Pemuda, Lokomotif Kebudayaan Bangsa

Pemuda, Lokomotif Kebudayaan Bangsa

Alhamdulillah, ini saya posting tulisan saya yang dimuat di harian Koran Seputar Indonesia, kolom Opini Suara Mahasiswa. Ini tulisan pertama saya di harian nasional, bukan karena kekurangan yang saya miliki. Untuk kesempatan ini, tema yang diberikan oleh sindo adalah Pemuda Memajukan Budaya. Tapi sayang, tulisan saya banyak sekali yang dipotong. So, saya posting di sini yang edisi penuh/asli ok.

Sekali lagi, kita marah dan kecewa akan apa yang dilakukan negeri tetangga kita, Malaysia. Setelah klaim atas Tari Barong yang disebut Barongan, kini giliran Tari Pendet asal Bali yang dimasukan dalam iklan Visit Malaysia 2009. Luapan emosi masyarakat ini terkesan hanya bersifat temporer. Tak pernah ada tindak lanjut yang konkrit dan sistematis.

Tiap kali ada kejadian serupa, semua element dalam bangsa bereaksi. Tak ketinggalan golongan muda. Dengan caranya masing-masing, element bangsa yang paling dinamis ini, mengekspresikan protesnya dari mulai aksi sampai kampanye di dunia maya. Serentak mereka lantang menyuarakan nasionalisme, padahal dalam hati bertanya makna dari terminologi tersebut.

Jika ditilik lebih jauh, golongan pertama yang seharusnya merasa tertampar dengan kasus sabotase kebudayaan seperti ini adalah para pemuda. Sebagai lokomatif penarik kereta kebudayaan bangsa, pemuda memiliki tanggung jawab terbesar terhadap maju mundurnya gerbong-gerbong di belakangnya. Ketika rel melalui jalan globalisasi menanjak penuh tantangan, pemuda sebagai lokomotif harus bergerak lebih cepat dan gigih. Jangan ketika sudah melalui rel menurun penuh fasilitas pascakemerdekaan, pemuda terlena, dan tak mampu menanjak. Karena kelengahan sang lokomotif, gerbong-gerbong itu tercecer dan diambil oleh lokomotif lain.

Di awal abad ke-20, lokomotif pemuda bergerak maju menerjang aral pemerintahan Kolonial Belanda. Organisasi modern bermunculan yang diawali oleh Boedi Oetomo (BO) 20 Mei 1908. Tujuan utama dari diprakarsainya BO oleh pemuda Sutomo adalah memajukan kebudayaan dan pendidikan bangsa. Para pemuda kita saat itu telah sadar betapa pentingnya sebuah bangsa memiliki kebudayaan yang kuat. Kebudayaan yang hanya dapat dibangun oleh pendidikan yang bekesinambungan.

Dengan tetap menjaga dan memajukan kebudayaan, sebuah bangsa akan memiliki sebuah kebanggaan identitas. Identitas yang mengejawantah menjadi ciri pembeda antar bangsa. Para pemuda tetap bangga menggunakan destar dan kain batik meski alam pemikiran mereka sudah jauh dari apa yang dikatakan tradisional.

Namun, ironis rasanya melihat apa yang terjadi dengan para pemuda saat ini. Mereka yang protes dengan pencaplokan kebudayaan oleh Malaysia, belum tentu mengenal kebudayaannya sendiri. “rumput di halaman tetangga selalu terlihat lebih hijau”, seakan dapat menggambarkan tendensitas golongan muda.

Marilah kita refleksikan kepada diri sendiri: Seberapa banyak di antara kita yang tahu cara memainkan alat musik, menyanyikan lagu daerah, atau minimal tahu cerita rakyat di daerah kita sendiri? Menyesakan ketika sadar bahwa pemuda kita jauh lebih menyukai musik dan budaya populer yang dianggap lebih “keren”. Kita lebih tahu bermain alat musik drumb, keyboard, atau gitar electrik. Kita pula lebih pandai dan hafal lagu dari grup band muse, U2, atau greenday, daripada lagu rasa sayange misalnya yang telah diklaim oleh Malaysia.

Namun sebagai bagian dari kaum intelektual muda, amanah kita tidak hanya sampai sekedar tahu. Lokomotif kebudayaan bangsa ini harus melengkapi dirinya dengan teropong beresolusi tinggi yang dapat memandang jauh dan detail. Sehingga demikian, budaya yang dipahami tidak hanya ada di permukaan.

Mahasiswa yang telah amat akrab dengan kegiatan berdiskusi dan meneliti, berkewajiban mengembangkan ide baik dari dan untuk kebudayaan itu sendiri. Jadi bukan hanya berbicara ini dan itu tanpa tahu lebih dalam. Dengan penelitian, kita dapat mengkaji budaya hingga akar-akarnya. Hasil penelitian dapat pula dipublikasikan kepada publik untuk menunjukan nilai ilmiahnya. Dengan demikian, akan banyak fakta terungkap yang mungkin bangsa kita belum tahu sebelumnya.

Marilah kita sebagai bagian dari kaum intelektual, berikan pengabdian kita bagi bangsa. Tunjukan pada dunia bahwa kebudayaan kita memiliki nilai-nilai luhur melalui perspektif ilmiah. Kita jaga dan kembangkan kebudayaan ini. Agar dapat tetap beriringan, dalam naungan kereta Negara Kesatuan Republik Indonesia.

sumber koran: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/265431/

Rekomendasi Artikel:

Sudah Baca yang Ini?

2 Comments

  1. kayaknya negara tetangga menganggap Indonesia kurang memperhatikan budanya manya di klaim sama mereka 🙂

    • yaaa.. negara terlalu kaya dan pemurah sih. jadi tenang-tenang saja kekayaan budayanya diklaim orang 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow My Blog

Silakan daftarkan alamat email kamu untuk mendapatkan notifikasi tiap kali ada tulisan baru, gratis!

Join 7,144 other subscribers

Top Blog