Setiap insan manusia memiliki budaya yang terbentuk dari cipta, rasa, dan karsa pemiliknya. Ia dibangun oleh berbagai unsur dalam masyarakat yang jalin-menjalin menjadi sebuah sistem budaya. Menurut Koentjaraningrat (1990), ada tujuh unsur universal penyusun sistem budaya yang berlaku global. Adapun ketujuh unsur universal itu meliputi bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian hidup, sistem religi, dan kesenian(Koentjaraningrat, 1990: 203-204). Lebih jauh lagi, unsur-unsur kebudayaan ini akan terinternalisasi dalam diri tiap individu anggota komunitas. Bahkan ketika individu tersebut keluar dari komunitasnya (imigrasi), akan ada sebuah pencitraan identitas yang mampu membedakannya dari komunitas berbeda tempat ia berada sekarang. Melihat pentingnya identitas bagi diri tiap manusia, maka akan ada usaha-usaha pemertahanan budaya asal di tempat yang baru.

Namun, masalah akan timbul ketika para imigran ini telah berketurunan, dan harus mewariskan kebudayaan asal pada generasi penerus ini. Konflik antar generasi dapat terjadi selama proses enkulturasi yang diakibatkan oleh perubahan parameter eksternal seperti adanya sentimen negatif terhadap budaya asing. Dalam esei ini, akan dibahas bagaimana pertentangan budaya antar generasi imigran dapat terjadi karena kecenderungan dari generasi pertama imigran untuk mempertahankan budaya asal, namun mengalami penolakan dari generasi imigran berikutnya yang lahir dan besar dengan budaya tempat migrasi, seperti apa yang dapat dilihat pada hubungan antar generasi di novel Brick Lane karya Monica Ali.

Migrasi individu lintas budaya tak akan lepas dari masalah. Persinggungan dengan budaya baru dapat mengakibatkan resistensi dari individu, atau sebaliknya, pudarnya budaya asal untuk kemudian terjadi pembauran. Seperti apa yang di alami oleh Nazneen dan keluarganya di novel Brick Lane karya Monica Ali. Secara singkat, novel ini menyuguhkan kisah Nazneen, seorang gadis belia dari Bangladesh, yang dijodohkan dengan Chanu, seorang imigran Bangladesh paruh baya yang tinggal dan kerja di London, Inggris. Nazneen dibawa oleh Chanu sebagai seorang gadis desa yang akan selalu patuh kepada keinginan suami. ”She is an unspoilt girl. From the village.”(Ali, 2003: 10). Tinggal di daerah komunitas imigran Bangladesh Sylheti bernama Tower Hamlets, tak ada banyak perbedaan dengan lingkungan tempat asalnya. Ia tidak pernah pergi jauh dan hanya bergaul dengan tetangganya yang bernama Razia dan Mrs Islam. Masalah baru timbul ketika Nazneen memiliki dua orang anak perempuan. Chanu berencana untuk kembali ke Bangladesh agar kedua anaknya tidak tumbuh dengan budaya Barat.

Pertentangan dari generasi keturunan para imigran ini timbul karena sikap para orang tua mereka yang tidak memberikan toleransi terhadap pengaruh budaya baru. Ada resistensi dari para orang tua ini untuk tidak membiarkan keturunan mereka menjadi bagian dari masyarakat Barat dimana mereka tinggal sekarang. ”The parents can become preoccupied,” said Chanu, who had known no other state. ”But we must think of our children first. God knows what they are teaching them in these English schools.”(Ibid, 2003: 203). Ada prasangka dan sentimen negatif yang menjadi jurang pembeda di antara dua peradaban ini. Keadaan inilah yang oleh Samuel Huntington (1993), dikatakan sebagai benturan peradaban atau clash of civilization. “Civilizations are differentiated from each other by history, language, culture, tradition and, most important, religion.”(Huntington, 1993). Hal ini seiring dengan kemungkinan konflik yang terjadi di masa pasca-perang dingin antara ideologi Kapitalisme dan Komunisme. Kini, potensi konflik terjadi antar peradaban, terutama peradaban Islam dengan Barat. Antar masyarakat ini saling merendahkan, tak ingin “terjerumus” ke dalam bagian dari masyarakat yang lain, dan menganggap peradabannya lebih tinggi. ”Because our own culture is so strong. And what is their culture? Television, pub, throwing darts, kicking a ball. That is the white working-class culture.”(Ali, 2003: 207). Namun, ada sikap hipokrit di dalam praktiknya jika ingin dikatakan bahwa dua peradaban ini memang saling berseberangan. Ada kalanya, ketika menjadi bagian dari peradaban lain itu menguntungkan, seseorang mengklain dirinya sebagai identitas yang berseberangan itu. ”I don’t stop you from doing anything. I am westernized now. It is lucky for you that you married an educated man. That was a stroke of luck.”(ibid, 2003: 30).

Adapun sikap protectif orang tua ini dilakukan untuk menjaga identitas keturunannya tetap berkelanjutan seperti apa yang mereka hayati sedari lahir. Identitas ini sudah seperti kebutuhan bagi manusia. Tanpa ada identitas, mereka akan menjadi sebuah makhluk abu-abu tanpa pegangan dalam masyarakat asing tempat migrasi. Hal inilah yang tidak diinginkan Chanu sebagai kepala keluarga terhadap anak-anaknya. Ia bangga sebagai orang Bangladesh, ditambah lagi dengan fakta bahwa ia terpelajar.

”I’m talking about the clash between Western values and our own. I’m talking about the struggle to assimilate and the need to preserve one’s identity and heritage. I’m talking about children who don’t know what their identity is. I’m talking about the feelings of alienation engendered by a society where racism is prevalent. I’m talking about the terrific struggle to preserve one’s sanity while striving to achieve the best for one’s family. I’m talking—”(ibid, 2003: 88).

Penanaman identitas ini amat diutamakan oleh Chanu. Selain tempat tinggal yang cukup mendukung pembentukan (berada di komunitas imigran Bangladesh), ada peraturan di rumah untuk hanya menggunakan bahasa Benggali, bukan Inggris. Hal ini seperti usaha pemertahanan budaya di dalam tekanan pengaruh budaya asing. Dimana sehari-hari si anak hidup dalam masyarakat London, ketika berada di dalam rumah, ia harus kembali untuk mengenal identitas bangsanya.

Rekomendasi Artikel:

Kata Kunci

Sudah Baca yang Ini?

Pages: 1 2 3