Perpustakaan Inklusif bagi Semua

Perpustakaan Inklusif bagi Semua

*Esei ini pernah diikutsertakan dalam lomba Penulisan Artikel Kepustakawanan Indonesia (LPAKI) Perpustakaan Nasional 2008*

Buku adalah suatu bentuk hasil kebudayaan yang tidak bisa dilepaskan dari perjalanan peradaban manusia. Dimulai pada zaman sejarah, manusia sudah dapat mengenal tulisan dan menyimpan catatan kebudayaan mereka dalam bentuk tertulis. Di zaman moderen ini, buku sudah dikemas dengan sedemikian apiknya. Kita bisa mendapatkan dan membaca buku dengan mudah. Bahkan sudah tersedia kini buku dalam bentuk elektronik. Perpustakaan, sebagai tempat penyimpanan koleksi buku-buku bagi umum, benar-benar memanjakan minat membaca masyarakat. Dengan penglihatan yang kita miliki, tampilan visual dari tulisan, gambar, dan grafik dalam buku merupakan sesuatu yang sangat menyenangkan untuk dibaca.

Di luar semua itu, pernahkah kita memikirkan bagaimana seorang tunanetra menikmati semua kemudahan tersebut? Dalam sebuah acara talk show di salah satu televisi swasta, Irwan Dwikustanto, seorang tunanetra yang menulis buku antologi puisi Angin pun Berbisik, mengatakan bahwa buku bagi seorang tunanetra bagai “sesak dalam ruang oksigen”. Banyak buku yang tersedia baik di perpustakaan atau toko buku, tetapi tunanetra tidak bisa menikmatinya. Dalam artikel ini, kita akan mencoba membahas tentang harapan dan mimpi seorang tunanetra pada akses ilmu pengetahuan yang tak terbatas melalui media buku.

Pada awalnya, buku tidak seperti yang kita kenal sekarang ini, berupa lembaran-lembaran kertas yang dikumpulkan dan dijilid dalam sebuah komposisi secara sistematis. Di zaman sebelum ada kertas, catatan ditulis dalam media tulang-belulang, lembaran kulit binatang, lempengan batu, tanah liat, sampai rumput papyrus yang digunakan di Mesir kuno. Setelah dirasakan semakin beragam hasil kebudayaan yang harus didokumentasikan oleh manusia, tulisan-tulisan yang terpisah itu dikumpulkan dalam tiap kategori. Semakin jauh peradaban manusia, makin banyak pula tulisan yang dibuat. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah tempat sebagai penyimpanannya. Tempat itu juga harus bisa dipergunakan untuk kebutuhan umum. Pada akhirnya, dikenallah perpustakaan yang menampung hasil-hasil dokumentasi bagi kebutuhan kolektif. Perpustakaan kuno pertama didirikan pada 3000 tahun sebelum masehi di daerah MessoPotamia. Koleksi di perpustakaan yang dibangun oleh raja Ashurbanipal itu, disimpan dalam puluhan ribu lempengan tanah liat yang menggunakan huruf Paku adopsi dari bangsa Sumeria. Kemampuan untuk mendokumentasikan peristiwa dan pengetahuan melalui tulisan tidak hanya di messopotamia, tapi juga sudah dikenal di pusat-pusat kebudayaan dunia seperti mesir dan India. Keadaan perpustakaan terus berkembang dan semakin praktis seiring dengan kemajuan teknologi yang mampu dihasilkan.

Setelah ditemukannya kertas, dikenallah perpustakaan tradisional. Kertas merupakan salah satu penemuan terbesar dalam sejarah manusia. Dokumentasi akan suatu hal yang sebelumnya dituangkan dalam benda-benda seperti tulang-belulang, lenpengan batu, dedaunan, dan tanah liat, menjadi ringkas dan praktis. Kini dokumentasi tersebut tertulis dalam kitab-kitab menggunakan huruf-huruf universal yang bisa dibaca oleh manusia pemilik kebudayaan. Selain itu, perpustakaan untuk menyimpan kitab-kitab itu juga bisa diperkecil. Tidak lagi diperlukan tempat yang terlalu besar untuk menyimpan koleksi buku-buku. Perpustakaan inilah yang kemudian disebut perpustakaan tradisional. Perpustakaan tradisional adalah perpustakaan yang menyimpan buku-buku atau majalah dalam bentuk tercetak (wikipedia.org). Perpustakaan ini dibangun dan dikelola oleh institusi atau pemerintah pada daerah tersebut. Koleksi di dalamnya diperuntukan bagi masyarakat umum yang tidak mampu untuk memiliki buku-buku sendiri, sehingga dapat meminjam buku yang ingin dibacanya.

Di zaman moderen yang sudah berbasis teknologi informasi, perpustakaan moderen semakin mudah dan nyaman bagi penggunanya. Bermula dari perpustakaan tradisional yang tidak menggunakan katalog, perpustakaan semi moderen mulai dilengkapi oleh katalog (Romi Satria Wahono, 2006). Katalog adalah kumpulan informasi mengenai buku-buku yang terdapat dalam perpustakaan. Hingga akhirnya katalog ini tidak tersedia lagi dalam bentuk tertulis. Katalog dalam perpustakaan moderen, dibuat dalam bentuk media elektronik. Kita kenal istilah opac atau on-line catalog yang tersedia dalam perpustakaan yang sudah berbasis teknologi informasi. Dengan Opac, pengguna perpustakaan tidak perlu lagi menelusuri daftar dalam katalog yang panjang dan melelahkan, tapi hanya perlu memasukan kata kunci berupa judul buku, pengarang, atau kategori untuk buku yang ingin dicari. Hal ini semakin mempercepat pencarian akan sebuah informasi. Selain itu, dengan Opac pengguna perpustakaan bisa mencari sebuah buku yang terdapat dalam perpustakaan lain selama masih tergabung dalam satu jaringan perpustakaan. Seperti yang diterapkan di universitas, perpustakaan dari tiap fakultas dapat diakses dalam satu opac yang mengintegrasikan semua katalog. Pengguna perpustakaan akan sangat dipermudah dengan kemajuan teknologi ini. Tidak diperlukan lagi menyelesuri masing-masing katalog dari tiap perpustakaan. Cukup dengan satu opac, suatu judul buku dapat ditemukan walaupun kita belum tahu ada diperpustakaan mana buku tersebut disimpan.

Di balik semua kemudahan dari teknologi informasi dalam perpustakaan, para tunanetra tetap tidak bisa menikmati kekayaan informasi dan ilmu pengetahuan yang disediakan. Tunanetra seperti layaknya manusia normal, memiliki hasrat akan ilmu pengetahuan. Mereka merindukan akses seluas-luasnya akan sumber informasi tersebut. Selama ini, akses mereka ke ilmu pengetahuan sangat terbatas. Ilmu pengetahuan hanya didapatkan berupa buku berhuruf braille yang disediakan oleh sekolah-sekolah luar biasa atau yayasan-yayasan tertentu. Baru sedikit perpustakaan umum yang menyediakan buku dalam format huruf braille. Itu pun hanya untuk beberapa judul buku saja. Sehingga salah satu persamaan hak yang harus didapatkan oleh tunanetra adalah akses ke perpustakaan umum.

Rekomendasi Artikel:

Kata Kunci

Sudah Baca yang Ini?

Pages: 1 2 3 4

4 Comments

  1. sip ,mantap nice artikel

  2. oh salam kenal. saya dari Program Studi Inggris FIB UI. semangat ya buat tulisannya. Setuju karena kwantitas dan kualitas perpustakaan adalah indikator tingkat peradaban suatu bangsa.

  3. sama-sama. semoga bisa memberikan sedikit kontribusi bagi masyarakat umum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow My Blog

Silakan daftarkan alamat email kamu untuk mendapatkan notifikasi tiap kali ada tulisan baru, gratis!

Join 7,142 other subscribers

Top Blog