Pendahuluan

Kisah Abu Nawas sepertinya sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat yang berlatarbelakang muslim. Cerita-cerita Abu Nawas yang jenaka namun cerdas, secara generasi ke generasi tetap populer terutama bagi anak-anak. Selain mengandung unsur humor, kisah Abu Nawas memberikan amanat yang dapat diteladani semua kalangan. Ada usaha dekonstruksi kebenaran yang kerap dilakukan oleh Abu Nawas dalam isi ceritanya. Ia membongkar sesuatu yang sebelumnya dipahami sebagai kebenaran oleh para penguasa, menjadi terbolak-balik dengan sedikit mempermainkan logika. Di sinilah kelebihan dari kisah Abu Nawas yang selalu segar dan cerdas. Ditambah lagi dengan kritik-kritik sosialnya terhadap para penguasa, membuat kisah ini selalu relevan hingga masa kini[1].

Dikutip dari situs www.masnya.wordpress.com, Abu Nawas diyakini sebagai tokoh yang benar-benar ada. Isi cerita dalam kisah-kisahnya merupakan kejadian nyata yang kemudian diriwayatkan lagi oleh orang lain. Nama asli Abu Nawas adalah Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami. Dia dilahirkan pada 145 H (747 M ) di kota Ahvaz di negeri Persia (Iran sekarang), dengan darah dari ayah Arab dan ibu Persia mengalir di tubuhnya. Ayahnya, Hani al-Hakam, merupakan anggota legiun militer Marwan II. Sementara ibunya bernama Jalban, wanita Persia yang bekerja sebagai pencuci kain wol. Sejak kecil ia sudah yatim. Sang ibu kemudian membawanya ke Bashrah, Irak. Di kota inilah Abu Nawas belajar berbagai ilmu pengetahuan. Ia banyak bergaul dengan orang Badui yang membuat ia paham benar dengan adat istiadat dan bahasa bangsa Arab. Setelahnya, ia menetap di Baghdad yang kemudian mempertemukannya pada hubungan akrab dengan Sultan Harun Ar-Rasyid[2].

Dalam tiap kisahnya, Abu Nawas mempermainkan logika melalui bahasa yang diutak-atiknya sehingga mampu tuk mengecoh orang lain. Pernah Abu Nawas berkata tidak jujur kepada seseorang dengan tujuan menguak hal sebaliknya dari kebohongannya tersebut. Ada pula ia bertutur setengah-setengah yang membuat makna ambigu, dan memberikan efek khusus pada pihak penerima pesan. Di sini terlihat bagaimana ada teknik khusus dalam berkomunikasi yang digunakan tokoh Abu Nawas dalam membangun ceritanya. Terkadang lawan bicara dibuatnya tertegun dengan pernyataan atau jawaban Abu Nawas yang tidak diduga pihak penerima pesan. Sehingga demikian, prinsip kerja sama dalam berkomunikasi yang seharusnya bersifat simultan sering disimpangkan oleh Abu Nawas demi mencapai tujuan-tujuan tertentu.

Prinsip kerja sama pada dasarnya dibuat untuk memandu penutur dan petutur dalam berkomunikasi yang baik, sehingga proses tersebut dapat berjalan dengan lancar dan dapat dipahami kedua belah pihak (Lanjari, 2010: 2). Prinsip yang dikemukakan oleh Paul Grice (1913 – 1988) ini amat populer dalam dunia kebahasaan untuk mengkaji mengenai percakapan dan bagaimana kedua  belah pihak bekerjasama untuk membangun itu. Empat bidal yang dikemukakan oleh Grice terdiri dari bidal kuantitas, bidal kualitas, bidal relevansi, dan bidal cara. Salah satu dari keempat bidal tersebut harus dipenuhi demi terjalinnya sebuah komunikasi yang baik. Namun, terkadang ada teknik penutur yang melanggar salah satu bidal untuk mencapai tujuan tertentu komunikasi. Dalam kaitan ini, kisah-kisah Abu Nawas kerap kali melakukannya. Penggunaan bahasa disiasatinya hingga tercapai maksud yang benar-benar berbeda. Oleh karena itu, dalam tulisan ini akan dikaji beberapa kisah Abu Nawas dengan melihat pelanggaran bidal yang sengaja dilakukan untuk mencapai tujuan dan maksud yang diinginkan oleh pihak penutur.

Rekomendasi Artikel:

Kata Kunci

Sudah Baca yang Ini?

Pages: 1 2 3 4