Esei pernah diikutsertakan dalam lomba esei Indonesia Young Netizen Day (IYND) tahun 2011 dan masuk dalam peringkat 20 besar.

“Siapa menguasai informasi akan menguasai dunia”. Mungkin pernyataan itu tidak berlebihan melihat fakta yang terjadi saat ini. Perkembangan teknologi informasi yang telah memasuki sendi-sendi kehidupan manusia punya kekuatan besar untuk mengarahkan opini masyarakat. Masih lekang dalam ingatan kasus Ibu Prita yang dituduh telah mencemarkan nama baik rumah sakit OMNI International yang akhirnya bebas karena mendapat dukungan kuat dari publik. Ada pula Deponering kasus kriminalisasi KPK pada Bibit Candra yang didukung oleh publik dengan gerakan Cicak vs Buaya.

Apa yang membuat masyarakat dapat bergerak serentak untuk memperjuangkan apa yang disebut “rasa keadilan” tersebut? Bukan uang atau kekuatan militer pemerintah. Mereka hanya terdorong oleh panggilan moral dan anak dari media baru (new media) yang disebut jejaring sosial. Reputasi sebagai negara kedua terbesar pengguna Facebook dan pertama di Asia untuk Twitter, tentu menjadikan suara-suara yang berseliweran di dua situs jejaring sosial (social network) tersebut berpengaruh besar di masyarakat, khususnya generasi muda. Mereka inilah lapisan di masyarakat yang paling aktif dan dekat dengan dunia internet. Tak heran jika aksi-aksi sosial saat ini sering bermula dari internet karena para penggeraknya adalah generasi muda yang dinamis.

Melihat perkembangan ini, internet menjelma jadi media yang mampu meretas batas waktu dan geografis untuk menghubungkan penggunanya dalam satu wadah. Siapa saja, tanpa perlu pengetahuan rumit untuk belajar internet, dapat dengan satu klik untuk berselancar di internet. Namun pernahkah anda membayangkan di salah satu sudut di belantara internet ini, ada sekelompok anak muda tunanetra yang turut melakukan aksi sosial? Mungkin tak pernah terfikirkan karena tunanetra notabenya memiliki gangguan pada indera penglihatan, sehingga mustahil dapat mengakses internet. Jika anda belum percaya, coba kunjungi situs https://www.kartunet.com dimana penulis turut menjadi salah satu pendirinya.

New media dimanfaatkan oleh sekelompok anak muda tunanetra yang tergabung di Kartunet.com sebagai sarana aksi sosial untuk mengajak masyarakat agar lebih mengenal tunanetra dan penyandang disabilitas lain pada umumnya. Gerakan ini dilatarbelakangi oleh fakta minimnya informasi mengenai seluk-beluk penyandang disabilitas yang diperoleh masyarakat, sehingga membuat terkadang hak-hak para penyandang disabilitas terabaikan. Bukan karena masyarakat tidak peduli atau “kejam”, fakta ini lebih disebabkan oleh faktor ketidak-tahuan masyarakat bagaimana memperlakukan penyandang disabilitas dengan benar.

Hal pertama yang disampaikan oleh Kartunet.com adalah bahwa tunanetra tidak harus selalu tukang pijat, dan mereka dapat mengakses komputer serta internet. Kata Kartunet sendiri berasal dari gabungan dua kata “karya” dan “tunanetra”. Mereka ingin menunjukkan bahwa situs Kartunet.com adalah hasil karya tunanetra dan pengelolaannya ditangani langsung oleh para tunanetra.

Mungkin anda masih ragu bagaimana mereka dapat mengakses komputer? Kunci para tunanetra yang tak memiliki penglihatan sempurna dapat mengakses perintah-perintah dalam komputer terletak pada perangkat lunak pembaca layar (screen reader) yang digunakan. Untuk komputer dan laptop yang digunakan adalah sama dengan apa yang beredar di pasaran atau yang mungkin saat ini sedang anda gunakan pula. Hanya agar tunanetra dapat mengoperasikannya, diperlukan perangkat lunak tambahan yang disebut Screen Reader. Perangkat lunak ini mengkonversi tampilan visual ke dalam bentuk audio untuk didengarkan oleh pengguna tunanetra. Setiap kali mereka menekan tombol pada keyboard, akan dikeluarkan suara yang menyebutkan fungsi tombol tersebut. Jadi, meski tidak melihat tampilan di layar, tunanetra tetap dapat bernavigasi di komputer dengan bantuan suara yang dihasilkan perangkat lunak tersebut.

Rekomendasi Artikel:

Kata Kunci

Sudah Baca yang Ini?

Pages: 1 2