Manusia adalah Homo Homini Lupus atau serigala bagi manusia yang lain. Istilah latin yang dipopulerkan oleh Thomas Hobes itu seakan tak dapat dipungkiri dalam sejarah kehidupan umat manusia. Manusia satu dengan yang lainnya terus berseteru dalam mewujudkan keinginan pribadi atau kelompoknya. Peristiwa akbar dan mengerikan di paruh pertama abad ke-20 yang lazim disebut perang dunia 1 dan 2 telah menjadi saksi perseteruan antar budak nafsu imperialisme modern. Di Indonesia sendiri pun yang notabenya memiliki semboyan “Bhineka Tunggal Ika” atau berbeda-beda tapi tetap satu, tidak serta merta luput dari cengkraman konflik. Benturan kepentingan antar kelompok, suku, dan agama acap kali menumpahkan darah sesama saudaranya sendiri. Konflik antar agama di Ambon, perang suku di Sampit, dan terakhir aksi teror kaum fundamentalis seakan membaiat bangsa Indonesia tak cinta damai. Apakah keinginan untuk hidup damai adalah sesuatu yang utopis bagi manusia yang secara alamiah gemar untuk berbuat kerusakan di muka bumi ini?

Mari kita tinggalkan konflik antar suku atau golongan yang terjadi sebelum tahun 2002. Fokus kita terletak pada fenomena bangkitnya kaum fundamentalis Islam di Indonesia yang ditandai dengan tragedi bom Bali 1. Aksi Amrozi CS ini bukan sebuah peristiwa yang berdiri sendiri. Ia terkait pula dengan tragedi 11 September yakni runtuhnya dua gedung World Trade Center di Amerika Serikat. Pemerintah Amerika Serikat saat itu dengan bulat dan yakin menuding organisasi Islam radikal Al-Kaida yang dimotori oleh Osama Bin Laden sebagai pihak yang bertanggungjawab. Mulai detik itu pula, Islam mendapat sentimen negatif di mata dunia.

Beberapa tahun sebelum kejadian 11 September itu, seorang profesor berkebangsaan Amerika Serikat, Samuel Huntington, telah mengatakan dalam tulisannya yang berjudul Clash of Civilazation bahwa konflik dunia tidak lagi berkutat dengan masalah ekonomi atau politik belaka, melainkan benturan antar peradaban. Lebih spesifik lagi, benturan yang dimaksud adalah konflik antara peradaban barat dan Islam. Perbedaan budaya dan keyakinan yang mendasar menghasilkan sebuah fault line yang menjadi sumber konflik. Dua atau lebih peradaban yang saling bergesekan dan menimbulkan goncangan dahsyat.

Di Indonesia, alasan yang dilontarkan oleh para ekstrimis itu untuk “jihad” tak jauh berbeda. Mereka melancarkan aksi pengeboman area publik yang dianggap ikon kekuasaan kapitalisme barat. Seperti apa yang dilakukan nurdin M Top CS terhadap pengeboman hotel JW Mariot dan Ritz Chalton 17 Juli 2009. Mereka beralasan dua hotel tersebut adalah simbol kapitalisme barat meski disinyalir terdapat pula maksud politis untuk menggoyang pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Jika ditilik lebih jauh, aksi terorisme di Indonesia ini tidak diprakarsai oleh orang Indonesia sendiri. Gembong teroris yang dikenal bernama Nurdin M Top dan Dr Azahari merupakan warga negara Malaysia yang merekrut orang Indonesia untuk diajak “berjihad”. Mereka mendoktrin generasi muda kita yang masih dalam proses pencarian jati diri untuk termakan bujuk rayu mereka. Hasilnya, mereka sukses merekrut Amrozi, Imam Samudera, dan kawan-kawan sebagai eksekutor pengeboman Bali 1. Bahkan di kasus bom Ritz Chalton dan JW Mariot, mereka telah pula merekrut remaja berusia belasan tahun untuk bergabung menjadi “calon Pengantin” atau pelaku bom bunuh diri.

Di sisi lain, kita pula dapat melihat nilai positif dari fenomena teror kaum fundamentalis belakangan ini. Dalam teori ilmu sosiologi, konflik terkadang dianggap sebagai sarana pemersatu sebuah kelompok yang kurang kompak. Ketika sebuah kelompok memiliki musuh bersama, kelompok yang tadinya tercerai berai itu akan bersatu padu melawan ancaman dari luar. Hal inilah yang terjadi dengan masyarakat kita. Potensi konflik antar suku dan golongan di masyarakat Indonesia yang amat majemuk hampir tak terdengar semenjak para teroris mengancam negeri ini. Kita semua sepakat untuk mengutuk aksi terorisme dan bersatu padu dalam melawannya. Lalu, apakah masyarakat kita harus memiliki musuh kolektif terlebih dahulu untuk dapat bersatu? Tak dapatkah kedamaian yang hakiki terwujud di negeri ini?

Rekomendasi Artikel:

Sudah Baca yang Ini?

Pages: 1 2