Pemilih Cerdas Mewujudkan Depok Berkarakter

Pemilih Cerdas Mewujudkan Depok Berkarakter

Pemilihan umum (PEMILU) merupakan salah satu indikator sebuah negara demokrasi. Di dalamnya selalu ada harapan yang tercermin dari pilihan pemilih. Sama halnya dengan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) kota Depok yang akan diselenggarakan tanggal 16 Oktober 2010. Banyak harapan baik dari penduduk kota Depok, atau dari mereka yang sehari-hari selalu berinteraksi dengan kota yang masih menjadi bagian dari provinsi Jawa Barat ini.

Selayaknya sebuah siklus kehidupan dimana ada awal dan tentu pula ada akhir, selesainya masa jabatan Nur Mahmudi Ismail di tahun 2010 akan memunculkan sebuah evaluasi dan harapan. Selama lima tahun masa baktinya, tentu sudah banyak hal yang berhasil dihasilkan di bawah kepemimpinan beliau. Namun, di antara keberhasilannya, tentu ada hal-hal yang masih harus diperbaiki di periode berikutnya. Oleh karena itu, diadakan sebuah prosesi pengatur siklus yang berfungsi mengantarkan tongkat estafet kepemimpinan berisi evaluasi dari periode sebelumnya yang mesti dibenahi, dan harapan masyarakat pemilih untuk lima tahun ke depan.

Salah satu harapan yang relevan bagi kota Depok lima tahun ke depan adalah Depok sebagai kota yang mandiri dan berkarakter. Terletak di batas luar DKI Jakarta, kota Depok dijadikan pula penunjang bagi kegiatan ibukota. Banyak warga masyarakat yang sehari-hari bekerja atau berkegiatan di pusat kota Jakarta tinggal di Depok. Mereka ini adalah commuter yang pulang pergi setiap hari Depok – Jakarta. Didukung oleh jalur transportasi yang baik seperti jalur kereta api listrik (KRL Jabodetabek), kota Depok sebagai penunjang ibukota memang cukup ideal. Namun, sejak status kota Depok menjadi kotamadya pada tahun 1999, status sebagai daerah penunjang ibukota dirasakan kurang relevan lagi.

Berpenduduk sejumlah 1.374.522 jiwa pada tahun 2005, mengindikasikan bahwa kota Depok memiliki sumber daya manusia yang cukup memadai untuk menjadi kota mandiri. Potensi jumlah penduduk ini, perlu diberdayakan oleh pemimpin kota Depok selanjutnya untuk membangun sebuah perekonomian yang mampu mengakomodasi kebutuhan masyarakatnya sendiri. Pembukaan lapangan pekerjaan baru dan pembentukan iklim usaha yang kondusif perlu menjadi salah satu prioritas. Tambahan lagi, saat ini kota Depok menjadi salah satu pusat pendidikan dengan adanya beberapa perguruan tinggi terkemuka seperti Universitas Indonesia. Jumlah mahasiswa yang mencapai ribuan tiap tahunnya, sudah tentu menjadi sebuah pasar potensial bagi kota Depok.

Selain itu, calon pemimpin kota Depok kelak perlu pula menjamin aksesibilitas para investor yang ingin menanamkan modalnya di kota Depok. Penjaminan keamanan dalam menjalankan usaha dan kemudahan dalam birokrasi pendirian usaha baru, mutlak harus dipenuhi jika ingin tercapai percepatan pembangunan di kota Depok. Dengan datangnya para investor ini, secara bersamaan akan banyak dibuka lapangan pekerjaan baru. Masyarakat kota Depok yang sebelumnya hanya menjadikan kota Depok sebagai tempat tinggal, kini dapat menjadikan kota Depok sebagai tempat mencari nafkah.

Lebih jauh lagi, kelak jika kota Depok telah mampu mandiri secara ekonomi dengan memberikan banyak lapangan pekerjaan, hal tersebut juga akan mengurangi kepadatan di ibukota Jakarta. Konsentrasi ekonomi yang sebelumnya tumplek di ibukota, dapat terdistribusi ke daerah lain. Secara tidak langsung, pembangunan ekonomi mandiri di daerah luar Jakarta seperti kota Depok ini, dapat membantu menyelesaikan masalah ibukota seperti kepadatan penduduk berlebih dan kemacetan lalu lintas. Mobilisasi masyarakat pun dari daerah pinggiran Jakarta ke pusat kota akan secara signifikan tereduksi oleh hal ini karena pusat ekonomi yang telah terdesentralisasi.

Ketika pembangunan ekonomi sebuah kota telah maju, tak boleh dilupakan bahwa sebuah kota tetaplah harus memiliki karakter atau identitas. Karakter ini dapat dibangun melalui pelestarian seni budaya serta pembentukan citra baik kota melalui lingkungan hidup yang sehat.

Sebagai daerah penyangga ibukota, kota Depok didiami oleh bermacam etnis dan suku bangsa. Mereka semua ini berasal dari berbagai daerah di Indonesia yang umumnya ingin mencari nafkah di Jakarta. Karena kurang dan tingginya biaya pemukiman di ibukota, mereka terpaksa harus menjadi commuter tiap harinya. Selain itu, fakta bahwa kota Depok menjadi salah satu pusat pendidikan bangsa, banyak pelajar yang ingin menuntut ilmu di sini berasal dari Sabang sampai Merauke. Para pelajar ini membawa budaya dan tradisinya masing-masing, lantas berinteraksi dengan masyarakat setempat.

Dari semua keberagaman yang ada, perlu dicari sebuah rumusan yang bisa menjadi identitas bagi kota Depok. Fakta budaya multikulturalisme ini perlu dikembangkan oleh pemimpin kelak kota Depok demi terbangunnya sebuah identitas. Identitas sebagai bakal kota metropolitan yang tetap mampu mencirikan masyarakatnya yang multikultural. Karena tak dapat dipungkiri, pemilih yang berpartisipasi di Pemilukada kota Depok 2010 ini pasti berasal dari bermacam etnis dan suku bangsa. Biarkan mereka memiliki identitas sebagai warga Depok bukan hanya dari sebatas KTP, tapi ada ikatan kultural yang lebih kuat di jiwa-jiwa mereka.

Terakhir, pemimpin kelak kota Depok harus dapat mewujudkan citra kota Depok sebagai kota yang memiliki lingkungan hidup sehat. Fakta bahwa Depok merupakan salah satu daerah resapan hujan, harus tetap dijaga dan disinergiskan dengan pembangunan ekonomi. Kedua hal tersebut harus berjalan beriringan. Jangan sampai pembangunan ekonomi yang pesat ini mengganggu lingkungan hidup kota Depok. Kebersihan tempat-tempat umum harus tetap dijaga demi kenyamanan masyarakat. Penilaian piala Adipura yang akan diadakan bulan Oktober tahun ini, dapat pula menjadi momen baik untuk memberikan citra baik di periode kepemimpinan baru kelak.

Mari masyarakat kota Depok, ikut partisipasi aktif dalam Pemilukada Depok 2010. Jadikan kota Depok sebagai kota yang mandiri secara ekonomi dan berkarakter dari segi budaya dan lingkungan hidup yang sehat. Semoga walikota Depok kelak, mampu mengamalkan dengan sepenuh hati slogan Paricara Dharma yang bermakna pemerintah sebagai abdi masyarakat dan abdi negara senantiasa mengamalkan nilai-nilai kebaikan, kebenaran, dan keadilan.

*Diikutsertakan dalam lomba esei Pemilukada Watch Depok Departemen Kaspol BEM FIB UI 2010

Rekomendasi Artikel:

Sudah Baca yang Ini?

1 Comment

  1. Wah, lumayan juga artikelnya. sebagai bahan referensi untuk Depok di masa depan. terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow My Blog

Silakan daftarkan alamat email kamu untuk mendapatkan notifikasi tiap kali ada tulisan baru, gratis!

Join 7,144 other subscribers

Top Blog