Judul : “From changing American family”
Penulis : Judy Root Aulette.

Dalam artikel ini, akan dibahas keadaan keluarga dalam masyarakat Amerika Serikat yang dipengaruhi oleh tiga hal utama. Tiga hal tersebut adalah masalah kelas sosial, isu rasialisme, dan persamaan jender. Akan banyak hal menarik mengenai pengaruh antara keadaan kelas sosial, yang dikombinasikan dengan rasialisme dalam artikel ini.

Dalam masyarakat kelas atas, salah jika mereka ini dikenal individualis dan tertutup. Mereka ini sangat mengenal orang-orang yang berasal dari kalangan mereka sendiri. Istilah individualis diciptakan oleh orang menengah, yang tidak memiliki link ke orang kalangan atas sama sekali. Orang-orang kalangan atas, memang tertutup untuk kalangan diluarnya, tapi sangat akrab satu sama lain untuk kelas yang sama.

Peranaan seorang ayah dalam keluarga kalangan atas adalah menjamin aset keuangan yang dimiliki keluarga. Pria sangat penting keluarga, karena ia akan menjadi pewaris bisnis yang sudah dijalankan keluarga bertahun-tahun. Sedangkan itu, peran wanita sangat dominan dari mengatur keluarga. Ia seperti kepala rumah tangga yang bertanggung jawab akan semua isi rumah.

Berbeda dengan masyarakat dari kelas lainnya, orang kalangan atas menganggap dirinya adalah bangsawan atau aristrokat. Nama itu sangat penting dalam kehidupan. Jadi misalnya ada seorang yang menceritakan seorang tokoh, kita akan terlambat untuk menulis profil karena panjangnya riwayat hidup orang tersebut. Tambahan lagi, seorang dari kalangan atas yang tiba-tiba jatuh miskin, akan tetap dianggap bangsawan oleh para rakyat. Ia tetap dikenal namanya sebagai pernah jadi orang kaya. Berbeda dengan kelas menengah, sekaya apa pun mereka, tapi akan tetap dipandang rendah ketika mereka melakukan gestur-gestur aneh.

Dalam bersekolah, tujuan siswa disekolahkan oleh orang tua mereka berbeda dengan orang dari kelas menengah. Mereka diharapkan dapat menuntut ilmu, dan kemudian mempertahankan serta mengembangkan modal yang telah dimiliki oleh keluarga. Sedangkan untuk kaum menengah, prestasi sangat menjamin keberlangsungan mereka dalam kehidupan ekonomi yang lebih layak.

Saat menikah, para perempuan yang berasal dari kalangan atas menganggap bahwa menikah dengan seseorang yang berasal dari kelas yang sama itu adalah sesuatu yang membanggakan. Harta mereka akan tetap terjamin dengan menikahi sesama kalangan atas. Seperti yang banyak dilihat di film-film barat, sering ada kisah seorang perempuan yang menikah dengan pria dari kalangan di bawahnya dan pernikahan itu ditentang habis-habisan oleh pihak keluarga.

Seperti layaknya keluarga-keluarga aristokrat, mereka ini sangat menjaga nama baik. Sistem yang sudahmereka jalani, harus dipertahankan demi menjaga kedudukan mereka pula. Tak etis rasanya, jika seorang bangsawan hanya tinggal di rumah kecil bersama para tetangga yang berasal dari middle class.

Hal di atas berbeda pastinya dengan kehidupan keluarga di kelas menengah. Ada empat hal yang menjadi ciri-ciri dari keluarga kalangan menengah ini. Pertama adalah masalah mobilitas geografi. Kalangan menengah tidak terlalu merisaukan masalah geografis ini. Ia bisa dengan fleksibel berpindah dari satu tempat ke tempat lain dikarenakan masalah pekerjaan. Saat berpindah ke tempat atau negara bagian lain, Ia akan keluar dari keluarga besar, dan mencari teman atau kenalan di tempat baru. Kedua adalah institusi keluarga besar yang dihubungkan dengan masalah ekonomi. Bagi kalangan menengah, kehidupan ekonomi tidak bergantung pada keluarga besar. Saat membutuhkan uang untuk kredit rumah misalnya, mereka meminjam uang ke bank sendiri, daripada meminjam kepada keluarga jauh. Yang ketiga adalah ikatan pertemanan yang dijadikan seperti kekeluargaan. Karena mobilitasnya yang tinggi, kalangan menengah selalu mencari teman dan kenalan di tempat baru. Dengan teman yang sesama kalangan menengah ini, timbul sebuah ikatan bathin yang mempersatukan mereka. Mereka saling bantu bahkan melebihi bantuan sesama keluarga. Terakhir adalah perihal investasi dan barang milik. Bagi kalanganmenengah, sharing barang milik kepada kalangan menengah lain sudah sangat wajar. Mereka saling bantu-membantu dalam hal itu. Jika ada yang sedang berkebutuhan, tak segan-segan apa yang mereka miliki diberikan atau dipinjamkan.

Dalam melakukan mobilitas geografis, kalangan menengah memperhitungkan apa keuntungan dan kerugian melakukan perpindahan itu. Menurut hasil survey, orang yang lahir pada abad ke-20, lebih senang tinggal di tempat dimana mereka dilahirkan. Sedangkan untuk orang yang ada pada abad ke-19, lebih senang untuk berpindah ke kota lain demi mencari penghidupan yang lebih baik. Hal ini memberikan kita gambaran, bahwa pembangunan di Amerika Serikat sudah sangat merata. Sehingga penduduk tidak perlu berpindah ke kota lain untuk memperoleh pekerjaan yang baik. Di kota mereka sendiri pun sudah tersedia penghidupan yang layak.

Hal ini berbeda lagi dengan kalangan menengah kulit hitam. Di kelas ini, hal yang sangat ditekankan adalah masalah edukasi. Kehidupan keluarga kalangan menengah kulit hitam bisa dikatakan education oritented. Mereka sangat mengharuskan anak-anak mereka untuk mengenyam pendidikan yang layak. Gunakan kesempatan akses ke dunia pendidikan sebesar-besarnya. Karena mereka yakin, bahwa pendidikan adalah satu-satunya jalan untuk meningkatkan derajat keluarga.

Hal ini berkebalikan dengan apa yang ada di kalangan menengah kulit putih. Mereka agak ambivalen dengan pendidikan bagi anak-anak mereka. Mereka berasumsi bahwa anak-anak dengan pendidikan tinggi, akan menjauhkan diri nanti dari orang tua dan kebiasaan dalam keluarga.

Rekomendasi Artikel:

Kata Kunci

Sudah Baca yang Ini?

Pages: 1 2 3