PERANG KEPENTINGAN METRO TV- TV ONE

PERANG KEPENTINGAN METRO TV- TV ONE

Pendahuluan

Media menjadi bagian yang teramat penting dalam kehidupan manusia saat ini. Akselerasi hidup yang menuntut manusia untuk harus serba cepat, berakibat pada arus informasi yang diminta pun semakin deras. Terlebih lagi di era segala sesuatu serba on-line seperti belakangan ini. Media on-line tidak lagi hanya dimanfaatkan sebagai sarana komunikasi saja. Media pemberitaan saat ini telah memanfaatkannya pula untuk mempercepat arus informasi dari para wartawan langsung ke khalayak. Tiap ada peristiwa yang baru terjadi, informasinya akan segera diterbitkan di media online. Sedangkan jika hanya mengandalkan media cetak seperti koran atau majalah, isi berita tersebut baru akan diketahui khalayak keesokan harinya. Media jejaring sosial (Social  Network) seperti Facebook dan twitter tak luput dari bidikan media pemberitaan sebagai sarana pewartaannya.

Melihat perkembangan ini, media massa amat riskan untuk ditunggangi oleh kepentingan individu, kelompok, atau golongan tertentu. Seperti yang diutarakan oleh Marxian bahwa media massa berpotensi untuk menyebarkan ideologi dominan. Melalui kekuatannya yang amat besar untuk mempengaruhi opini masyarakat, akan amat terselubung ketika ada muatan-muatan tertentu yang berusaha disisipkan dalam pemberitaan sebuah media kepada masyarakat. Seperti apa yang mulai terjadi di Indonesia pasca reformasi ini. Beberapa media besar dikuasai oleh kepemilikan tertentu yang memeiliki kedekatan dengan pihak pemerintah atau politik oposisi. Surya Paloh, dengan Metro TV dan Harian Media Indonesia, dan Abu Rizal Bakrie, dengan TV One dan Antevenya, adalah dua seteru yang amat memanfaatkan media pewartaan sebagai sarana pembentukan opini di dalam masyarakat. Di dalam berita-berita yang diterbitkan oleh Metro TV dan TV One terutama, ada tendensi bagaimana keterpihakan dua media itu pada pemiliknya masing-masing. Dalam tulisan ini, akan ditelaah lebih jauh bagaimana pengaruh kepemilikan terhadap isi pemberitaan yang diterbitkan oleh Metro TV beserta media grup dan TV One bersama Bakrie grupnya. Hingga dapat dilihat mengenai hegemoni media yang berusaha dibangun melalui kekuatan media massa sebagai alat pembentuk opini publik.

Globalisasi 3.0

Menurut beberapa ahli, dunia saat ini memasuki era globalisasi 3.0. Hal ini disebutkan oleh Thomas L. Friedman, dalam bukunya yang berjudul The world is Flat, dengan menitikberatkan penyebaran arus informasi pada individu-individu manusia sendiri. Ketika pada masa globalisasi 1.0, peradaban digerakan oleh kerajaan-kerajaan besar seperti Britania Raya dengan penguasaan terhadap samuderanya yang luas. Kemudian pada era globalisasi 2.0, identitas kemajuan zaman ditentukan oleh perusahaan-perusahaan multinasional. Dimana mereka memiliki peranan amat besar pada arus uang dan barang yang beredar di dunia. Pada masa globalisasi 3.0 ini, individu memiliki peran yang amat besar. Berkembangnya teknologi komputer pribadi (Personal Computer) yang amat luas beserta jaringan internet, membuat individu dapat mengidentifikasi dirinya sendiri dan berhubungan dengan dunia atas identitas dirinya sendiri pula.

Dalam era ini, internet berkembang amat pesat dan semakin jauh menjadi kebutuhan wajib manusia. Melihat efisiensi dan kehandalan internet, tak heran sarana komunikasi ini menjadi amat fital di masa sekarang. Seseorang saat ini bukan lagi hanya menunggu informasi melainkan secara aktif mencari informasi itu sendiri. Individu memiliki akses yang lebih luas terhadap informasi yang bisa didapatkan dari sumber manapun. Berjuta situs tersebar di belantara internet, tiap situs menyediakan informasi yang sesuai dengan tujuan.

Selain itu, masih tak dapat dipungkiri peranan media elektronik lain seperti televisi dan radio. Dua media itu masih cukup penting dalam takaran sebagai media penyampai informasi publik. Sedangkan untuk media cetak seperti koran, mereka saat ini memanfaatkan perkembangan media internet sebagai media pendukungnya. Tak sedikit media massa cetak saat ini yang selain tetap menerbitkan edisi cetak, mereka pun membuat versi digital dengan menerbitkannya di website resmi mereka. Tiap salinan dari berita atau artikel di media cetak tersebut, akan dapat diakses pula secara bebas melalui media website. Bahkan saat ini, proses penyebaran informasi ini lebih cepat dengan bantuan media jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter.

Hal ini merupakan sebuah revolusi besar di dunia media. Dimana informasi semakin dekat dan amat mudah diakses oleh masyarakat. Bahkan bukan hanya mudah didapatkan, berita itu seakan-akan memang menghampiri masyarakat dan “memaksa” untuk dikonsumsi. Pasar media menjadi semakin luas. Pada beberapa tahun ke belakang, hanya mereka yang membutuhkan informasi saja yang rela berlangganan atau membeli koran di loper terdekat untuk kemudian membacanya di pagi hari. Bagi mereka yang tak terlalu berminat, maka akan tertinggal informasi. Berbeda dengan masa kini. Setelah munculnya televisi, proses informasi semakin cepat ketika seseorang tak perlu lagi membeli koran. Orang hanya cukup mengaktifkan pesawat televisi, dan memilih program berita yang ada. Namun kini, ritual tersebut menjadi lebih mudah lagi. Tanpa perlu dicari, informasi dapat datang dengan sendirinya melalui berlangganan feed rss di media-media jejaring sosial.

Fakta ini menggiring masyarakat saat ini pada keadaan dimana informasi amat berpengaruh dalam kehidupan. Melalui kemampuannya untuk membentuk opini publik, media dapat berpengaruh pada kondisi ekonomi, politik, atau pun sosial budaya. Khususnya di Indonesia, pasca reformasi tahun 1998, telah membuka pintu liberalisasi pers seluas-luasnya. Tiap warga negara dilindungi hak-haknya untuk mengungkapkan pendapat. Tak ada lagi pembredelan terhadap media massa yang terindikasi melawan kehendak pemerintah. Ketika masa pra-reformasi kekuatan eksekutif amat kuat, kini kendali kebijakan amat dipengaruhi oleh kehendak dan opini publik.

Masih diingat kasus kriminalisasi dua pimpinan KPK, Bibit-Chandra, yang amat marak di media saat itu. Kasus yang kemudian meluas dengan sebutan “Cicak vs Buaya”, yang secara implisif menyimbolkan pertarungan antara KPK dengan Polri, mendapat perhatian amat besar dari masyarakat. Dimotori oleh media massa – media massa nasional yang mengangkat topik ini ke permukaan, melalui dunia jejaring sosial, masyarakat marak mendiskusikannya. Di Facebook saja, muncul beberapa group yang isinya memberikan dukungan kepada Bibit-Chandra dalam menghadapi kriminalisasi yang coba dilakukan terhadap KPK. Arus dukungan rakyat semakin besar, hingga pemerintah pun merasa terdesak, dan meminta kasus Bibit-Chandra untuk dihentikan pengusutannya.

Di satu sisi, kemajuan ini amat luar biasa. Rakyat kini memiliki kekuataan untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah. Sesuatu yang dianggap menyalahi nilai-nilai keadilan, dapat diperjuangkan melalui media massa untuk kemudian dijadikan bahan pertimbangan pemerintah. Ada fungsi media sebagai alat kontrol sosial yang mulai terealisasi di sini.

Namun, hal ini akan amat berbahaya ketika pemberitaan disisipi oleh kepentingan atau maksud-maksud yang menyalahi prinsip netralitas dalam pers. Seperti kasus pemecetan wartawan kompas dan detik pada tahun 2010 ini(Analisa 18-12). Kedua orang wartawan itu disangkutpautkan dengan insider trading pada penjualan saham perdana PT. Krakatau Steel. Dengan kapasitasnya sebagai wartawan, mereka membuat berita negatif terkait dengan PT. Krakatau Steel. Efek dari pemberitaan negatif ini adalah nilai saham yang jatuh dari penjualan saham perdana perusahaan BUMN tersebut. Di sini dapat diidentifikasi bagaimana pemberitaan bias yang disengaja oleh wartawan, dapat berpengaruh besar bagi pembentukan opini masyarakat. Ketika kepercayaan masyarakat turun akibat pemberitaan negatif tersebut, maka menyebabkan harga saham turun yang kemudian dimanfaatkan oleh sekelompok orang.

Lebih jauh, efek negatif ini pun bisa terjadi ketika pemberitaan yang ada, dimanfaatkan untuk urusan partai seperti menonjolkan figur tertentu yang notabenya dia adalah pemilik dari media tersebut. Dengan demikian, hal ini dapat berujung pada hegemoni media yang akan melanggengkan kekuasaan pihak tertentu saja.

Rekomendasi Artikel:

Kata Kunci

Sudah Baca yang Ini?

Pages: 1 2 3 4

14 Comments

  1. Sepenuhnya media Indonesia dipegang para Politisi kok! Nonton TVRI aja…hehehhe

  2. Pada dasarnya semua media pasti mempunyai kepentingan, entah kepentingan baik atau kepentingan buruk, yang pasti mereka punya visi, kita sebagai penonton emang harus jeli melihat itu.

    Ada juga yang menarik pernah dikatakan PemRed TEMPO, mas Arif. Beliau bilang media gak boleh netral, bisa dibayangkan jika media bersikap netral untuk semua pemberitaan, kasus -kasus seperti nenek yang mencuri beberapa potong kayu pasti tidak akan mendapat simpati, karena dengan pemberitaan netral mencuri adalah salah. Media tidak boleh netral dan harus menjadi pengawas, melihat kebenaran dan memberitakannya.

    • betul sekali, setuju.Media memang tidak boleh netral, adanya media itu harus selalu memihak kepentingan rakyat. Cuma disayangkan apabila keberpihakan itu pada kepentingan politik dan sejumlah elit belaka.

  3. Efeknya cukup bahaya ya, Mas. Harusnya mereka netral, biar rakyat enggak bingung..

    • Jika menurut saya, fokus ada pada edukasi ke masyarakat. Tak apa jika media-media bertindak partisan, asal masyarakat memiliki tingkat melek media yang baik. apabila media dibuat netral semua, maka perspektif akan homogen. Persaingan perspektif yang dilakukan antar media membuat wawasan publik makin terbuka. Tinggal bagaimana publik yang cerdas dapat memilah dan memilih informasi yang diperlukan dan membiarkan yang tidak diperlukan.

  4. Metro TV dan TV One adalah 2 media tv yg saya sukai dan menjadi referensi saya dlm menonton berita2 terbaru, tp cukup miris jg melihat jika media mereka terlalu didominasi oleh kampanya politik. untuk itu Saya berkeyakinan untuk tidak memilih capres yg punya media TV.

    • jika menurut saya, tak perlu sampai antipati pada dua media berita tersebut. cukup kita sebagai pemirsa lebih cerdas dalam menyaring informasi.

  5. baik disadari atau tidak, semua hal itu ujung-ujungnya adalah kepentingan ekonomis. Media hidup dari iklan dan iklan ada karena adanya pemirsa tetap. UNtuk mendapatkan pemirsa, kontroversi harus sering dibuat

  6. Terimakasih mas infonya…….webnya menarik ijin salam kenal ya kalau butuh alat drumband bisa hubungi saya…

  7. Mungkin bisa benar yang anda katakan Ibu. Namun pendapat-pendapat Ibu jika boleh saya katakan masih bersifat spekulasi. Hal-hal tersebut sudah seperti rahasia umum di kalangan masyarakat kita. Apa yang dapat kita lakukan adalah berbuah yang terbaik daripada mempersoalkan masalah rasial atau etnis. 🙂

  8. Tak sepenuhnya perang juga, anda bolehs etuju dan boleh tidak, tapi hanya untuk bersaing memenangkan lebih banyak iklan mengeruk untung sebsar-besarnya, melalui permainan perasaan rakyat, agar kupa lapar, serta semakin bodoh dan tolol. Pemanang itu adalah bangsa “kulit putih”. Semua telah dikuasasi mereka sejak lama. Maka pejabat-pejabat hanya mainan mereka, KKN mereka, inilah yang berujung pada mafia kekuasaan. Belanda dulu pun memanfaatkan “kulit putih” negeri ini. Tapi di zaman Wiranto dan Prabowo masih aktif, “etnis putih” dijarah dan dibakar dimana-maa, dan di bawah SBY etnis ulet tapi mayoritas mereka curang dan licik dalam permainan hidup ini, kini aman karena SBY. TV-TV itu pun milik mereka. TV-TV itu seolah-olah membela rakyat dan hendak mengajak menjatuhkan rezim saat ini, pemerintah SBY, tapi ternyata tidak juga. Jadi tv-tv itu tidak jelas membela kejuangan rakyat tetapi cari untung belaka. Maklum di balik itu adalah orang “kulit putih”, dengan kuli-kuli kaum intelektual kita yang susah hidup dan akhirnya terbeli dengan beberapa juta rupiah, dan tidak punya nyali dalam mengungkap kebenaran, malas, dan tidak jelas. Kalau kebakaran tangki Pertamina Cilacap jelas bukan pengalihan isu, tapi kecerobohan. Tapi kalau berbagai berita mulai sidang pengadilan fitnah teroris terhadap tersangka teroris ustaz Abu Bakar Ba’asyir, bom-bom buku, perebutan ketua PSSI yang dibesar-besarkan, hingga tersangka penipu Selli dan tersangka karyawati korup Citibank, Melinda, juga bukan hanya pengalihan isu, tetapi dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya mengalihkan banyak isu. Utamanya soal skandal bank century, yang sebagian uangnya digunakan jelas untuk pemenangan SBY pada pemilu 2009. Tujuannya agar perhatian masyarakat tidak terpaku pada masalah-masalah yang tidak dilaksanakan pemerintah dalam membangun bangsa, dan agar dua media besar negeri ini, MetroTv adn TVOne, utamanya, sibuk memberitakan tetek-bengek itu. Sebab Indonesia diperkirakan akan mengalami seperti Tunisia, Mesir dan Libia, karena tidak mampu menciptakan harga-harga murah dan lapangan kerja buat rakyat. Juga isu santer bahwa SBY mungkin tidak bisa bertahan hingga 2014. Pola-pola seperti ini biasa dilakukan di masa lalu. Satu contoh bahkan di masa Sukarno saja, kelompok musik mengklaim dibayar Sukarno agar mau masuk penjara dengan isu musik ngak-ngik-ngoknya, akibat tekanan publik. Di masa Pak Harto lebih banyak dan lagi kejam. Tak perlu dirinci di sini. SBY juga melakukan hal sama meskipun terlihat seolah-olah tidak kejam terhadap rakyat. Tapi menyengsarakan rakyat banyak apa tidak kejam? Tapi pesaing-pesaing atau komponen-komponen SBY yang kini di luar kekuasaan juga sepertinya pengecut, dan beraninya hanya bicara atau sedikit memprovokasi dan tidak berani bertindak terang dan sistematis melengserkan SBY, meski situasi negeri ini sudah parah begini. Padahal oposisi-oposisi di Tunisia, Mesir dan Libia sangat canggih dalam menggerakkan dan memicu unjuk rasa besar efektif melengserkan. Ini bukan soal 2 tahun, 30 tahun, 40 tahun orang berkuasa, tetapi soal rakyat yang semakin dibuat lapar dan ketidak adilan serta korupsi semakin bebas lepas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow My Blog

Silakan daftarkan alamat email kamu untuk mendapatkan notifikasi tiap kali ada tulisan baru, gratis!

Join 7,142 other subscribers

Top Blog