Menyatukan para Blogger Disabilitas dalam @Kartunet

Menyatukan para Blogger Disabilitas dalam @Kartunet

Menyatukan para Blogger Disabilitas dalam @Kartunet

Era blog nampaknya sedang bangkit kembali. Setelah beberapa waktu lalu agak terbenam dengan kehadiran situs jejaring sosial seperti Friendster, Facebook, dan Twitter, kini orang mulai kembali ke blog karena sadar banyak fitur di blog yang tak tergantikan. Di dalam blog Anda dapat menuangkan pemikiran serta pengalaman secara lengkap tanpa terpotong-potong, sekaligus mendapat input publik pada kolom komentar. Makin banyak pula orang yang menganggap memiliki blog adalah bagian dari “keharusan”. Entah digunakan sebagai alat mencari uang, publikasi karya, atau sekedar wadah menampung curahan hati alias curhat.

Dari mereka yang sudah menggunakan blog dan kemudian disebut blogger, lalu saling interaksi dan membentuk komunitas-komunitas blogger. Komunitas atau kumpulan blogger ini pada umumnya didasari oleh identitas tertentu seperti kesamaan lokasi, institusi, atau entitas lainnya. Contoh ada komunitas Kopdar Jakarta, DOT Semarang, Anging Mamiri, Blogger Ngalam, Plat-M, Blogger Bogor, hingga ASEAN Blogger yang tergabung karena kesamaan regional. Ada pula komunitas seperti Emak-Emak Blogger yang didirikan berdasar gender. Namun untuk komunitas blogger yang didasari oleh sebuah isu seperti disabilitas? Nampaknya belum ada di Indonesia atau di dunia sekalipun. Maka, Kartunet Community mengembangkan diri menjadi komunitas blogger disabilitas dengan Kartunet Club.

Mengapa harus blogging? Hakikatnya blogging itu mencakup minimal tiga kemahiran yaitu menulis, optimasi social media, dan blog itu sendiri. Bagi penyandang disabilitas, internet merupakan sebuah terobosan besar sebagai solusi pada banyak keterbatasan yang dialami, khususnya mobilitas dan akses informasi. Cukup dengan akses internet, dari rumah dapat belajar dari jutaan sumber di situs mesin pencari, dan membuka peluang lapangan pekerjaan di bidang digital marketing. Namun jika kemampuan akses internet ini tidak diarahkan, hasilnya adalah kecenderungan untuk sekedar update status atau berkelana tidak jelas di internet. Padahal internet dapat membuka peluang menjadi penulis, jurnalis, digital marketeer, enterpreneur, atau reviewer via blog.

Sejauh ini, sebetulnya sudah cukup banyak penyandang disabilitas yang sudah mampu menggunakan internet dan social media tersebar di seluruh Indonesia. Lebih khusus, ada sebagian di antaranya yang sudah membuat blog bahkan aktif di sana. Berbekal pengalaman seringnya Kartunet diundang ke acara-acara pertemuan komunitas blogger, rasanya luar biasa jika Kartunet Community dikukuhkan pula sebagai komunitas blogger untuk menyatukan penyandang disabilitas yang sudah memiliki blog. Selain tergabung karena identitas disabilitas, ditambah dengan kebanggaan sebagai seorang blogger.

Sebelumnya Kartunet Community hanya dikenal sebagai komunitas para penyandang disabilitas, khususnya tunanetra yang mampu menggunakan teknologi informasi. Ke depan, Kartunet Community ingin dikenal sebagai komunitas blogger disabilitas yang terbuka bagi penyandang disabilitas dan non-disabilitas yang peduli pada isu ini. Mengapa bersifat terbuka atau inklusif? Sebab, pada kehidupan nyata tak ada seseorang yang dapat memenuhi segala kebutuhannya sendiri, tak terkecuali penyandang disabilitas. Dengan itu, antara penyandang disabilitas dan non-disabilitas dapat saling interaksi dan bantu mobilitas.

Misal ketika menghadiri acara-acara undangan yang diadakan oleh umum dan blogger disabilitas ikut di dalamnya. Hal tersebut secara langsung memberikan edukasi publik bahwa penyandang disabilitas ada dan bukan untuk dihindari, apalagi dikasihani. Mereka dapat menunjukkan sebuah kebangaan sebagai seorang blogger yang berarti juga ikut berkontribusi untuk berbagi dan berkarya via internet. Bagi blogger non-disabilitas, dapat ikut sebagai rekan sesama komunitas yang membantu seperlunya, khususnya ketika mobilitas apabila diperlukan. Di sana akan terlihat bagaimana peran masyarakat untuk mendukung penyandang disabilitas memperoleh kesetaraannya. Sebab blogger non-disabilitas yang tergabung tak dapat sembarangan melainkan yang sudah diverifikasi pengetahuan mengenai topik disabilitas. Selain itu, Kartunet Community bukan ormas disabilitas yang biasanya hanya beranggotakan penyandang disabilitas tertentu. Komunitas blogger ini terbuka untuk berbagai disabilitas asalkan sudah memiliki blog dan aktif.

Mungkin akan ada pula pertanyaan jika hanya untuk penyandang disabilitas yang sudah memiliki blog, apa tidak terkesan eksklusif sedangkan masih banyak yang belum? Itu dia tujuan dikukuhkannya Kartunet sebagai komunitas blogger disabilitas. Bukan sekedar ajang kumpul-kumpul blogger, melainkan juga untuk membina penyandang disabilitas agar mampu mengoptimalkan internet via blog. Bagi mereka yang sudah memiliki blog dan mampu mengoperasikannya, akan bergabung dalam sistem official membership yang dinamakan Kartunet Club. Para member yang kemudian disebut Kartuneters dihimpun dalam satu grup tertutup dan akan mendapat prioritas distribusi informasi kegiatan-kegiatan Kartunet Community. Data member akan dikelola oleh admin yang disebut Kakman, dan digunakan sebagai database komunitas. Di Kartunet Club juga ada blogger non-disabilitas baik diundang atau bergabung sukarela dan telah diverifikasi mengenai pemahaman atau kedekatannya pada isu disabilitas.

Sedangkan bagi teman-teman disabilitas yang belum memiliki blog, tetap menjadi bagian dari Kartunet Community secara umum, dan didorong untuk dapat pula menjadi blogger. Caranya yaitu dengan mengadakan pelatihan di markas Kartunet Spirit Home. Ada pula dibuatkan video-audio tutorial mengenai blogging agar mereka yang tinggal jauh di luar Jakarta dapat mengikuti. Pada akhirnya, kami menginginkan agar sebanyak mungkin penyandang disabilitas mampu mengoptimalkan keberadaan internet dan tergabung di Kartunet Club. Sebab kemampuan ini diyakini dapat membuka banyak peluang pemberdayaan diri di masa depan, dan mengubah stigma yang melekat pada mereka sebagai kaum marginal. Dengan mampu berkarya dan menyuarakan diri via online apalagi dengan predikat blogger, maka publik akan melihat mereka karena kemampuan yang dimiliki, bukan kekurangannya.

Cukup sekian dulu coretan mengenai cita-cita besar Kartunet sebagai komunitas blogger disabilitas pertama di Indonesia. Kata disabilitas bukan dimaksudkan untuk menonjolkan kekurangan, tapi adanya kata blogger di awal merupakan pernyataan pada kemampuan yang dimiliki mereka. Selanjutnya, akan coba saya share mengenai apa saja yang dapat dilakukan di komunitas dan rencana-rencana ke depan di posting berikutnya. Apabila sudah membaca ini dan tertarik untuk bergabung, silakan baca aturan mainnya di sini. Semoga, perjuangan ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, dan teman-teman disabilitas makin berdaya dan mandiri, sehingga dapat ikut berkontribusi dengan kebanggan seorang blogger.(DPM)

Rekomendasi Artikel:

Sudah Baca yang Ini?

2 Comments

  1. Setuju sama artikel ini. Blog paling nyaman dari media manapun 🙂 Kita bisa menulis sesuka hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow My Blog

Silakan daftarkan alamat email kamu untuk mendapatkan notifikasi tiap kali ada tulisan baru, gratis!

Join 7,142 other subscribers

Top Blog