Perbandingan Nasionalisme Jepang dan Indonesia

Perbandingan Nasionalisme Jepang dan Indonesia

(Perkembangan dan Perbandingan Nasionalisme antara Indonesia dan Jepang)

Pendahuluan

Melihat keadaan bangsa dan berkebangsaan masyarakat Indonesia dewasa ini, seakan-akan bangsa Indonesia hampir kehilangan keindonesiaannya. Kebebasan berdemokrasi yang diperoleh pasca reformasi 1998 belum menjadi formula ampuh dalam mempersatukan berbagai elemen bangsa Indonesia. Sering terjadi konflik antar suku seperti kasus Sampit Kalimantan Tengah beberapa tahun yang lalu. Selain itu, sentimen keagamaan pun turut marak belakangan ini. Kasus-kasus pengerusakan rumah ibadah dan intimidasi terhadap kelompok agama tertentu oleh oknum-oknum yang mengatas-namakan suatu agama, menjadi cerminan nyata wajah toleransi Indonesia yang rapuh.

Lebih jauh, pidato Presiden Amerika Serikat, Barak Obama, di Balairung UI Depok 10 November silam, menjadi sebuah “tamparan” bagi makna nasionalisme bangsa Indonesia. Obama seakan ingin menegur bangsa Indonesia dengan melontarkan semboyan Bhineka Tunggal Ika, Unity in Diversity, sebanyak dua kali. Sebuah semboyan sakti yang sejauh ini berhasil mempersatukan bangsa Indonesia menjadi sebuah negara meski belakangan, jarang dilontarkan oleh para pemimpin bangsa ini. Di dalam pidato itu, bukan tanpa alasan Obama hanya menekankan ceramahnya pada masalah toleransi kehidupan beragama. Meski ia memuji Indonesia sebagai negara yang mampu mengajarkan makna toleransi antar agama kepada dirinya, sejatinya hal ini merupakan kritik atas maraknya kekerasan berlatar-belakangkan agama di Indonesia. Obama seolah-olah ingin mengingatkan bangsa Indonesia lagi bahwa ada semboyan Bhineka Tunggal Ika yang harus kembali dimaknai nilai-nilainya.

Dari sini, penting rasanya untuk kembali menemukan makna nasionalisme Indonesia. Berpenduduk lebih dari 200 juta jiwa dengan ratusan suku bangsa, Indonesia menjadi negara dengan kemajemukan terbesar di dunia (Saifuddin, 2009). Mutlak, diperlukan sebuah pengikat antar suku bangsa ini demi mewujudkan Indonesia yang satu.

Memang jika hanya dilihat dari perspektif fisik, amat sulit menyatukan antar suku bangsa ini. Masa kolonial Hindia Belanda, telah memisahkan antar suku bangsa yang hanya terhubung oleh laut. Kebijakan diskriminasi pemerintah kolonial semakin memperuncing perbedaan ini, untuk kemudian dimanfaatkan sebagai komoditas politik adu domba. Hal ini dapat dilihat pada perang-perang  kedaerahan menentang pendudukan Belanda di nusantara. Di beberapa perang, sering Belanda memanfaatkan pasukan yang berasal dari lain suku atau latar belakang agama. Mereka yang pada saat itu hanya mengetahui identitas kesukuannya, saling serang karena apa yang mereka lihat hanya perbedaan warna kulit, bahasa, dan agama.

Penemuan kembali nasionalisme Indonesia perlu ditelusuri dari akar sejarahnya. Bagaimana rakyat kita pada masa sebelum abad ke-20, masih bersifat kedaerahan dibatasi oleh atribut geografis. Perang-perang yang masih bersifat kedaerahan dan tergantung pada pemimpin. Ketika pemimpin tesebut meninggal atau tertangkap, maka berakhirlan perjuangan. Seperti contoh perang Diponegoro atau perang Jawa (1825 – 1830). Meski perang ini pada dasarnya sama dengan perang-perang kedaerahan di tempat lain yang menuntut perlakuan tidak adil Belanda, cakupan perjuangannya hanya dibatasi oleh kepentingan daerah saja. Pemerintah Hindia Belanda dengan mudah mengadu domba orang Jawa dengan mendatangkan pasukan dari nusantara bagian timur sebagai serdadu. Hal ini semata-mata karena belum adanya konsep kesatuan dan ikatan batin yang mampu menjadi benang merah perjuangan yang sifatnya nasional.

Memasuki abad ke-20, arah angin telah berubah bagi bangsa Indonesia. Politik etis yang diterapkan Belanda, memberikan efek samping bagi tumbuhnya kaum terpelajar Indonesia. Bermodalkan pendidikan modern, para terpelajar ini memiliki pandangan yang lebih luas mengenai diri dan bangsanya. Mereka mulai membuka mata dan melihat ke luar batas geografis bahwa mereka adalah bangsa terjajah. Antar suku satu dengan yang lain, mulai ada ikatan penghubung sebagai sesama bangsa terjajah. Kesadaran itu muncul, dan memberikan pemahaman bahwa perjuangan untuk menjadi bangsa yang merdeka tidak dapat dilakukan secara parsial. Perlu ada cara-cara yang teroganisir dan modern. Maka, dibentuklah organisasi-organisasi pemuda yang mengusung nilai nasionalisme sebagai bangsa yang satu, bangsa Indonesia.

Titik awal dari penemuan nasionalisme bangsa Indonesia saat itu terjadi pada tanggal 28 Oktober 1928, yakni dengan dideklarasikannya Sumpah Pemuda. Dengan pernyataan sebagai bangsa yang satu, bangsa Indonesia; berbahasa satu, bahasa Indonesia; dan bertanah air satu, tanah air Indonesia, mengindikasikan bagaimana konsep pembentukan rasa kebangsaan itu terformasi. Para pemuda saat itu, dengan banyak perbedaan yang jelas antar mereka, berusaha menghilangkan dalam benak mereka tentang banyak perbedaan itu, dan menganggap (secara imaginer) bahwa mereka adalah satu bangsa.

Namun, tumbuhnya nasionalisme di Indonesia tidak dapat lepas dari pengaruh berkembangnya pula pergerakan nasionalisme di luar Indonesia. Dalam masa yang hampir bersamaan, beberapa bangsa di Asia Afrika saat itu mulai bergolak. Kesadaran sebagai bangsa yang ditindas oleh bangsa asing Eropa, meninbulkan gerakan-gerakan perlawanan yang bersifat nasional. Perlawanan di Filipina terhadap penjajahan Spanyol, memberikan inspirasi kepada Indonesia untuk turut pula menentang dominasi bangsa Eropa lainnya, yakni Belanda. Pembaruan di daratan Tiongkok dan Mesir oleh kaum terpelajarnya, memberikan motivasi bagi kaum terpelajar di negara-negara terjajah untuk melakukan sebuah revolusi. Tak ketinggalan pula dengan Jepang. Demi mengejar ketertinggalannya dari bangsa Eropa, kaisar Meiji melakukan perubahan besar-besaran di Jepang yang dikenal dengan restorasi Meiji.

Dari beberapa pergerakan yang terjadi di Asia dan Afrika, akan menarik jika menyoroti apa yang terjadi di Jepang. Dalam menumbuhkan rasa nasionalismenya, pemerintah Jepang melakukan upaya manipulasi rasakebangsaan penduduk dengan menerapkan politik isolasi atau Sakoku (1639 – 1854). Menurut Susilowati (2010) masa Sakoku diyakini sebagai titik awal terbentuknya nasionalisme Jepang. Dengan kebijakan ini, rakyat Jepang dapat menemukan identitas sendiri sebagai orang Jepang, dan mengembangkan rasa kebanggaan terhadap negaranya.

Akan lebih menarik lagi ketika perkembangan nasionalisme di Indonesia dengan Jepang diperbandingkan. Dari mulai sejarah pertumbuhannya, hingga nasionalisme itu dimaknai hingga masa ini. Selain itu, pengaruh nasionalisme Jepang yang terbukti dari kalahnya Rusia pada perang Rusia-Jepang (1904 – 1905), memberikan andil pula terhadap bangkitnya kepercayaan diri kaum terpelajar Indonesia dalam melawan penjajah Eropa. Hingga pada masa perang Asia Timur Raya (Perang Dunia II), nasionalisme Jepang yang tersalur dalam kekuatan militernya ini berdampak langsung di Indonesia selama tahun 1942 – 1945. Bagai sinar mentari Jepang yang memberikan kehangatan radiasi nasionalismenya bagi bangsa Indonesia di masa pergerakan, sampai akhirnya sinar itu panas membakar Indonesia selama masa pendudukan.

Rekomendasi Artikel:

Kata Kunci

Sudah Baca yang Ini?

Pages: 1 2 3 4 5

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow My Blog

Silakan daftarkan alamat email kamu untuk mendapatkan notifikasi tiap kali ada tulisan baru, gratis!

Join 7,142 other subscribers

Top Blog