Tulisan ini pernah diikutsertakan dalam lomba esei “pengalamanku Bersama Majalah Gema Braille” dalam rangka HUT BPBI Abiyoso Cimahi ke-50 dan mendapatkan juara pertama.

Braille telah lekat dengan kehidupan seorang tunanetra. Aksara yang terbentuk dari kombinasi enam titik itu menjelma dalam diri tunanetra sebagai sebuah identitas. Majalah Gema Braille, jadi salah satu representasi dari identitas tersebut. Merefleksikan sebuah semangat dan hasrat tunanetra untuk terus menggali ilmu dan pengetahuan di tengah-tengah zaman yang terus berubah.

Majalah Gema Braille hadir untuk mengakomodasi kebutuhan tunanetra akan informasi. Dia menjadi pelita di tengah gelap bagi tunanetra yang tak dapat mengakses bacaan konvensional seperti koran atau majalah. Ironis memang, tunanetra seakan terkubur di tengah lautan informasi yang tak dapat diakses karena tak tersedianya bacaan dalam format huruf braille. Tak dapat dibayangkan betapa semakin gelap wawasan tunanetra jika majalah Gema Braille ini tak pernah hadir.

Namun, penulis membayangkan suatu hari majalah Gema Braille ini dapat diakses pula melalui internet. Memang, penyajiannya tentu tidak dalam format huruf braille. Akan tetapi makna semangat dari Gema Braille sebagai media informasi tunanetra tak akan hilang. Dia akan tetap hadir dengan informasi-informasi yang memang dibutuhkan oleh para tunanetra. Malah dengan cakupan yang lebih luas dan mampu menjangkau para tunanetra yang tinggal di seluruh nusantara.

Fakta bahwa semakin banyak jumlah tunanetra yang mampu mengakses komputer bicara dan internet seyogyanya dapat diakomodasi oleh majalah Gema Braille. Saat ini, informasi dengan mudah dapat diperoleh melalui komputer yang dilengkapi program pembaca layar dan sambungan internet. Berbagai informasi di jutaan situs pada belantara internet dapat ditemukan hanya dengan memasukkan kata kunci pemcarian pada situs-situs mesin pencari seperti Google dan Yahoo. Semuanya bejalan realtime dan terbaharui dengan amat cepat. Ditambah dengan situs-situs jejaring osial seperti Facebook dan Twitter. Cukup register atau follow di beberapa situs berita nasional atau internasional, informasi akan hadir dengan sendirinya ke akun jejaring sosial pengguna. Semua fitur tersebut aksesibel dan dapat diakses oleh tunanetra.

Meski media internet membuka persaingan dengan banyak sumber informasi lain yang dengan mudah dapat diakses tunanetra, penulis yakin peranan majalah Gema Braille akan tetap penting. Pertama, majalah Gema Braille telah menjadi semacam icon dalam diri tunanetra Indonesia. Dibukanya pula akses pada majalah tersebut dalam media online mempermudah tunanetra yang mungkin belum terjangkau distribusi majalah fisik. Baik melalui komputer/laptop atau ponsel tunanetra dapat mengakses informasi dalam majalah Gema Braille dengan mudah. Selain itu, fakta penting yang membuat posisi majalah Gema Braille tak tergantikan adalah ragam informasi yang diberikan memang dibutuhkan oleh para tunanetra. Hal ini yang tentu tidak teredia secara khusus oleh media-media main stream yang ada.

Betapa penting peranan majalah Gema Braille ini pun turut penulis rasakan secara pribadi. Pengalaman penulis memang tak terlalu banyak dengan majalah Gema Braille. Ketika masih duduk di bangku SMP, penulis menemukan sebuah buku braille di kamar seorang teman. Penulis coba baca, dan ada perasaan luar biasa saat meraba judul buku itu “Gema Braille”. Perasaan ini makin membuncah saat jari-jari meraba lebih jauh dalam isi buku dan menemukan banyak informasi serta artikel-artikel yang menarik.

Satu kata yang terlintas dalam bentuk penulis saat menjumpai majalah Gema Braille itu adalah “harapan”. Majalah itu seakan menjadi sebuah harapan bagi tunanetra yang amat miskin akses informasi. Dia menjadi harapan bagi penulis khususnya yang bukan tunanetra dari lahir bahwa menjadi seorang tunanetra bukan berarti kehilangan kesempatan untuk meluaskan wawasan. Terfikir bahwa akan amat indah jika seluruh tunanetra di negeri ini dapat mengakses majalah Gema Braille ini.

Bayangkan, betapa banyak orang yang menjadi tunanetra di saat usia remaja atau dewasa. Tanpa adanya informasi dunia mereka akan tertutup dan menurunkan rasa percaya dirinya. Dalam majalah Gema Braille, mereka dapat menemukan kembali pintu menuju dunia. Mereka akan menemukan berbagai informasi bermanfaat dan wawasan bahwa banyak tunanetra lain selain dirinya yang mampu berprestasi dan hidup normal. Hidup akan menjadi tidak sempit lagi untuk mereka yang punya pengalaman serupa dengan penulis.

Oleh karena itu, informasi yang ada di majalah Gema Braille harus dapat diakses seluas-luasnya. Bukan hanya bagi mereka yang baru belajar huruf braille, malinkan yang sudah dapat mengakses komputer bicara. Dengan hadirnya nanti majalah Gema Braille di situs internet, berbagai informasi mengenai ketunanetraan dapat diakses pada satu wadah. Apalagi jika majalah Gema Braille  turut memanfaatkan situs jejaring sosial. Tentu tiap update informasi yang disajikan dapat lebih cepat diketahui oleh pembaca tunanetra. Tak ada lagi alasan utnuk tunanetra menjadi miskin informasi.

Mungkin hal yang dikhawatirkan dari perluasan cakupan majalah Gema Braille ke bentuk online adalah turunnya minat tunanetra untuk membaca braille. Menurut penulis, huruf braille tak akan pernah hilang dari diri tunanetra. Huruf braille adalah identitas bagi para tunanetra. Apabila orang awas punya aksara awas/cetak, maka tunanetra punya huruf braille sebagai aksaranya. Semaju apapun teknologi informasi, tak akan pernah menghilangkan fungsi huruf braille sebaai indikasi bahwa seorang tunanetra dapat membaca (kemampuan literasi).

“Harapan” tak pernah hilang dari majalah Gema Braille. Informasi yang disajikan mencerahkan kehidupan tunanetra. Penulis selalu berharap agar majalah ini tetap eksis dan mampu mengikuti perkembangan zaman. Tentu amat bangga ketika dapat membaca isi majalah Gema Braille dengan marabanya di dunia maya.

Rekomendasi Artikel:

Kata Kunci

Sudah Baca yang Ini?