Menikmati Bioskop 'Bisik' di Istana Presiden

Menikmati Bioskop ‘Bisik’ di Istana Presiden

Jakarta – Siapa bilang tunanetra atau yang memiliki keterbatasan penglihatan tak dapat menikmati film? Tentu bisa, apalagi nontonnya bareng presiden di istana dan para artis dan pegiat dunia perfilman lainnya. Tapi ini hanya terjadi saat perayaan Hari Film Nasional tanggal 30 Maret 2015 yang setelah berdekade-dekade jadi momentum ‘film kembali ke istana’.

Ceritanya di hari senin itu, aku ikut dalam rombongan sekitar 30 orang tunanetra bersama yayasan Mitra Netra untuk nonton bareng film nasional di istana kepresidenan RI. Mitra Netra ini adalah sebuah lembaga yang dulu saat aku masih SMP hingga SMA jadi tempat untuk pendampingan belajar dan meminjam buku bicara (audiobook) atau buku braille di perpustakaannya. Saat itu, yayasan tersebut masih ada program tutorial belajar. Jadi sepulang sekolah di SMP 226 Jakarta hingga SMA di 66 Jakarta, aku pergi ke Mitra Netra untuk minta dibantu mengerjakan PR atau LKS. Tapi sayangnya sekarang sudah tidak ada program tersebut sebab diharapkan para siswa tunanetra sudah dapat lebih mandiri dengan dukungan teknologi. Sebetulnya sudah lama juga tidak ke Mitra Netra, ketika dikontak via telepon bahwa ada nonton bareng di Istana dalam rangka Hari Film Nasional, aku menyetujui saja sebab jadwal memang sedang kosong dan ingin silaturahim.

Kami berangkat dengan dua bus “burung Besar”. Entah dari mana, kemungkinan sudah disiapkan dari pihak istana. Sesampai di sana sekitar jam 4 sore singgah dulu di Sekretariat Negara. Undangan tidak boleh langsung ke istana karena baru akan dibuka jam 6 sore. Pada jam 5 sore, kami dipersilakan untuk makan bersama dulu dengan model prasmanan. Alhamdulillah beberapa volunteer dari Mitra Netra membantu mengambilkan makanan dan juga ada panitia dari Abang None Jakarta yang ikut membantu. Saat selesai makan, tiba-tiba mbak Cici, salah satu volunteer Mitra Netra menawari jika mau foto bareng dengan beberapa selebritis yang datang ke acara itu. Saat itu katanya ada Cathy Sharon dan adiknya Julie Estelle. Tadinya agak kurang percaya, tapi betul mereka datang ke kursi kami lalu bersalaman, ngobrol sedikit, dan foto bareng. Aku tak banyak ngobrol karena tak tahu topik yang bisa dibicarakan karena memang tak mengikuti infotainment.

Dimas Prasetyo Muharam bersama Cathy Sharon dan Jullie Estelle di Hari Film Nasional 2015

Foto bersama dua selebritis nasional kakak beradik, Cathy Sharon dan Jullie Estelle. Duduk bersama saya ada teman baru Desha Nova dan si raja protes Yudhi Hermawan. Credit to mbak Cici yang sudah bantu ambil fotonya via my iPhone 4s

Selesai makan, kami dipersilakan untuk masuk ke istana. Saat sampai di ruangan acara, sudah banyak orang yang hadir. Mereka semua adalah insan dunia perfilman nasional, dari mulai aktris serta aktor hingga produser dan sutradara. Ada pula para undangan lainnya seperti kami rombongan dari Mitra Netra. Ketika mulai diarahkan untuk mencari tempat duduk, pihak panitia mengumumkan bahwa ada teman-teman tunanetra yang ingin ikut nonton bareng, dan buat yang bersedia dapat bantu menjadi pendamping selama menonton film nanti. Dimulailah Bioskop Bisik dan kami berpencar untuk duduk bersama para hadirin yang bersedia untuk membantu.

Aku duduk di sebelah mahasiswi Universitas Multimedia Nusantara bernama Dian Tamara. Tamara datang sebagai undangan karena telah memenangkan kontes film pendek dalam rangka Hari Film Nasional. Konsep film yang dibuat Tamara dan teman-temannya cukup unik. Dalam durasi 3 menit, diceritakan mengenai sebuah koper yang diperebutkan. Intinya di dalam koper itu terdapat keping DVD asli sebuah film yang harus dijaga dari pembajakan. Sedang di sebelah kiriku ada mas Anggy Umbara, sutradara dari film Comic 8. Waktu itu jujur aku belum pernahd engar judul film itu. Tapi setelah baca-baca dari Wiki, nampaknya Comic 8 seru juga dengan genre aksi-komedi. Apalagi di acara Hari Film Nasional kali ini, film garapan mas Anggy tersebut mendapat penghargaan sebagai film terlaris dengan jumlah penonton hingga 1,6 juta orang. Sempat ngobrol sebentar mengenai penulisan skenario dan aku mendapat kontak serta email beliau. Ya mudah-mudahan dapat jadi link di kemudian hari untuk jadi penulis.

Tapi yang lebih mengejutkan adalah yang ada di sebelah dari mas Anggy. Saat salaman dan dikenalkan namanya Agus, aku biasa-biasa aja karena tak terlalu mengenali suaranya. Tapi setelah dijelaskan bahwa itu Agus Kuncoro, pemeran Azam di serial Para Pencari Tuhan (PPT) yang tayang tiap bulan Ramadhan di SCTV, sontak aku terkejut. Meski begitu, kami tak banyak ngobrol karena duduk agak berjauhan dan hanya sempat mengatakan bahwa aku suka sekali dan selalu nonton PPT tiap bulan puasa. Jujur memang PPT ini satu-satunya hiburan berkualitas di bulan puasa di tengah acara-acara ‘berisik’ dan joget-joget yang tak berfaidah sama sekali itu. Apalagi serial dibuat secara profesional dengan kualitas film, bukan sekedar sinetron. Ternyata mas Agus Kuncoro juga main di film Comic 8 karena dari itu datang bersama mas Anggy. Tadinya aku ingin foto berdua dengan beliau, tapi tak dapat karena mas Agus Kuncoro sudah harus meninggalkan lokasi persis saat film mulai diputar.

Jadi rangkaian acara saat itu dimulai dengan sambutan-sambutan dari mentri Pendidikan dan Kebudayaan, pak Anies Baaswedan yang lalu disambung oleh presiden Joko Widodo. Dalam sambutannya, pak Anies berharap agar lebih banyak lagi film-film nasional yang diproduksi dengan kualitas bagus. Sebab menonton film bukan hanya menikmati rangkaian gambar, tapi juga belajar mengenai nasionalisme. Beliau memberi contoh film mengenai Diponegoro dan Tjoet Nya Dhien, serta yang akan release yaitu Cokroaminoto sang Guru Bangsa. Kebetulan MC saat itu adalah Reza Rahardian, pemeran Habibie dalam film Habibie dan Ainun, dan nanti di film Cokroaminoto akan menjadi tokoh utama HOS Cokroaminoto. Selanjutnya presiden Jokowi juga berpesan agar jumlah bioskop untuk kalangan rakyat dan misbar alias gerimis bubar diperbanyak kembali. Tujuannya agar film menjadi milik semua kalangan, dan dari film kita bisa belajar. Presiden juga mengajak agar sebelum nonton film asing, ada baiknya jika nonton film nasional dulu. Sekaligus, beliau meluncurkan gerakan nasional “Mari Nonton Film Indonesia” yang diharapkan menjadi tonggak kebangkitan kembali film nasional.

Setelah sambutan, dimulailah acara utama yaitu nonton bareng film Cahaya Dari Timur: Beta Maluku. Filmnya seru dan tak bikin ngantuk, tapi tak diulas di postingan ini ya, tunggu di resensi berikutnya. Mungkin juga film ini jadi sangat seru dan dapat aku nikmati sepenuhnya karena bantuan mbak Tamara yang selama hampir tiga jam, yaitu dari jam 20:00 hingga 23:00 film diputar, menjadi pendamping ‘Bioskop Bisik’ untukku.

Dimas Prasetyo Muharam with Dian Tamara, Anggy Umbara, and Agus Kuncoro di Hari Film Nasional 2015

Jadi, konsep Bioskop Bisik ini sederhana. Seorang tunanetra hanya dapat menikmati aspek audio dalam sebuah film seperti dialog atau sound efect suasana adegan seperti debur ombak, suara kendaraan bermotor, riuh tawa anak kecil, dll. Sedangkan untuk adegan-adegan yang tanpa dialog, tentu ada kesulitan. Karena dalam sinematografi, ada jalan cerita yang tidak disampaikan dalam dialog, melainkan oleh mimik, bahasa tubuh para aktor, atau gambaran suasana visual adegan. Pada bagian-bagian itulah pendamping dibutuhkan. Ia hanya perlu menjelaskan saat ada adegan-adegan tanpa dialog, menggambarkan suasana atau siapa tokoh yang sedang bicara atau melakukan sesuatu, dan menjelaskan interaksi para tokoh yang tanpa suara. Intinya, pendamping bukan membuatkan kesimpulan mengenai berjalannya film, karena dapat mengurangi keseruan menonton film itu sendiri. Biarkan si tunanetra yang membuat kesimpulan dari pemahaman yang didapat. Sama seperti orang awas (sighted person) menarik pemahaman dari tiap detail visual dan audio yang didapatkan.

Jika di negara maju, seperti contoh di Australia, konsep ‘Bioskop Bisik’ ini sudah jadi kelaziman di tempat menonton film. Akan tetapi mereka tidak menggunakan cara manual yaitu dengan pendamping, tapi sudah ada alat dan fasilitas yang mendukung. Ketika seorang tunanetra ingin nonton film di bioskop, mereka akan disediakan sebuah headset untuk mendengarkan Audio Describer yang menjadi pelengkap dari film. Audio Describer ini dibuat terpisah tapi dibuat sinkron dengan timeline film berjalan. Audio Describer ini akan mengisi jeda-jeda kosong tanpa dialog dengan penjelasan suara mengenai visual yang sedang tampil. Uniknya, ada beberapa bioskop di Australia yang menerapkan discount apabila tidak menyediakan Audio Describer, sedangkan jika fasilitas itu tersedia, maka penonton yang tunanetra tersebut harus membayar penuh. Ini cukup fair bahwa saat disediakan Audio Describer, maka tingkat kepuasan menonton film yang didapat akan sama dengan penonton lainnya yang awas.

Ini pengalaman pertama ikut ‘Bioskop Bisik’ dan ternyata seru juga. Apalagi Tamara yang menemani selama nonton film orangnya juga asik dan punya keinginan juga untuk buat film dengan konsep blindness. Kita malah banyak ngobrol sepanjang film, tapi untung dia sudah pernah nonton film itu sebelumnya, jadi dapat ceritakan adegan-adegan yang skipped. Dia juga cerita mengenai ide filmnya, tapi tak elok ya jika dibeberkan di sini, nanti jadi tak surprise lagi. Tapi intinya dia punya cita-cita untuk project film yang ingin penontonnya merasakan bagaimana cara seorang tunanetra melihat dan memaknai dunia. Menarik, dan aku menawarkan diri untuk siap membantu apabila dia dan teman-temannya butuh informasi lebih jauh sebagai bahan research. Apalagi jika belum ada film semacam itu sebelumnya di Indonesia, pasti jadi lebih keren lagi. Semoga dapat terealisasi, dan menanti waktu lain bertemu dan mungkin nonton film lagi bareng.

Terima kasih untuk Mitra Netra yang telah mengajak ke acara nonton bareng di Hari Film Nasional ini. Sebuah pengalaman yang seru dan menambah kenal orang-orang baru. Terima kasih juga kepada pihak istana yang telah menyambut kami, juga ke pak presiden yang ternyata duduk manis mengikuti nonton film hingga acara ditutup jam 11 malam. Terima kasih lagi untuk Tamara karena sudah menemani nonton film Cahaya Dari Timur, sukses untuk kuliah dan film-film lainnya.(DPM)

Rekomendasi Artikel:

Kata Kunci

Sudah Baca yang Ini?

2 Comments

  1. I enjoyed reading that! Wishing you success in your new career as a writer!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow My Blog

Silakan daftarkan alamat email kamu untuk mendapatkan notifikasi tiap kali ada tulisan baru, gratis!

Join 7,144 other subscribers

Top Blog