Judul : “About Marriage”
Penulis : Danielle Crittenden

Perihal pernikahan ini mulai mencuat ketika tahun 1960 yang dipelopori oleh kaum Feminis. Menurut pandangan kaum ini, perempuan memiliki haknya sendiri untuk menolak dan memutuskan untuk tidak menikah. Karena pernikahan itu hanyalah suatu hal yang mengikat perempuan dalam suatu aturan, peran, yang kesemuanya merugikan bagi perempuan itu sendiri. Pada kenyataannya, pandangan ini tidak diterima oleh semua perempuan. Mayoritas dari perempuan merasa tersakiti dengan pendangan tersebut. Mereka masih menganggap bahwa pernikahan itu adalah sesuatu yang sakral, janji suci yang disertai oleh komitmen jangka panjang, yang tak dapat dipisahkan, kecuali ada suatu hal yang sangat mengancam keutuhan rumah tangga mereka.

Kaum feminis ini menganggap sudah tidak rasional lagi untuk kembali ke era pernikahan tradisonal seperti dekade 1950. Di mana perempuan hanya diberi pendidikan yang layak untuk dapat berkomunikasi dengan calon suami mereka yang berpendidikan lebih baik nanti. Perempuan juga sangat dibatasi akses di dalam masyarakat. Saat mau menikah, biasanya orang tua yang menentukan calon yang pantas bagi mereka. Setelah menikah, mereka hanya menjadi ibu rumah tangga yang mengurus rumah dan anak-anak. Hal ini dipandang telah mencegah perempuan untuk dapat berprestasi di luar rumah. Kontribusi perempuan sangat kecil bagi kemajuan bangsa, yang mungkin berpotensi sangat besar.

Inti dalam langgengnya sebuah rumah tangga itu sendiri bukan hanya sebatas pembagian tugas antara suami dan istri. Tapi lebih pada saling pengertian akan peran dan fleksibelitas antar peran yang dipegang. Tidak melulu bahwa seorang ayah hanya bertugas untuk mencari nafkah di luar rumah, sedangkan tugas ibu adalah di rumah dan mengurus anak. Antara pasangan tersebut, harus ada rasa saling mengerti satu sama lain. Tidak masalah jika seorang ayah mengurus pula anak di saat sang istri tidak sempat. Selain itu, juga tak masalah jika istri bekerja di luar rumah, sebagai penyaluran dari potensi yang Ia miliki. Jika hal tersebut dijalankan, maka angka perceraian yang didorong oleh masalah peran yang kaku akan bisa diturunkan.

Di dalam pemikiran perempuan moderen akhir-akhir ini, mereka merasa sudah tidak terlalu membutuhkan laki-laki sebagai suami mereka. Mereka menganggap dengan adanya suami, hal tersebut akan membatasi kebebasan mereka di luar rumah. Bahkan dari penelitian paling mutakhir, sudah ditemukan teknik kloning dalam reproduksi manusia. Hanya dibutuhkan sel ovum, dan sebagai pengganti sel sperma tersebut dapat digunakan sel dari kulit manusia saja. Oleh karena itu, perempuan moderen merasa dapat memenuhi kebutuhannya sendiri, dan mungkin membutuhkan pria sebatas rekreasi.

Budaya rumah tangga seperti itu, sebenarnya meniru apa yang dilakukan oleh para homoseksual dan lesbian. Mereka tidak mempermasalahkan peran yang dimiliki. Mereka sangat fleksible, dapat suatu waktu berperan sebagai ayah, atau ibu. Sehingga peran di antara mereka itu sejajar dan tak ada bedanya. Hal ini yang ada dalam pemikiran kaum feminis mengenai utopia unisex. Dalam keluarga tersebut, tak ada suami, istri, ayah, atau ibu. Yang ada hanya partner atau rekanan dengan peranan yang sama di dalam atau di luar rumah.

Faktor yang mendorong percepatan perceraian dalam keluarga adalah masalah kewajiban dan peran. Kadang kala, suami atau istri, tidak puas dengan kewajiban yang mereka miliki. Mereka merasa memiliki tugas yang lebih berat dari yang lain. Oleh karena itu, ketika sudah merasa tidak cocok, dengan mudahnya, didukung oleh hukum yang berlaku, mereka memutuskan untuk bercerai.

Jika di zaman abad pertengahan, ketika pengaruh gereja masih sangat kuat, perceraian dianggap sebagai sesuatu yang tabu. Orang yang melakukan itu, dianggap seperti kriminal yang terkucilkan dari masyarakat. Teman-teman sejawatnya, biasanya akan mencap orang itu sebagai seseorang yang tak baik. Selain itu, tetangga juga mencibir dan akan menjadi bahan pembicaraan hangan untuk waktu yang cukup lama.

Rekomendasi Artikel:

Kata Kunci

Sudah Baca yang Ini?

Pages: 1 2