menghadirkan pembicara lain yang sebagian adalah alumni Eisenhower Fellowship. Seperti ibu Lorena yang merupakan ketua dari Organda, dan bu Mari Elka Pangestu, menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Ada pula perwakilan dari PT Blue Bird yang meluncurkan taksi khusus untuk difabel, Bank Negara Indonesia (BNI 46) yang membantu program donasi kursi roda, dan ada pula perwakilan dari PT Kereta Api Indonesia.

Dimas Prasetyo Muharam dan mari Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

Satu pembicara yang tak kalah keren yaitu ibu Eliza, wali kota Banda Aceh. Pertama, adalah karena beliau perempuan dan jadi wali kota di Aceh yang menerapkan sistem syariat Islam. Sesuatu yangluar biasa karena masih ada sebagian pendapat yang menginginkan perempuan tak jadi pemimpin. Selain itu, beliau juga menceritakan bahwa pasca tsunami, infrastruktur di Banda Aceh dibangun ulang dan didesain agar standar internasional dan memenuhi asas aksesibilitas. Ibu Eliza juga menceritakan pengalamannya membantu kelompok-kelompok penyandang disabilitas di Aceh dan konsep beliau mengenai empowerment menggantikan charity base sudah terbangun. Misal dibanding memberikan bantuan konsumtif yang langsung habis, beliau memilih memberikan Al-Qur’an braille yang manfaatnya dapat dirasakan selamanya.

Terima kasih untuk mbak Uni Lubis yang sudah menginisiasi acara ini. Semoga tujuan Perkumpulan Alumni Eisenhower Fellowship Indonesia untuk menjadikan isu fasilitas infrastruktur dan transportasi publik yang ramah penyandang disabilitas perhatian sepanjang masa kepengurusan dapat tereleasasi pada jejaring alumninya. Terima kasih juga untuk bu Mari Elka Pangestu dan udah ngobrol sebentar dan foto bareng dengan saya. Semoga suatu saat saya ketularan jadi orang sukses seperti ibu Mari. aamiin. (DPM)

Rekomendasi Artikel:

Kata Kunci

Sudah Baca yang Ini?