Foto bersama Fahrurizki, pendiri Ojek Online Onma Mataram di depan Islamic Center Mataram
Tak sulit untuk mencari transportasi umum baik yang dengan trayek reguler atau non-trayek di kota besar seperti Jakarta. Dari mulai bus, angkot, kereta, ojek, hingga transportasi berbasis online menjangkau tiap jengkal kota. Namun bagaimana dengan di kota yang tak terlalu besar seperti Mataram? Dimana angkot sangat minim, lalu layanan ojek tak cukup banyak, padahal punya potensi besar karena banyak dikunjungi turis ke objek-objek wisata yang sudah terkenal di pulau Lombok? Salah satu teman saya di FIM, Fakhrurrizki membuat solusi cerdas dengan meluncurkan Ojek Online Mahasiswa atau disingkat Onma Mataram.

Awal Oktober lalu, saya berkesempatan diundang oleh Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) untuk memberikan pelatihan komputer dan dasar internet marketing ke teman-teman tunanetra di pulau Lombok. Tentu saja saya excited dengan kegiatan tersebut, selain mendapat kesempatan langka dapat bertemu dengan teman-teman secara langsung di daerah, Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, jadi destinasi terjauh saya saat itu dalam kawasan Indonesia. Peserta pelatihan ada sekitar 50 orang tunanetra yang berasal dari Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Bali. Untuk detail kegiatan ini akan saya ceritakan di post tersendiri nanti ya.

Beruntungnya gabung di Forum Indonesia Muda )FIM), kita mendapat teman yang tersebar di seluruh Indonesia. Mau pergi ke provinsi manapun di Indonesia ini, pasti ada alumni FIM di sana. Para alumni FIM sudah bagai keluarga sendiri, tak afdol rasanya jika datang ke satu regional lalu tidak bertemu, meski sekedar ngobrol dan minum kopi dengan punggawa FIM regional. Di NTB ada komunitas alumni FIM regional yang dinamakan FIM Sasambo. Singkatan dari tiga suku besar yang ada di NTB yaitu Sasak, Samawa, dan Mbojo.

Pertemuan kembali dengan Fahrurizki di Lombok cukup unik. Ketika mendarat di Bandara Internasional Lombok, Praya, saya teringat jika tak salah ada satu alumni FIM yang tinggal di Mataram. Waktu kepanitiaan FIM 18, atau disebut juga Bukalapak FIM, kami sama-sama jadi panitia dan menginap sekamar dengan beberapa panitia lainnya di Cibubur. Dia alumni FIM 17 yang saat itu pun saya juga jadi panitia sebagai fasilitator kelompok. Kebetulan, Fahrurizki ini cukup “ngetop” bahkan dianggap sebagai maskot FIM 17 angkatannya. Waktu itu saat break acara, dia tampil ke depan untuk perform tarian adat NTB. Karena saat itu dia “pede” habis dan juga bernyanyi lagu adat cukup lantang, karena ada kata-kata di sana yang terdengar seperti “tak.. tak.. tak..”, maka dia kemudian akrab dipanggil Rizki Tak-Tak oleh alumni FIM.

Saat di perjalanan dari bandara menuju Mataram, saya whatsapp Rizki dan menanyakan apakah bisa bertemu apabila selama seminggu acara di Mataram ada waktu luang. Dengan sigap dia bilang iya dan bahkan menawarkan diri untuk jadi guide apabila mau keliling Lombok. Sekali lagi bersyukur dapat gabung di keluarga FIM, tak akan pernah merasa sendirian dimanapun menjejakkan kaki di bumi nusantara.

Selain itu, pertemanan di FIM juga buat dunia makin sempit. Jadi sebelum masuk kota Mataram, rombongan dan saya makan dulu di sebuah restoran. Saat itu kami undang juga mas Jaka Ahmad yang akrab dipanggil om Jack, seorang aktivis tunanetra yang saat ini domisili di Mataram bersama keluarganya. Sebelumnya om Jack tinggal di Jakarta dan kami sudah sering ketemu di kegiatan-kegiatan disabilitas. Tahun 2013, saat saya ikut short course 3 bulan di Adelaide, Australia, om Jack yang sedang ambil S2 di Flinders Uni juga sering bantu saya dan dua rekan lainnya dari Indonesia.

Sesampai di restoran, om Jack diantar oleh seseorang yang saya kira tadinya teman atau keluarganya. Namanya Fahru, mahasiswa yang sambilan ojek online Onma Mataram. Saat ketemu, Fahru tanya ke saya apa kenal dengan Fahrurizki. Ternyata Fahru teman sekampus Rizki tak-tak, dan kerennya lagi mereka sesama pendiri dari ojek online Onma Mataram. Saat di perjalanan Fahru mengantar om Jack, dia menanyakan apa kenal dengan saya. Karena sebelumnya Rizki tak-tak sudah mengatakan ke Fahru jika ada temannya sesama alumni FIM yang ke Mataram, dan mungkin karena om Jack juga tunanetra, dia anggap kenal dengan saya. Ternyata, dunia memang sempit ketika networking kita yang meluas :D.

Di hari kelima setelah kegiatan pelatihan selesai, saya akhirnya ketemu Rizki tak-tak dan kita ngobrol banyak, khususnya soal Onma Mataram. Filosofi awal dibentuknya Onma Mataram ini cukup menarik. Lombok merupakan daerah wisata yang berkembang pesat. Wisatawan yang datang tak semuanya membawa kendaraan pribadi atau ikut dalam paket tour. Banyak juga yang bacpaker dan ingin merasakan serunya berpetualang bebas. Di satu sisi, di kota yang tidak terlalu besar seperti Mataram, trayek angkot sangat terbatas. Sedang para ojek pangkalan cendrung memberikan tarif terlalu tinggi dan kurang profesional jika harus berperan juga sebagai tour guide.

Lalu Rizki mengamati bahwa banyak temannya yang memiliki motor, hanya digunakan untuk berangkat kuliah, lalu pulang dan motor menganggur di kosan. Ada waktu luang yang sebetulnya dapat dimanfaatkan untuk mencari uang saku tambahan. Lalu latar belakang sebagai mahasiswa, tentu memiliki nilai lebih dari segi kesantunan dan kemampuan untuk berperan sebagai tour guide. Lantas, dibentuklah Onma Mataram dengan sistem tarif yang transparan dan bersaing dengan memanfaatkan resource yang ada dari para mahasiswa.

Sesuai namanya, ojek online mahasiswa (Onma Mataram), pemesanan ojek dapat dilakukan via online, baik telepon, sms, whatsapp, instagram, dll. Saat ini memang belum menggunakan aplikasi khusus seperti Gojek atau Grab, tapi menurut saya untuk daerah yang tidak sesibuk Jakarta, hal itu masih cukup mamadai. Bahkan hubungan interpersonal antara konsumen dan driver dapat lebih humanis dan fleksibel. Kadang tidak hanya mengantar dari satu titik ke titik lainnya, tapi juga bisa kasih rekomendasi tempat, atau menemani jalan-jalan keliling Lombok.

Selain sisi ekonomis, hal positif dari kehadiran Onma Mataram ini menurut saya dapat melatih kemandirian dan semangat kerja keras di kalangan mahasiswa. Meski status sebagai seorang mahasiswa yang dianggap tinggi dalam masyarakat, tapi tak perlu malu jika harus sambilan jadi driver Onma Mataram. Selama tidak mengganggu kuliah, dapat mengisi waktu luang menjadi produktif, sekaligus menambah relasi. Karena terkadang generasi sekarang akibat besar gengsi, jadi tak mau melakukan pekerjaan yang dianggapnya tidak prestisius. Padahal itu modal baik untuk seseorang jadi sukses yakni kemampuan komunikasi dan semangat kerja keras, di bidang apapun nanti mereka bekerja kelak.

Namun perlu dipertimbangkan pula dampak negatif untuk para tukang ojek pangkalan. Jangan sampai kehadiran ojek online malah mengurangi lapangan kerja mereka. Prof Rhenald Kasali pernah berkata bahwa mahasiswa jangan kerja sambilan yang pekerjaan itu jadi domain untuk masyarakat bawah dengan tingkat pendidikan rendah pula. Karena orang dengan pendidikan tinggi harusnya dapat melakukan yang lebih ari itu sehingga lebih banyak pilihan. Sedangkan untuk orang kecil tak punya banyak pilihan. Win win solution untuk hal ini mungkin kelak jika sistem sudah stabil dan pasar Onma makin luas, para ojek pangkalan itu dapat dibina dan mahasiswa dapat mengembangkan sisi manajemen dan pengembangannya. Jadi masyarakat kecil yang karena keterbatasannya kurang dapat bersaing, tidak kehilangan mata pencariannya.

Sebagai penutup, Onma Mataram yang digagas oleh Fahrurizki alias Rizki Tak-Tak dan kawan-kawan ini menarik dan jadi sebuah solusi dari kebutuhan masyarakat Mataram saat ini. Semoga makin sukses dan dapat membawa manfaat untuk lebih banyak lagi orang. Terima kasih juga untuk sambutan hangatnya teman-teman FIM Sasambo yang sudah mau meluangkan waktunya menemui saya selama berada di Mataram. Semoga suatu saat dapat berkunjung lagi ke Lombok, pulau seribu masjid. (DPM)

Rekomendasi Artikel:

Kata Kunci

Sudah Baca yang Ini?