Pemuda, Lokomotif Kebudayaan Bangsa

Sekali lagi, kita marah dan kecewa akan apa yang dilakukan negeri tetangga kita, Malaysia. Setelah klaim atas Tari Barong yang disebut Barongan, kini giliran Tari Pendet asal Bali yang dimasukan dalam iklan Visit Malaysia 2009. Luapan emosi masyarakat ini terkesan hanya bersifat temporer. Tak pernah ada tindak lanjut yang konkrit dan sistematis.

Alamku Meradang, Jiwaku Terluka

“Selamatkan Bumi Kita”. Mungkin kalimat tersebut adalah jargon yang sering kita dengan akhir-akhir ini. Apalagi dengan adanya istilah baru yang kita kenal dengan pemanasan global atau global warming. Tapi menurut saya pribadi, ada yang terdengar janggal dalam istilah tersebut. Kalimat “Selamatkan bumi kita”, terkesan seperti kita sebagai manusia, menyelamatkan bumi yang sedang dalam ancaman pihak di luar bumi. Kita seperti menghadapi ancaman yang di konteks ini, manusia adalah sebagai pihak yang terancam. Perubahan alam ini dipersalahkan atas ketidakstabilan bumi yang sangat berpengaruh bagi kehidupan manusia. Pada faktanya, manusialah yang telah menyebabkan perubahan alam ini. Hilangnya hutan sebesar 2,8 juta hektar dalam setahun (Kapanlagi.com, 21 Mei 2005), adalah salah satu contoh perbuatan manusia yang merusak alam. Alam menjadi tidak stabil dan pada akhirnya, mempengaruhi kehidupan manusia juga. Hingga kita sadari, masalah sejatinya adalah pada diri manusia itu sendiri. Kesadaran manusia atas lingkungan telah mengalami dekadensi. Rasa kepedulian sesama manusia telah menurun drastis. Manusia tidak peduli lagi bahwa pengrusakan alam yang Ia lakukan, akan berdampak luas bagi dirinya dan orang lain. Oleh karena itu, kejiwaan manusia diarahkan kembali pada hakikat manusia sebagai salah satu makhluk ciptaan Tuhan yang hidup berdampingan dengan makhluk-makhluk lainnya. Ilmu psikologi atau ilmu tentang jiwa berperan penting dalam penyelamatan lingkungan yang dimulai dari diri tiap manusia. Hingga bisa kita katakan, jika alam kita rusak, maka hal tersebut disebabkan jiwa manusia pengelola alam tersebut yang juga rusak.

Melampaui Keterbatasan Menggapai Cita-cita

Aku lahir di Jakarta 19 tahun yang lalu dalam keadaan normal dari sebuah keluarga yang sederhana. Pada saat Taman kanak-kanak dan Sekolah Dasar, Aku belajar di sekolah umum seperti layaknya orang normal. Hingga pada saat penghujung kelas 6, mulailah menderita kebutaan. Oleh dokter, Aku didiagnosa terkena virus toksoplasma dan Glukoma. Dokter tidak bisa membantu dan dikatakan jika dioperasi pun, kemungkinannya hanya 10 sampai 30%. Kami sangat terpukul, tapi keluargaku tetap optimis dengan berikhtiar mencarikan penyembuhan alternatif.

Telur Retak, refleksi Kesatuan Indonesia

Telur yang retak, itulah pengandaian yang penulis ambil untuk sebuah negara yang mengalami disintegrasi. Jika dilihat dari luar, cangkang telur terlihat kokoh dan keras. Tapi pada hakikatnya merupakan suatu yang rapuh dan mudah hancur. Ada satu titik saja cangkang yang retak, maka akan rusak pulalah isi telur. Jika kita andaikan, cangkang dari telur tersebut adalah persatuan sebuah negara bangsa. Kemudian untuk isi dari telur tersebut adalah kerukunan dan toleransi masyarakat di suatu negara. Singkat kata, akibat sedikit kerusakan, hancurlah telur itu.

Dengan Komputer, Tunanetra Melihat Dunia

Pernahkah terlintas dalam benak anda, apakah seorang tunanetra yang notabenya tidak memiliki penglihatan normal bisa menggunakan komputer? Hal ini terdengar mustahil. Komputer membutuhkan kemampuan visual dari penggunanya. Pengguna butuh untuk memasukan perintah-perintah melalui keyboard dan melihat hasilnya di layar monitor. Jika anda menjawab bahwa tak mungkin tunanetra dapat mengoperasikan komputer, hal itu salah! Mereka para tunanetra juga bisa menggunakan komputer yang sama persis seperti yang anda gunakan sekarang, asalkan ada sebuah software pendukung. Software ini dinamakan program pembaca layar atau ‘screen reader’. Karena tunanetra tidak bisa melihat display pada layar komputer, jadi mereka hanya bertumpu pada kemampuan mendengarkan suara. Sesuai dengan namanya, mekanisme kerja dari program ini adalah meninterpretasikan tulisan atau menu-menu yang ada di layar, untuk kemudian direproduksi dalam bentuk suara. Sebagai contoh adalah program Microsoft Windows Narator yang sudah tersedia sejak Windows 2000. Program ini akan memberitahukan pengguna tunanetra keberadaan posisi kursor, menu yang sedang diakses, atau program yang sedang dibuka. Selain itu, jika menekan tombol huruf dalam keyboard, Microsoft Windows Narator juga akan menyebutkan huruf apa yang kita tekan. Selain itu, seperti di program notepad, setelah kita menuliskan beberapa kata, program tersebut dapat membacakan tulisan apa yang ditampilkan di layar.

Totalitas Pembangunan Tim Sepakbola Kelas Dunia

Sebagai olahraga terpopuler di seantero bumi, sepertinya tak ada warga dunia yang tidak mengenal sepakbola. Tiap bangsa dimanapun berada, ingin ikut berpartisipasi dalam supremasi tertinggi sepakbola empat tahunan ini. Sama halnya dengan Indonesia, momen penting dalam sejarah sepakbola seperti World Cup tak pernah lewat begitu saja. Namun amat disayangkan, sejak republik ini merdeka 65 tahun lalu, belum pernah sekalipun tim nasional sepakbolanya masuk ke putaran final Piala Dunia.

Permasalahan Banjir dan Mindset Masyarakat

Belakangan ini, kita disuguhkan dengan show off fenomena kemacetan lalu-lintas kota Jakarta yang disebabkan oleh banjir. Berbagai media cetak atau elektronik, hampir tiap hari mendiskusikan persoalan ini. Kota Jakarta telah dianggap tidak layak lagi sebagai sebuah ibukota negara. Kemacetan luar biasa yang menuju kelumpuhan lalu-lintas, semakin diperparah ketika jalan-jalan protokol tergenangi air.