Pengkerdilan Peran Perempuan Dalam Pemikiran Yunani

Pengkerdilan Peran Perempuan Dalam Pemikiran Yunani

Pendahuluan

Catatan sejarah ilmu pengetahuan manusia diawali pada masa Yunani Kuno. Di masa ini, dikembangkan ilmu filsafat yang menjadi cikal bakal cabang-cabang ilmu baik alam, sosial, dan humaniora. Dari tempat ini pula semangat renaissance berasal yang sempat redup di abad pertengahan. Di masa kejayaan peradaban Yunani Kuno, warga Athena mengembangkan budaya diskusi dan dialog antar sesama. Ada tempat yang dinamakan Agora yang oleh warga Athena digunakan sebagai tempat berkumpul. Di sana mereka bisa bertemu warga Athena lain dan mendiskusikan berbagai fenomena yang menarik perhatian mereka. Dari kebiasaan inilah, lahir pemikir-pemikir besar Yunani Kuno seperti Sokrates, Plato, dan Aristoteles.

Para filsuf besar Yunani Kuno tersebut amat dikenal seantero dunia. Peranannya amat besar terhadap kemajuan dunia Eropa yang dicapai hingga saat ini. Hasrat akan pengembangan ilmu pengetahuan baik praktis atau teoritis, amat terpengaruh dengan fondasi pemikiran para filsuf Yunani Kuno. Dari peradaban inilah, konsep tentang hak asasi manusia dan humanisme diperjuangkan. Bagaimana perhatian manusia yang sebelumnya terpaku pada fenomena alam, mulai bergeser pada diri manusia sendiri. Manusia dianggap sebagai makhluk dinamis yang mampu menentukan nasibnya sendiri di tengah interaksinya dengan alam.

Namun, di sudut-sudut keluhuran filsafat Yunani kuno, ada celah yang menjadi anomali dari pengkultusannya terhadap derajat manusia. Para pemikir yang menggagungkan logika dan rasionalitas itu, seakan melupakan bahwa ada makhluk yang bernama perempuan. Perempuan ditempatkan oleh mereka pada derajat yang tidak setingkat dengan kaum laki-laki. Ada diskriminasi dalam pemikiran para filsuf ini terhadap perempuan baik yang jelas terliat atau tersembunyi. Dari perlakuan diskriminatif yang tersembunyi itu, hanya akan dapat diungkap melalui cara pandang fenimisme, bukan falogocentris yang hanya melihat sesuatu dari sudut pandang laki-laki. Lebih jauh lagi, pemikiran para filsuf masa Yunani kuno ini, diakui masih memiliki pengaruh pada masa kini. Bukan hanya rasionalitas dan logika yang digunakan, tapi paham patrialkal yang tetap terjaga dalam konstruksi sosial masyarakat. Dalam tulisan ini, akan diungkap bagaimana tendensitas perlakuan diskriminatif terhadap kedudukan perempuan yang terkandung dalam pemikiran para filsuf Yunani Kuno dan pengaruhnya yang masih dirasakan hingga masa modern ini.

Sejarah Filsafat Yunani Kuno

Ketika kita mendengar kata filsafat, maka perhatian kita akan bermula dari Yunani Kuno. Namun sebelumnya, perlu dipahami apa pengertian dari kata filsafat itu sendiri. Dikutip dari situs pendidikan.net,

“Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan.”[1]

Dari pengertian di atas, ada beberapa hal yang dapat kita pahami dari filsafat:

Pertama, bahwa filsafat itu dapat berupa pandangan individu atau sekelompok masyarakat terhadap sesuatu yang dicita-citakan. Pemikiran yang lahir saat itu adalah hasil dari penalaran dan rasa ingin tahu manusia dengan alam sekitar. Dari rasa ingin tahu ini, ada tindakan untuk meneliti dan diakhiri dengan kesimpulan. Namun tak dapat dinafikan pula tentang pengaruh masyarakat. Sebagai bagian dari anggota masyarakat sosial, mustahil pemikiran seseorang terlepas jauh dari apa yang diyakini oleh masyarakat tersebut. Oleh karena itu, pemikiran dari satu filsuf Yunani Kuno saat itu, bisa menjadi representasi dari realita faktual masyarakatnya.

Kedua, bahwa filsafat itu adalah hasil pemikiran yang mendalam seseorang terhadap suatu fenomena. Ketika melihat atau menemukan sebuah fenomena, seseorang akan berfikir mengapa dan bagaimana. Dari dua kata tanya dasar itulah akan lahir sebuah filsafat. Seperti teori abiogenesis yang dikemukakan oleh Aristoteles. Sebagai pelopor ilmu biologi, Aristoteles berpendapat bahwa makhluk hidup berasal dari benda mati. Ini bermula ketika ia melihat seekor katak yang keluar dari air, atau tikus yang tiba-tiba berlari dari tumpukan kain bekas. Berdasarkan pengamatan tersebut, Aristoteles berpendapat bahwa katak itu berasal dari air dan tikus berasal dari tumpukan kain bekas. Kesimpulan yang dibuat oleh Aristoteles ini terlihat “menggelikan” jika dibandingkan dengan teori biogenesis[2] yang kita pahami saat ini. Perlu diingat lagi, bahwa pemikiran mendalam seorang individu tak dapat dilepaskan dari keadaan faktual masyarakatnya. Saat itu, pengaruh mitologi atau mitos dalam masyarakat Yunani Kuno masih sangat kuat. Namun, dari rintisan ini, ada sinyal positif bagi perkembangan filsafat yang dikemudian hari akan membebaskan alam pemikiran manusia dari mitos dan tahayul.

Perkembangan filsafat Yunani Kuno sendiri berawal dari hal terdekat manusia, yakni alam. Pengamatan akan alam saat itu amat menarik perhatian masyarakat Yunani Kuno. Ada tiga filsuf dari kota Miletos yaitu Thales, Anaximandros dan Anaximenes yang membuat penalaran tentang elemen pada alam. Khususnya Thales, ia berpendapat bahwa prinsip atau elemen dasar dunia ini adalah air. Ia menganggap air adalah sumber dari kehidupan bahkan bumi sendiri dianggapnya berada di atas air.

Pemikiran ini berkembang dengan teori Pythagoras tentang jiwa. Ia berpendapat bahwa manusia itu terdiri elemen jiwa yang kekal atau tak pernah musnah. Ketika seseorang meninggal, maka jiwa itu akan reinkanasi ke wujud manusia lain atau hewan. Hal ini tergantung dengan bagaimana perbuatan manusia tersebut di dunia. Menurut Pythagoras lagi, reinkanasi ini baru akan berhenti jika manusia tersebut dapat mensucikan dirinya dari perbuatan buruk. Dengan itu, jiwa manusia akan berhenti ber-reinkanasi dan kekal beradai di alam selain dunia. Hukum kekekalan ini ditolak oleh Heracleitos yang berpendapat bawa tak ada yang abadi di dunia ini. Ia berkeyakinan bahwa prinsip atau elemen dasar dunia ini adalah api. Ketika api membakar kayu, maka kayu tersebut akan berubah menjadi abu, dan api tetap akan menjadi api lalu hilang begitu saja.

Perkembangan terus terjadi terhadap bahasan populer filsafat tentang makna manusia dan kehidupan. Demokritos mengutarakan pendapatnya bahwa jiwa manusia terdiri dari atom-atom. Atom-atom atau partikel terkecil dari sebuah unsur ini menyusun tubuh dan jiwa manusia hingga terbentuk sebuah organisme sempurna. Ketika sebuah makhluk wafat, maka atom-atom ini akan terurai dan membentuk sebuah organisme lain bersama atom-atom yang lain.

Era filsafat yang berfokus pada eksistensi manusia atau Antropocentris dimulai oleh Sokrates. Dalam peranannya, Sokrates  mengembangkan metode dialog sebagai sarana pembentukan alam pemikirin kritis manusia. Alih-alih memberikan ceramah seperti menuangkan air ke dalam gelas, Sokrates lebih cenderung melakukan tanya jawab kepada para pengikutnya. Ketika ada sesuatu fenomena yang menarik perhatian pengikutnya, ia berlaku seperti seorang bodoh dengan mengajukan banyak pertanyaan. Dari mulai hal terkecil sampai tersulit ia ajukan dalam rangka melatih penalaran orang yang ditanyainya. Di akhir dialog, akan terbangun sebuah pemahaman yang lebih mendalam akan suatu persoalan. Metode ini merangsang daya kreasi manusia untuk menjawab suatu persoalan lewat pemikirannya sendiri.

Bukan hanya Sokrates, muridnya yang bernama Plato ikut memberikan sumbangan berharga bagi dunia ilmu pengetahuan. Satu dari beberapa karya agungnya yakni Republik. Sebuah risalah berisi gagasan Plato tentang bentuk negara yang ideal. Berawal dari kekecewaannya terhadap sistem demokrasi Athena yang telah menghukum mati Sokrates, ia melihat bentuk negara Sparta sebagai format yang ideal. Menurut Plato, komponen dalam negara terdiri dari pemimpin/filsuf, tentara, dan pekerja. Tiap komponen memiliki peranan penting dan saling melengkapi. Dari mulai pekerja yang menjadi sumber produksi dan perekonomian negara. Mereka harus tunduk dan sekaligus dilindungi dalam peranannya sebagai penggerak roda perekonomian. Sementara itu, tentara menjadi pihak pelindung para pekerja yang akan menjamin lancarnya kegiatan produksi. Para tentara ini diatur oleh pemimpin/filsuf yang memiliki kebijaksanaan untuk membuat keputusan. Para pemimpin/filsuf ini berasal dari orang-orang terpilih yang memiliki keturunan pemimpin/filsuf yang bijak. Oleh karena itu, akan tercipta harmoni dari hubungan tiga unsur dalam membentuk sebuah negara.

Selanjutnya, murid Plato yang turut memberikan sumbangan berharga bagi peradaban filsafat barat adalah Aristoteles. Ia dikenal sebagai seorang filsuf dan peletak dasar ilmu biologi. Sumbangannya terhadap ilmu biologi terdapat pada klasifikasi awal terhadap makhluk hidup. Ia membagi beberapa makhluk hidup yang mampu diklasifikasi ke dalam golongan-golongan hewan atau tumbuhan. Rintisan awal Aristoteles inilah yang di masa modern, dikembangkan oleh Carolous Lineus menjadi taksonomi makhluk hidup dalam tingkatan-tingkatan dikotomis. Selain dalam bidang biologi, Aristoteles punya peranan penting dalam dunia sastra khususnya drama. Pemikirannya tentang drama dituangkan dalam buku berjudul Poetika. Dalam buku ini, ada pandangannya tentang kedudukan drama di antara cabang sastra yang lain dan karakteristik serta elemen dalam drama.

Rekomendasi Artikel:

Kata Kunci

Sudah Baca yang Ini?

Pages: 1 2 3

5 Comments

  1. setuju bhwa pemerkosaan adl tindakan pemaksaan yg dilakukan tanpa minta persetujuan objek. ini mirip sekali dg kejadian di kampung saya, yaitu pengerasan jalan raya yg mengorbankan pohon2 perindang dg alasan keluar dr batas tepi jalan. suara ibu2 yg menolak tdk ditanggapi dg alasan “ini bukan urusan perempuan”, pdhl korban dr penggundulan perindang jalan ini adl perempuan, yaitu ibu2 yg sehari2nya beraktivitas di rumah. lingkungan jd panas, sama sekali tdk teduh. anak2 tak bs bermain di luar kec pagi dan sore. bukan urusan perempuan? ckckckck

    • ya begitulah konstruksi sosial yang ada di masyarakat kita. Sebetulnya tujuan dari semua itu adalah kekuasaan. Tak ada manusia yang mau mengurangi otoritas yang sedang dipegangnya. Termasuk pengurangan kadar kekuasaan dari laki-laki ke perempuan.

  2. great. just enjoy it 🙂

  3. still wanna study bout ur article. i like to learn more about gender

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow My Blog

Silakan daftarkan alamat email kamu untuk mendapatkan notifikasi tiap kali ada tulisan baru, gratis!

Join 7,142 other subscribers

Top Blog